Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 24 "Kapan Kita Bisa Tidur Bersama?"


__ADS_3

GUBRAK!!


Gerald tersentak dan jatuh dari tempat tidurnya. Gerald kaget.


"Bagaimana bisa?!"


Matanya menatap tajam sosok yang mendiami sisi lain tempatnya tidur. Sosok wanita yang pulas dalam tidurnya. Terusik karena keributan yang Gerald lakukan.


"Mengapa ribut sekali? Erin, kau menjatuhkan apa?"


Wanita itu berkata dengan kesal. Membalikkan tubuhnya seraya menarik selimut. Kembali tidur.


"W-WANITA GILA! BAGAIMANA BISA KAU TIDUR DI KAMARKU?!" hardik Gerald berteriak.


Bagaimana bisa Roxane tidur di kamarnya? Satu ranjang pula! Apa yang terjadi? Bagaimana bisa ia tidak menyadarinya?


Gerald lantas memeluk tubuhnya sendiri. Ia sudah overthinking.


Roxane menyentuh dirinya?


"Berisik, Erin. Ini weekend. Biarkan aku tidur lebih lama."


Roxane berkata kesal, dengan tetap memejamkan mata dan membelakangi Gerald yang masih terduduk di lantai.


"WANITA GILA, BANGUN!!"


"Beraninya kau, Erin!"


"Wait." Roxane bergumam.


"SIAL!!" Roxane langsung bangun dan terduduk. Tatapannya langsung menuju kepada Gerald yang sudah menatapnya geram. Gerald bangkit, dengan kasar menarik Roxane turun dari ranjang, menariknya menuju pintu.


"Hei! Lepas. Apa yang kau lakukan?!"


"Kau marah? Seluruh sudut apartemen ini milikku. Aku bebas tidur di manapun!"cecar Roxane tak terima diusir dari kamar Gerald.


"Ini kamarku!"jawab Gerald dingin, menutup pintu dengan kasar.


Roxane terpaku sesaat. Mengerjap. Tak lama, tertawa pelan. "Pagi yang indah."


Roxane kemudian melangkah menuju kamarnya sendiri. "Cepat atau lambat kita akan satu kamar, Gerald. Kau suamiku, mana mungkin aku tak meminta hakku?"


Roxane terkekeh.


Dan pengusiran dari kamar itu, dilihat oleh Sophia dan Lily. Keduanya saling pandang.


"Sebenarnya mereka saling membenci atau tidak?"tanya Lily. Satu atap dengan kedua orang itu, Lily tetap tak paham hubungan keduanya. Kadang keduanya cukup akur, kadang seperti anjing dan kucing. Terkadang, juga saling abai.


"Lily, apa kau tak pernah membaca novel romansa?"tanya Sophia.


"Pernah."


"Dari benci jadi cinta atau sebaliknya, itu kan sudah biasa. Kita lihat saja akhir mereka nanti. Namun, ada satu hal yang aku khawatirkan," ucap Sophia. Ekspresinya menjadi serius seketika.


"Apa?"


"Identitas lain, Nona." Sophia menjeda ucapannya. "Nona memiliki banyak musuh. Mungkin, setelah Nona menikah cukup tenang. Dan Tuan, dia seorang dokter. Nona juga seorang mafia, apakah Tuan bisa menerima dan menyesuaikan diri? Selain itu, Tuan itu terlihat lemah. Aku ragu dia bisa melindungi dirinya sendiri meskipun sudah ada pengawal pribadi," resah Sophia.

__ADS_1


Kecuali Gerald, ketiga wanita yang bekerja dengan Roxane itu, paham benar seperti apa Nona mereka.


Lily tertawa mendengarnya. "Hei, Pia.


Apa kau pikir Nona tidak mempertimbangkan hal itu?"


Ah.


Sophia tersentak pelan. Kemudian tertawa renyah.


"I see."


"Hei, Pia. Apa kau tidak merasa setelah menikah, kamar Nona bersih dari bau alkohol dan rokok?"tanya Lily lagi.


"Haruskah kita memberi hadiah pada Tuan?"balas Sophia. Diangguki oleh Lily.


*


*


*


Celana pendek dan kaos oblong, menjadi setelan kasual Gerald di hari Minggu ini. Ia keluar dari kamar, duduk di ruang tengah. Meraih sebuah majalah.


Ia sudah selesai mandi dan beberes kamar. Menghilangkan jejak Roxane di ranjangnya. Apalagi ada bau anyir darah. Menerka apa yang Roxane lakukan setelah mengantarnya pulang.


"Silahkan, Tuan." Lily datang membawakan secangkir kopi panas untuk Gerald.


Gerald mengernyit. Tidak biasanya. "Untuk sarapan, Anda ingin apa, Tuan? Roti panggang? Nasi goreng? Toscada Con Tomate, croissant, tortilla …." Lily menyebut beberapa jenis makanan yang biasa disantap saat sarapan.


Gerald semakin memicingkan matanya. Curiga. Namun, ia lapar setelah beres-beres kamar dan mengumpati Roxane.


"Bouneschlupp."


"Hm? Makanan nasional Luxembourg. Terbuat dari kacang hijau muda, kentang, bawang, dan juga bacon asap. Hidangan yang cocok untuk sarapan. Anda ingin menu tersebut untuk sarapan, Tuan?"tanya Lily memastikan.


"Ya. Tapi, ganti bacon dengan daging sapi saja," ujar Gerald. Sejujurnya ia sedikit kaget dengan Lily yang tanggap.


"Wah! Anda tidak senang bacon?! Sama dengan Nona!"seru Lily girang.


"Hah?"


Lily segera menuju dapur.


"Hah! Wanita itu tampak baik-baik saja. Darah yang menempel itu, darahnya atau darah orang lain?"


Ada getaran khawatir di sana. Namun, ia tak mengeluarkannya.


Pandangannya terangkat saat mendengar langkah kaki mendekat.


Terkesiap.


Terpana dengan Roxane yang mengenakan dress cream yang kemarin dibeli.


"Apa yang kau lihat?!" Wanita itu berkacak pinggang.


Gerald langsung mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


"Lily! Apa sarapan hari ini?" Wanita itu berlalu menuju dapur.


"Apa ini?"


"Sarapan khas Luxembourg, Nona. Tuan Gerald yang memintanya."


"Oh." Tak banyak tanya lagi. "Antarkan coklat panas ke ruang tengah."


"Siap, Nona."


Roxane kembali ke ruang tengah. Gerald masih membaca majalah. Majalah bisnis yang memuat nama Roxane di dalamnya. Tak lama berselang, Sophia datang dengan membawa minuman coklat panas untuk Roxane.


"Apa yang kau lihat?!"sentak Gerald, merasa risih dengan tatapan Roxane padanya.


"Kapan kita bisa tidur bersama?"tanya Roxane frontal.


"TIDAK AKAN PERNAH!"


Gerald beringsut mundur. Roxena malah memajukan tubuhnya. Gerald langsung berdiri. "Jangan pernah kau menyentuhku atau masuk ke kamarku tanpa izin!"


"Ah? Masalah itu, ku pikir itu kamarku," ucap Roxane dengan wajah polosnya.


"Lagipula kita suami istri, apa salahnya tidur satu ruang? Dan ini apartemenku!"


"Kau yang memberikan kamar itu padaku, aku punya kuasa penuh atas kamarku!"


Mereka berdebat. Roxena menopang dagunya. Tersenyum dengan reaksi Gerald.


Ah, wanita itu lantas menyilangkan kakinya. Matanya masih menatap Gerald. Mereka saling pandang.


"Alihkan tatapanmu!"


Roxane tak mendengarnya. Mengalihkan tatapan saat mendengar suara dering ponsel. Ponsel Roxane.


"Ya, Erin."


"Oh, kirimkan saja sisanya dan logo kita. Lalu, untuk satu lagi, katakan padaku jika dia sudah kehilangan semua indranya."


Gerald menegang. Kehilangan semua indra? Apa yang wanita gila itu lakukan?!


"Ya. Jangan ganggu aku!"


Panggilan berakhir. Roxane meminum coklat yang sudah mendingin itu.


Lalu perhatiannya tidak lagi pada Gerald melainkan ponselnya.


Gerald yang risih, meninggalkan ruang tengah menuju dapur. Sudah terhidang sarapan di sana.


"Gerald oh Gerald. Kau pikir kau bisa lari dariku?"


Roxane baru saja mengirim pesan pada Erin. "Malam ini, aku akan melakukannya!"


Cukup untuk ia bersabar. Sudah lebih dua Minggu pernikahan keduanya. Sementara, semua mata terus tertuju padanya. Sudah menikah, maka selanjutnya akan diharapkan memiliki seorang anak. Meskipun Roxane tak peduli, tetap saja itu melukai harga dirinya. Memiliki satu orang anak, dengan gen sebagus Gerald, juga tak rugi. Lagi, Gerald adalah suami sahnya.


"Aku penasaran dengan hasilnya. Apakah sama dengan diriku dulu?"

__ADS_1


__ADS_2