
Gerald terbangun dari pengaruh obat bius. Jantungnya berdebar kencang dan mengamati di mana ia berada saat ini. Apakah sudah tidak berada di Madrid lagi.
Tapi, tunggu. Kamar ini begitu familiar. Bukankah ini kamarnya?
Bagaimana bisa Gerald berada di sini? Sementara ia ingat dengan jelas Elisa membiusnya. Apakah ia diselamatkan?
Jika seperti itu, GAWAT!!
Gerald buru-buru turun ranjang. Ia masih sempoyongan. Langkahnya tidak stabil.
"Anda sudah sadar, Tuan?"
"Bagaimana caraku sampai rumah?"tanya Gerald.
"Tuan Luro mengantar Anda pulang, Tuan," jawab Lily.
"Lalu bagaimana dengan … bagaimana dengan-" Gerald ragu.
"Dengan Elisa?"
"Kalian tahu?" Ketakutan Gerald semakin besar. "Di mana dia sekarang?"
"Di tempat yang aman. Anda tenang saja, meskipun kami tidak bisa mentoleransi perbuatannya, Nona memerintahkan kami untuk memperlakukannya dengan baik. Teman prianya juga."
Jadi, benar. Semua sudah dalam prediksi Roxena. Gerald menelan ludahnya. Ia sedikit lega karena berpegang teguh pada keputusan. Jika tidak, entah kegilaan apa yang akan Roxena lakukan. Gerald tidak berani membayangkannya.
"Teman prianya? Apa Regis?"
Lily mengangguk membenarkan. "Kirim mereka kembali ke negaranya!"
"Maaf, Tuan. Kami sudah mendapat perintah dari Nona. Anda tenang saja, Nona sama seperti Anda. Melepaskan masa lalu." Sophia menenangkan.
"Menunggu Xena pulang? Apa yang akan Xena lakukan?" Mencoba menggali informasi.
Keduanya menggeleng tidak tahu. Mereka hanya menjalankan perintah. Namun, tidak tahu dengan rinci rencana Roxena. Pemikiran sang lady LS itu sukar ditebak.
Gerald menghembuskan nafas kasar. Sejenak lupa, Roxena lah yang paling dipatuhi oleh Lily dan Sophia. "Mereka baik-baik saja?"tanya Gerald memastikan. Biar bagaimanapun Elisa sedang mengandung. Jika Elisa dalam bahaya, rasa akan menanggung rasa bersalah yang sangat besar.
Padahal jika diuraikan, Elisa berada dalam posisi itu karena keras kepalanya yang tak mau melepaskan Gerald. Tetap pada keyakinannya bahwa Gerald menderita dan tersiksa bersama Roxena. Elisa lah yang menjerumuskan dirinya sendiri.
"Tidak ada masalah, Tuan."
"Okay." Bukan jawaban spesifik tapi setidaknya cukup.
"Anda tidak lapar, Tuan?"tanya Sophia. Gerald bangun di saat waktu menunjukkan pukul 21.00 lebih.
Hampir diculik kemudian mendengar bahwa Elisa dan Regis ditahan oleh orang-orang Roxena, Gerald kehilangan selera makannya. Ia menggeleng pelan.
"Kalau begitu selamat beristirahat, Tuan." Gerald kembali ke kamarnya. Mengecek waktu kemudian menghitung pukul berapa di Shanghai sekarang. Pukul 03.00 dini hari.
Memilih untuk mengirim pesan. Selesai mengirim pesan, Gerald kembali berbaring. Ia tidak bisa memejamkan mata. Hatinya tidak dapat memungkiri bahwa ia sangat mengkhawatirkan Elisa. Khawatir bercampur dengan kesal. Ia sudah berkorban, Elisa malah menantang bahaya. Bukan ia tidak mau berjuang. Tapi, keadaan sudah berbeda jauh.
Elisa … kau ceroboh sekali. Semoga saja Xena berbaik hati.
Meskipun ragu. Sebab kalau Roxena menganggap hal itu sebagai angin, pasti Elisa dan Regis sudah diterbangkan ke negara mereka. Namun, menunggu Roxena kembali.
"Anda serius akan melakukan itu, Nona? Bukankah Anda sangat menantikannya? Tapi, mengapa Anda malah mendorongnya jauh?"heran Erin setelah mengetahui rencana Roxena.
Roxena yang tengah membaca pesan dari Gerald menyunggingkan senyum. "Aku tidak mau menjadi wanita yang serakah dengan pria, Erin. Lagipula dengan begitu akan mencegah hal seperti ini di kemudian hari."
"Regis sangat mementingkan perasaan Elisa. Apakah akan setuju?"
"Mementingkan perasaan atau keselamatan?"balas Roxena.
"Jika mementingkan perasaan, maka Gerald akan menderita karena terus ditolak Elisa. Regis tidak bisa memiliki raga maupun hatinya. Namun, jika mementingkan keselamatan, setidaknya Regis bisa merengkuh fisik Elisa. Menjaga Elisa di sisinya. Jika sudah ada ikatan … maka perasaan dapat terjalin. Itu sederhananya. Mungkin akan bergeser dengan beberapa ketidaktepatan."
Erin mengangguk-anggukkan kepal, sudah mengerti.
"Hanya saja semua itu tergantung pada Regis. Pilihan ada padanya." Roxena menerawang jauh.
"Aku harus membuat rencana cadangan!"
__ADS_1
Elisa menemukan dirinya di tempat asing. Sebuah kamar yang tidak terlalu luas namun memiliki fasilitas lengkap. Ia mencoba mencari tahu lewat jendela. Tidak ada yang bisa ia lihat selain rimbunnya pepohonan.
Ia tertawa miris. Niat membawa pergi Gerald malah diculik. Ingatan Elisa kembali ke saat ia berada di lift.
"Hei, Nona. Anda salah tempat." Elisa merinding mendengar suara itu.
"Maaf saya-"
"Ughhh!"
Elisa dibekap. Ia mencoba melepaskan diri. Tidak mampu melawan. Pandangannya redup dan kemudian gelap.
Dua pria itu adalah Luro bersama dengan anak buahnya. Luro membawa pergi Gerald sementara Elisa dibawa oleh anak buahnya.
"BUKA PINTUNYA!"
"KELUARKAN AKU!!"
"ROXENA, KELUARKAN AKU WANITA SIALAN! KEMBALIKAN SUAMIKU!!"
"GERALD!!"
Elisa menggedor keras pintu, berteriak. Sayangnya, tidak ada yang peduli. Yang ada suaranya yang habis dan jatuh dalam keputusasaan.
"Apa salahku sebenarnya?! Mengapa hidupku sangat menderita?! Mengapa orang yang aku cintai direbut?!" Elisa frustasi. Ia mengeluh pada langit.
"Takdir macam apa ini?!"
"Takdir kejam! Aku membencinya!!"
"Mengapa!! Mengapa hati Gerald berubah MENGAPA?!"
"Tuhan, apa salahku?"ratap Elisa. Ia terduduk lemas.
Mengusap perutnya yang semakin menonjol. "Apa salah anakku? Mengapa kau membuat ayahnya berubah?!'
"Gerald … pergi kemana cinta untukku? Apa yang membuatmu berpaling?"
Elisa tidak bisa menerima kenyataan ini.
Bukan hanya Elisa yang ditahan oleh Roxena. Regis juga. Pria itu ditahan setelah orang-orang Roxena mengepungnya.
Kini, di sinilah Regis berada. Kamar yang bagus. Tidak seperti tawanan melainkan tamu. Regis menunggu di dalam kamar itu. Ia bersama dengan asistennya.
"Ternyata begitu."
"Ya, Tuan?"
"Mereka menunggu kita bergerak." Gerald tersenyum pahit. "Aku sudah melakukan hal yang sia-sia." Teringat dengan ucapan Roxena.
"Entah kemana akhirnya. Kita hanya bisa menunggu."
"Mereka licik sekali!"geram sang asisten.
"Haha … mereka punya perhitungan yang tepat."
Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka. Luro masuk membawa sebuah map.
"Selamat siang, Mr. Regis."
"Apa yang akan kalian lakukan?"
"Melaksanakan perintah Lady," jawab Luro santai.
"Kalian hebat sekali, ya. Memperlakukan musuh layaknya tamu," sindir Regis.
Luro tersenyum simpul. "Yang hebat itu Lady saya. Kami hanya melaksanakan perintah. Tapi, secara pribadi banyak sih yang mau nyawa kalian atas kelancangan kemarin." Berkata dengan santai.
"Lady bilang Anda itu teman masa lalu. Entahlah. Pikiran Lady sukar ditebak. Begitu juga dengan maksud kedatanganku ini." Luro menyodorkan map yang ia bawa.
Regis membukanya. Terkejut lalu menatap Luro. "Sebenarnya saya juga tidak paham. Namun, saya akan menyampaikan kata-kata Lady. Menikahlah dengan Elisa!"
__ADS_1
"Mustahil!!" Regis berseru. Ide gila apa itu?! Meskipun keinginannya, ia tidak akan memaksakan. Regis tahu, Elisa akan menolaknya lagi.
"Ahh … sialan!"umpat Luro. Ia menjambak rambutnya frustasi. Padahal seharusnya Gerald yang frustasi. "Dengar, wanita itu akan selamat jika kau menikahinya. Lagipula kau mencintainya, kan? Apa tidak mau memilikinya?"
"Aku tidak akan melakukannya tanpa izin!"kekeh Regis, ia menolak persyaratan itu.
"Hei, come on. Cinta bukan hanya tentang ketulusan. Ada banyak warna dalam cinta. Salah satunya adalah keegoisan. Tidak, sekarang pun kau sudah egois dibalik ketulusan itu. Kau membantunya padahal tahu berbahaya. Kau mendukung untuk terjun ke dalam maut!!"ungkap Luro lantang.
"Aku tidak mau membuatnya kecewa!" Regis terlalu takut mengambil jalan itu.
"Baiklah." Luro sangat kesal. "Jika tidak mau dengan cara seperti ini … maka lebih baik wanita itu mati saja."
"Jangan berani kau menyakitinya!!" Regis hendak meraih Luro. Namun, Luro mundur menyebabkan Regis terjerembab dari kursi rodanya.
"Tuan!"
Luro menatapnya dingin. "Pikirkan dengan baik sampai Lady kembali." Luro keluar. Pintu ditutup dengan kasar.
"Tuan … bagaimana ini?"
Nafas Regis seakan tercekat. Keputusan ini sangat sulit. Antara prinsipnya atau egoisnya. Mempertaruhkan keselamatan Elisa.
"Kalian pergilah. Jarang-jarang bisa sebebas ini," ujar Roxena saat Erin dan Liu ragu untuk pergi menyaksikan salah satu acara penghargaan tahunan.
Mereka ragu pergi sebab mereka tahu kejadian apa yang terjadi di Madrid. Mana mungkin mereka berani bersenang-senang sedangkan Roxena memikirkan masalah itu. Mereka sadar diri.
"Tidak perlu mencemaskanku. Pengendalian diriku sangat bagus."
Erin berdecak. Ya, sangat bagus. Sekali kumat sangat merepotkan.
"Pergilah. Tahun depan mungkin tidak ada kesempatan."
Didesak seperti ini, keduanya hanya bisa menurut.
Roxena juga tidak berdiam diri di hotel. Ia memutuskan untuk menyegarkan pikiran dengan berkendara, menikmati pesona kota Shanghai.
"Woahh!"
Erin ternganga melihat banyaknya orang yang berada di luar gedung acara penghargaan. Open gate dimulai pukul 17.00 dan acara akan dimulai pukul 19.00.
Berbagai fandom aktor dan aktris ternama berkumpul di sana, dengan bangga mengibarkan bendera fandom masing-masing. Juga melebarkan spanduk untuk mendukung aktor dan aktris favorit mereka.
Aneka warna bendera fandom, merah, kuning, ungu, biru, hijau, layaknya sebuah pelangi. "Bendera ungu itu!"
"Itu milik Dylan!"seru Liu memberitahu.
"Woah! Meriah sekali, seperti acara dunia," kagum Erin. Biasanya ia melihat secara virtual. Berbeda jika langsung di tempatnya. Vibes nya sangat mengena.
"Tentu saja. Fans China itu sangat luar biasa!"
Tak hanya bendera namun juga ada bus dengan poster sang aktor kelahiran 1998 itu.
"Ayo ambil beberapa foto lalu kita masuk."
Erin menanggapi dengan semangat. Puas mengambil foto, mereka langsung menuju pintu masuk karena sudah dilakukan open gate. Cukup lama, dan juga berdesakan karena fans yang datang sangat banyak dari berbagai fandom.
Akhirnya mereka masuk. Karena mereka memesan tiket di hari terakhir, alhasil mereka mendapatkan posisi yang kurang strategis. But, masih bisa diterima. Asalkan masih bisa melihat ke arah panggung.
Tepat pukul 19.00, acara dibuka. Penampilan dan pembacaan nominasi silih berganti. Yang menang naik ke panggung untuk mengambil tropi lalu memberi sambutan dan menjawab beberapa pertanyaan MC.
"AHHHH!!" Erin berteriak histeris saat melihat secara langsung aktor favoritnya, Dylan Wang atau Wang Hedi.
"Sangat tampan!! Wo ai ni, Didi!"
Sayangnya, teriakan itu tenggelam di tengah gemerlap suara fans lainnya. Tidak masalah. Yang penting bisa melihat secara langsung. Juga mendengar suaranya.
Ahh … Erin semakin menyukainya. Wajahnya tidak berbeda dari foto-foto yang ditempel di dinding kamar. Malah lebih tampan aslinya.
Liu menggeleng pelan melihatnya. Ia juga memiliki aktor favorit. Namun, tidak hanya satu. Liu menyukai pria tampan. Dan menjadi fans aktor adalah caranya. Sebut saja Xiao Zhan, Wang Yibo, Ding Yuxi, Gong Jun, Allen Ren, Li Hong Yi, Cheng Yi dan lainnya. Di antara semua itu, kebanyakan dari mereka hadir dalam acara malam ini.
"AHHHH!! LUAR BIASA!! MENAKJUBKAN! AKU MENCINTAI KALIAN!!"seru Liu dengan bahasa Spanyol. Tak peduli mendapatkan tatapan bingung dari orang di dekatnya termasuk Erin.
__ADS_1
Mereka menyaksikan acara itu sampai akhir. Keluar dengan perut lapar. "Ayo, aku ajak ke tempat makan enak!"