Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 22 Identitas Lain


__ADS_3

Keheningan mewarnai kediaman Lawrence. Hari yang semakin larut sejalan dengan udara yang semakin dingin.


Kepala pelayan tak berani mengganggu Tuan Lawrence yang masih tergugu di ruang keluarga. Juga, tak berani mengganggu Roxane yang berada di lantai atas.


Serba salah.


Kepala pelayan hanya diam mengamati dari tempatnya. Akan datang jika dibutuhkan.


Perubahan mendadak yang baru terjadi di kediaman Lawrence, membawa perubahan pula pada atmosfer di kediaman.


Dan sang pembawa perubahan atmosfer itu, kini tengah mengedarkan pandang di sebuah kamar, kamar dirinya saat masih tinggal di Kediaman Lawrence. Kamar ini, memiliki dekorasi yang berbeda dengan kamar apartemennya. Lebih hidup dan colorful. Isinya pun lebih banyak dan beragam.


Foto keluarga, jajaran medali dan piala. Tergantung pula sertifikat piagam penghargaan. Aneka miniatur dan banyak lagi.


Gerald baru tiba, langsung duduk di sofa dan melayangkan pandang tajam pada Roxane yang masih terpaku di tempatnya. "Apa maksud kata-katamu tadi?"tanya Gerald. Ia merasa terusik dengan kata-kata Roxane tadi. Ia harus mendapatkan kejelasan untuk itu. Karena, bagi Gerald, meskipun ia kepala keluarga, Roxane tetap menginjak dirinya. Itu sangat menyebalkan!!


Roxane tidak menjawab. Ia melangkah. Mendekati sebuah lukisan keluarga. Lukisan yang sama seperti yang dilihat Gerald di ruang kerja Tuan Lawrence. Tangannya menjulur, menyentuh lukisan itu dengan mata terpejam.


"Ibu, aku mengakhirinya," ucap Roxane lirih.


"Kini, aku adalah satu-satunya anak keluarga Lawrence!"tambahnya dengan penekanan.


"Kau bisa tenang di sana. Jangan khawatir. Dan pria tua itu, mungkin sebentar lagi akan menyusulmu."


Roxena tersenyum lebar. Matanya teduh menatap sosok wanita dalam lukisan itu.


Ia kemudian menyeka sudut matanya. Lalu berbalik, menatap Gerald yang masih lekat memandangnya penuh tanya.


"Hanya aku yang bisa menginjakmu, Gerald! Kau adalah orangku, tak ku izinkan siapapun merendahkanmu. Hanya aku, yang bisa melakukannya!"jawab Roxena dengan wajah tenangnya.


"Maksudmu?"


"Aku diam, bukan berarti aku menyerah, Gerald. Terlalu sibuk bagiku untuk bermain denganmu saat ini. Jadi, lebih baik kau lakukan saja rutinitasmu sebagai dokter."


"Kau, Wanita Gila! Apa maksud dari semua ini. Kau berkoar mengatakan kau membenciku. Tapi, kau tak melakukan apapun lagi."


Roxane melangkah maju. Ia mendekati Gerald yang tiba-tiba merasa tegang dalam duduknya.


Roxane mencondongkan tubuhnya. Tanpa kata, mencengkram dagu Gerald. Sorot mata Gerald, Roxena tak bisa mengartikannya. Namun, ia tak peduli. Mendekatkan wajahnya.


"K-"


Uhp?!


Mata Gerald terbelalak. Roxane mencium dirinya. Kini, kedua Gerald berada di bahu Roxane, mendorong wanita itu. Memberontak. Namun, Roxane malah mengalungkan tangannya pada leher Gerald. Matanya memejam. Menghisap semakin dalam.


"Lepas!!"


Terlepas saat Gerald menggigit bibir Roxane. Sekali lagi, Gerald merasa harga dirinya diinjak.

__ADS_1


Roxane menjilat bibirnya yang berdarah. Tersenyum. Tatapan benci Gerald mulai kembali. Roxane sengaja, memantik sorot mata itu. Entahlah, ia butuh hiburan saat ini.


"Aku hanya menciummu, bukan menidurimu. Untuk apa kau semarah itu?"tanya Roxena, memiringkan kepalanya pura-pura tak paham.


"DIAM KAU!"


"DASAR WANITA GILA!"


Dibalas dengan tawa Roxena. "Wanita gila ini adalah istrimu, Gerald."


"Aku tak pernah mengakuimu!"


"Terserahmu saja. Tapi, satu hal yang harus kau pegang erat. Kau adalah suamiku, tak boleh ada yang merendahkanmu!"


"Ayo pulang."


Roxane telah usai dengan urusannya. Gerald masih pada tempatnya. Padahal, Roxane telah meninggalkan kamar. Pria itu, menyeka bibirnya.


"Dia benar-benar gila!" Gerald termenung sesaat. Tadi, ia baru saja menyaksikan pengusiran Benjamin dari kediaman ini. Bahkan tak melihat waktu. Begitu terucap langsung dieksekusi.


Drtt


Terdengar dering telepon Gerald. Gerald menjawab tanpa melihat siapa yang menghubunginya.


"Kau mau tinggal di dalam, hah?!" Memekik keras. Gerald langsung mematikan panggilan dan bergegas sebelum wanita gila itu semakin gila.


"Apa yang kau pikirkan? Cara aku masuk? Apa kau kolot? Dunia ini penuh dengan teknologi!"ketus Roxane sedikit berteriak dari dalam mobil, membuka setengah jendela.


"CK!" Gerald segera masuk dan mengemudi menuju apartemen Roxena.


Dalam perjalanan, tak ada pembicaraan yang terucap. Gerald fokus mengemudi sementara Roxane, memejamkan matanya. Sekitar 1 jam kemudian, mereka tiba di kawasan apartemen Roxane. Tampaknya Roxane hanya memejamkan mata tanpa tidur. Ia langsung bangun dan menyuruh Gerald naik sendiri.


Sendirian? Tentu tidak. Ada pengawal yang sudah menunggu. Roxane beralih duduk di kursi kemudi dan dengan cepat meninggalkan basement.


Gerald mengendikkan bahunya. Tak peduli. Hari sudah hampir tengah malam. Ia sangat membutuhkan istirahat. Harinya sangat berat dari ini.


*


*


*


Sebuah bangunan besar yang kental dengan arsitektur klasik abad pertengahan khas spanyol, berdiri gagah di tengah kegelapan malam. Warna dinding yang mirip warna coklat muda, membuat bangunan itu memiliki pesona tersendiri. Dengan menara dan gerbang di keempat penjuru mata angin, bangunan ini seperti sebuah kerajaan atau gereja besar. Namun, bendera yang terpancang di empat sisi gerbang dan juga menara itu, menjawab bangunan apa itu sebenarnya.


Bendera dengan warna dasar hitam. Diikuti dengan lambang pedang, kuas, timbangan, dan sebuah bintang. Berada dalam satu lingkaran putih. Di bangunan yang besar, terdapat lambang-lambang tersebut.


Light and Shadow.


Cahaya dan Bayangan.

__ADS_1


Itu adalah sebuah organisasi besar. Yang berdiri sekitar 15 tahun yang lalu. Organisasi itu, memiliki pengaruh yang sangat besar. Bahkan, kerajaan saja tak berani mengusik mereka.


Disegani di kalangan atas dan bawah. Sepak terjangnya yang mengeringkan, membuat organisasi itu menjadi satu-satunya organisasi besar yang sangat disegani sekaligus ditakuti.


Lingkar bisnis yang mereka miliki juga sangat banyak dan beragam. Kebun dan kilang anggur, aneka perkebunan, jual beli senjata, tak kecuali juga obat-obatan terlarang. Selain itu, mereka juga memiliki koneksi dan kerja sama dalam bidang real estate serta bidang transportasi dan teknologi.


Bisnis jasa di bidang bodyguard, mata-mata, mereka juga memilikinya. Organisasi mafia? Ya bisa dikatakan seperti itu.


Saat malam, penghuni bangunan itu tidaklah beristirahat. Malah mobilitas mereka semakin meningkat. Hilir mudik mereka sering. Memasukkan peti-peti kayu ke dalam mobil box.


Hilir mudik itu terhenti. Saat sebuah mobil memasuki halaman bangunan itu dari gerbang utama. Sebuah mobil sedan berwarna hitam. Mobil itu adalah sebuah mobil modifikasi.


Mereka, langsung berkumpul. Pemilik mobil itu membuka pintu. Kaki jenjang yang berbuat high heels.


"Lady."


Mereka langsung membungkuk hormat.


Seorang wanita, menggunakan kacamata hitam turun dari mobil itu.


Wanita itu, tak lain adalah Roxena Lawrence. Mengangguk singkat menerima sapaan dan hormat itu.


"Lanjutkan pekerjaan kalian," titah Roxena, melangkah memasuki bangunan utama.


"Si, Lady."


Memasuki bangunan klasik yang mewah itu, Roxane langsung disongsong oleh seorang wanita. "Nona." Itu adalah Erin.


Roxane mengangguk. "Di mana mereka?"


"Berada di dalam penjara, Nona."


Roxane mengangguk paham. "Apakah ada keluarga kerajaan yang mencarinya?"


"Untuk saat ini tidak ada, Nona. Kemungkinan mereka belum menyadarinya," jawab Erin cepat.


"Jika mereka sudah mengajukan bantuan, kembalikan dia pada mereka."


"Dalam keadaan hidup?"tanya Erin, memperjelas. Roxena menghentikan langkahnya. Ia berbalik, tersenyum pada Erin.


"Erin, malam ini, aku ingin bersenang-senang."


Erin menelan ludah gugup. Ia sudah belasan tahun ikut dengan Roxena. But, setiap melihat senyum itu, jantungnya berpacu lebih cepat, takut.


"L-lalu bagaimana dengan yang satu lagi, Nona?"tanya Erin. Karena setelah Roxena bersenang-senang, ialah yang akan mengurus sisanya. Ya, nasib menjadi seorang asisten pribadi.


"Ah, dia. Meskipun aku akan menghabiskannya. Dia tetaplah keturunan ayahku. Mau tak mau, aku harus memperlakukannya dengan sedikit layak."


"Nona, Anda jangan sampai hilang kendali," pinta dan peringat Erin, sebelum Roxane melangkah menjauh dan hilang dari pandangannya.

__ADS_1


__ADS_2