Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 55 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

Roxena menetap bergantian Gerald dan mawar hitam yang dibawanya. "For what? To tea?"


"No! It's for you," jawab Gerald, menyodorkan mawar hitam yang masih lengkap dengan potnya itu.


"For me? Kau mengutukku?" Nada bicara Roxena dingin seketika.


"Jangan lihat makna buruknya. Dia punya makna yang bagus, bukankah cocok dengan kita yang memulai babak baru? Lalu … dia juga terlihat dingin dan misterius, sama sepertimu. Aku pikir itu cocok untukmu," jelas Gerald agar Roxena tak salah paham.


"Hm." Roxena memperhatikan kembali mawar hitam itu. Omong-omong ia ingat pernah memberikan perintah untuk kumpulkan semua varietas mawar.


"Aku menerimanya." Mawar hitam ini akan jadi penghuni pertama rumah kaca yang sebentar lagi akan rampung.


Gerald tersenyum lega.


*


*


*


Keesokan paginya.


Rosena melepaskan diri dari pelukan Gerald. Sedikit memberikan perenggangan lalu segera membersihkan diri. Meninggalkan Gerald yang masih nyenyak tidur berbalut selimut.


Roxena berdecak pelan melihat tanda kepemilikan yang Gerald berikan. Syukurlah tidak di area lehernya. Percintaan mereka kink Gerald yang lebih aktif. Semakin sering semakin lama pula stamina Gerald.


Sebagai wanitanya, Roxena merasa puas.


Tapi, kepuasan itu tidak akan lengkap sebelum hadir janin di dalam rahimnya.


Di bawah guyuran shower, Roxena memejamkan matanya. Ia harus berhasil!!


Selesai mandi, Roxena menuju walk in closet nya. Memakai setelan kerja dan kemudian merias diri.


Saat melihat lemari aksesoris, matanya tertuju pada jepit rambut Jade vine yang ia beli di pelelangan. Setelah dibeli tak pernah ia pakai. Berwarna hijau yang indah dan bentuk yang menarik. Kebetulan cocok dengan setelannya hari ini. Segera Roxena memakai jepit rambut itu dengan lebih dulu menyanggul rambutnya.


Saat keluar dari walk in closet, Gerald juga keluar dari kamar mandi. "Cantik," pujinya memuji penampilan sang istri.


"Tapi, lebih cantik lagi saat kau di bawahku," tawa Gerald kemudian mengecup pipi Roxena.


Telinga Roxena terasa panas. "Hentikan omong kosongmu!" Roxena buru-buru melangkah pergi setelah mengambil tas dan juga ponselnya.


Gerald tertawa. Roxena memang sesuatu baginya.


"Gerald sialan itu!" Telinga Roxena semakin panas. Apalagi Roxena malah mengingat pergulatan mereka.


"Anda demam, Nona?"tanya Sophia cemas.


"Hah?"


"Telinga Anda merah," beritahu Lily. Telinga yang merah itu terlihat jelas karena Roxena menyanggul rambutnya.


"Lupakan itu. Sajikan tehku!"


"Baik, Nona."


Sophia tersenyum.


Tak berapa lama kemudian Gerald datang dengan setelan jas berwarna sage. Roxena menatapnya aneh. "Apa yang kau lakukan?"


"Mencocokkan warna pakaian," jawab Gerald singkat.


"Ini hal yang normal," ucap Gerald.


"Tsk, berlebihan!" Ditanggapi senyum oleh Gerald.


Sarapan itu hanya memakan waktu kurang dari lima belas menit. Keduanya bersiap untuk berangkat. Tapi, saat Gerald berada di belakang Roxena dan melihat jepit rambut itu, tangannya dengan sigap menariknya.


"Apa yang kau lakukan?!"marah Roxena terkejut.


"Tidak cocok," ucap Gerald, menyimpan jepit rambut itu di tasnya.


"Maksudmu penilaianku buruk?!"kesal Roxena. Mencoba mengambil kembali jepit rambut itu. Namun, Gerald menahan kedua tangannya, menatap Rocena serius.


"Aku tidak suka kau memakainya. Jelek!"tegas Gerald. Hatinya tidak senang sekali. Perasaan tidak senang yang tidak dapat diartikan maksudnya.


"K-kau! Baiklah. Aku tidak akan memakainya!" Roxena memilih mengalah. "Tapi, kembalikan itu padaku. Harganya seratus dollar!!"


Mata Gerald melotot sempurna. Jepit rambut itu seratus dollar?! Tidak ada mutiara atau berlian di sana.


"Itu milikku! Kembalikan!"tagih Roxena. Tidak memakainya bukan berarti Gerald bisa mengambil seenaknya. Itu barang pribadinya!

__ADS_1


"Seratus dollar ya? Aku simpan jepit rambut ini dan aku akan mengirim uangnya padamu," putus Gerald, melepaskan tangan Roxena dan buru-buru pergi.


"GERALD, KEMBALIKAN BARANGKU!!"


*


*


*


"Apa yang spesial dari ini?" Di perjalanan menuju rumah sakit, Gerald menilik lekat jepit rambut di tangannya.


Mengapa Roxena sampai membelinya dengan harga yang tidak masuk akal?


Ugh!!


Tiba-tiba Gerald merasa kepalanya sangat sakit. Matanya terpejam rapat.


"Anda baik-baik saja, Tuan?" Thomas menoleh ke belakang. Jack di posisi mengemudi.


"Aku baik-baik saja." Meskipun kepalanya teramat sakit.


Mana hadiah ulang tahunku, Regis?


Regis memberikan sebuah kotak kecil pada Roxena.


Apa ini?


Wahhh! Cantik sekali!


Roxena mengeluarkan jepit rambut yang sama persis seperti yang dipegang olehnya.


Tapi, bunga apa ini?


Orang-orang menyebutnya flor the jade karena warnanya yang mirip dengan giok. Aku melihat bentuknya saat berburu. Jepit rambut ini aku membuatnya sendiri. Kau suka?


Sangat suka! Terima kasih, Regis!


Kepingan ingatan kembali menghampiri Gerald. Nafasnya terengah. Keringatnya mengucur deras dengan perasaan semakin tidak karuan.


"Ini … dari Regis?!"


Pantas saja dibeli dengan harga semahal itu. Bagi Roxena ini pasti barang tak ternilai!


Kapan aku bisa memiliki hatimu sepenuhnya?ratap Gerald.


Jepit rambut itu ia genggam erat.


Mana mungkin aku mengembalikannya!!


Gerald lantas membuka jendela. Mengeluarkan tangannya yang memegang jepit rambut itu.


Hanya aku yang bisa memilikimu. Hati, fisik, dan kenangan. Masa lalu itu sudah berakhir. Barang ini tidak berguna.


Lalu menjatuhkan jepit rambut Jade Vine itu. Sorot mata Gerald berbeda, sangat dingin.


Jepit rambut itu hancur seketika.


Thomas dan Jack saling pandang. Aura Gerald berbeda dari biasanya. Apakah mungkin … ia mulai kembali pada dirinya di masa lalu?


*


*


*


Gerald menjadi dingin sejak kejadian jepit rambut itu. Roxena juga tak mengacuhkan karena kesal. Mereka perang dingin.


Seperti biasa, yang tersiksa adalah Lily dan Sophia. Suasana apartemen terasa seperti di gurun pasir dan gurun salju. Panas dingin.


"Kembalikan jepit rambutku!"tagih Roxena saat makan malam.


"Sudah hancur."


"Aku serius! Kembalikan jepit rambutku atau kau akan menanggung akibatnya!" Kesabaran Roxena yang setipis kertas hampir habis.


"Terserah!"


"Gerald!" Roxena mendekati dan menarik kerah baju Gerald. "Jangan main-main, kembalikan!"


"Itu sudah hancur!"

__ADS_1


Tidak ada kebohongan. Gerald serius. Perasaan Roxena terguncang seketika.


Jepit rambut itu telah bertahan selama ribuan tahun. Dan … itu hancur di tangan Gerald.


Amarah Roxena meledak seketika.


Plak!!


Satu tamparan keras mendarat di pipi Gerald.


"Beraninya kau!"


"Lagipula itu jelek. Pantas untuk hancur," ejek Gerald, sedikit meringis karena tamparan Roxena.


"Sepertinya aku terlalu memanjakanmu!" Dengan kasar, Roxena menarik Gerald menuju kamar.


"Lagi dan lagi. Sampai kapan mereka terus seperti ini? Tidak ada titik terang. Aku ingin mengajukan pemindahan tugas, Pia," keluh Lily.


"Kali ini Tuan keterlaluan. Barang itu sangat penting untuk Nona. Entah hal gila apa yang akan Nona lakukan pada Tuan," ucap Sophia menghela nafas kasar.


*


*


*


"Kau wanita gila!"maki Gerald. Tubuhnya terasa tidak berdaya. Dengan kondisi kaki dan tangan diikat, tubuh yang penuh dengan bekas lebam. Gerald tampak menyedihkan.


Sementara itu, Roxena menyulut sebatang rokok di dekat jendela. Ia menggunakan piyama kimono. "Mengapa kau memancing amanahku?"tanya Roxena dingin.


"Padahal aku sudah berbaik hati. Tapi, kau malah menantangku!"


"Kau pikir hukuman fisik itu cukup untukmu?" Roxena melirik Gerald yang melotot padanya. Roxena terkekeh.


Roxena mengambil ponselnya. "Kirim hadiah untuk Elisa."


Tapi, Gerald tidak bergeming. Ia tetap menatap Roxena tanpa berkata apapun.


Roxena memiringkan kepalanya. Dalam hatinya bertanya-tanya, apa Elisa sudah tidak penting lagi untuk Gerald?


"Barang masa lalu untuk apa kau menyimpannya? Kau sudah memilihku, kau sudah menikah denganku bahkan ingin punya anak denganku. Mengapa masih memikirkan pria masa lalumu? Apa kau mau meninggalkanku? Apa maksudmu, Roxena?! Aku kan sudah berjanji dan kita sudah sepakat, mengapa kau tidak memegangnya teguh?!"teriak Gerald mengeluarkan isi hatinya.


"Bahkan kau menghukumku dengan cara seperti ini. Mengapa kau semarah itu? Kau mendatangiku lebih dulu daripada dia, kau lebih mementingkan dendammu daripada cintamu untuknya. Aku lebih penting darinya. Kau adalah milikku!!" Gerald kembali berteriak lantang.


"Ku mohon lepaskan masa lalumu. Kau bisa memperlakukanku sesukamu asalkan kau tidak berpaling dariku! Aku juga melepaskan masa lalu, ku mohon!"


Lemah.


Air mata Gerald luruh.


Roxena tersentak mendengarnya. Ucapan Gerald tidak sepenuhnya salah. Roxena memang memilihnya karena dendam tapi semakin lama alasannya lebih dari sekadar dendam.


Ugh!!


Roxena tiba-tiba luruh ke tanah. Ia memegangi kepalanya yang seperti ditusuk jarum. Kesadarannya terasa ditarik.


"Agkghgg!!"


"Xena!!"seru Gerald panik, berusaha untuk melepaskan ikatan di tangannya.


"Xena! Kau kenapa?!"


"Sakit!! Agkkkk!!"


"Lily! Sophia!" Gerald tak peduli lagi dengan penampilannya yang terikat tanpa busana.


"LILY! SOPHIA! DI MANA KALIAN!"


Di luar, Lily dan Sophia mendengar panggilan itu. Tapi, mereka takut untuk masuk. Namun, mendengar panggilan itu semakin histeris diikuti dengan teriakan Roxena yang semakin kencang, keduanya memutuskan masuk.


Terpaku sejenak melihat penampilan Gerald. "Apa yang kalian lihat! Bantu aku dan Xena!"hardik Gerald.


Buru-buru Lily membantu Gerald melepaskan ikatan di tangan dan kakinya. Sedangkan Sophia menggendong Roxena kembali tidur di ranjang. Kondisinya sudah tak sadarkan diri.


Suasana canggung. Meskipun bukan pertama kali bagi Lily dan Sophia, ukuranya Gerald mengejutkan keduanya.


"S-saya akan memanggil dokter Liu." Lily bergegas keluar.


"S-saya akan membantu membersihkan tubuh Nona. A-Anda juga harus membersihkan tubuh," ucap Sophia kikuk.


Gerald tidak menjawab. Ia yang sudah mengenakan handuk bergegas mengambil pakaian ganti dan keluar dari kamar.

__ADS_1


Memalukan!


__ADS_2