Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 12 Tawaran Benjamin


__ADS_3

Tuan Lawrence langsung menuju rumah sakit begitu mendengar kabar kecelakaan Roxena dari Erin. Ia datang bersama dengan Benjamin.


"Di mana? Di mana Kakakku? Bagaimana keadaannya?"tanya Benjamin dengan setengah berteriak.


"Kalian harus menyelamatkannya! Jika tidak, kalian semua akan celaka!!" Benjamin menggebu dengan wajah cemas yang begitu besar.


Tuan Lawrence sama sekali tidak bergeming dengan tingkah Benjamin. Ia memilih duduk dan meramalkan doa agar putrinya baik-baik saja.


Xena, Ayah mohon, Nak…


"Ayah, Kak Xena pasti baik-baik saja. Anda tidak perlu cemas." Benjamin beralih bersimpuh di depan Tuan Lawrence.


"Anda jangan banyak pikiran karena besok, pasti akan jadi hari yang berat karena Kakak tidak bisa menghadiri penobatan."


Wajah Tuan Lawrence menggelap. "Beraninya kau membahas itu di saat seperti ini?! Pergi! Berhenti berpura-pura!!"sarkas Tuan Lawrence kesal.


"Ayah?" Wajahnya protes. Dan, tak lama tersenyum tipis.


"Ayah, sepertinya kau harus membuat pertimbangan ulang. Lawrence Group, seharusnya akulah yang menjadi pewaris!"tandas Benjamin dengan seringainya. Pria itu benar-benar tidak tahu diri.


"PERGI!!"bentak Tuan Lawrence marah. Putrinya tengah sekarat, yang satu lain malah membahas perusahaan.


"Ayah, Kakak tidak akan selamat," ucap Benjamin remeh. Ia menjauh beberapa langkah sebelum akhirnya berdiri bersandar pada dinding. Roxena belum keluar dari ruang UGD. Lampu operasi terlihat masih menyala.


Sekitar 1 jam kemudian, barulah pintu ruang UGD itu terbuka. Operasi Roxena itu, memakan waktu berjam-jam. Tuan Lawrence langsung bangkit dan Benjamin, hanya melirik dengan malas.


"Menantu?" Tuan Lawrence tersentak pelan saat dokter yang keluar dari ruangan itu membuka maskernya. Gerald mengangguk singkat. Benjamin langsung memalingkan wajahnya, tidak senang.


Tuan Lawrence menggeleng pelan. "Bagaimana? Bagaimana keadaan Xena?"tanya Tuan Lawrence.


"Pasien sudah dalam keadaan stabil. Namun, kini dalam keadaan koma," jawab Gerald.


"Koma?" Tubuh Tuan Lawrence kembali lemas. Gerald mengangguk.


"K-kapan dia akan bangun? Xena akan baik-baik saja, kan?"tanya Tuan Lawrence memastikan.


"Hanya waktu yang dapat menjawab. Anda tidak perlu terlalu cemas. Saya akan memantau kondisi pasien," jawab Gerald, ia menempatkan posisinya sebagai dokter.


"Baik-baik, Menantu. Syukurlah. Terima kasih."


Gerald mengangguk. Dan tak lama kemudian suster keluar dengan mendorong ranjang Roxena. Diikuti oleh Erin. Di tubuh Roxena, terpasang berbagai macam alat kedokteran.


"Xena, putriku." Tuan Lawrence mengusap lembut pipi Roxena.


"Tuan Besar." Erin memberi hormat. "Saya sudah mengatur semuanya. Anda tidak perlu cemas," lanjut Erin.


"Terima kasih, Erin."


Gerald kemudian memimpin jalan menuju ruang rawat Roxena. Tuan Lawrence dan Erin mengikut sementara Benjamin menyipitkan matanya.

__ADS_1


Pria itu mengacaukannya!!desisnya dalam hati.


Benjamin mengepalkan tangannya erat.




*


Setelah memastikan Roxena aman di ruang rawat, Gerald kembali ke ruang kerjanya. Saat perjalanan menuju ruang kerja, tiba-tiba saja, ada yang menahan dirinya.


"Ada keperluan apa, Tuan Muda?"tanya Gerald dingin, memandang pria yang ia kenali sebagai Benjamin.


"Mengapa kau menyelamatkannya? Bukankah kau akan bebas jika dia mati?"tanya Benjamin tidak senang. Ia marah pada Gerald.


"Saya seorang dokter, Tuan Muda. Nyawa pasien adalah segalanya bagi saya, meskipun dia adalah musuh saya," jawab Gerald datar.


Memang, kebebasan yang Gerald inginkan. Akan tetapi, ia tidak bisa mengkhianati janji dokternya.


"Dasar munafik!! Tidak mungkin kau melakukannya tanpa ada hal lain. Kau pasti menginginkan harta keluarga Lawrence, kan?!"tuduh Benjamin langsung. Gerald mengernyit tidak senang.


"Jaga bicara Anda, Tuan Muda!!"ucap Gerald dingin.


"Sekalipun itu anjing, saya akan tetap menolongnya. Harta keluarga kalian, saya tidak butuh sepeserpun!!"


"Heh?!" Benjamin mendesis. Ia kemudian mengubah ekspresinya cepat.


"Kau bisa menyelamatkannya, maka kau bisa mengambil nyawanya. Ah, tidak-tidak. Kau manusia yang hidup di bawah janji. Begini saja, pura-pura saja tidak tahu. Maka kau akan aman dan bisa bebas. Dan aku, aku akan mendapatkan keinginanku. Bagaimana?"tawar Benjamin, menawarkan kesepakatan pada Gerald. Benjamin mencari kesempatan. Ia tahu kebencian Gerald pada Roxena. Ia akan memanfaatkan hal itu.


Benjamin begitu percaya diri dengan tawarannya. Tanpa menyadari ekspresi dingin Gerald.


"Jangan libatkan saya dalam urusan Anda, Tuan Muda!"ketus Gerald sebelum melangkah pergi.


Benjamin mengepalkan tangannya kesal. "Sombong sekali. Dasar munafik!!"desis Benjamin.




*


"Anda lebih baik pulang saja, Tuan Besar," ujar Erin. Hari sudah pagi. Dan Tuan Lawrence tidur dengan tidak nyaman. Itu berpengaruh pada fisiknya yang sudah menua.


"Erin, kau jagalah Xena dengan baik," ucap Tuan Lawrence. Ia menurut pada Erin. Meninggalkan rumah sakit diterima asisten pribadinya.


Tinggallah Erin, bersama dengan Sophia dan Lily yang datang pagi ini.


"Kapan Nona akan sadar? Saya tidak sanggup melihat Anda seperti ini," lirih Sophia.

__ADS_1


"Nona akan segera sadar," ucap Lily.


"Padahal hari ini adalah hari penobatan Nona, mengapa bisa terjadi kecelakaan seperti ini?" Sophia menangis.


"Syukurlah Nona selamat, hiks…." Sophia bergidik. Ia melihat mobil Roxena yang ringsek parah akibat kecelakaan. Merupakan keajaiban bisa selamat dari kecelakaan itu. Nonanya benar-benar luar biasa!


Erin yang mengikuti jalannya operasi, tidak mengatakan apapun tentang Roxena yang sempat kehilangan detak jantung. Pikirnya kini tertuju pada alasan kecelakaan Roxena. Erin sudah punya prediksi sendiri, kecurigaan tersendiri. Hanya perlu dipastikan saja.


Jika memang disengaja, sekalipun anggota keluarga Nona, aku tidak akan mengampuninya!!


"Sophia, Lily, kalian jagalah Nona. Aku keluar sebentar," ucap Erin. Diangguki oleh keduanya.


Tak berselang lama, adalah jadwal pemeriksaan. Gerald turun tangan sendiri. Mengecek tanda vital Roxena dan mencatat perkembangannya. Pria itu sedikit terkesiap.


Cepat sekali.


"Bagaimana kondisi Nona, Tuan?" Lily bertanya.


"Dia baik-baik saja."


"Kapan Nona akan sadar?" Gantian Sophia yang bertanya.


"Meskipun alat vitalnya sudah aman, ia menolak untuk segera sadar. Kalian bersabarlah. Dia sudah melawan malaikat maut, tidak akan pergi semudah itu," ucap Gerald.


Sophia dan Lily mengerjap. "Sedikit berbeda," bisik Lily langsung pada Sophia.


"Kita harus berterima kasih padanya," balas Sophia.


"Tuan, terima kasih telah menyelamatkan Nona!"ucap keduanya, membungkuk serentak pada Gerald.


"Sudah tugasku," jawab Gerald singkat.


"Kalau begitu saya permisi." Gerald hendak beranjak. Namun, tiba-tiba ada yang mencekal tangannya. Gerald menoleh ke belakang. Ia terbelalak.


Roxena sudah membuka mata dan menatapnya tajam. "Kau mau ke mana?"tanya Roxena lemah. Matanya sayu.


"Jangan pergi. Temani aku," pinta Roxena. Kerjapan matanya begitu lambat.


"Jangan pergi. Biarkan saja mereka yang pergi."


Pasangan itu beradu pandang. Gerald dipenuhi dengan tanda tanya. Dan Roxena dengan tatapan sayunya. Tatapan yang jarang Gerald lihat.


"Gerald, aku membutuhkanmu."


"Lepaskan!" Gerald berusaha melepaskan cekalan tangan Roxena. Tapi, itu sangat kuat. Padahal Roxena sedang dalam keadaan lemah, baru sadar dari operasi besar!!


Dari mana datangnya kekuatan Roxena itu?


"Jangan pergi, hiks. Aku membutuhkanmu, hiks, sakit … sakit, Gerald."

__ADS_1


Ada apa dengan wanita gila ini?


"Nona?!"seru Sophia saat kesadaran Roxena menghilang.


__ADS_2