Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 78 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

Roxena tak bergerak diam-diam lagi di depan Gerald. Sekitar pukul 20.00, Roxena bersiap untuk rencana penyerangan terhadap Gerakan Misterius yang telah diatur.


Buku di tangan Gerald menganggur sebab Gerald lebih fokus pada Roxena yang tengah mengikat rambutnya kuncir kuda.


"Kau mau ke bangunan itu, Xena?"tanya Gerald memastikan tebakannya.


"LS," jawab Roxena meralatnya.


"Ah."


"Kau tidak mencegahku?" Roxena membalikkan tubuhnya. Ia pernah beberapa kali membaca novel bertema mafia. Biasanya pasangan akan membujuk untuk tidak pergi karena berbahaya. Tapi, Gerald tidak melakukannya.


"Kau pergi pasti hal penting. Meskipun aku tidak ingin, aku tidak boleh egois."


"Ku pikir itu tidak egois," sahut Roxena.


"LS adalah rumahmu juga. Tapi, bolehkah aku meminta sesuatu?"


"Katakan."


"Jangan terluka seperti yang lalu-lalu. Aku tidak sanggup melihatmu melawan maut lagi," pinta Gerald sungguh-sungguh.


Roxena tersenyum tipis. "Mungkin aku akan terluka. Tapi, aku tidak akan mati. Tunggu aku, okay." Sebelum pergi, Roxena lebih dulu memeluk Gerald. Setelahnya barulah ia meninggalkan kamar. Diiringi dengan tatapan cemas Gerald.


Gerald menyusul keluar. Roxena sudah meninggalkan apartemen. Sophia yang melihat itu, menghampiri Gerald.


"Tidak perlu terlalu khawatir, Tuan. Nona akan berhasil."


"Kita berdoa saja." Gerald menghela nafas pelan. Sembari menatap kedua tangannya.


Kemampuan bela diri memang mengalami peningkatan. Hanya saja, untuk urusan mafia seperti ini tidak cukup hanya dengan kemampuan bela diri fisik. Penguasaan terhadap strategi dan penggunaan senjata sangat diperlukan.


Sebenarnya Gerald ingin pergi ikut bersama dengan Roxena. Namun, ia tidak yakin dengan dirinya sendiri. Gerald tidak mau menjadi beban. Oleh karenanya, ia membiarkan Roxena pergi tanpa mencegahnya.


*


*


*


Di lain sisi, Roxena telah tiba di markas Light and Shadow. Disambut oleh Lily dan para anggota elit LS. Di antara mereka ada Luro, Lyra, dan juga Lucky, yang mana sebelumnya adalah ketua kelompok tanpa nama.


"Lady."


Sebelum berangkat, mereka lebih dulu menyusun strategi. Erin menjelaskan dengan fasih rencana penyerangan dan juga pelarian.


Di depan mereka adalah sebuah meja yang memuat peta lokasi target mereka. Lokasinya di dekat pantai.


"Dalam penyerangan ini, lakukan yang terbaik. Kelompok Beta, kalian bertugas memblokir jalan keluar dari sisi Barat. Ini adalah jalur yang harus mampu kalian blokir!"ucap Erin memberikan penegasan.


"Kelompok Alpha dan Gamma menyerang bersama. Kelompok Omega, kalian mengikuti di belakang kelompok Alpha dan Gamma. Apa bisa dimengerti?"


"MENGERTI!!" Jawaban serentak. Roxena mengangkat tangannya, pertanda ingin mengatakan sesuatu.


"Lawan kita bukan amatir seperti yang lalu-lalu. Mereka memilih tempat yang strategis sebagai markas. Besar kemungkinan bahwa mereka adalah orang-orang militer atau tentara bayaran profesional. Kalian harus hati-hati!"ucap Roxena mewanti-wanti.


Kelompok elit adalah kelompok dengan kemampuan terbaik. Roxena tidak ingin kehilangan banyak anggota. Ia tahu jelas resiko penyerangan ini. Ibarat pepatah, menang jadi arang kalah jadi abu, tetap ada kerugiannya.


"Untuk kelancaran rencana kita, ada baiknya kita berdoa, Lady," saran Lucky.


Roxena menyetujuinya. Selesai berdoa, mereka menuju kendaraan masing-masing. Untuk para anggota, mereka menggunakan kendaraan berupa truk yang biasa digunakan oleh tentara. Serta beberapa mobil lagi. Setiap kendaraan itu dilengkapi dengan senjata.


Sementara Roxena setia pada kendaraan pribadinya. Biar bagaimanapun, mobil putih itu tidak kalah dengan kendaraan yang biasa digunakan oleh tentara. Erin mengemudi. Sementara Roxena, kembali membaca dan menyusun rencana cadangan dalam penyerangan.


"Nona, penyerangan kali ini memiliki kondisi khusus. Anda tidak boleh gegabah. Saya akan melindungi Anda!"


"Aku tahu, Erin."


Untuk antisipasi, Roxena sudah menggunakan rompi pelindung. Di dada, perut, serta di lengannya juga. Ia juga akan menggunakan pelindung kepala.


Sekitar 1 jam kemudian, mereka tiba tak jauh dari lokasi tujuan.


Lokasi markas itu ada di dekat pantai. Dekat pula dengan bunker yang diperuntukkan untuk pelarian dan perlindungan diri. Medannya cukup aman namun air yang tenang justru menghanyutkan.


Ranjau-ranjau cocok sekali ditanam di bawah pasir pantai. Untuk pelarian mereka bisa terjun ke pantai. Roxena tak bisa menahan tawanya.

__ADS_1


Stella oh Stella, kasihan sekali dirimu.


Kelompok Alpha dan Gamma masing-masing dipimpin oleh Erin dan Luro. Sementara kelompok Beta dipimpin oleh Lyra. Dan Lucy, diperintahkan untuk bergabung bersama dengan kelompok Omega.


Setelah bergabung dengan LS, ada banyak pengembangan penelitian yang sudah menunjukkan hasil. Hari ini, Lucky ingin mencobanya. Senjata buatan Ferrum juga digunakan dalam penyerangan ini. Senjata tajam, senjata api, dan senjata khusus terbaru yang perpaduan dari senjata api dengan peluru berupa jarum yang sudah dilumuri dengan racun. Dalam sekali tembak, 10 jarum akan meluncur, saat mengenai apapun, racun akan bereaksi. Dokter Liu yang mengembangkan jarum beracun itu, memiliki sifat korosif.


"Mulai!"


Roxena memberi titah. Mereka bergerak cepat namun stabil. Langkah mereka terdengar begitu ringan.


Penembak jitu melakukan tugasnya. Mereka bersembunyi di pepohonan pinus yang terdapat di dekat markas. Menghabisi penjara gerbang dan orang-orang yang berada dalam jangkauan penglihatan mereka.


"PENYERANGAN! PENYERANGAN!" Gemuruh keributan dan serta alarm bahaya terdengar nyaring dari dalam markas.


"Maju!" Luro dan Erin menginstruksi.


Suara senjata yang cukup keras memancing seluruh orang yang berada dalam markas Gerakan Misterius itu keluar dengan persenjataan lengkap. Tubuh mereka tegap kekar dan profesional. Beberapa wajah, Roxena mengenalinya. Mereka adalah pensiunan militer, dan juga beberapa tentara yang membelot. Selebihnya, mungkin hanya anggota baru atau tentara bayaran yang bergabung.


Tidak ada percakapan. Mereka beradu tembakan. Anggota Alpha dan Gamma berada di garis terdepan. Anggota Omega membentuk perlindungan untuk Roxena menggunakan tameng. "Lempar!"ucap Lucky memberi perintah. Bola-bola kecil dilemparkan. Langsung meledak begitu membentur tanah.


"Lady!" Lucky berteriak saat Roxena keluar dari pengamanan.


Roxena mengabaikannya. Tatapan matanya fokus pada arah tembakan yang lawan yang sangat akurat. Ia harus menghentikannya. Kemungkinan itu adalah pimpinan markas.


Lucky ingin mengejar. Namun, terhalang dengan musuh yang semakin banyak.


Di keriuhan pertempuran dua kelompok, di bawah rentetan peluru dan jarum beracun, Roxena menerjangnya hingga ia bisa masuk ke dalam bangunan musuh.


Beberapa anggota musuh yang menyadarinya langsung menyerang Roxena. Sayang, kalah cepat dengan lesatan peluru desert eagle milik Roxena.


"Brengs*ek!" Seseorang mengumpat.


"RUN!!" Tak lama terdengar perintah untuk melarikan diri. Tampaknya mereka akan kalah.


"Mau lari ke mana?" Roxena menghadang. Yang dihadang adalah pria kekar dengan luka pada wajahnya.


"Damn! Matilah!!"


Menggunakan gagang senjata laras panjang untuk menyerang Roxena. Di balik pelindung kepala itu, Roxena menarik smirk. Ia menyimpan desert eagle berganti menggunakan pisau.


Keuk!!


Roxena lengah, ia berhasil dipukul pada bagian bahu. Disusul dengan dirinya yang diangkat dan dibanting.


"Uhuk!"


Roxena berusaha bangkit. Amarah membumbung tinggi. Ia sangat takut.


Di saat demikian, pria itu berusaha kabur. Roxena melemparkan pisaunya. Lalu mengangkat desert eagle.


Ugh!


Keuk!


Bugh!!


Pria itu tidak bisa lari. Terjatuh akibat kakinya terkenal peluru. Biar begitu, ia tetap berusaha merangkak.


Di luar, pertempuran yang semula intens mulai memperlihatkan siapa yang unggul. Satu demi satu anggota dari Gerakan Misterius tumbang.


Melihat situasi di luar sudah bisa dikendalikan, Erin lari masuk ke dalam untuk membantu Roxena, begitu juga dengan Lucky setelah melempar granat api ke area musuh.


"Nona!" Melihat Roxena yang terduduk sambil memegangi perut. Roxena merasa perutnya sangat sakit akibat bantingan tadi.


Dengan kesakitan, Roxena menunjuk pria yang sudah merangkak jauh. Mata Erin berubah dingin, ia gegas berlari mengejarnya. Menancapkan pisau pada bahu pria itu. Teriakan sakit menggema di dalamnya.


"J-ja-ngan bunuh!!"ucap Roxena yang kini berada dalam gendongan Lucky.


Tidak mati, hanya setengah mati. Pria itu hampir kehilangan kesadaran saat ditarik keluar.


"Luro, aku serahkan padamu dan Lyra!"


"Si, Erin!"


Erin dan Lucky gegas meninggalkan lokasi. Erin mengemudi dengan kecepatan tinggi. Sementara Lucky menjadi tempat Roxena bersandar sembari meremas jari-jari Lucky karena rasa sakit yang semakin menjadi.

__ADS_1


Jangan, tidak boleh!


Kau tidak boleh pergi. Aku sudah berjanji untuk menyayangimu.


Kau harus bertahan, Nak! Harus!!


Roxena memeluk perutnya. Tanpa ia sadari, air matanya jatuh. Lucky memperkirakan apa yang terjadi dengan gerak-gerik Roxena dan Erin.


Matanya terpejam saat menyadarinya.


"Semua akan baik-baik saja, Lady," ucap Lucky.


Erin melirik sekilas. Roxena hanya menganggukan kepalanya.


"PANGGIL LIU KE KAMAR LADY!"titah Erin begitu tiba di markas LS. Setengah berlari mereka menuju kamar Roxena.


Roxena masih sadar. Ia terus memegangi perutnya. Keringat dingin mengucur deras.


"LADY!!" Dokter Liu tiba. Ia langsung memberikan penanganan pada Roxena.


Erin dam Lucky menunggu dengan cemas. "Kau harus menyelamatkannya, Liu!"ucap Roxena sebelum ia tak sadarkan diri.


"LADY!!"


*


*


*


Di lain sisi, Gerald yang tidak bisa tidur tiba-tiba merasakan sakit luar biasa pada perutnya. Rasanya perih, juga dililit. Gerald tak bisa menjabarkan rasanya.


Kuek!!


Matanya terpejam erat. Keringat dingin mengucur. Semakin lama semakin sakit.


"Arrgghhhh!!"


"Arrgghhhh!!"


Tak bisa menahan sakitnya. Gerald berteriak kencang. Tubuhnya kini seperti udang yang disiram air panas. Mengungkung, dengannya nafas terengah.


Saat ini terpikir satu nama dalam benaknya. Apa terjadi sesuatu pada istrinya?


"T-tolong!!" Ia berteriak lemas.


"Tolong." Semakin samar dan akhirnya kegelapan menelan Gerald.


*


*


*


"Bagaimana, Liu?"


Dokter Liu menghela nafasnya. "Tadi itu sangat berbahaya. Syukurlah janin Nona sangat kuat."


Erin dan Lucky yang masih berada di dalam menghela nafas lega. Syukurlah sudah aman.


"Kau keluarlah," titah Erin pada Lucky.


"Si." Lucky keluar dari kamar Roxena.


"Sungguh tidak apa?"tanya Erin memastikan.


"Meskipun tampaknya mustahil, Nona dan janinnya sudah aman. Ini keajaiban, Erin," jawab Dokter Liu, sekali lagi memastikan.


"Kapan Nona akan sadar?"


"Kemungkinan besok pagi sudah sadar."


"Okay. Kau berjagalah di sini." Dokter Liu mengangguk. Ia menuju sofa. Sementara Erin mulai melepaskan sepatu Roxena. Juga melepas pelindung pada bagian dada. Bagian perut sudah dilepas lebih dulu tadi. Tak lupa melepas pelindung tangan dan kaki. Erin kemudian mengambil air untuk menyeka keringat Roxena.


Semua baik-baik saja, Nona. Kita menang. Cepatlah sadar, Nona.

__ADS_1


__ADS_2