
Roxena mengerjakan pekerjaannya di dalam kamar. Biasanya, jika dirinya di dalam kamar, gorden kamarnya tak pernah terbuka lebar. Hari ini, Roxena membiarkan cahaya mentari itu masuk, menyapa dirinya yang kini tengah fokus pada laptop dan dokumen yang diberikan oleh Erin.
Sebenarnya, Erin melarang Roxena untuk bekerja. Namun, wanita itu kekeh ingin bekerja.
Cukup sudah cutiku, Erin.
Aku akan mati bosan.
Di mata Erin, Roxena tak ubahnya anak perempuan yang tengah dalam masa pertumbuhan. Hanya dalam hari ini. Tidak tahu jika besok dan seterusnya.
Di kamarnya, Roxena sendiri. Erin sedang berada di perusahaan guna mengurus beberapa hal. Sophia dan Lily, mereka berada di luar kamar. Dan, Gerald, pria itu tentu tengah berada di rumah sakit.
Roxena merenggangkan tubuhnya, hati-hati karena luka di bagian dadanya masih rawan untuk terbuka kembali. Setengah pekerjaannya sudah selesai. Meskipun jabatannya belum sebagai Presdir, namun Tuan Lawrence sudah memberinya pekerjaan Presdir, tidak semuanya, hanya beberapa.
Wanita itu kemudian diam sejenak setelah minum. Otaknya bergerak cepat menyusun rencana untuk ke depannya. Melihat kalender, memperkirakan kapan ia bisa dilantik menjadi Presdir. Ini sudah hampir seminggu semenjak ia kecelakaan. Seminggu lagi, mungkin itu waktu yang cocok.
Roxena segera mencatatnya. Ada hal yang unik. Di meja kerja sekaligus merangkap meja belajar itu. Pena yang Roxena bukan pena pada umumnya. Ia menggunakan pena besi dengan ujung bulu burung, bulu ekor berwarna hitam, kuning, dan putih ~ yang berasal dari bulu burung rangkong, burung endemik dari pulau Kalimantan. Bulu yang ia dapatkan kala kunjungan ke pulau besar itu. Dan tinta yang diletakkan di dalam guci kaca. Khas seperti zaman kerajaan.
Bahkan, beberapa hiasan dinding itu ditulis tangan dengan tinta.
"Hm." Bergumam pelan.
Roxena mencoret sebuah keras, menuliskan beberapa nama di sana dan menarik garis hubungan. Tengah merancang sesuatu.
"Keluarga kerajaan mana yang mengingatku?"gumamnya pelan. Setahunya, keluarga kerajaan menaruh hormat pada keluarga Lawrence, terutama pada dirinya yang sepak terjangnya mengguncang dunia bisnis.
"Manusia bodoh mana yang bekerjasama dengan Ben sialan itu?" Roxena belum mendapatkan data lebih lanjut. Erin belum memberikannya.
Roxena ingin mencari tahunya sendiri. But, pekerjaannya masih menggunung. Ia menghela nafas pelan. Mungkin nanti malam bisa ia cari tahu sendiri.
Wanita itu masih fokus menyusun rencana.
"Hukuman?" Roxena memainkan gerak ekor matanya. Bibirnya melengkung smirk.
"Penggal dan gantung terlalu mudah. Bagaimana dengan cara mafia?"gumam Roxena dengan kekehan khasnya.
__ADS_1
*
*
*
Di belahan dunia lain.
Sekretaris Elisa tengah kelimpungan sendiri. Operasional butik berhenti sebab sang desainer tengah terpuruk hebat. Perpisahan dengan sang suami tercinta ~ ralat, mantan suami membuat Elisa begitu terpukul.
Begitu sadar, dan tahu bahwa ia telah dicerai oleh Gerald, belum lagi Gerald yang telah meninggalkan tanah air, membuat Elisa langsung drop. Wanita itu kosong seketika. Menolak makan dan minum, menolak pula untuk istirahat. Hanya menangis dan berteriak histeris.
Penculikan dan perpisahan itu, benar-benar membuatnya depresi. Ditambah lagi, dengan kabar pernikahan Roxena dan Gerald yang tersiar di negara ini. Membuatnya semakin tidak karuan.
Bingung, marah, sedih, overthinking, semuanya bercampur jadi satu yang diekspresikan dengan tangis tertahan.
Gerald sangat mencintaiku! Bagaimana mungkin dia meninggalkanku? Dia dipaksa, aku diculik, dia … dia terpaksa. Jangan hujat suamiku, dia terpaksa!!
Meskipun terpuruk, saat mendengar orang lain bicara buruk tentang Gerald, Elisa membelanya dengan lantang. Meskipun yang bersangkutan, tidak tahu hal itu. Dan, hujatan kepada Gerald yang sampai telah diblokir oleh Roxena.
Roxena, wanita itu tahu. Tahu kondisi dan keadaan Elisa. Roxena, senang dengan hal itu.
Meskipun tahu itu dipaksa, Elisa masih mempertanyakan alasan Gerald setuju.
Apakah dirinya? Elisa berpikir demikian. Dirinya beban untuk Gerald? Itu terpaksa, bukan? Demi dirinya?
Bagaimana?! Tidak, tidak bisa membiarkan Gerald dibelenggu oleh penculik jahat itu. Tapi, bagaimana cara melepaskan Gerald?
Elisa sudah mencari tahu tentang keluarga Lawrence. Itu keluarga yang besar dan masih ada darah bangsawan. Keluarga kerajaan saja sopan, bagaimana dengan dirinya yang hanya rakyat biasa?
Menggunakan hukum? Perceraian itu sah dan pernikahan itu juga sah. Apa yang hendak ia katakan? Keluarga itu pasti punya seribu satu jawaban.
Deportasi? Elisa tidak yakin Roxena seceroboh itu. Ketidakmampuan itu, semakin membuatnya terpuruk.
Jika aku mati, jika Gerald tahu aku mati, dia akan lepas, bukan?
__ADS_1
Bahkan Elisa sudah melakukan percobaan bunuh diri untuk itu. Ia mengiris nadinya sendiri. Beruntung, sekretarisnya datang tepat waktu, jika tidak Elisa hanya tinggal nama.
"Hiks … hiks, apa yang harus aku lakukan, Vio?"tanya Elisa, menangis dalam pelukan Violet, sekretaris Elisa.
"Bersabarlah, Nona. Ini adalah ujian untuk hubungan Anda dan Prof. Anda tidak boleh lemah, Prof. Gerald sedang berusaha di sana," jawab Violet sekenanya. Ia juga bingung.
Ia kaget mendengar berita penculikan Elisa dan juga surat cerai yang menyertainya. Sudah menduga hati Elisa akan hancur lebur. Ia juga melihat kenekatan Elisa. Selain itu, ia juga menyaksikan sebagian kisah cinta Elisa dan Gerald. Tahu, sedalam apa cinta kedua insan itu. Jadi, tak percaya jika Gerald menceraikan Elisa tanpa alasan yang jelas, kecuali demi Elisa sendiri.
"Prof. Gerald sudah berjuang untuk Anda, Nona. Saya mohon, Anda bangkit. Jangan seperti ini terus. Cukup, Nona. Cukup! Jangan sakiti diri Anda lagi. Prof. pasti akan sangat sedih melihat Anda seperti ini," ungkap Violet, ia mengusap lembut bahu Elisa. Saat ini masih melakukan rawat jalan di apartemen Elisa dan Gerald.
"Anda masih punya kesempatan, Nona. Anda harus bangkit dan kumpulkan kekuatan. Anda dan Prof Gerald pasti akan kembali bersama lagi!"ucap Violet menyemangati. Elisa yang kini sebatang kara, hanya ada dirinya untuk bersandar.
"Benarkah itu, Vio? Aku bisa bersama dengan Gerald lagi?"
"Benar, Nona! Cinta kalian itu sejati, tidak akan mungkin terpisahkan," jawab Violet membenarkan.
Senyum Elisa terbit. Wajah pucat itu sedikit berseri. Ia menatap pergelangan tangannya yang diinfus.
"Vio, aku siap untuk kembali! Suamiku, aku akan merebutnya kembali!"
Violet tersenyum dan mengangguk. "Saya di samping Anda, Nona!"
Keluarga Lawrence, ya? Ayo bertaruh!!
Sorot mata Elisa penuh kilat. Ia sudah punya tujuan kembali, merebut Gerald dari Roxena.
"Nona, saya akan selalu mendukung Anda. Tolong, jangan lakukan hal gila lagi. Saya sangat takut. Jangan menyakiti diri Anda lagi, janji?"
"Vio-" Mata Elisa berkaca-kaca.
"Maafkan aku." Elisa lantas memeluk Violet.
"Mari berjuang, Nona."
"Iya."
__ADS_1
Elisa kembali mendapatkan semangatnya.
Namun, apakah bisa Elisa dan Gerald kembali bersama lagi?