Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 25 Cara Rendahan


__ADS_3

Erin termangu setelah menerima panggilan dari Roxena. Erin semakin tak paham. Apa yang sang nona pikirkan dan inginkan, tentu dari pernikahan dengan Gerald. 


Erin berulang kali menanyakan itu pada Roxane. Namun, jawaban yang ia dapatkan terasa ambigu. 


Masa lalu?


Dendam yang bagaimana?


Kapan mereka berhubungan?


Erin tak menemukan jawabannya. Ia, sejak usia belasan sudah ikut dengan Roxane. 


Kapan?


Apakah masa kecil Roxane?


Erin sudah mencari tahu. Gerald lahir dan besar di Luxembourg. Dan Roxena, semasa kecil tak pernah menginjakkan kaki di sana. 


Erin, sama sekali tak menemukan jejak hubungan keduanya di masa lalu. 


Dan kini terpikir olehnya. Alasan Roxane tak kunjung menikah meskipun ada banyak lamaran yang datang. Mencari Gerald, lalu membawanya paksa. 


Ah, Erin menghela nafas kasar. 


Nona memang menderita paranoid. Akan tetapi, apa sampai seserius ini?


Entah dendam, obsesi, atau akibat paranoidnya, Roxane mengekang Gerald di bawah kendalinya. Pria itu, memang tampak bebas. Namun, sejatinya ia diawasi dari setiap sudut. 


Sejujurnya, Erin kasihan pada Gerald. Dipisahkan paksa dengan wanita yang ia cintai dan menikah paksa dengan Roxane selaku pelaku dari perpisahan itu. Akan tetapi, rasa kasihan itu ia simpan rapat di dalam hati. Baginya, titah dan keinginan Roxane adalah yang utama. 


Memang layak menjadi pemilik Light and Shadow.


Erin menatap penjaga yang mengambil tulang belulang di kandang Hering. Tulang belulang yang masih menyisakan sedikit daging. Erin menatapnya dingin. Ia harus mengirimkan tulang-tulang itu ke alamat tujuan. 


Kini sudah dikemas. Erin menyertakan logo Light and Shadow di dalamnya. Mengirim seorang anggota Light and Shadow untuk mengantar paket tersebut. 


Lantas Erin beralih menuju ruangan di mana Benjamin diletakkan. Tubuh Benjamin seperti tidak bertulang. Terbaring tak berdaya di ubin yang dingin. Terlihat, tubuh itu masih bergetar. Dan ada bercak darah di sekitarnya. Baju Benjamin tampak robek. Sepertinya racun yang Roxane berikan itu sangat dahsyat. Korbannya tidak akan langsung tewas melainkan tersiksa lebih dahulu. Perlahan, merusak kelima inderanya. Membuat korban seperti tak bernyawa tapi masih bernafas. 


Erin bergumam kemudian bergidik. Sedikit banyaknya, Erin menyaksikan tumbuh kembang Benjamin. "Semoga ini menjadi penebusan dosa Anda, Tuan Muda."


Erin meninggalkan ruangan untuk melakukan tugas selanjutnya. Ia menuju ke ruang laboratorium. Menuju jajaran rak kaca yang penuh dengan aneka botol obat. Semua dalam botol porselen. 


Mengambil salah satu botol dan melangkah pergi. 


*


*

__ADS_1


*


Roxane menggoyahkan gelas anggurnya. Tersenyum lebar menatap dirinya di depan cermin. Hari sudah malam, Roxane menggunakan bathrobe. Terpancar aroma segar dari tubuhnya. 


Roxane meminum anggurnya. Hanya sedikit. 


Tak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu. 


"Masuk!"


Pintu terbuka. 


"Nona, obatnya sudah bereaksi," lapor Lily dengan raut wajah serius. 


Roxane mengangguk pelan. Ia kemudian meletakkan gelasnya dan memasukkan pil ke dalam porselen putih yang diambil Erin tadi. Setelah larut, menenggaknya hingga habis. 


"Nona, mengapa Anda meminumnya juga?"tanya Lily tak paham. 


Roxane tidak menjawab. Pandangannya berubah sayu. Dan dengan langkah yang masih tegas keluar dari kamar. Mengabaikan kebingungan Lily. 


Roxane langsung menuju kamar Gerald. Suasana kamar itu, remang-remang. Di sana, di atas ranjang, mata sayu Roxane menangkap gerakan gelisah. 


Gerald merasa tubuhnya panas. Kepalanya terasa sangat pusingnya. Hasratnya naik drastis secara tiba-tiba. 


Panas, ia gelisah bak cacing kepanasan. Nafasnya terengah dan sudah melepas kaos yang membungkus tubuhnya. Menyisakan kaos singlet. Keringat membasahi tubuhnya. Gerald, pria itu sangat tersiksa. 


Pantas saja wanita itu tak berhenti tersenyum. Ternyata dia merencanakan hal menjijikan ini!!


"Sialan! Aku terjebak. Mereka, sialan! Tidak!"


"Aku tidak boleh kalah!"


Gerald sadar ia telah dicekoki afrodisiak. Gerald berusaha bangkit. Nafasnya semakin terasa. Ini sangat menyiksa. 


Akal sehatnya mulai terkikisnya. Ia ingin melakukan hubungan intim. Tapi, dengan siapa? 


Gerald berusaha untuk bangun. Berbaring bukan solusi. Ia harus mengatasi hasratnya sendiri. Melangkah tertatih menuju kamar mandi. Ia mencoba mempertahankan kesadaran dan akal sehatnya. Mengguyur tubuhnya di bawah dinginnya air shower. Gerald menggunakan tangannya, menuntaskannya secara mandiri. Namun, tak kunjung selesai. 


Panas di tubuhnya semakin menjadi. Membuangnya mengerang tak karuan. Sebenarnya afrodisiak jenis mana yang Roxane berikan? Efeknya tak kunjung hilang. 


"Sial! Bagaimana ini?!" Ia berlutut. Bingung. Tubuhnya mencari pendingin yang lain. Menggeleng keras. Pandangannya lantas teralih pada cermin. 


Jika aku kehilangan darah, aku akan pingsan. Jika beruntung, aku akan selamat. Jika mati, juga tidak masalah. Elisa, maafkan aku. Aku mengecewakanmu lagi. 


Gerald bersiap memecahkan kaca itu dengan tinjunya. Namun, tertahan kala ada yang memeluk dirinya. Pria itu tercekat. Dan seketika menoleh. 


"LEPAS!"berang Gerald mengetahui siapa yang memeluk tubuhnya. 

__ADS_1


Namun, pelukan itu tidak terlepas. Semakin erat. Membuat hasratnya semakin naik. "Mengapa menyiksa dirimu sendiri? Mari padamkan api ini bersama."


Dengan punggung yang telah telanjang, Gerald merasakannya. Mereka sangat dekat. Kulit mereka, bergesekan tanpa cela. Sementara jemari Roxane, berkeliaran menyentuh dada Gerald. 


Pria itu memejamkan matanya. Hatinya memberontak. Namun, tubuhnya tak kuasa menolak. Panas yang semakin panas. "K-kau! Tak tahu malu! Kau wanita hina! Menjijikkan! Lepaskan aku!!" 


Di bawah shower yang masih menyala, Roxane dengan kekuatannya membuat Gerald menghadap dirinya. Membelenggu Gerald. Sorot mata penentangan dan sayu bercampur menjadi satu. 


"Bukankah kita suami istri? Penolakanmu membuatku harus melakukan ini." Roxena berkata dengan dingin. 


"Cih! Suami istri apanya? Aku tak pernah menganggapmu! Pergi!!"


"Hahaha!" Roxane tertawa. "Meskipun harus pergi, aku harus mendapatkan hakku. Sekalipun dengan cara seperti ini. Kau pikir, aku wanita suci? Menunggu datangnya cinta baru berc*inta? Lupakan saja cinta seperti itu dalam hubungan kita!"


Dengan kasar, langsung mencium Gerald. Pria itu memberontak. Semakin lama semakin lemah. Apalagi Roxane aktif menyentuh titik vitalnya. Tak ayal, lenguhan keluar dari bibirnya. 


"WANITA GILA! AKU MEMBENCIMU!" Gerald tak ingin harga dirinya kembali diinjak. Ia juga harus memadamkan api ini. Tubuhnya semakin tak berdaya untuk menolak. 


Pria itu, melupakan akal sehatnya. Melupakan bahwa di depannya adalah wanita yang ia benci. Gerald membalas ciuman itu. Lebih intens dari Roxane. 


Roxena terbelalak. Lalu tersenyum smirk. 


Aku menggunakan cara yang sama, bagaimana rasanya, Gerald? 


Semakin intens dan panas. Keduanya berpindah menuju ranjang. Roxane menggigit bibirnya. Gerald begitu ahli, menyentuh bagian tubuhnya yang sensitif. Alhasil, desah pun semakin intens terdengar. 


"Caramu rendahan sekali!" Gerald sudah melepas semua kain di tubuhnya. 


"Cara rendahan yang berhasil, bukan?"kekeh Roxane. Wajahnya sedikit memerah. 


"Kau akan menyesal karena melakukan ini padaku!"


"Aku tidak akan pernah menyesal."


"Kau! Wanita gila, berapa banyak yang sudah menyentuhmu, hah?!" Lontaran hinaan dilontarkan oleh Gerald. 


"Kau akan menyesal mempertanyakan ini, Gerald!"


Sttt!


"Sial!"


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2