
Sudah satu Minggu Gerald cuti bekerja. Gerald sudah menghabiskan masa cuti tahunannya di awal ia bekerja. Jika Gerald tak kunjung masuk kerja juga, ia akan menerima konsekuensi berupa surat peringatan dan reputasinya akan tercoreng. Ya meskipun secara finansial tak masalah jika ia tidak masuk kerja lagi.
Kemarin sore mereka setelah kembali ke apartemen. Pagi sekali, Gerald sudah siap untuk berangkat kerja. Mengenakan setelan jas abu-abu dengan celana senada. Tak lupa menata rambutmu rupa.
Sekitar pukul 08.00, Gerald sudah selesai. Roxena masih nyenyak dalam peraduan. Tak mau mengganggu, Gerald menuliskan sebuah note yang ia letakkan di atas nakas lalu mengecup dahi Roxena.
"Sampai nanti."
Sarapan dengan beberapa potong roti dan kebiasaan minum kopi berganti menjadi minum jus kiwi. Gerald mengganti kebiasaannya itu mengingat bahwa usianya sudah tak muda lagi, begitu juga dengan Roxena. Jika Roxena tidak kunjung hamil dalam waktu dekat, kehamilan di usia lebih dari 30 tahun akan cukup beresiko.
Buah kiwi mengandung senyawa yang bernama zinc. Senyawa ini sangat bagus untuk membantu menghasilkan testosteron untuk jumlah ****** yang tinggi. Selain itu juga ada manfaat lain seperti meningkatkan kualitas tidur dan juga kekebalan tubuh.
"Jika Xena bangun nanti, buatkan jus kiwi untuknya," ujar Gerald sebelum meninggalkan meja makan. Selain itu, kiwi juga bermanfaat untuk promil. Sampai saat ini, Gerald belum menyadari kehamilan sang istri.
"Si, Tuan."
*
*
*
Hari pertama Gerald kembali bekerja diawali dengan meeting departemen. Seperti biasa, agenda minggu kemarin dijabarkan beserta dengan hasilnya. Dilanjutkan dengan membahas agenda di minggu ini. Operasi yang tak pernah absen tiap minggunya. Pemeriksaan rutin dan pembahasan kasus operasi yang rumit nan berisiko. Selalu ada pasien seperti itu.
Kurang lebih satu jam tiga puluh menit rapat berlangsung. Saat keluar dari ruang rapat, kepala departemen mengajak Gerald mengobrol sejenak.
"Syukurlah Anda sudah masuk kerja, Prof. Gerald."
"Apakah sesibuk itu?"
"Ya kurang lebih seperti itu. Kasus yang tidak bisa diselesaikan oleh rumah sakit lain biasanya dirujuk ke Lawrence Group. Kebanyakan penyakit sudah kronis dan sulit ditangani. Namun, di tangan Lawrence Hospital, bisa mengubah ketidakmungkinan menjadi kepastian. Ya, meskipun ada beberapa kasus tidak terselamatkan," ungkap kepala departemen.
Lawrence Hospital memiliki julukan yang hanya diketahui oleh segelintir orang, memang tidak begitu populer yakni Rumah Sakit Gerbang Kematian.
"Jika takdir sudah kehendak, manusia tidak akan bisa menahannya. Dokter hanyalah perantara," sahut Gerald.
"Anda benar, Prof. Meskipun tahu tingkat kesulitan dan resikonya, kita tetap berusaha semaksimal mungkin. Dan di antara banyaknya dokter, Anda adalah salah satu dokter yang saya kagumi. Reputasi Anda di bidang kardiovaskular sangat terkenal. Anda dikenal memiliki jari emas. Dan saya telah membuktikannya."
Kepala departemen tersenyum puas.
"Jari emas?" Gerald baru mendengar julukan itu.
"Benar. Karena Anda bisa menarik seseorang dari gerbang kematian."
"Itu berlebihan." Gerald berdecak pelan.
"Sebentar lagi saya akan pensiun. Saya ingin mencalonkan Anda sebagai kepala departemen baru, apakah Anda bersedia?"tawar Kepala Departemen serius.
Gerald terkesiap. "Saya hanya dokter baru di sini. Tidak memenuhi syarat untuk mencalonkan diri," tolak Gerald. Lagipula ia tidak punya niat untuk jabatan itu.
"Jika Anda ingin, Anda akan memenuhi syarat. Terlebih istri Anda adalah pemilik Lawrence Hospital." Gerald langsung menggelengkan kepalanya.
"Saya ingin berniat naik menjadi kepala departemen, Prof," tegas Gerald. Kepala departemen menghela nafas pelan kemudian tersenyum simpul.
"Saya tidak akan membahas hal ini lagi."
"Kalau begitu saya permisi," ucap Gerald.
"Presdir memilih suami yang tepat," gumam Kepala Departemen.
*
*
*
Siang itu, Jonathan mengunjungi Stella di istananya. Ia sebagai tunangan memiliki hak khusus untuk masuk tanpa melewati pencatatan. Kedatangannya yang tanpa kabar membuat asisten Stella kaget sekaligus bingung.
Stella masih drop pasca hancurnya Gerakan Misterius. Ia tidak mau menemui siapapun. Bahkan agendanya saja dibatalkan dengan alasan sakit. Tentu hal ini menjadi kekhawatiran bagi pihak istana. Sayang, Stella tidak memperdulikan hal itu.
Saat ini, hanya Jade yang dapat membujuk Stella untuk makan. Jika tidak, Stella akan terus termenung dan tiba-tiba kembali mengamuk.
"Siapa yang datang?" Saat ini, Jade tengah menyuapi Stella makan.
"Senor Jonathan."
Jade terkesiap beberapa saat. Stella yang mendengarnya langsung berdiri.
"Lady." Jade menahannya. "Apa Anda akan menemui tunangan Anda dengan penampilan seperti ini?"
Penampilan Stella sangat berantakan. "Bantu Lady bersiap. Aku akan menemani Senor Jonathan."
__ADS_1
Asisten menyetujui. Stella juga tidak menoleh.
Jonathan menunggu di ruang tamu. Pelayan istana menghidangkan teh dan camilan untuknya.
"Mana Stella?"tanya Jonathan begitu melihat kedatangan Jade.
"Lady sedang bersiap, Senor. Mohon tunggu sebentar."
"Aku dengar Stella sakit. Dia sakit apa?"
"Hanya demam ringan, Senor." Jonathan berdiri, mengelilingi Jade yang menatap lurus ke depan.
"Kau asisten Stella?"
"Saya pelayannya, Senor."
Jonathan memicingkan matanya. Ia tampak menyadari sesuatu namun tak mengatakannya. "Sepertinya kemampuanmu bagus." Jonathan kembali duduk.
"Anda berlebihan, Senor."
Selang beberapa menit, Stella keluar dan menyambut Jonathan. Jonathan kembali bangkit untuk mengecup punggung tangan Stella. "Rona wajahmu begitu pucat. Apakah hanya demam ringan?"
"Lalu apakah pelayan punya hak mendengar percakapan majikannya?"tanya Jonathan melirik sinis Jade yang tetap di tempatnya.
"Ah, maaf." Jade gegas meninggalkan ruang tamu.
"Bagaimana kondisimu?"
"Sudah lebih baik. Kau datang tanpa pemberitahuan. Ada apa?"balas Stella pura-pura tidak tahu bahwa kabar sakitnya telah tersebar.
"Kau mengalami masalah?"terka Jonathan langsung. Ia tidak percaya Stella mangkir dari tugasnya hanya karena demam ringan. Pasti ada alasan khususnya. Sebagai tunangan dan juga koalisi, ia harus mengetahui alasannya. Mungkin saja ia bisa membantu atau mendapat keuntungan.
"Proyekku gagal. Aku mengalami kerugian besar." Stella bersandar pada dada Jonathan.
Proyek? Jonathan menerka-nerka. Apakah proyek rahasia? Karena jika itu proyek publik pasti akan ada pemberitahuannya atau kabar gulung tikar suatu perusahaan.
"Kau butuh suntikan dana?"tawar Jonathan.
"Kau harus membantuku!"ucap Stella.
Stella lantas membisikkan sesuatu. Jonathan membelalakkan matanya. "Sebanyak itu?!"
"Bagaimana dengan bunganya?"
"Apakah aku tidak cukup?" Stella menangkup wajah Jonathan kemudian memberikan kecupan pada bibir tunangannya itu. Merasa tak puas, Jonathan menahan kepala Stella, mereka berciuman intens.
"Bunga ESA Group sangat mahal, Stella." Masih tidak puas.
"Apakah kau tidak bisa menahannya?" Stella berdecak kesal.
"Hahaha." Jonathan menarik Stella dalam pelukannya.
"Kau akan menjadi istriku. Bunga seperti itu tidak menyenangkan, Stella."
"Jangan keterlaluan, Nathan!"desis Stella meronta. Jonathan menahannya.
"Bantu aku," bisik Jonathan kemudian.
"Hm?"
"Aku memerlukan bantuanmu," ulang Jonathan.
Jonathan kembali membisikkan sesuatu pada Stella. Dengan seksama Stella mendengarkan hingga tercipta senyum di bibirnya.
"Bagaimana?"
"Akan aku lakukan!"
"Senang mendengarnya."
Tujuan Jonathan sudah tercapai. Ia berniat untuk pulang. Saat itu, ia mulai memperhatikan hiasan rambut Stella.
"Jepit rambut itu … cocok denganmu," ucap Jonathan sebelum meninggalkan ruang tamu.
Stella mengernyitkan dahinya.
Apa dia menyadari sesuatu?
*
*
__ADS_1
*
Setelah huru-hara yang terjadi, Roxena mengalami fase tenang setelah penyerangan Gerakan Misterius kemarin berhasil. Dirinya yang biasa tak ada waktu untuk menonton televisi, kini bersantai di ruang tengah menikmati tayangan teater.
Di tengah menikmati tontonan itu, Roxena mengalihkan pandangannya menilik dekorasi ruangan. Ia yang semula berbaring berubah menjadi duduk. Roxena memusatkan fokusnya pada satu sisi.
"Hm … ada yang kurang. Lily!"
Lily segera datang menghadap. "Di mana lukisan pernikahan yang Max kirim?"
"Ada di kamar Anda, Nona," heran Lily. Apakah Roxena tidak memeriksanya?
"Ambilkan."
Lily bergegas. Roxena kemudian memanggil Sophia untuk mengambil palu dan juga paku untuk menggantung lukisan pernikahan.
"Letakkan di atas televisi itu!" Alhasil kedua bawahan Roxena itu memindahkan televisi dan mejanya terlebih dahulu.
"Bagaimana, Nona?"tanya Sophia sebelum memaku paku ke dinding.
"Naik sedikit lagi."
"Pas!"
Kini saatnya lukisan digantung. Kain hitam itu dibuka menunjukkan lukisan buatan Max.
Lukisan itu sangat detail, baik dari warna maupun sketsa. Ya, meskipun gaun yang digunakan Roxena membuat salah fokus. Kemeja putih Gerald kontras gaun hitam Roxena.
Berbeda itu unik. Roxena puasa dengan hasilnya. "Letakkan dua lukisan lagi di ruang tamu dan kamarku!"
"Baik, Nona."
Roxena kemudian mengambil ponselnya. Mengambil gambar lukisan itu dari beberapa sudut. Sudah lama ia tidak memposting sesuatu di akun media sosial pribadinya. Terakhir, adalah foto wisudanya.
Roxena memposting foto lukisan itu dengan keterangan "Now and forever, for the rest my life, eternal love." Tak lupa mencantumkan tanggal pernikahan mereka.
Meskipun Roxena jarang memposting kesehariannya atau moment pentingnya, ia memiliki pengikut yang sangat banyak. Mencapai jutaan. Dan dalam waktu singkat, ada banyak yang menanggapi postingan itu. Roxena tidak peduli. Tujuannya hanya untuk mengumumkan sekali lagi bahwa Gerald miliknya!
Roxena kembali lanjut menonton teater. Menikmati hari ini sebelum kembali bekerja besok.
*
*
*
Gerald merasakan ada yang berbeda saat memasuki apartemen. Dalam waktu singkat ia langsung menemukannya. Gerald termangu menatap lukisan yang baru dipajang itu.
"Unik." Kesan pertama yang Gerald dapatkan.
"Mempesona."
"Hitam tidak mengerikan. Justru menakjubkan."
"Anda sudah pulang, Tuan?" Lily menyapa. Gerald mengangguk.
"Mana Xena?"
"Nona ada di kamar, Tuan." Gerald kembali mengangguk kemudian menuju kamar. Ia membawa sesuatu.
Mendapati Roxena duduk di dekat jendela sembari membaca buku. Penampilan Roxena itu membuat jantung Gerald berdebar. Tidak menggunakan gaun mewah ataupun perhiasan. Hanya mengenakan dress berwarna abu dengan motif bunga. Rambutnya disanggul asal dan fokus membaca buku hingga tak menyadari kehadiran Gerald.
Gerald berdehem beberapa kali barulah menyadarkan Roxena. "Kau sudah pulang?"
"Hm."
"Kau membaca apa, Xena?"
"Hanya buku biasa," jawab Roxena seraya menutup bukunya. Roxena melirik paper bag yang Gerald bawa. "What this?"
"Cokelat."
"For me?"
"Coklat bisa membantumu untuk rileks. Aku belikan sekotak dari toko rekomendasi Erin," jelas Gerald.
"Cobalah." Gerald mengambil satu dan memberikannya pada Roxena.
"Ini enak. Aku suka."
Hanya dengan senyum itu saja, hati Gerald sudah berbunga-bunga. Syukurlah Roxena suka.
__ADS_1