Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 88 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

"Kebetulan sekali, selamat siang, Mr. Regis," sapa Roxena saat melihat Regis di lobby hotel.


Regis segera menguasai dirinya, ini wilayah kekuasaan Roxena, kedatangannya pasti sudah diketahui. Apakah Roxena tidak bisa menahan diri lagi?


"Kebetulan sekali. Siang, Nyonya Chaddrick," balas Regis tersenyum.


"Anda ada pekerjaan di Madrid?" Hanya basa-basi. Roxena memasang senyum terbaiknya.


"Iya." Regis tertawa.


"Sayang sekali." Roxena berdecak.


"Ada masalah apa, Nyonya Chaddrick?"tanya Regis mengernyit.


"Biar bagaimanapun Lawrence Group berteman dengan Capital Group. Anda datang ke Madrid, sebagai Tuan Rumah seharusnya saya mengajak Anda makan malam bersama. Sayang sekali, saya tidak ada waktu kosong,"


"Ah tidak perlu repot-repot, Nyonya Chaddrick. Sebelumnya terima kasih atas ajakan Anda." Regis menunduk sendiri.


"Hm … baiklah. Mungkin bisa lain kali. Semoga urusan Anda lancar, Mr. Regis," sahut Roxena. Ia kemudian sedikit menundukkan tubuhnya sejajar dengan Regis yang duduk di kursi roda. "Jangan lakukan hal yang sia-sia," bisik Roxena lalu tersenyum smirk.


Gerald terpaku. Jelas Roxena memberi peringatan. "Selamat siang, Mr. Regis." Roxena berlalu, menuju lift disusul oleh Erin.


Roxena datang ke hotel ini bukan hanya untuk memperingati Regis namun juga karena ada pekerjaan. Ah, pemberitahuan bahwa Royal Hotel sudah berada di bawah Lawrence Group.


"Apa kau yakin, Elisa?" Sekali lagi Regis memastikan keputusan Elisa.


"Aku yakin, Regis! Pulau itu sangat sempurna untuk kehidupan baru kami!"tegas Elisa.


"Kita hanya punya satu kali kesempatan, Elisa!"


"Aku tahu, Regis."


"Sekali lagi aku tanya padamu. Elisa kau yakin dengan rencana ini?"tanya Regis, kembali bertanya.


"Aku yakin."


"Apa kau yakin?" Untuk yang ketiga kalinya, Elisa terdiam beberapa saat. Jantung Regis berdebar kencang. Menitik secercah harapan.


"Untuk apa kau bertanya seperti ini, Regis? Keputusanku tidak berubah!"


Secercah harapan itu langsung sirna. Regis memalingkan wajahnya yang kecewa. Mencoba mengatur mimik wajahnya.


"Maaf, Regis. Aku tidak bisa menerima perasaanmu. Aku tidak punya keinginan mencintai pria lain. Maaf. Kau pasti akan menemukan seseorang tepat untukmu," ujar Elisa. Regis menghela nafasnya, menyeka pangkal hidung.


"Aku tahu. Tapi, bolehkah aku meminta satu hal?"pinta Regis, menatap harap Elisa.


"Setelah ini, tidak tahu apakah ada kesempatan untuk bertemu lagi. Permintaan ini anggaplah sebuah perpisahan. Apa kau mau mengabulkannya, Elisa?"


Melihat tatapan Regis dan semua bantuan Regis selama ini, Elisa tak kuasa menolak. Ia mengangguk menyetujui.


"Mari menikmati keindahan Madrid," ajak Regis.


Elisa menyetujuinya. Bukan hal sulit. Itu sangat sederhana.


Roxena mengubah keberangkatannya menjadi malam hari karena jadwal meeting dimajukan.


Keduanya yang semula kembali cekcok secara alamiah berbaikan dan kembali mesra. Gerald mengantar Roxena ke bandara. Roxena akan meninggalkan Madrid selama 3 hari.


"Hati-hati di sana. Jaga diri. Tidak ada aku jika kau terluka di sana!"ucap Gerald memperingati.


"Tapi, ada saya, Senor," celetuk Liu yang baru datang bersama dengan Erin.


"Kau ikut, Dokter Liu?"


"Saya ada urusan di Shanghai, sekalian pulang ke kampung halaman, Senor."


"Bagus. Dengan begini aku tidak terlalu khawatir." Tersenyum pada Roxena lalu menatap dokter Liu, "mohon kerjasamanya, Dokter Liu."

__ADS_1


"Si, Senor."


"Kau juga jaga diri selama aku keluar. Jangan macam-macam," ucap Roxena mengalungkan tangannya pada leher Gerald.


"Ingat semua kata, janji, dan sumpahmu padaku!"


"Aku ingat." Gerald mengecup lama dahi Roxena.


"Aku akan sangat merindukanmu."


"Hm."


"Waktunya berangkat, Nona," ucap Erin. Roxena mengangguk.


"Aku berangkat."


"Sampai nanti, Istriku."


Gerald menatap punggung Roxena yang menaiki pesawat. Dalam beberapa hari mereka akan terpisah sejauh 10.000 km dengan zona waktu yang berbeda.


Pesawat pribadi Lawrence Group meninggalkan area parkir menuju area lepas landas. Beberapa menit kemudian, pesawat itu mau mengendara dan bertolak menuju Shanghai.


"Mari pergi, Tuan." Luro ditugaskan untuk menjaga Gerald selama Roxena pergi.


"Hm."


Sementara Gerald yang merasa tidak nyaman karena berjauhan dengan Roxena, Jonathan uring-uringan karena tidak ada kabar sama sekali mengenai Stella.


Dikirim pesan tidak dibaca, ditelepon nomornya tidak aktif. Didatangi langsung ke istananya, malah tidak diperbolehkan masuk. Padahal dia adalah tunangan Stella.


Dikabarkan bahwa Stella sakit. Semangat tunangan resmi, Jonathan punya hak untuk menjenguk Stella.


Jonathan mulai overthinking. Berpikir bahwa pihak kerajaan tidak menganggap dirinya. Berpikir bahwa Stella tidak membutuhkan bantuannya lagi sehingga tidak menganggapnya penting, atau memang kondisi Stella sangat mengkhawatirkan?


Karena bukan hanya kunjungan dirinya yang ditolak. Kunjungan pejabat dan rekan-rekan Stella juga Ratu juga ditolak dengan alasan penyakit Stella menular.


Kini, Jonathan mulai meragukan hubungannya dengan Stella. Apakah ini sesuai dengan apa yang ia pikirkan atau menuntunnya ke arah kehancuran. Jonathan mulai memikirkan itu secara mendalam.


Setelah kurang lebih menempuh 12 jam perjalanan, Roxena, Erin, dan Liu tiba di Shanghai. Waktu menunjukkan pukul 14.00 waktu Shanghai. Di mana Tiongkok enam jam lebih cepat dari Madrid maka di sana ini masih pagi hari. Roxena mengecek ponselnya. Ada banyak pesan dari Gerald. Mengartikan bahwa Regis maupun Elisa belum melancarkan rencana. Perkiraan Roxena adalah siang atau malam nanti.


Sengaja ia menempatkan Luro. Karena, ia bisa memberikan kekuasaan cara menangani Gerald seandainya pria itu memutuskan untuk lari.


Liu menghirup dalam-dalam udara tanah kelahirannya. Sudah cukup lama ia tidak pulang kampung.


Erin juga begitu excited. Di luar pekerjaannya nanti, ia bisa membebaskan jiwa fangirlnya.


"Besok malam adalah acara penghargaan tahunan. Dia dikabarkan akan hadir. Kau mau menontonnya?" Kabar itu terdengar begitu merdu di telinga Erin. Tentu saja ia mengangguk semangat. Tidak boleh melewatkan melihat secara langsung.


"Aku tidak peduli dengan list kegiatan kalian. Tapi, jangan mengacaukan jadwalku!"tegas Roxena pada keduanya.


"Tentu, Nona/Lady." Mereka kemudian menuju pintu keluar bandara.


Karena kebiasaan tidur di jam tinggi, perbedaan zona waktu bukan masalah bagi ketiganya. Malam ini diawali dengan jadwal makan malam dengan beberapa perusahaan mitra. Makan malam di Lawrence Hotel.


Berjalan lancar. Selain melakukan pertemuan baik untuk silaturahmi maupun bisnis, Roxena juga ingin mengakuisisi beberapa perusahaan yang telah ia targetkan. Juga mensurvei lokasi tempat di mana ia akan membangun mall sekaligus perumahan. Menawarkan pesona tersendiri memiliki rumah di atas bangunan perbelanjaan.


Liu yang tidak ikut makan malam langsung mengunjungi beberapa tempat. Salah satunya adalah sebuah rumah yang sudah tua dan tidak terurus. Rumahnya di masa kecil.


Liu dikenal genius dalam bidang kedokteran. Oleh karenanya, ia terlibat dengan suatu organisasi rahasia yang mengumpulkan anak-anak berbakat untuk dieksploitasi.


Dalam suatu kesempatan, Liu berhasil lari dari tempat terkutuk itu. Dan secara kebetulan, seperti sudah ditakdirkan, ia bertemu dengan Roxena dan Erin.


Mendengar itu, Roxena sangat bersemangat. Ia langsung membawa orang untuk menghancurkan organisasi rahasia itu dan menyelamatkan korbannya.


Saat itu pula, Liu menyatakan diri akan menjadi pengikut Roxena. LS yang telah berdiri, membutuhkan orang berbakat. Liu bergabung dengan LS.


Dengan itu, Liu pindah ke Madrid, memulai hidup barulah sebagai anggota LS. Mengembangkan berbagai teknik pengobatan Tiongkok dan juga meneliti obat-obatan yang ampuh. Tetap saja, ia melakukan penelitian. Bedanya, ia melakukan penelitian di rumah bukan di mereka.

__ADS_1


Roxena adalah penyelamatnya. Maka, hidupnya adalah milik Roxena. Liu senang, ia memiliki Tuan yang dingin namun sebenarnya sangat perhatian.


Liu masih menatap rumah tua itu. Kilasan masa kanak-kanak yang membahagiakan. Kebersamaan dengan anggota keluarganya yang lain. Benar, Erin kehilangan anggota keluarganya tak lama setelah ia diculik. Mereka tewas dalam sebuah kecelakaan.


Mengingat momen-momen hangat itu, Liu tak kuasa menahan air matanya. Ia menangis kemudian luruh berlutut di tanah. Dengan lirih berkata, "Ayah, Ibu, Adik, aku pulang."


Elisa datang ke rumah sakit dengan menyamar menjadi pengunjung. Dengan bantuan denah rumah sakit, Elisa menuju departemen kardiovaskular. Ia sudah mendapatkan jadwal Gerald hari ini, seharusnya ini adalah jam istirahat.


Lorong tempat ruangan Gerald berada cukup lenggang. Elisa merasa masuk ke dalam sini tidak sulit. Karena yang sulit adalah keluarnya. Bisa masuk namun tidak bisa keluar.


Elisa mengetuk sebuah pintu, pintu ruangan Gerald. "Masuk!" Terdengar suara bariton dari dalam. Jantung Elisa berdegup kencang. Ia kembali jatuh cinta dengan pemilik suara itu.


"Anda siapa?"tanya Gerald curiga. Matanya menyorot tajam Elisa yang mengenakan masker. "Anda salah ruangan?" Ruang Dokter bukan ruangan yang bisa keluar masuk sesuka hati.


"Ini aku, Gerald." Elisa membuka maskernya. Semakin terlihat jelas kerinduan di mimik wajah Elisa.


"Elisa?!" Gerald terkejut bukan main. "Mengapa kau ada di sini?" Segera bangkit dan berdiri di depan Elisa.


Grepp!


"Aku sangat merindukanmu, Gerald."


"Elisa …." Apa mungkin saat ia merasa melihat Elisa tempo hari adalah benar Elisa? Bukan suatu kekeliruan?


"Ayo kita pergi dari sini, Gerald. Ini kesempatan kita! Selagi wanita itu di luar negeri," ajak Elisa penuh harap.


"Jawabanku tidak berbeda, Elisa. Kau melakukan hal yang sia-sia." Meskipun sangat terenyuh dengan perjuangan Elisa, Gerald telah memantapkan hatinya. Ia tidak akan berpaling lagi.


"Gerald, mengapa kau masih keras kepala?! Kau masih mencintaiku. Hanya aku yang kau cintai. Otakmu sudah dicuci olehnya!" Elisa tetap pada keras kepalanya. Menyakinkan dirinya sendiri padahal apa yang ia yakini jauh berbeda.


"Kembalilah, Elisa. Di sini berbahaya." Gerald mendorong Elisa. Gerald takut jika Elisa tertangkap maka Elisa akan dalam bahaya besar. Roxena tidak akan mentoleransi hal ini. Tunggu, bagaimana cara Elisa masuk ke dalam ruangan ini? Bukankah Luro dan bodyguard lain berjaga di luar?


Roxena … apakah semua ini dalam rencana Xena?


Jangan macam-macam. Ingat semua kata, janji, dan sumpahmu padaku!


Inilah arti kata-kata Roxena. "Kembalilah, Elisa!"ucap Gerald.


"Hubungan kita sudah berakhir. Maafkan aku."


Elisa gemetar mendengarnya. Tangannya mengepal dengan pandangan tertunduk. Elisa tengah menyakinkan dirinya. "Karena kau tidak bersedia. Maka, maafkan aku, Gerald!" Tiba-tiba Elisa membekapkan sesuatu pada Gerald.


Gerald yang terkejut langsung memberontak. Ia diberi obat bius. Dan dosisnya tinggi, sedikit saja dapat menghilangkan kesadaran. "Elisa … kau!" Gerald sempoyongan.


"Pergi, Elisa! Pergi!!" Gerald takut dengan kenekatan Elisa.


"Kita akan bahagia bersama, Gerald." Elisa kembali membekap Gerald yang sudah hampir kehilangan kesadaran sebelum benar-benar tak sadarkan diri. Elisa segera mendudukkan Gerald di kursi roda. Melepas jas dokter, memakaikan topi, kacamata, dan masker pada Gerald.


Kemudian meninggalkan ruangan. Sesaat, Elisa merasakan keanehan dengan lorong ini, mengapa begitu senggang dan tidak ada pengawalan sama sekali?


Tapi, diabaikan. Gerald sudah di tangan. Beberapa waktu lagi mereka akan segera meninggalkan Madrid dan menghilang dari pandangan dunia. Keinginan yang sederhana namun sangat sulit untuk dilakukan.


Elisa merasa takut saat berada satu lift dengan dua orang pria berbeda kekar.


"Hei, Nona. Anda salah tempat." Elisa merinding mendengar suara itu.


"Maaf saya-"


Roxena selalu membuat rencana dan mengambil langkah lebih dulu. Ia sudah memprediksikan berbagai cara yang akan dilakukan Elisa untuk membawa Gerald pergi. Tak terkecuali dengan cara pemaksaan.


Di tengah malam itu, Roxena menertawakan keinginan Elisa. Lalu sorot matanya berubah sendu.


Kau tidak mengingatku. Bahagiamu bersama dengannya. Maka aku, seseorang yang sangat mencintai dan kau cintai di masa lalu akan membantu. Semoga kau bahagia, Regis.


Pagi harinya sebelum mereka ke tempat pertemuan yang dijanjikan, mereka lebih dulu ikut Erin berziarah ke makam anggota keluarganya. Sudah sangat lama sejak terakhir kalinya.


Liu membakar dupa untuk anggota keluarganya. Kemudian ia berjongkok untuk menceritakan hidupnya secara singkat. Bahwa dirinya hidup dengan baik bersama dengan keluarganya yakni LS. Juga meminta maaf karena jarang mengunjungi. Berjanji akan mengunjungi setiap tahunnya.

__ADS_1


Setelah berziarah, mereka berpisah. Roxena dan Erin menuju lokasi meeting sementara Liu mengunjungi beberapa tempat yang menjadi favoritnya dulu, diantaranya adalah restoran dengan pangsit favoritnya. Ia mengajak Roxena dan Erin. Namun, keduanya sangat sibuk. Tidak bisa ikut, menyuruh Liu pergi sendiri, membebaskan dirinya meluapkan kerinduan akan kampung halaman.


__ADS_2