
Pagi ini Roxena bangun sebelum matahari terbit. Demamnya sudah turun dan Roxena merasa tubuhnya dipenuhi dengan energi. Namun, tak serta merta menghilangkan rasa nyeri luka terbarunya.
Roxena menatap dirinya di pantulan cermin. Melihat tubuhnya yang dipenuhi dengan luka dan bekas luka. Roxena menyentuh luka terbarunya yang masih dibalut dengan perban.
"Belakangan ini musuh-musuhku semakin berani saja," gumam Roxena. Penyerangan malam kemarin sudah diusut oleh Erin dan sudah mendapatkan kejelasan. Pelaku penyerangan itu adalah kelompok yang tak puas karena klien mereka lari ke organisasi Light and Shadow. Roxena memerintahkan untuk langsung membumihanguskan kelompok itu. Dalam sekejab kelompok itu sudah tinggal nama dengan pimpinan yang berada di dalam cengkeraman Roxena di markas Light dan Shadow.
Hari ini Roxena berencana untuk mengambil sendiri nyawa Pimpinan itu. Tangannya sudah gatal untuk kembali bernoda darah. Senyum devil Roxena sunggingkan.
*
*
*
Roxena sedikit terkejut karena Gerald masih berada di ruang makan, menikmati sarapannya dengan tenang dan tampak tak terusik dengan kehadirannya. Biasanya, di jam segini Gerald sudah tak berada di apartemen. Dan tidak ada tatapan sinis, tajam, dan juga benci.
"Apa kau masih demam?"tanya Gerald, menatap Roxena datar.
"Ya?" Roxena merasa pendengarannya bermasalah.
Ada apa dengan pria ini?
"Apa kau jadi tuli? Sepertinya otakmu semakin bermasalah setelah demam," ucap Gerald, muncul sudah kata-kata pedasnya. Namun, tak ada sorot benci dari tatapannya.
Gerald adalah pria yang sangat tidak senang jika harus mengulang pertanyaan. Gerald adalah seorang yang dingin dan sukar bersosialisasi dengan orang baru. Ia juga dikenal dengan mulut pedas. Jujur menyatakan ketidaksenangan. Pria itu adalah orang yang sukar mengontrol mimik wajah. Hati dan ekspresinya selalu sejalan.
"Jika kau penasaran, periksa saja sendiri," jawab Roxena, mengulurkan tangan kanannya pada Gerald.
Gerald menatap bergantian wajah dan tangan terulur Roxena. Gerald kemudian berdiri dan mendekat pada Roxena. Mengulurkan tangannya menyentuh dahi Roxena.
Menerima perlakuan itu, Roxena terkejut. Ia membeku. Otaknya merespon lambat.
Mengapa mendadak berubah? Trik apa yang kau mainkan, Gerald?
"Sudah tidak demam." Gerald menarik tangannya.
"Mengapa menanyakan hal itu? Bukankah kau tidak peduli aku mati atau tidak?"tanya Roxena dingin. Gerald kembali duduk.
"Aku akan menanggung dosa jika membiarkan pasien meninggal tanpa melakukan pertolongan apapun. Aku melakukan tugasku sebagai dokter," jawab Gerald, kembali menikmati sarapannya.
Roxena menyangga dahinya. "Benarkah?" Tidak percaya begitu saja. Biasanya kan selalu diancam baru mau melakukan tugas dokter padanya.
"Tidak ada alasan khusus. Lagipula kau itu kan atasanku." Gerald menjawab tenang.
"Bukan karena aku istrimu?"tanya Roxena.
Gerald kembali menatap Roxena. "Mungkin," jawabnya tanpa memberi kepastian.
__ADS_1
Roxena tersenyum. "Erin tak menjemputku hari ini. Nanti antar aku ke perusahaan dulu," ucap Roxena.
"Me-"
"Ya?" Roxena menaikkan alisnya saat mendengar Gerald hendak mengatakan sesuatu namun tidak jadi.
"Baiklah." Gerald tersenyum. Roxena merasa semakin aneh. Meskipun demikian hatinya senang.
*
*
*
"Sejak kapan kau menggunakan mobil ini?"tanya Roxena saat mengetahui Gerald menggunakan mobil putih yang ia berikan dulu.
"Sekitar seminggu yang lalu," jawab Gerald. Masuk lebih dulu ke dalam mobil. Thomas sebagai pengemudi sudah ada di dalam sana. Dan Jack menunggu Roxena untuk masuk.
Roxena mengulas senyum puas. Dan segera masuk.
"Bagaimana pekerjaan dua orang ini?"tanya Roxena. Mobil sudah melaju.
Bagi Jack dan Thomas, suasana ini sangat menekan. Mereka tengah disidak dadakan oleh pimpinan tertinggi, berharap Gerald tak menaruh dendam apapun pada mereka.
"Tidak ada keluhan," jawab Gerald, menatap lurus ke depan.
"Aku baik-baik saja. Tidak ada keluhan."
Thomas dan Jack diam-diam bernafas lega karena jawaban Gerald tidak berubah.
Roxena menghela nafasnya. "Baiklah kalau begitu."
Roxena kemudian membuka tabletnya. Di sisa perjalanan tenggelam dalam pekerjaan. Gerald sesekali melirik.
Sesuai dugaanku?
"Kalian berdua." Thomas dan Jack tegang seketika. Mereka baru saja tiba di depan gedung pencakar langit yang dengan modern, gedung utama Lawrence Group.
"I-iya, Nona." Menjawab kaku.
"Jika terjadi sesuatu dengan suamiku, nyawa kalian taruhannya!!"ucap Roxena. Menegaskan bahwa kedua pengawal itu harus menjaga Gerald dengan nyawa mereka.
"M-mengerti, Nona." Keduanya masih payah menjawab karena gemetar.
"Dan kau Gerald." Gerald menoleh pada Roxena. Sorot matanya tenang.
"Lupakan saja." Roxena kemudian turun dari mobil. Tanpa menoleh ke belakang langsung memasuki lobby gedung itu.
__ADS_1
Apa yang mau dia katakan?
*
*
*
"Selamat pagi, Nona." Erin menyambut Roxena di ruangannya.
Roxena mengangguk singkat. Langsung duduk di kursi kebesarannya.
"Nona, bagaimana luka Anda?"tanya Erin, khawatir.
"Sudah mulai kering," jawab Roxena. Menyalakan laptopnya.
Erin menghela nafas lega. "Nona, saya sudah membuat pengaturan untuk Anda. Mulai detik ini, Anda harus dikawal dekat oleh pengawal pilihan. Tidak boleh jauh dari pengawal jika di luar ruangan," ucap Erin, menggebu dan juga sudah membuat keputusan.
"Itu tidak perlu, Erin," tolak Roxena.
"Tidak ada penolakan, Nona. Lagipula saya rasa hanya Anda seorang Presdir yang jarang membawa pengawal. Nona, identitas Anda tidak sembarangan. Harus menunjukkan wibawa yang mendominasi!"oceh Erin, menyakinkan Roxena.
Roxena menggeleng pelan. "Erin, kau berkata seolah tidak tahu apapun. Dan aku tak butuh pengawal untuk menjadi pajangan. Mendominasi? Aku sendiri sudah cukup!"
"Tapi, Nona! Anda sering terluka belakangan ini!"bantah Erin. Meskipun bela diri Erin mumpuni, masih belum bisa melindungi Roxena.
"Terluka ya terluka. Artinya aku lalai. Lagipula kini aku duduk di depanmu tanpa kurang satupun. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Roxena kemudian berdiri, mendekati Erin yang matanya memerah. "Syutt! Tidak apa-apa. Jangan cemas. Aku hanya butuh kau di sampingku, Erin."
Roxena mengusap lembut puncak kepala Erin. Senyum teduh ia tunjukkan pada Erin.
Erin terharu. Seketika ia menangis. "Huwah! Nona, hiks … hiks. Maafkan saya yang tidak kompeten menjaga Nona. Hiks, saya masih terlalu lemah. Sayalah yang berada di bawah perlindungan Nona. Hiks, Nonaa…."
Erin langsung memeluk Roxena. "Kalau begitu bagaimana jika latihan bersamaku?"tawar Roxena.
Erin membuka matanya langsung. Dan seketika melepas pelukan dan mundur beberapa langkah.
"Tidak perlu, Nona. Saya sudah menemukan cara latihan tersendiri." Erin menelan ludah. Gugup dan takut. Ia sering mendengar bahwa banyak anggota yang tak mau lagi dilatih oleh Roxena. Dari yang Erin dengar, cara latihannya tidak manusiawi. Dengan semboyan "Beyond the Limit atau Melewati Batas".
Erin bergidik. Tak berani. Namun, Roxena tak melepaskannya. "Apakah lebih efektif dari cara latihanku?"
"N-Nona." Erin terpojok.
"Hehe. Sudah aku putuskan. Kita akan latihan bersama mulai hari Minggu ini. Erin, kau jangan lari, yaa!"
"N-Nona!" Erin menelan ludah. Ia bergidik. Sementara Roxena kembali ke kursinya dengan senyum yang mengembang lebar.
__ADS_1