Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 53 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

"Mengapa Anda masih di sini?!"tanya Roxena tak senang saat tahu Tuan Lawrence ikut makan siang bersamanya dan Gerald. Padahal sudah sekitar 3 jam ia keluar. Entah apa saja yang suami dan ayahnya itu bicarakan.


Sorot mata Roxena tajam pada keduanya, curiga.


Gerald dan Tuan Lawrence sempat tegang.


"Apa tidak boleh?"tanya Tuan Lawrence beberapa saat kemudian.


"Duduklah, Xena." Gerald bangkit dan menarik kursi untuk Roxena.


"Jarang-jarang kita makan bersama," bujuk Gerald.


Roxena duduk dengan wajah datarnya. Gerald dan Tuan Lawrence tersenyum senang.


Mereka makan siang bersama, tak ada percakapan. Diam-diam Roxena tersenyum.


"Ayah dengar kau ingin membangun perusahaan keuangan."


Begitu selesai makan siang barulah Tuan Lawrence memulai percakapan. Gerald memutuskan untuk menyingkir ke kamar.


"Aku tidak ingin ESA Group besar kepala. Keluarga Kerajaan dukungan yang cukup besar," jawab Roxena santai.


"Ayah punya teman ahli investasi di Amerika. Jika kau ingin, aku bisa membuatnya bergabung di Centauri," tawar Tuan Lawrence.


"Anda mendukungnya?"


"Apa penolakan Ayah berarti? Ayah akan berusaha membantu sebisa mungkin."


Roxena tersenyum tipis. "Rekomendasi Ayah aku akan menerimanya."


"Omong-omong, Xena. Sebentar lagi akan diadakan pertemuan keluarga. Ayah ingin kau meresmikan Gerald di sana," ucap Tuan Lawrence serius.


Pertemuan yang dimaksud adalah pertemuan keluarga setiap lima tahun sekali. Tuan Lawrence dan Roxena memang anak tunggal. Tapi, mereka memiliki kerabat dan keluarga cabang. Pertemuan itu akan mengumpulkan semua anggota keluarga Lawrence.


Pertemuan itu diadakan pada akhir musim gugur.

__ADS_1


Roxena mulai menghitung dan mempertimbangkannya. Rencana awal di akhir musim gugur akan dilaksanakan perayaan dan pesta pernikahannya. Namun, melupakan pertemuan keluarga rupanya jatuh pada tahun ini. Jika begitu ….


"Okay."


"Lalu temui saja Luz sialan itu!"kesal Tuan Lawrence.


Tuan Luz merupakan temannya. Sibuk mengganggu dirinya membujuk agar Roxena meluangkan waktu untuk mengobrol bersama dengannya.


"Tua Bangka itu menyebalkan. Aku tidak mau. Mengapa Anda berteman dengannya?"ketus Roxena.


"Mulutnya besar sekali. Suka mencampuri urusan orang. Aku juga tidak tahu mengapa bisa bertemu dengannya!"


"Tapi, Anda sangat akrab dengannya," sergah Roxena.


"Dia yang menempel padaku!"sangkal Tuan Lawrence.


"Huh!!" Keduanya sama-sama mendengus kesal. Gestur tubuh yang sama, memang ayah dan anak.


"Aku masih ada urusan lain," ucap Roxena.


"Bagaimana bisa kami ada waktu jika Anda terus di sini? Memangnya Anda tahu urusan saya apa?"sengit Roxena membalas.


"Anak ini!!"geram sekaligus gemas Tuan Lawrence.


"CK! Terserahmu saja." Tuan Lawrence bangkit.


"Segera beri aku cucu!"ucap Tuan Lawrence sebelum melangkah keluar dari apartemen Roxena.


Roxena berdecak pelan. Semua meminta kabar pewaris darinya.


"Eh, Ayah sudah pulang?" Gerald kembali ke ruang tengah. Ia celingak-celinguk memastikan.


"Sudah." Roxena bangkit dan masuk ke dalam kamar. Meninggalkan Gerald yang tampak bingung.


Tapi, sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, batin Gerald, lekas menyusul Roxena.

__ADS_1


Terdengar suara gemericik air. Roxena tengah mandi.


Sekitar dua puluh menit kemudian, Roxena sudah berganti pakaian menggunakan dress berwarna grey.


"Ayah bercerita tentang masa kecilmu denganku. Itu membuatku penasaran dengan sosok ibu mertua," ucap Gerald tak lama setelah Roxena mendaratkan tubuhnya di sofa.


"Haruskah ku jawab sekarang?"


Hembusan nafas kasar.


"Ah … aku telat menyadarinya. Bagaimana jika aku memijatmu?"tawar Gerald.


Roxena tampak lelah. Matanya memejam dengan dahi mengeryit.


Gerald bertanya-tanya. Seberapa besar masalah yang ditanggung Roxena?


Tidak ada jawaban. Gerald menyimpulkannya sebagai persetujuan. Gerald beranjak untuk mengambil minyak pijat untuk Roxena. Dibuat dari campuran minyak zaitun dan minyak esensial berubah rosemary.


Mulai memijat Roxena dari kaki. Mata Roxena tetap terpejam.


Selesai kaki, Gerald beranjak memijat kepala Roxena. Gerakannya terampil.


"Kau dokter atau tukang pijat?"heran Roxena. Tubuhnya terasa rileks. Dan sepertinya pikirannya lebih jernih.


"Saat masih tinggal di panti asuhan aku belajar teknik memijat dari salah satu pengasuh," jawab Gerald. Sejujurnya sudah lama ia tidak memijat, terakhir kali sebelum ini adalah saat masih bersama Elisa. "Apa kau merasa lebih baik?"


"Ya."


"Sudah cukup. Duduk di sini," ucap Roxena, membuka mata dan menepuk sampingnya.


"Ada dua hal yang harus aku beritahu padamu."


"Yang pertama, akhir musim gugur kita akan pergi ke pegunungan Lawrence untuk pertemuan keluarga. Yang kedua, akhir pekan kau temani aku menghadiri gala dinner," ucap Roxena memberikan dua jadwal utama itu. Tapi, tidak mengatakan tempatnya secara spesifik.


"Pertemuan keluarga?" Dibandingkan acara gala dinner, itu lebih menarik.

__ADS_1


__ADS_2