
Roxena membawa Gerald menuju ke salah satu toko pakaian. Ia menuju ke arah jajaran pakaian pria. Gerald pria itu tidak mengikuti Camelia melainkan duduk di sofa yang telah disediakan, menunggu seraya mengistirahatkan tubuhnya yang sangat lelah setelah melakukan operasi panjang.
Gerald terbangun saat merasakan tepukan ringan di bahunya. Pria itu menggumam kesal padahal ia sudah hampir telat. Begitu mengalihkan matanya ia melihat Roxane berdiri di sampingnya. Roxena menyodorkan beberapa pakaian pada Gerald.
"Aku memilih beberapa pakaian untukmu. Cobalah. Jika tidak cocok silahkan pilih sendiri," ucap Roxane, menunjuk ke arah ruang ganti.
"Tidak perlu ku coba," tolak Gerald.
"Kau yakin?"tanya Roxane memastikan.
Gerald tidak menjawab. Sudah pasti iya. Pria itu terlampau malas mengurus fashionnya. Biar Roxane saja yang memilih dan membayarnya.
Roxane mengedikkan bahunya. Ia lantas menumpahkan pakaian yang ia bawa pada Gerald. Menerima hal itu, Gerald menjatuhkan beberapa pakaian karena tak siap.
Roxane lantas melangkah menuju jajaran pakaian wanita. Ia memilih beberapa pakaian, diantaranya adalah cardigan, kaos, dan sebuah gaun berwarna cream. Entahlah, biasanya ia tak tertarik dengan pakaian berwarna terang namun kali ini gaun cream itu menarik perhatiannya. Apakah seleranya sudah berubah?
Setelahnya tanpa mencoba pakaian-pakaian itu, Roxane kembali menghampiri Gerald. Gerald terlihat kembali memejamkan matanya. Roxane memiringkan kepalanya sedikit.
"Dia tidur lagi?"
"Nyonya, apakah masih ada lagi yang Anda inginkan?"tanya staf toko.
"Sudah, hitung semua itu," jawab Roxane pada staf toko yang melayani mereka. Pelayan toko itu dengan cepat menghitung semua belanjaan. Wajahnya begitu cerah karena Roxane membeli banyak. Dan tentunya, ia akan mendapat bonus untuk itu. Ya, meskipun sedikit takut melayani Roxane yang masih kental dengan aura intimidasinya.
"Hei!"sentak Roxane, menatap tajam beberapa staf toko yang menatap Gerald penuh minat.
Mereka yang kena, langsung menunduk dan bubar. Staf toko yang melayani Roxane menelan ludah gugup. Ia tahu siapa yang ia layani saat ini. Wanita karier, putri tunggal keluarga Lawrence yang dijuluki Lily Of Death.
"Silakan, Nona." Staf tokoh memberikan notabil pada Roxena.
"Gerald." Roxane menerimanya dan membangunkan sang suami.
"Hm." Pria itu sangat lelah. Menggumam kesal, membuka matanya.
"Sudah?"
Disambut dengan Roxane yang mengulurkan tangannya, meminta sesuatu. Gerald tak paham. Apa yang diminta. "Bayar," ucap Roxane memberitahu.
"Bukankah?"
__ADS_1
Gerald seketika teringat ucapannya saat di mobil tadi, menatap Roxane yang menaikan sebelah alisnya.
Namun, bisakah kau sedikit memberiku muka? Jangan tunjukkan kekayaan atau kuasamu di hadapanku! Aku muak!
Gerald gegas mengambil kartu debit dari dalam dompetnya. Beberapa waktu yang lalu rasanya mengembalikan semua kartu debit ataupun kreditnya. Awalnya ia tak mau menerima kartu-kartu itu karena mengira itu adalah pemberian Roxena. Namun, setelah Erin menjelaskan bahwa isi dalam kartu itu adalah tabungan Gerald sendiri, mana sudah Roxane alihkan ke bank yang ada di negara ini.
Membayar nominal yang dihabiskan untuk belanja hari ini. Sejujurnya, Gerald sedikit menyesal, karena tabungannya berkurang banyak, bukan hanya untuk dirinya namun juga untuk keperluan Roxane. Namun, juga senang karena Roxane mendengar kata-katanya.
Namun, kita terus seperti ini, aku bisa melupakan dendamku.
Bagaimana denganku? Apakah aku tidak kau perhitungkan?gumam Gerald dalam hati. Wanita di sampingnya ini egois.
Setelah pembayaran selesai, keduanya keluar dari toko tersebut dengan Roxane yang menenteng semua belanjaan. Entahlah, Roxane hanya ingin. Ia senang, bahkan bersenandung pelan, meninggalkan Gerald yang terheran.
Begini rasanya belanja dengan uang suami, hihi aku merasakannya lagi. Wanita itu bahkan terkikik.
"Dasar gila!"
Gerald sudah bisa membuka pintu mobil itu sendiri. "PIN nya?"tanya Gerald.
"Hari pernikahan kita," jawab Roxane, masih asyik dengan senandungnya.
"Ke kediaman lama," ucap Roxana memberitahu saat Gerald melajukan mobil.
"Untuk apa lagi?"kesal Gerald. Ia sudah sangat lelah. Ingin tidur. Gerald lantas menghentikan mobil setelah keluar dari area parkir.
"Aku tidak ikut."
"Hei!" Roxane menahan tangan Gerald yang hendak keluar dari mobil.
"Hanya makan malam lalu pulang. Besok kan weekend. Kau bisa tidur seharian." Itu diucapkan dengan dingin. Tapi, tersirat sebuah permohonan.
"CK!"
Gerald bersedia. Ia kembali melajukan mobil. Maps sudah tertera di dashboard mobil. Tinggal mengikuti petunjuknya.
Sekitar 45 menit kemudian, mereka tiba di kediaman lama Keluarga Lawrence. Disambut dengan pelayan dan langsung diarahkan menuju ruang makan. Di sana sudah menunggu Tuan Lawrence dan juga Benjamin.
Tuan Lawrence tersenyum lebar. Sementara Benjamin dengan wajah tak senangnya.
__ADS_1
"Kakak ipar, kau datang dengan tangan kosong?"sindir Benjamin, mencari perkara.
Gerald tidak menjawab. Ia tahu adik tiri Roxane itu bermasalah. Ia mengambil tempat duduk di samping Roxane yang sudah duduk lebih dulu. Tak ada sapa menyapa.
Keluarga aneh.
"Diam kau, Ben! Menantu datang saja aku sudah senang. Lagipula kau pasti langsung dari rumah sakit." Tuan Lawrence angkat bicara.
"Ayah?!"protes Benjamin. Seharusnya ia didukung!
"Diam kau!"sentak Roxane kesal.
"Daripada kau ribut, lebih baik kau pergi dari sini!!"tambah Roxena.
"Kau?!" Bukan kakak lagi, melainkan kau. Roxane terkekeh pelan.
"Ayah, ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan," ucap Roxane, mengabaikan Benjamin.
Sebenarnya untuk apa mengajakku?
Gerald bertanya-tanya. Perutnya juga sudah lapar. Aroma hidangan di depan mata begitu menggugah selera. Namun, ia adalah orang berpendidikan. Apalagi posisinya sebagai menantu.
"Haha, apa itu? Tapi, sebelum kita bicara, ayo makan dulu. Ayah menyuruh dapur membuatkan makanan kesukaanmu. Ah, benar. Menantu, aku tak tahu kau suka apa. Aku harap kau suka dengan hidangan ini," ujar Tuan Lawrence.
Gerald mengangguk sekilas. Roxane juga mengikut. Mereka makan dengan lahap kecuali Benjamin. Tatapan tertuju lekat pada pasangan suami istri. Masih mencari. Namun, tak ia dapatkan. Itulah yang ia kesalkan.
Meruntuki takdirnya. Mengapa lahir sebagai anak haram? Mengapa ayahnya kolot?! Mengapa ia harus menderita? Dia anak laki-laki. Seharusnya sang ayah lebih sayang dan mendukung dirinya. Bukankah ia anak yang lahir karena keinginan sang ayah? Bukan, lebih tepatnya karena kelakuan Tuan Lawrence?
Jika Tuan Lawrence benar mencintai ibu Roxena, mana mungkin berselingkuh dan lahirnya dirinya?! Tidak adil, bukan?!
Roxena tahu tatapan itu. Abai. Menikmati makan malamnya. Apalagi Gerald yang dari siang belum makan lalu menemani Roxane belanja? Memangnya dokter itu selalu makan tepat?! Kadang kala jika melakukan operasi besar yang memakan waktu berjam-jam, mereka lupa untuk makan. Apalagi departemen tempat Gerald bekerja dikenal dengan departemen tersibuk di rumah sakit.
Benjamin ikut dalam pembicaraan itu. Kini mereka berada di ruang keluarga, yang berbalut dengan kesenjangan, bukan kehangatan.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan, Xena?"
"Jadikan aku kepala Keluarga Lawrence"jawab Roxane tegas.
"Apa?!" Benjamin berteriak kaget.
__ADS_1