
Kabar kecelakaan yang menimpa Roxena membuat publik gempar. Publik sangat menyayangkan hal tersebut. Namun, naas tidak dapat dihindari.
Tuan Lawrence yang masih memegang jabatan Presdir mengumumkan bahwa peralihan kekuasaan akan dijadwalkan ulang setelah Roxena pulih. Benjamin jelas tidak puas dengan keputusan itu. Ia ingin peralihan kekuasaan tetap terjadi dengan dia lah yang mewarisi Lawrence Group. Sayangnya, Tuan Lawrence teguh pada pendiriannya. Keluarga Lawrence adalah milik Roxena.
Kau harus tahu diri, Benjamin! Jika bukan karena pengorbanan istriku, kau tidak akan bisa masuk ke keluarga ini!! Harusnya kau berterima kasih, bukan ingin merebut apa yang menjadi milik Xena!!
Itulah yang Tuan Lawrence katakan saat Benjamin kembali mengajukan protes. Padahal sudah ditolak berkali-kali. Tapi, Benjamin tak kunjung menyerah.
Bukannya sadar, Benjamin malah semakin menjadi. Ia memikirkan cara lain untuk menyingkirkan Roxena.
Sementara Erin, ia tengah sibuk mencari penyebab kecelakaan Roxena. Sudah dipastikan bahwa itu bukan murni kecelakaan. Tidak melibatkan pihak kepolisian. Kepolisian cukup menyatakan bahwa itu adalah murni kecelakaan. Erinlah yang menangani sisanya.
"Nona, kami menemukan ini di lokasi kecelakaan," ucap salah seorang anggota Erin. Menyerahkan secarik kertas pada Erin.
Itu adalah sebuah alamat bank beserta dengan nomor loker dan juga sandinya. Merujuk pada suatu safe deposit box di sebuah bank.
Erin mengangguk. Kemudian bergegas pergi ke alamat yang ditujukan oleh kertas itu. Tak butuh waktu lama, tiba di sana. Erin segera menunjukkan secarik kertas itu pada pegawai bank dan segera, ia dibawa ke tempatnya.
"Silahkan, Nona."
Erin segera membuka deposit box itu. Ia mengernyit, mendapati di dalamnya ada sebuah lukisan dan amplop berisi uang tunai.
Semakin menguatkan bahwa itu, bukanlah sebuah kecelakaan. Erin lantas menghubungi seseorang. "Ke apartemen Nona sekarang!"titahnya singkat sebelum mengakhiri panggilan.
Erin kemudian meninggalkan bank tersebut.
*
*
*
Di lain sisi, Gerald duduk menemani Roxena yang masih belum sadarkan diri. Ah, ralat, bukan menemani namun terpaksa. Cengkraman Roxena pada tangannya tak bisa dilepas.
Gerald menunggu dengan kesal dan bosan. Ada banyak pekerjaan yang harus ia lakukan dan ia harus terkurung di sini. Malah kepala departemen dan direktur rumah sakit aman-aman saja, malah memang menyarankan Gerald menerima Roxena saja. Sialan! Ini gara-gara statusnya sebagai suami Roxena.
Di lain sisi, ada Sophia dan Lily yang mengawasi. Sebelum pergi, Erin menugaskan penjaga untuk berjaga di pintu depan. Hanya beberapa orang yang diizinkan masuk, dengan pengawasan yang ketat.
"Saya lapar," ucap Gerald, mengalihkan pandangan pada Sophia dan Lily.
Sophia melihat jam, sudah jam makan siang. Wanita itu mengangguk dan kemudian keluar.
Perut Gerald terasa panas. Sejak malam tadi hingga siang ini, ia belum makan sama sekali. Dan ia harus duduk berjam-jam menunggu wanita itu bangun.
__ADS_1
"Tatapan Nona sangat berbeda pada Anda, Tuan," ucap Lily.
"Apa mata kalian rusak?"ketus Gerald.
"Kami sudah bertahun-tahun ikut Nona. Jujur, kami pun tidak tahu awal mula hubungan kalian bagaimana. Namun, satu yang kami yakini. Nona, memiliki perasaan untuk Anda," ungkap Sophia.
Gerald terkekeh pelan. "Perasaan? Apa kau tidak salah?"
Gerald saja tidak tahu awal mula hubungan ini. Perasaan dari mana?
Lily tersenyum. "Nona tidak seburuk yang Anda pikirkan. Nona memang sedikit gila. Tapi, ada alasan untuk kegilaan Nona. Tuan, tolong perhatikan Nona sedikit saja. Nona, hanyalah wanita yang membutuhkan perhatian. Anda tahu bukan? Bahwa hubungan Nona dengan keluarganya tidak bagus, dan masa kecil Nona juga tidak bahagia. Tuan, tolong bawa cahaya bagi Nona."
Lily yakin pada Gerald. Hanya saja, Gerald yang menganggap itu hanya omong kosong. Menggeleng dan tertawa hambar. Gerald berpikir bahwa Lily juga sudah kehilangan akalnya. Meminta hal demikian pada musuh?!
"Hubungan ini sudah salah. Aku hanya ingin pergi darinya. Bukan membawakan cahaya atau apalah itu!"
Lily tertawa pelan. "Jika demikian, Anda tidak akan bertahan seperti itu, Tuan."
Gerald terperanjat. Dan melihat cekalan tangan Roxena pada tangannya. Benar, bisa saja ia melepasnya dengan kasar. Itu bukan hal yang mustahil. Tapi, mengapa ia tidak melakukannya?
"Aku tidak akan menyakiti pasien!"
Lily tersenyum lebar. "Jangan banyak alasan, Tuan. Perhatikan Nona sedikit saja, saya yakin, Nona akan luluh pada Anda."
"Kau berhentilah bicara!"titah Gerald. Lily mengangguk. Tidak terdengar lagi suaranya. Sampai Sophia kembali dengan makan siang.
“Hm?” Gerald terkesiap saat merasakan cekalan tangan Roxena mengendur dan lepas dengan sendirinya.
Sebenarnya apa yang wanita gila ini mimpikan?
“Ibu … ibu … ibu ….” Disusul dengan igauan yang panik. Gerald segera mengambil tindakan. Kondisi fisik stabil. Hanya satu jawaban. kondisi psikis yang tidak aman.
“Ibu, jangan … jangan tinggalkan Xena, Bu!! Gerald, jangan, jangan sakiti ibuku, jangan, hiks, aku mohon….”
“Aku?” Gerald tidak mengerti. Mengapa dirinya. Tatapan Sophia dan Lily langsung tajam padanya. Namun, tak menutupi rasa heran mereka.
Ibu Nona sudah wafat belasan tahun lalu, sementara masa kecil mereka tidak pernah bertemu? Bagaimana caranya Tuan menyakiti Ibu Nona?
“Kalian dengar, bukan? Nona kalian ini gila!!”
“Hei! Bangun! Wanita Gila, jangan menuduhku aneh-aneh!!” Gerald menepuk pipi Roxena. berusaha menyadarkan wanita yang resah itu. matanya terpejam erat dengan kerutan dahi yang dalam. “Kau membuatku bingung dan mereka salah paham! Bangun, kau harus menjelaskan semuanya!”
Gerald terus menepuk pipi Roxena. Semakin keras. “Ibu, hiks… tidakkk!!!”
__ADS_1
Mata Roxena membuka diikuti dengan nafasnya yang memburu.
Roxena tampak linglung. Ia menatap sekeliling. “K-Kau!!” Matanya lantas terkunci pada Gerald. “Apa salahku padamu? Mengapa kau menghancurkan hidupku? Mengapa kau merebut kebahagianku? Mengapa?!”pekik Roxena histeris, berusaha menggapai Gerald yang semakin tidak mengerti.
“Nona, tenanglah, Nona.” Lily dan Sophia menahan tubuh Roxena.
“Lakukan sesuatu, Tuan! Jangan diam saja!”seru Sophia.
Roxena menatap berang Gerald. Tatapannya menyiratkan kebencian yang begitu besar. Kacau, itulah keadaan Roxena saat ini.
Gerald segera mengambil obat bius. “Jangan dibius, tenangkan Nona secara pribadi, Tuan!!”ucap Lily.
Hah?
“Aku membencimu, Gerald! Aku membencimu!”desis Roxena. Tatapannya masih terkunci pada Gerald.
Gerald menghela nafas kasar.
Memang gila!
Pria itu mendekat, walau sedikit ragu. “Aku akan membalas semuanya! Hutang di antara kita harus dihitung dengan jelas!”
“Nona, tolong jangan berkata hal yang tidak kami pahami. Nona, Anda akan baik-baik saja.” Air mata Sophia luluh. Ia benar-benar melihat sisi kacau Nonanya. Seakan lebih besar beban psikis daripada beban fisiknya. Luka akibat operasi dan kecelakaan seakan kalah dengan tatapan luka berbalut kebencian itu.
Gerald mencoba untuk mendekap Roxena. Hanya cara pribadi itu yang terpikir olehnya. “Aku membencimu.” Roxena kembali mendesis. Namun, tak menoleh dekapan Gerald.
Dua manusia itu berbagi kehangatan. “Silahkan hitung semuanya. Aku akan membayarnya lunas asalkan aku mendapat kejelasan dari semua ini,” bisik Gerald, datar.
“Bagaimana caramu akan membayarnya?”tanya Roxena, matanya terpejam dalam dekap Gerald.
“Kau maunya bagaimana?”
“Nyawamu!!”jawab Roxena tanpa keraguan.
“Nyawaku?” Gerald tercekat.
Tak lama kemudian, Gerald tersenyum simpul. “Kalau begitu kau harus segera sembuh. Kau begini, benar-benar menyusahkanku!!”ketus Gerald.
“Hm….” Roxena membalasnya dengan gumaman.
Saran Sophia ada benarnya. Aku harus menaklukan wanita gila ini dulu!batin Gerald. Sesungguhnya, keengganan mendominasi. Namun, ia harus berteman dengan keadaan. Demi kebebasan dan kembali bersama dengan Elisa.
Andai. Andai saja kita bertemu lebih awal, tidak akan ada dendam dan pertumpahan darah. Sayang sekali, semua itu hanyalah andai semata.
__ADS_1