Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 67 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

Roxena menatap anggur yang sedang dituang ke gelas. Dulu, anggur selalu menjadi tempat pelariannya.


Roxena tersenyum, "tentu saja tidak."


"Urusanmu lancar?"tanya Gerald mencari topik obrolan lain dengan Roxena.


"Hem."


Keduanya mulai makan. Lily dan Sophia yang bekerja sama dengan Gerald segera memutar alunan romantis. Menemani sepasang suami istri itu. Roxena tanpa tertegun sesaat.


"Kau menyiapkannya dengan baik."


"Semua untukmu. Senang jika kau menyukainya," sahut Gerald.


"Kau menyiapkannya dengan baik."


Gerald puas melihat Roxena yang menyukai kerja kerasnya. Selesai makan, Gerald langsung menyodorkan anggur pada Roxena.


"Beberapa hari ini sangat berat. Ayo minum untuk melepas lelah," ajak Gerald. Disambut dengan kekehan Roxena.


"Kau mau menemaniku minum? Kau kan peminum yang buruk, Gerald," kekeh Roxena.


Gerald memalingkan matanya sesaat, malu. "Intinya aku menemanimu!"tandas Gerald. Toh, ia menuangkan untuk dirinya hanya sebagai formalitas. Gerald tidak akan tumbang jika hanya menyesapnya sedikit. Lalu ada tujuan lain ia menawarkan Roxena untuk minum. Ya, meskipun akan memakan waktu cukup lama karena toleransi alkohol Roxena tinggi.


Roxena menggoyangkan gelas anggurnya, lalu minum dengan melihat Gerald.


"Ayo makan dessert nya juga." Gerald kembali menyodorkan dessert mawar pada Roxena.


Roxena mencobanya. Rasanya berbeda dari yang biasa. Tapi, anehnya Roxena menyukainya. Senyum Gerald bertambah lebar seiring dengan dessert yang hampir habis.


Kali ini, Roxena benar-benar merasa rileks. Masalah pekerjaan, organisasi dan konflik pribadinya terasa menyusut drastis. Digantikan dengan kepuasan makan malam dan juga anggur di tangannya.


"Bagaimana perasaanmu?"


"Berkatmu suasana hatiku menjadi sangat baik."


"Senang mendengarnya." Sekali lagi Gerald menghela nafas lega.


Roxena menenggak habis anggur di gelasnya kemudian mengisi kembali gelasnya. Tenggak demi tenggak Roxena minum. Tak terasa, botol anggur itu telah kosong.


Roxena yang biasanya tidak mabuk hanya karena satu botol, mulai menunjukkan


tanda-tanda mabuk. Matanya sayu. Dengan tubuh yang goyah dalam duduknya.


"Cukup, Xena. Ayo kembali ke kamar." Gerald mengambil botol kosong dari tangan Roxena.


"Lily, Sophia!" Roxena menolak Gerald yang hendak memapahnya.


"Ya, Nona!" Yang dipanggil bergegas datang.


"Ambilkan anggurku di kamar!"titah Roxena.


"Ini-" Sophia menatap Gerald. Gerald menggeleng tidak mengizinkan. Anggur yang baru saja dikonsumsi Roxena adalah anggur dengan kadar alkohol tinggi, jauh lebih tinggi dari yang biasa Roxena minum.


"Ayo, Xena." Gerald tidak menghiraukan Roxena yang memberontak. Gerald menggendong Roxena ke kamar.


"Turunkan aku, turunkan aku, Gerald! Aku masih mau minum!"ronta Roxena.


Gerald mendudukkan Roxena di ranjang lalu membatasi ruang lingkup Roxena dengan kedua tangannya. Keduanya beradu tatap. Tatapan Roxena kian sayu. Memegang kedua tangan Gerald. "Aku mau minum, anggurku yang berharga."


"Tubuhmu tidak bisa mentoleransi alkohol lagi, Xena."


"Bisa! Biasanya aku minum lebih dari 3 botol. Aku baik-baik saja," kekeh Roxena memajukan wajahnya hingga hidung keduanya saling menyentuh. Jantung Gerald berdebar kencang. Ia ingin memagut bibir Roxena. Sayang, kalah cepat dengan Roxena yang tiba-tiba mendorongnya sekuat tenaga.

__ADS_1


Roxena setengah berlari menuju lemari penyimpanan anggurnya. Minuman beralkohol berbagai merek ada di dalamnya. Roxena memilih salah satu, whisky menjadi pilihannya


"Cukup untuk hari ini, Xena." Gerald menahannya.


Roxena mencembik. "Kau menyuruhku minum tadi. Bagaimana bisa minum setengah-setengah? Aku akan minum sampai puas!" Roxena hendak minum. Dan Gerald kembali menahannya.


"Kadar alkohol yang melebihi batas akan berdampak buruk. Fungsi organ hatimu akan terganggu. Aku melarangmu untuk kebaikanmu sendiri, Xena. Aku tahu selama ini kau suka minum. Tapi, tolong hentikan demi kesehatanmu sendiri," cerca Gerald menyakinkan Roxena.


Roxena kembali mencebikkan bibirnya. Tidak lama sebelum akhirnya berganti menjadi raut wajah sedih.


"Aku tahu kau tidak baik-baik saja, Xena. Daripada kau lampiaskan dengan minum yang merusak kesehatan lebih baik kau mengeluarkan isi hatimu. Berbagilah denganku. Menangislah jika membuatmu merasa benar-benar lebih baik."


"Xena, menangis tidak akan membuat lemah justru itu akan membuatmu kuat karena bisa mengekspresikan perasaanmu," tutur lembut Gerald.


Roxena menatap manik mata Gerald. Meyakinkannya. Roxena tidak menahan saat Gerald mengambil botol whisky dari tangannya.


Hah!


Helaan nafas yang berat. Roxena menjatuhkan dirinya di sofa. Menyentuh dan memberi sedikit pijatan pada dahinya.


"Memang kapan suasana hatiku baik-baik saja?" Melontarkan pertanyaan yang sulit untuk Gerald jawab.


"Ketenanganku hanyalah tameng menutupi buruknya hidupku. Puluhan kehidupan … aku masih bertanya-tanya tentang apa itu kebahagiaan. Aku sudah hampir lupa rasanya. Kadang aku merasakan tapi aku tidak berani mencapnya sebagai kebahagiaan." Kembali Roxena menghembuskan nafas berat seolah baru saja mengeluarkan sesuatu yang berat.


"Beberapa hari yang lalu … aku merasakan euforia bahagia karena bisa melihatnya lagi. Tapi, kenyataan dengan kejam menamparku. Selama ini aku tidak takut apapun. Tapi, sekali lagi tatapan dirinya mematahkan itu. Aku berusaha berpikir positif, meyakinkan bahwa semua ada dalam prediksiku. Hanya saja, aku tidak bisa menghilangkan rasa takut yang kian aku pikirkan kian membesar."


Bahu Roxena bergetar. Ia tergugu. Gerald segera merengkuh Roxena dalam pelukannya. Jujur saja, hati Gerald sakit mendengar betapa pedulinya Roxena dengan penilaian Regis. Dirinya cemburu.


"Aku buntu. Dan kau." Roxena mendongak menatap Gerald. "Entahlah. Aku tidak tahu. Sampai saat ini hanya satu yang tidak bisa aku pahami, hati seseorang termasuk hatiku sendiri."


"Menangislah. Kau sudah menderita selama ini. Keluarkan semua bebanmu maka kau akan merasa lebih baik," ucap lembut Gerald. Seraya mengusap rambut Roxena.


"Sudahlah." Roxena berkata setelah diam cukup lama. Sesungguhnya, beban terbesar Roxena adalah dendam masa lalu pada Gerald. Jadi, bisa dikatakan jika Gerald adalah beban tersebut Roxena.


"Kau berusaha membuatku mabuk untuk ini. Meskipun aku tidak menangis, aku merasa lebih baik."


"Mungkin aku harus menyerahkan kisahku pada takdir. Hanya saja ... jika akhirnya tidak memuaskan … aku akan kembali menentang takdir. Ah … aku sepertinya aku merasakan langit tengah mengumpat padaku." Roxena tertawa.


Sikap Roxena ini justru semakin membuat Gerald sedih. Bahkan sudah di fase ini, Roxena tak mengeluarkan air mata.


"Aku tidak tahu hatimu terbuat dari baja atau gelas rapuh yang akan segera pecah."


Roxena perlahan memejamkan matanya. Kantuk menyerang dirinya. Membiarkan Gerald berbicara sendiri.


"Sayang sekali. Ternyata tidak ada yang berubah. Aku belum ada di hatimu. Kau masih waspada dan tidak percaya padaku. Tapi, setidaknya aku sudah tahu apa yang kau rasakan. Xena, aku akan membuatmu bahagia. "


Gerald kembali menjanjikan kebahagiaan untuk Roxena.


Gerald mengusap lembut wajah Roxena yang sudah pulas dalam tidurnya. "Semua hanya tentang waktu. Aku akan menunggu sampai kapanpun, Xena. Aku tidak akan lari. Aku tidak akan pergi."


*


*


*


Malam telah berlalu. Roxena sudah berada di ruangan kantornya. Menyangga dagu, mengingat dirinya yang setengah mabuk tadi malam.


"Dasar licik. Ia mengorek isi hatiku saat setengah mabuk!"gumam kesal Roxena.


"Sudah lebih dari 3 kali Anda mengatakan hal itu, Nona. Anda tidak seluang itu untuk terus kesal," celetuk Erin, memberikan beberapa dokumen pada Roxena. Roxena tidak menggubrisnya.


"Ada masalah apa?"tanya Roxena seraya menerima lembaran dokumen itu.

__ADS_1


"ESA Group mempersulit klien yang ingin bergabung Centauri."


Roxena mengernyit tipis. Centauri memang sudah resmi berdiri dan sudah memiliki klien yang sebagian besar adalah perusahaan yang bekerja sama dengan mereka. Jaringan relasi Lawrence Group yang luas serta dengan citra mereka, tentu bukan hal sulit untuk mendapatkan klien dan kepercayaan publik.


Centauri adalah perusahaan keuangan. Kemudian, ESA Group juga perusahaan keuangan yang sudah lama berdiri. Hadirnya Centauri tentu dianggap sebagai ancaman.


Bukan hal mengherankan. Hanya saja, "ESA Group mengirimkan proposal kerja sama."


Kali ini Roxena menoleh dengan kerutan dahi semakin dalam. "For what?"


"Mereka mengajak kita bekerja sama membangun bursa efek, Nona."


"Bukankah itu terlalu serakah?"


Dewasa ini, saham merupakan hal yang sangat digemari. Apalagi dengan bertumbuhnya aplikasi saham dan reksa dana lainnya.


Sejujurnya itu ide yang bagus. Hanya saja, bekerja sama dengan ESA Group, Roxena tidak berniat untuk itu. Lagipula sudah ada bursa efek di negara ini. Yang sudah mengelola secara luas bidang sekuritas.


"Kembalikan proposal itu. Lalu klien yang ingin bergabung tapi dipersulit oleh mereka, bantu semaksimal mungkin. Sedikit banyaknya ESA Group goyah karena kehilangan klien. Manfaatkan hal ini dengan baik!"


"Baik, Nona." Erin setuju dengan Roxena.


"Lalu aku sudah memikirkan dengan baik. Erin aku ingin menaklukkan Capital Group."


Erin membelalakkan matanya.


Capital Group bukan perusahaan sembarangan. Mereka punya latar belakang yang kuat dan lebih-lebih sudah diambil alih oleh Regis. Meskipun cacat, Regis sangat mampu.


Roxena tersenyum. Bagaimana mungkin ia sembarangan. Tentu ia tahu seberapa kuat lawannya. Regis itu cerdas, baik di kehidupan pertama ataupun saat ini.


"Pertama selidiki dulu Capital Group secara menyeluruh."


Erin menghela nafasnya pelan. Keputusan Roxena telah final. "Baik, Nona."


*


*


*


"Suasana hati Anda tampak sangat baik, Prof. Gerald," sapa kepala departemen. Mereka baru saja keluar dari ruang meeting.


"Benarkah?" Gerald tersenyum tipis.


"Saya bukan ingin mencampuri urusan rumah tangga Anda. Tapi, saya kagum pada Anda." Gerald tidak bisa membedakan itu sindiran atau sebuah rasa kagum.


Berita gala dinner Capital Group juga sudah menyebar. Kehadiran dirinya dan Roxena dalam acara itu juga menjadi sorotan publik. Ada banyak pro kontra di dalamnya. Hanya saja, seperti Roxena, Gerald mengacuhkan hal tersebut.


"Saya tidak ingin gagal lagi, Prof."


"Anda sudah menikmati kehidupan pernikahan Anda. Sejujurnya saya cukup iri dengan Anda. Meskipun dingin, Presdir sangat memperhatikan Anda."


"Apakah terlihat seperti itu?"tanya Gerald.


"Hoho Anda orang yang peka. Serius tidak merasakannya?"tanya balik kepala departemen.


"Meskipun saya tidak tahu yang sebenarnya. Saya bisa menyarankan sesuatu yang pasti pada Anda. Anda tidak boleh membuat Presdir berpaling. Hati Presdir mungkin sangat dingin dan keras. Tapi, sesuatu yang dingin dan keras tentu ada solusinya." Kepala departemen menepuk pelan bahu Gerald.


Layaknya es di kutub yang mencair karena pemanasan global. Dan layaknya material terkeras, intan yang dapat dipotong dengan intan juga, pasti akan ada waktunya Roxena berada di dalam fase tersebut.


Percakapan ini membawa sebuah pencerahan untuk Gerald. Gerald tersenyum lebar, "terimakasih saran Anda, Prof!"


"Senang bisa membantu." Kepala departemen tersenyum lebar. Kemudian langkah pergi setelah menepuk bahu Gerald beberapa kali.

__ADS_1


Gerald segera melangkah kembali ke ruangannya. Melepas jas dan menggunakan jas dokternya. Lalu membaca jadwalnya hari ini. Tidak ada jadwal operasi. Hari ini hanya ada pemeriksaan dan juga konsultasi.


Aku ingin memberikan sesuatu pada Xena.


__ADS_2