Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 76 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

Aula tempat pertunangan Stella dan Jonathan dihias sedemikian rupa. Didominasi oleh warna merah muda magnolia, aula ini begitu indah. Ukiran dan desain aula yang kental dengan gaya klasik, lampu gantung di langit-langitnya, serta lukisan-lukisan bersejarah, aula ini begitu menakjubkan.


Para tamu tak hentinya berdecak mengagumi interior aula, terlebih jika mengingat sejarahnya. Para tamu hadir dari berbagai kalangan. Anggota kerajaan, bangsawan, pejabat penting, dan juga beberapa rakyat sipil.


Roxena hadir di dalam undangan itu menggunakan status bangsawannya. Mewarisi status bangsawan sang ibu.


Kehadirannya tentu menjadi pusat perhatian tersendiri. Terlebih ia membawa suaminya, Gerald dan dengan fashion couple yang mereka gunakan.


Roxena menggunakan dress berwarna hitam dengan gradasi ungu muda pada bagian bawah. Sementara Gerald menggunakan setelan jas hitam dengan layer dalam kemeja putih.


"Lady dan Senor Chaddrick, selamat datang." Tentu menggunakan nama belakang Gerald sebagai suami.


Beberapa menyapa dan mengobrol dengan mereka. Gerald tampak sudah terbiasa. Ia dapat bersosialisasi dengan baik. Sekitar lima belas menit kemudian, acara pertunangan dimulai. Keluarga inti kerajaan, raja dan ratu duduk di singgasana mereka. Tampak berwibawa menyapa para tamu yang hadir. Karena ini hanyalah pertunangan dan perayaan, tamu yang hadir hanya sekitar 100 orang.


Sekitar lima belas menit kemudian, protokol pertunangan dimulai. Jonathan sudah menanti di tengah aula, tempat yang telah disiapkan.


Musim dimainkan begitu Stella memasuki tempat acara. Wanita tampil cantik seperti biasanya, dibalut dress berwarna merah muda, mirip dengan Magnolia yang digunakan.


Roxena menyipitkan matanya saat melihat aksesoris rambut Stella. Seakan menyadari sesuatu, Roxena menarik senyum.


"Nanti aku ada sedikit urusan, kau tunggulah di tempat yang aku siapkan," ujar Roxena berbisik pada Gerald.


Gerald mengangguk paham. Serangkaian acara dilakukan sebelum akhirnya acara penyematan cincin antara keduanya, menunjukkan bahwa keduanya resmi bertunangan dan selanjutnya acara pengumuman tanggal pernikahan.


Itu mudah. Karena sebelumnya Stella dan Jonathan sudah melakukan hal ini. Keduanya saling menyunggingkan senyum lebar dan menunjukkan cincin yang telah melingkar di jari keduanya. Disambut dengan tepuk tangan dari raja, ratu, dan para undangan yang hadir.


Raja kemudian menyampaikan beberapa kata dan juga memberikan hadiah pertunangan untuk Stella dan Jonathan. Sebuah gelar untuk memimpin wilayah yang mana pemimpin sebelumnya telah berpulang. Juga hadiah untuk Jonathan.


"Turut berbahagia atas pertunangan Princess Stella dan Senor Jonathan. Di saat yang berbahagia ini, kami akan mengumumkan tanggal pernikahan keduanya. Setelah diskusi panjang penentuan tanggal, kami menentukan tanggal pernikahan mereka pada musim semi berikutnya yakni tanggal 12 Mei."


Pengumuman itu disambut dengan suka cita. Waktu yang cukup panjang, cukup bagi pihak kerajaan dan tamu undangan mempersiapkan diri. Karena di tahun depan akan ada royal wedding.


Acara selanjutnya adalah pesta dansa. Pasangan utama hari ini tentu melakukan dansa pertama mereka diikuti dengan pasangan tamu lainnya.


"Kau bisa berdansa?"tanya Roxena karena sebelumnya Gerald adalah rakyat sipil yang jarang bersosialisasi.


"Biar aku menuntunmu." Roxena mengulurkan tangan lebih dulu. Gerald menerimanya.


Roxena menuntun Gerald, dilakukan secara perlahan. Keduanya saling menghayati dan tak memperdulikan sekitar. "Bagaimana? Mudah, kan?"kata Roxena saat sudah sedikit lancar.


"Tidak terlalu sulit," jawab Gerald.


Aksi pasangan itu tak luput dari perhatian raja dan ratu.


"Sayang sekali, seandai saja belum menikah, dia kandidat yang cocok menjadi Putri mahkota," ucap Raja diikuti dengan helaan nafas pelan.


"Mereka tidak berjodoh, Yang Mulia. Putra Mahkota juga sudah memiliki pilihannya sendiri," sahut Ratu.


"Benarkah? Putri dari keluarga mana?"


"Jika hubungan mereka lancar, maka kita akan memiliki hubungan kerabat dengan keluarga kerajaan Inggris," jawab Ratu tersenyum.


Raja mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Putramu itu, suruh dia bercerita denganku juga. Jika memang menyukainya, aku akan mengirim utusan untuk melamarnya," ucap Raja, tampak kesal karena sang putra hanya terbuka pada istrinya. Ratu tertawa pelan.


"Baiklah, Yang Mulia."


"Tak lama lagi Stella akan meninggalkan istana, sungguh tidak terasa waktu berjalan begitu cepat."


"Orang tua akan tetap tinggal, sementara anak akan pergi berkelana mencari pengalaman dan makna kehidupan. Yang Mulia tidak perlu sedih karena sejauh apapun mereka pergi dan meninggalkan kita, selagi masih di dunia ini, kita tetaplah rumah untuk mereka pulang," hibur Ratu, menggenggam jemari Raja.


"Kau benar, Ratuku."

__ADS_1


Sementara itu, Stella dan Jonathan saling berbisik dalam dansa mereka.


"Kau gagal?"tanya Stella.


"Aku akan mencoba dengan cara lain," jawab Jonathan.


"Kapan akan berhasil? Aku benci melihatnya merebut perhatian dariku!"


Dua pasangan itu bak siang dan malam yang sama-sama mencuri perhatian tamu undangan yang hadir. Dansa Stella dan Jonathan sangat sempurna. Namun, lebih menarik lagi Roxena yang mengajari Gerald berdansa. Kecepatan pemahaman itu mengagumkan. Menuai pujian dari tamu.


Musik berhenti. Masing-masing pasangan saling memberi hormat. Acara puncak telah berakhir. Acara pesta pertunangan ini hanya dijadwalkan dari pukul 09.00-12.00 waktu setempat. Hanya tiga jam karena Raja dan Ratu memiliki jadwal lain. Meskipun singkat tak mengurangi kesakralan dan keindahannya.


Tamu mengucapkan selamat jalan pada Raja dan Ratu. Dan satu persatu tamu meninggalkan aula. Gerald diarahkan oleh orang yang telah Roxena percaya dan Roxena pergi untuk urusannya.


"Yang Mulia, Lady Roxena Lawrence meminta izin bertemu," ucap pengawal yang mengawal Raja dan Ratu. Di mana mereka masih dalam perjalanan kembali ke istana mereka.


Raja dan Ratu saling pandang. Raja mengizinkannya. Roxena menghampiri keduanya dengan sopan, membungkuk hormat dan menyapa, "Semoga Raja dan Ratu panjang umur."


"Lady Lawrence, apa yang membawa Anda bertemu dengan kami?"tanya Ratu penasaran.


"Sebelumnya saya mohon maaf atas kelancangan saya yang meminta bertemu tanpa membuat janji lebih dahulu."


"Tidak masalah. Kau punya hak istimewa untuk ini," ujar Raja. Hak istimewa yang diturunkan dari pihak ibu Roxena. Roxena mengangkat wajahnya, tersenyum lebar.


"Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Yang Mulia."


Raja dan Ratu lalu mengajak Roxena untuk duduk.


"Saya ingin menyapa Anda berdua secara pribadi. Sekaligus ingin mengucapkan selamat atas pertunangan Lady Stella dengan Senor Jonathan. Saya berharap hubungan yang terjalin di antara kedua belah pihak dapat membawa keberkahan untuk kerajaan dan rakyat."


"Lady selalu serius. Apakah datang untuk mengatakan hal ini?"tanya Ratu.


"Saya ingin menuntaskan kekhawatiran saya, Yang Mulia."


"Saya mendengar rumor bahwa Lady Stella menghimpun kekuatan besar, pertunangan dengan Senor Jonathan juga untuk memperkokoh Lady Stella. Saya khawatir dengan kabar ini."


"Sembarangan!" Raja menggebrak meja emosi. Sementara Ratu masih dalam keterkejutannya.


"Dari mana kau mendengar rumor itu, Lady Lawrence?"tanya Raja menatap tajam Roxena.


Roxena buru - buru mengambil sikap bersalah, "saya telah lancang, Yang Mulia. Saya hanya mendengar rumor itu. Tapi, apakah akan ada asap tanpa ada api? Saya hanya ingin menenangkan kekhawatiran saya, Yang Mulia."


"Anda sangat berani, Lady Lawrence," ucap Ratu datar.


"Saya tidak berani, Yang Mulia Ratu. Saya percaya Lady Stella tidak akan melakukan hal yang merugikan kerajaan. Putra Mahkota dan Lady Stella adalah saudara kandung. Maafkan saya, Yang Mulia Raja dan Ratu." Sekali lagi, Roxena merendahkan tubuhnya.


"Ucapanmu hari ini, jangan pernah ucapkan lagi!"titah Raja. Roxena mengangguk.


"Saya pamit, Yang Mulia Raja dan Ratu."


Roxena membalikkan tubuhnya. Diam-diam tersenyum. Tujuannya hanya satu, menabur kecurigaan dan kewaspadaan di hati keduanya. Meskipun Stella anak kandung keduanya, jika terbukti merencanakan pemberontakan, tidak akan ada toleransi untuk itu. Meskipun, ada kemungkinan Ratu meminta pengampunan untuk Stella.


"Yang Mulia Raja, apakah Anda percaya dengan kata-kata Lady Lawrence?"tanya Ratu gusar.


"Kata-kata lancang itu, aku sangat tidak ingin mempercayainya. Aku bahkan ingin menghukumnya. Hanya saja … apa kau percaya dia bertindak tanpa alasan yang pasti?" Raja dan Ratu sudah mengenal watak Roxena. Dia berani, penuh dengan perhitungan, apakah mungkin menjatuhkan dirinya dalam ketidakpastian rumor?


"Apakah kita harus menanggapinya? Tapi, apa mungkin Stella melakukan hal itu? Konspirasi ini terlalu mengerikan."


Raja dan Ratu sama-sama bimbang. Mereka tidak tenang dan hanya helaan nafas kasar yang terdengar.


*

__ADS_1


*


*


Sementara di sisi lain, Stella yang hendak kembali ke kamarnya setelah berpisah dengan Jonathan, mendapati Gerald duduk di bangku taman.


"Anda mau ke mana, Lady?"tahan Asistennya.


"Kesempatan di depan mata. Apa aku harus melepaskannya?"


"Saat ini harus, Lady. Anda baru saja melangsungkan pertunangan yang disaksikan Raja dan Ratu. Apakah Anda ingin segera melepas gaun Anda dan menunjukkan ekor rubah Anda?"kesal sang Asisten. Ia berniat untuk menarik Stella menjauh.


"Kata-katamu vulgar sekali."


"Lady, come on!"


"Dia merawatnya dengan sangat baik. Aku ingin menyentuh wajahnya. Bibirnya sangat tipis, dia tipeku!" Stella bak dimabuk cinta. Tak cukup Jade, Jonathan, dia juga mengincar Gerald.


"Ladyku." Jade tiba tepat waktu.


"Gerald Chaddrick," gumam Jade melihat Gerald dari kejauhan.


"Nona, ini tidak baik. Takutnya Lady Lawrence muncul tiba-tiba."


"CK!" Stella berdecak.


Dan benar saja, tak lama kemudian Roxena datang. Hati Stella panas melihat kemesraan sejoli itu.


Ular, rubah, pe*lacur, semua diambil olehnya. Jade tersenyum sinis.


"Lady!" Asisten menahan Stella yang hendak mengejar Roxena dan Gerald yang melangkah pergi.


"Menyebalkan!"gerutu Stella.


*


*


*


"Huk - Huek!" Tiba di apartemen, Gerald tiba-tiba merasa mual dan langsung lari ke kamar mandi. Roxena menelengkan kepalanya bingung.


"Huek! Huek!" Roxena terus mendengar suara itu. Ia masuk dan membantu Gerald memijat lehernya.


"Apa kau salah makan?"tanya Roxena.


"Tidak tahu. Tiba-tiba aku merasa mual," ujar Gerald. Dan ia kembali mual. Namun, hanya air liur yang keluar. Gerald menyeka mulutnya. Rasanya sangat tidak nyaman.


"Aku akan memanggil Liu," ucap Roxena.


"Tidak perlu," tahan Gerald.


"Aku seorang dokter."


"Serius?"tanya Roxena. Gerald mengangguk. Roxena kemudian memapah Gerald keluar, duduk di sofa.


"Akan aku ambilkan air hangat." Roxena melangkah keluar kamar. Meninggalkan Gerald yang membaringkan tubuhnya. Perutnya masih terasa mual dan sedikit gemetar.


Makanan yang ia makan normal. Tidak ada masalah sama sekali. Tubuhnya juga tidak memiliki alergi. Apa yang salah?


Rasanya masih mual. Tapi, keinginan untuk muntah memudar.

__ADS_1


Di dapur, sembari mengambil air hangat, Roxena bergumam pelan. "Aku pernah mendengar hal seperti ini."


"Kau tidak marah padaku tapi menyiksa ayahmu."


__ADS_2