Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 99 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

Pagi di hari keberangkatan, diwarnai dengan kekhawatiran akan Roxena yang tiba - tiba mengalami mual dan muntah. Yang membuat tambah khawatir adalah Roxena enggan untuk diperiksa bahwa oleh suaminya sendiri. Itu membuat Gerald dan Tuan Lawrence cemas sekaligus heran.


“Tidak ada yang perlu dicemaskan. Hanya mual biasa,” kilah Roxena dengan keras kepalanya seraya meruntuk dalam hati. Mengapa harus di suasana seperti ini?


Gerald membujuk. Namun, kalah dengan penolakan Roxena. Tuan Lawrence memicingkan matanya, ada kecurigaan di harinya. Tuan Lawrence kemudian meminta pelayan membawakan air hangat, biasanya ampuh untuk meredakan mual.


Roxena menenggak habis air hangat yang diberikan padanya. Menyeka sudut bibirnya lalu berkata, “ayo berangkat. Aku baik-baik saja.”


“Sebaiknya kita tunda keberangkatan sampai kau benar - benar tidak mual lagi. Perjalanan kita bukan hanya darat, Xena,” ujar Tuan Lawrence dan langsung disetujui oleh Gerald.


Sayang, Roxena menggeleng. “Akan aku bawa tidur. Ayah, jika keberangkatan ditunda, aku akan membuang banyak waktu untuk mengatur ulang jadwalku.”


“Kau ini! Mengapa keras kepala sekali?!” Tuan Lawrence gemas sekali dengan sifat Roxena.


Roxena acuh. Ia berdiri dan melangkah keluar diikuti dengan Gerald yang memegangi tanyanya, khawatir jika tiba tiba Roxena jatuh.


Tuan Lawrence menghela nafas pelan dan segera menyusul. Tak menggunakan supir, Gerald menjadi pengemudi. Perjalanan ke bandara memakan waktu kurang lebih satu jam perjalanan.


*


*


*


Menjadi istri dari seorang Jade dan tinggal di mansion mewah dengan banyak pelayan, bukanlah suatu kemewahan dan kebahagiaan bagi Stella. Justru, pilihannya ini adalah neraka baginya. Finansialnya memang dipenuhi. Ia tidak kekurangan secara materi. Namun, mentalnya hancur berantakan. Psikisnya goyah.


Mansion ini adalah sebuah penjara mewah. Tak ubahnya istana kerajaan. Bedanya, di sini ia hanya perlu takut pada satu orang, sosok suaminya saat ini.


Sebelum menikah saja tiada malam tanpa permainan ranjang. Apalagi saat ini, Jade semakin leluasa menyentuhnya tanpa batasan apapun.


Pagi itu, Jade baru bangun dari tidurnya. Sedang Stella masih lelap karena kelelahan. Jade memandang wajah lelah Stella, tersenyum sinis.


"Siapa sangka, wanita angkuh sepertimu berakhir di ranjangku, Stella? Tenang saja aku akan memperlakukanmu dengan sangat baik. Akan lebih baik jika kau segera mengandung anakku," gumam Jade. Ia kemudian bangkit untuk membersihkan diri.


Tak lama segera berganti pakaian, Jade meninggalkan kamar. "Aku ada urusan. Kalian urus wanita itu!"titah Jade pada kepala pelayan mansion.


"Si, Senor."


Jade meninggalkan mansion dengan helikopter. Yap, mansion ini berada di sebuah pulau. Pulau pribadi yang Jade beli lalu membangun mansion di dalamnya. Kekayaannya memang fantastis.


Stella bangun tak lama setelah Jade meninggalkan mansion. Bangun dengan tatapan hampa. Lalu air matanya mengalir turun. Menekuk lutut, meratapi takdirnya. Andai waktu bisa diputar, ia tidak akan kehilangan keluarga dan statusnya. Yang terpenting, ia tak perlu melebarkan kaki pada Jade. Sayang seribu sayang, nasi sudah menjadi bubur. Ia hanya bisa menjalani pilihannya.


Terbayang di pelupuk mata, kekecewaan Ibu, Kakak, dan Ayahnya. Aib yang ia berikan sangat-sangat mencoreng harga diri keluarga kerajaan. Ia bersalah pada banyak orang, keluarga, rakyat dan negaranya.


Tangisnya begitu pilu. Stella … ia ingin kembali pada keluarganya. Tapi, rasanya mustahil.


Tok!


Tok!


Pintu diketuk dan beberapa pelayan masuk. "Kami akan membantu Anda mandi."


Stella tersenyum miris. Ya, ia memang dilayani dengan baik. Namun, semua itu justru menjadi duri dalam hatinya.


Di lain sisi, Xavier masih kalang kabut mencari keberadaan Stella dan Jade. Biodata Jade berikut hasil penyelidikan lainnya juga sudah ada di tangannya. Xavier mencermati hasilnya. Lalu ia pun menarik kesimpulan, "ini palsu."


"Pria ini kemungkinan besar adalah mata-mata. Penyamaran sempurna sampai menyakinkan bagian rekrutmen."


Sang asisten putra mahkota mendengar tanpa niat menjawab. "Musuh atau apa? Apa motifnya? Stella dicap sebagai pengkhianat mengapa lari bersama dengannya?"


"Mungkin cinta, Yang Mulia." Sang Asisten menjawab.

__ADS_1


"Cinta?"


"Stella bukannya mencintai Jonathan Esca?"


"Setahu saya … hubungan keduanya dilandasi dengan kepentingan pribadi. Cinta, saya tidak yakin dengan itu."


"Astaga!"


Terlalu lama di akademi militer hingga mengabaikan tugas negara dan juga kehidupan sang adik. Xavier, dia adalah putra mahkota sekaligus kakak yang gagal.


"Mereka akan segera ditemukan, Yang Mulia," ucap Asisten menyakinkan. Mereka menurunkan tim pencari terbaik. Melacak keberadaan Stella dan Jade. Skala pencarian juga diperluas.


"Namun, jika sudah tertangkap, apakah akan benar-benar diadili?"tanya asisten penasaran.


Xavier menggeleng lemah. Parlemen sudah tahu. Sang ayah sangat marah. Rakyat? Tentu mengutuk Stella yang dianggap merugikan kerajaan. "Aku akan berusaha."


Ya, Xavier sangat menyayangi adiknya.


*


*


*


Perjalanan menuju pegunungan keluarga Lawrence memakan waktu sekitar 6 jam perjalanan perjalanan udara. Tiba di bandara terdekat mereka melanjutkan perjalanan dengan helikopter karena kediaman tua itu berada di puncak gunung.


Sekitar pukul 13.00, mereka tiba di tujuan. Disambut oleh beberapa tetua keluarga Lawrence. Penampilan mereka formal. Tuan Lawrence turun lebih dulu disusul oleh Gerald dan Roxena.


Tidak ada percakapan hangat, hanya sekadar saling sapa sebelum akhirnya mereka memasuki kediaman. Roxena tidak banyak bicara. Tetap pada ekspresi dinginnya. Sedang Gerald yang tangannya digandeng oleh Roxena, merasa gugup. Gerald merasa bahwa ia kurang disambut dengan baik di sini.


"Kau mantan tiran, takut dengan orang-orang tua itu?"bisik Roxena.


"Itu sudah sangat lama, Xena. Saat ini aku hanya seorang pria yang mengharapkan restu keluarga besarmu," balas Gerald.


"Ya … tidak mungkin."


"Ingat, hanya satu yang perlu kau pedulikan yakni aku!!"


Tuan Lawrence yang mendengar percakapan itu tersenyum simpul. Meskipun tidak baik, ia menantikan keributan yang akan terjadi. Roxena lebih berani daripada dirinya. Ada kemungkinan akan mengubah tatakan keluarga Lawrence.


Dan saat ini, mereka tengah berada di ruang makan. Diawali dengan makan siang lalu beristirahat. Acara resmi akan dilaksanakan besok. Hanya satu hari dan kemudian kembali.


Hidangan mewah tersaji di meja makan panjang itu dengan Roxena yang duduk di kursi utama sebagai kepala keluarga. Disusul oleh Tuan Lawrence dan tetua lainnya. Gerald? Ia duduk di ujung karena secara kebiasaan keluarga Lawrence, ia belum mendapatkan pengakuan.


Roxena mendecih. Tuan Lawrence memperingatinya untuk tidak membuat masalah sebelum acara resmi dimulai. Ini sudah tradisi, harus diikuti.


Tidak ada pembahasan berarti di meja makan. Masih tegur sapa dan pembicaraan singkat. Para tetua tampaknya sudah paham jika membahas hal sentral, untuk apa menjadwalkan acara resmi esok hari?


Kini Tuan Lawrence, Roxena dan Gerald sudah berada di kediaman yang diperuntukkan untuk kepala keluarga. Kediaman yang diturunkan turun temurun dari generasi ke generasi.


"Padahal mereka tidak menyinggung apapun tapi kau tetap kesal, Xena?"kekeh Tuan Lawrence.


"Mereka diam saja membuatku kesal. Apalagi besok!"gerutu Roxena membalas.


"Kendalikan emosimu, Xena. Tidak baik bersikap seperti itu karena mereka ada tetua," nasehat Gerald. Tak ingin hubungan Roxena merenggang dengan keluarganya. Padahal Roxena juga tidak seakrab itu. Ia yang sudah hidup sangat lama tak lagi memperdulikan hubungan keluarga kecuali keluarga inti, ayah, ibu, dan saudara kandung yang ia anggap penting.


"Lantas apakah tetua lebih tinggi daripada kepala keluarga? It's okay. Tapi, aku tidak mau terikat dengan ikatan seperti itu. Aku adalah tunggal. Tidak tergantung pada para tetua! Ingat, Gerald! Yang harus kau pandang adalah aku bukan mereka!!"tegas Roxena. Ia muak dengan tradisi dan tata kuasa seperti itu. Baginya para tetua hanya memegang peran kecil, hanya sebagai penasihat dan ia anggap itu sebagai penghambat dalam rencana.


"Hah! Sudahlah menantuku. Kau turuti saja Xena. Ia akan melindungimu," ucap Tuan Lawrence.


"Sebaiknya kalian manfaatkan waktu dengan baik. Pegunungan ini sangat indah dan asri. Ada baiknya kalian melihat-lihat. Anggap saja menyegarkan pikiran dari hidup pikuk di kota," saran Tuan Lawrence.

__ADS_1


"Hm." Roxena bergumam. Gerald tampaknya tertarik. Meskipun markas LS sangat rindang namun masih kalah dengan pegunungan ini.


Akhirnya, keduanya pergi untuk melihat-lihat. Di atas gunung ini terdapat beberapa kediaman dan semuanya adalah kediaman keluarga Lawrence. Bangunan dengan gaya klasik abad pertengahan. Ya, keluarga Lawrence mereka sudah lama berdiri dan bertahan sampai saat ini.


Mereka berjalan kaki, menyusuri jalan setapak. Sepanjang mata memandang, Permadani hijau tak berujung menjadi pemandangan. Kicau burung dan suara serangga menemani. Teriknya matahari kalah dengan dedaunan yang rindang. Udara yang benar-benar segar.


Sebagai pekerja yang jadwal padat tentu ini sangat bermanfaat bagi keduanya. Gerald menarik nafas dalam seraya memejamkan matanya.


"Meskipun pegunungan pribadi, hutan ini masih menyimpan hewan buas," ucap Roxena memberitahu.


"Sungguh?" Gerald sedikit takut. Bahaya jika bertemu dengan hewan buas. Malah mereka hanya berdua saja.


Roxena tidak menjawab. Ia malah bersiul. Beberapa saat kemudian terdengar suara riak dari semak-semak.


"YAAAA!!'


Gerald terperanjat saat seekor kucing besar muncul di hadapannya dan Roxena. Kucing jantan itu melangkah mendekati Roxena sedangkan Gerald membeku di tempat.


"X-Xena."


Meskipun dahulu ia tiran, kini ia hanya seorang dokter. Ia akhirnya menyelamatkan nyawa bukan memegang senjata.


"Jangan takut. Ini singa milikku," ujar Roxena memberitahu. Ia mengusap kepala singa jantan yang sibuk memberi sambutan.


"Milikmu?"


"Mendekatlah."


Gerald menggeleng. Ia mundur. Tidak berani apalagi singa itu menatapnya tajam.


"Oh."


Roxena tidak menyuruh lagi. Ia masih berinteraksi dengan singa itu. Kayaknya kucing jinak, singa itu merebahkan tubuhnya dan seperti senang dengan usapan tangan Roxena pada perutnya.


"Tubuhmu sebesar ini. Kau rajin berburu?"


"Kebetulan aku ingin rusa, bagaimana jika kau bawakan aku rusa?"


"Tapi, bawakan aku dalam keadaan hidup. Bagaimana?"


"Tidak? Lalu apa gunanya aku memelihara singa besar sepertimu? Lebih baik aku menjadikanmu singa panggang."


Gerald bergidik. Dan singa itu seakan menunjukkan wajah takut.


Xena …. Tidak paham lagi dengan Roxena. Bagaimana bisa seekor singa diajak bicara dan bahwa menyuruhnya untuk berburu?!


Tunggu!


Istrinya memang berbeda.


Dia lain daripada yang lain.


"Good lion! Aku tunggu rusanya di gerbang kediaman." Roxena melambaikan tangannya dan singa itu menjauh menghilang dari pandangan.


"Gunung dan semua isinya adalah milik keluarga Lawrence. Dan singa itu adalah milikku. Aku merawatnya saat kecil lalu ia tinggal bebas di sini. Siulan tadi adalah panggilanku," jelas Roxena.


Wajah Gerald pias.


"Ku pikir kau sudah terbiasa," cetus Roxena mengejek.


"Masih mau lanjut? Di sana ada mata air," tawar Gerald.

__ADS_1


Gerald menimbang sesaat. Roxena ada anggota keluarga Lawrence. Dan hewan di sini, pasti sudah diantisipasi untuk tidak menyerang anggota keluarga Lawrence. Gerald memutuskan untuk lanjut.


__ADS_2