
Gerald terpaku. Lalu memukul wajahnya sendiri. Ia meringis. Segera Gerald mengejar Roxena. Tuan Lawrence tersenyum kecil melihatnya. Mungkin Gerald mengalami trust issue karena awal pernikahan mereka adalah pemaksaan.
Dan benar adanya. Gerald mengalami trust issue. Ia takut. Belum siap untuk punya anak. Hubungan mereka memang sudah semakin membaik dan sangat dekat.
"Pria sialan itu!!" Kekesalan Roxena belum mereda. Sakit hati??
Jelas. Susah payah ia melepaskan dendam masa lalu dan overthinking karena divonis tidak bisa memiliki anak, Gerald malah tidak percaya. Jika bukan karena sudah cinta, sungguh Roxena akan menghabisi Gerald detik itu juga.
"Xena!"
Terdengar suara Gerald. Roxena melirik sinis. Enggan membuka pintu yang ia kunci dari dalam. Gedoran terdengar beriringan dengan suara Gerald memanggil. Roxena acuh, memilih duduk dan mengambil sebotol minuman dengan kadar alkohol rendah.
"Xena!"
"Xena! Buka pintunya, ku mohon!"
"Aku minta maaf, Xena. Xena, please!"
Roxena mengabaikannya. Biarlah Gerald meraung dan suaranya terdengar gemetar, sepertinya akan segera menangis. Setelah minum, Roxena tidur.
"Xena, please. Aku minta maaf. Bukan maksudku meragukanmu, aku hanya takut, Xena. Ku mohon buka pintunya…." Gerald menangis. Gerald takut Roxena malah bertindak nekat karena reaksinya. Takut, Gerald sangat menyesal.
"Xena…."
Roxena terbangun saat waktu menunjukkan pukul 18.00 waktu setempat. Hari mari terang benderang, masih ada beberapa jam sebelum matahari terbenam. Durasi siang memang lebih panjang.
Raut wajahnya sudah lebih baik. Ia berjalan untuk membuka pintu kediamannya. Dilihatnya Gerald tertidur dengan bersandar pada dinding. Tampak sangat putus asa. Roxena berdecak. Meskipun Gerald yang saat ini bukan tirani seperti kehidupan pertama. Namun, Roxena tidak menyukai sifat lemahnya itu. Gerald masih belum bisa menempatkan dirinya sesuai dengan situasi.
Roxena menghela nafas pelan. Ia berjongkok, menatap lekat wajah sang suami. Puas menatap wajah bayi besarnya itu, Roxena melangkah pergi tanpa membangunkan Gerald.
Roxena menuju area dapur. Memeriksa persiapan untuk jamuan makan malam. Melihat kepala keluarga mereka datang, orang-orang yang berada di dapur segera memberikan salam pada Roxena.
Roxena mengangguk singkat. Aroma rusa yang sedang dipanggang begitu menarik perhatiannya. Ditatapnya rusa utuh yang tengah dibolak-balik di atas bara api. "Maaf, Lady. Rusa ini masih setengah matang. Jika Anda sudah sangat lapar, bagaimana dengan steak saja, Lady?"tawar kepala bagian dapur yang bertanggung jawab atas semua hidangan.
"Berapa lama lagi sampai matang sempurna?"tanya Roxena tak menanggapi tawaran kepala dapur itu.
"Sekitar 1-2 jam lagi, Lady."
"Aku tunggu saja." Roxena berbalik dan meninggalkan dapur. Di halaman luas kediaman Lawrence ini, beberapa orang sedang menata tata letak meja dan kursi, dibuat bentuk persegi. Di atasnya ditata vas bunga sedemikian rupa. Piramida untuk minuman juga diletakkan di beberapa sisi. Juga disediakan hiburan berupa pertunjukan opera serta paduan instrumen.
"Bayi besar ini!!"gerutu Roxena melihat Gerald yang masih tertidur di depan pintu. Lagi, tanpa niatan untuk membangunkan sang suami, Roxena melenggang pergi.
30 menit kemudian Gerald terbangun. Mengusap wajahnya kasar lalu mencoba membuka handle pintu. Terbuka, gegas ia berlari masuk menuju kamar Roxena.
"Xena!!" Dilihatnya sang istri tengah sibuk memilih baju yang akan digunakan.
"Mengapa tidak ada yang hitam?"gumam Roxena mengeluh. Gerald mendekat.
"Jangan sentuh aku!!" Gerald tercekat.
"Xena … aku salah. Aku minta maaf."
__ADS_1
```` "Diamkau!"
Mood Roxena yang membaik kembali memburuk. Gerald yang mencoba memahami langsung bertanya di luar masalah mereka, "bajunya tidak ada yang sesuai?"
"Hm!"
"Warna hitam?" Roxena mengangguk. Gerald tersenyum. Diam-diam ia merasa lega.
"Aku ada kemeja dan celana hitam, mau?"tawar Gerald.
"Mana?"
Gerald bergegas membuka kopernya. Diambilnya barang yang dimaksud dan memperlihatkannya pada sang istri. Roxena menimbang, "bisa." Diambilnya baju dan celana itu lalu menuju ke kamar mandi.
Barulah Gerald mengusap dadanya, benar-benar lega. Tampaknya Roxena sudah tidak mempermasalahkan hal tadi.
Sekitar 30 menit kemudian, Roxena keluar dengan mengenakan pakaian milik Gerald. Saat ini tengah menggulung lengan kemeja hingga sesiku.
"Xena."
"Hm?"
"Sudah berapa bulan?"tanya Gerald, ia belum berani menyentuh Roxena, hanya berdiri di dekatnya saja.
"Lupa."
"Kau masih marah?"
"Aku marah. Kau cobalah untuk memadamkan amarahku!"
Rupanya dengan bersikap dingin Roxena menunjukkan amarahnya. "Maaf."
Roxena melirik sekilas sebelum akhirnya meninggalkan kamar. Gerald bergegas membersihkan dirinya lalu menyusul Roxena.
Matahari perlahan tenggelam, pemandangan senja dari puncak gunung terlihat indah. Gerald duduk di samping Roxena yang sedang memejamkan mata, menikmati suasana tenang senja pegunungan.
"Aku ingat aku sangat menanti momen ini sejak lama. Namun, takdir begitu kejam pada kehidupan pertama kita." Gerald berujar seraya menatap sendu wajah sang istri. Mata Roxena tetap terpejam.
"Aku tahu. Kita tidak bisa menyalahkan takdir karena sama saja menyalahkan Tuhan." Gerald mengulum senyum. Tetap tidak ada tanggapan dari Roxena.
"Tuhan itu baik dan aku percaya itu. Buktinya dia mempertemukan kita lagi dengan cerita yang berbeda." Roxena membuka matanya. Menoleh dingin pada Gerald.
"Mungkin Dia sudah lelah mempermainkan hidupku," sahut Roxena dengan sorot matanya yang menjadi sayu.
Gerald langsung memeluk Roxena. Jelas sekali, rasa lelah terpancar dari sorot mata Roxena. Wanita itu sudah lelah. Ya, sudah lelah setelah dirinya berdamai dengan masa lalu. Rasanya, Roxena ingin menyingkir dari kehidupannya ini. Pergi ke tempat sunyi menikmati sisa hidupnya. Sayang, Roxena harus menunggu lama untuk itu.
Dirinya memiliki tanggung jawab besar terhadap posisinya. Juga, ia bukan seorang diri lagi.
"Kita akan melewatinya bersama dengan bahagia." Gerald berbisik. Mengusap punggung Roxena, "penderitaan kita sudah berakhir, Xena. Jangan terperangkap lagi dalam masa lalu yang kelam, kita harus menyambut cahaya yang datang."
"Mari merangkai cerita indah tentang kita, setuju?" Masih berbisik. Roxena melepas pelukan Gerald. Tatapan sayu berubah menjadi galak.
"Sudah berapa kali aku katakan bahwa aku tidak menerima kata-kata manis, omong kosong mudah diucapkan. Janji, ajakan mudah dilontarkan. Aku tidak mau darah tinggi karena janji diingkari!!"ketus Roxena.
"Baik-baik. Aku tidak akan omong kosong." Gerald menggenggam jemari Roxena.
"Xena, Gerald, ayo kemari! Makan malam sudah siap!" Tuan Lawrence berteriak. Meja-meja yang disediakan sudah diisi oleh anggota keluarga lain. Hidangan utama juga sudah disajikan. Terlihat ada tetua yang tadi meninggalkan aula bergabung. Roxena tersenyum tipis.
Keduanya bergabung. Aroma rusa panggang begitu menggugah selera.
Matahari telah terbenam. Penerapan dari lampu-lampu klasik dengan warnanya yang khas menerangi tempat acara. Roxena berdiri, mengangkat segelas anggur yang difermentasi sendiri.
"Kalian pasti terkejut dengan semua yang terjadi hari ini."
"Namun, keputusanku harus segera aku sampaikan." Roxena menatap tetua yang hadir.
Roxena lantas menundukkan kepalanya. "Sebagai junior, aku ingin meminta maaf atas keputusan yang telah aku buat."
__ADS_1
Tentu saja yang hadir terkejut. Para tetua mengernyit, bingung dengan apa yang Roxena lakukan. Mereka datang bukan untuk Roxena namun menghormati Tuan Lawrence.
Ya, atas permintaan Tuan Lawrence mereka hadir.
"Meskipun sudah kehilangan wewenang, kalian akan hidup seperti biasanya. Tidak akan kekurangan apapun. Namun, jika kalian berkolusi untuk menjatuhkanku dan merugikan keluarga Lawrence, maka kalian akan seperti rusa malang itu," ucap Roxena, menoleh ke arah rusa yang dagingnya sudah diiris dan dihidangkan.
"Kau mengancam kami?"
"Bukan." Roxena kembali menatap para tetua yang tampaknya tersinggung. Tuan Lawrence mengusap wajahnya kasar. Putrinya ini semakin menjadi.
"Aku memperingatkan kalian. Dan ini berlaku untuk semua anggota keluarga Lawrence! Jika ingin hidup dengan baik maka hiduplah dengan baik. Jangan mencari perkara!"
Semua saling pandang. Kecuali para tetua, anggota keluarga lain mengiyakan hal tersebut.
"Gerald, kau pimpin doa," ucap Roxena, ia duduk dan Gerald berdiri. Gerald memimpin doa sebelum makan.
Selanjutnya, makan malam mulai disantap. Suasana begitu sendu diiringi dengan instrumen klasik yang diputar.
Daging rusa yang sedari tadi diinginkan akhirnya bisa Roxena nikmati. Gerald yang baru pertama menyantap daging rusa mengidentifikasi rasanya. Mirip dengan daging sapi namun lebih enak. Teknik memasak yang tepat membuat dagingnya begitu lembut dan penuh cita rasa.
Selesai makan adalah acara minum disertai dengan hiburan. Anggota keluarga boleh menunjukkan kebolehannya dalam menyanyi, menari, atau bermain alat musik.
"Ini belum selesai!"
Roxena mengeluarkan ponselnya dan tak lama terdengar suara tembakan. Seketika suasana hening. Lalu kembali ramai, kacau karena panic attack. Gerald sigap menarik Roxena ke belakang tubuhnya. Tuan Lawrence juga mendekat pada Roxena. Seolah ingin melindungi wanita itu.
"DIAM!!" Roxena berseru diikuti dengan suara tembakan.
"Xena? Ada apa ini?" Gerald terkejut mendengar suara tembakan dari belakang dirinya.
“Xena, kau yang melakukannya?”terka Tuan Lawrence melihat pistol di tangan Roxena.
Atensi seketika tertuju pada Roxena. Mereka takut sekaligus bingung. Salah tampak pucat saat Roxena menodongkan senjatanya padanya. Dengan gagap tetua itu bertanya pada Roxena, “apa maksudmu, Roxena Lawrence?”
“Ah … maaf, orang yang melanggar ketentuan keluarga sudah aku eksekusi.” Roxena menurunkan senjatanya.
“Maksud Anda?” Seketika kerumunan itu melihat diri sendiri dan sekitarnya. Tetua itu kemudian berteriak memanggil nama tetua lainnya. Roxena tersenyum miring. Beberapa saat kemudian, ada dua orang tetua yang lari ke dalam kerumunan itu dengan wajah pucat.
“Apa yang terjadi pada kalian? Di mana yang lain?”
“D-Dia yang melakukannya.” Salah seorang menunjuk Roxena gemetar. Tak berani mengangkat kepalanya. Sesaat kemudian, ada beberapa orang mendekat.
“Nona.” Itu adalah Erin bersama dengan anggota Light and Shadow. “Tersangka sudah dieksekusi,” lapornya setelah menyapa.
“Bagus.” Atensi Roxena kembali pada anggota keluarga yang menatap penuh tanya. Mereka menuntut sebuah penjelasan.
“Yang tidak ada di sini berarti sudah dieksekusi. Mereka melakukan kejahatan yang merugikan keluarga.”
“T-tapi bagaimanapun mereka adalah bagian dari keluarga ini. Apakah tidak terlalu kejam?” Ada yang menyangkal. Roxena menggeleng.
“Bagiku tidak ada kata maaf untuk pengkhianat!!”tegas Roxena.
“Kalian silahkan memilih, ingin mengikuti jejak mereka silahkan. Ingin berada di bawah kepemimpinanku juga silahkan!!"
Ya, kepulangan Roxena kali ini juga untuk menumpas tikus nakal yang menggerogoti keluarga Lawrence. Secara kasat mata memang tidak ditemukan masalah. Namun, setelah diselidiki, ada banyak kecurangan yang dilakukan. Jika diabaikan terus atau tidak diberikan sanksi tegas sekaligus sebagai contoh, kemungkinan besar keluarga yang telah berdiri lama ini akan runtuh.
“Aku lelah, Gerald ayo.” Roxena menarik Gerald pergi. Gerald yang masih mencerna situasi mengikut tanpa banyak kata. Tinggal Tuan Lawrence yang tersenyum kecut, harus membereskan situasi karena langsung disuguhi keluhan.
“Erin, kalian benar-benar membunuh mereka?”tanya Tuan Lawrence memastikan.
Erin mengangguk singkat.
“CUKUP!!”
“Tindakan kepala keluarga memang berlebihan namun aku tidak bisa menyalahkannya!! Dia melakukannya untuk keluarga. Kepala keluarga tidak akan melakukan hal-hal yang merugikan keluarga. Alasannya juga sudah diumumkan. Namun, tidak kalian masih tidak bisa menerima, kalian bisa tinggal atau pergi dari keluarga ini!” Tuan Lawrence meredam keluhan itu. Mereka saling pandang.
Pergi dari keluarga ini?!
__ADS_1
````