Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 63 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

Roxena menatap Regis. Sementara Gerald menatap Elisa.


Gerald dan Roxena tersenyum, "sungguh sopan sekali."


"Kabarnya Presdir Roxena adalah wanita yang luar biasa. Hari ini saya percaya dengan kabar itu. Saya Regis Francois menyapa Anda. Semoga kita dapat berhubungan dengan baik," ucap Regis menatap lurus Roxena.


Roxena semakin melebarkan senyumnya. Lalu mengangkat genggaman tangannya dengan Gerald. Menunjukkan cincin pernikahan. Roxena sedang memprovokasi.


"Sepertinya harapan Anda sulit terwujud, Tuan Regis."


Regis tak mengalihkan pandanganya dari Roxena. Begitu juga dengan Elisa, pandangannya lekat-lekat pada Gerald.


Tuan dan Nyonya Francois saling melempar pandang.


"Ehem. Saya tidak nyaman dengan pandangan Anda pada istri saya, Tuan Regis."


"Ah!" Regis tersentak.


"Saya pikir ini waktu untuk sarapan. Bukan membahas pekerjaan atau urusan yang tidak penting!"ucap Gerald dengan raut datarnya.


Elisa terkesiap.


Roxena kembali menarik senyum.


"Hahaha …." Tiba-tiba Nyonya Francois tertawa, mencoba memecah suasana. "Setiap orang memiliki masa lalu tersendiri. Tidak heran jika kalian merasa canggung. Tapi, sepertinya semua telah bangkit dari masa lalu. Meskipun terlambat, saya ingin mengucapkan selamat atas pernikahan Anda, Tuan dan Nyonya Chaddrick, semoga pernikahan Anda bahagia dan segera diberikan keturunan," harap Nyonya Francois. Ada penekanan di dalam kata-katanya. Garis besar, keturunan.


"Semoga Anda berdua lekas menyusul putra dan juga calon menantu saya yang sebentar lagi akan segera menjadi orang tua," lanjut Nyonya Francois, tersenyum lebar ke arah Elisa yang berdebar kencang di tempatnya. Elisa ingin melihat reaksi Gerald yang terkejut dan menatap dirinya.


Roxena mengeratkan genggamannya. Kata-kata Nyonya Francois membuka lebar ketakutan di hati Roxena.


Elisa hamil? Anak Regis? Apa yang terjadi padamu, Elisa?


Ada banyak pertanyaan di kepala Gerald. Gerald kemudian menarik senyum, "selamat untuk Anda berdua," ucapnya dengan menahan rasa sedih di hati.


"Terima kasih." Regis menjawab. Meraih tangan Elisa dan mengecup punggung tangannya.


Gerald? Apa kau tidak marah? Apa kau tidak mau mendengar yang sebenarnya? Ini anak kita! Bagaimana bisa kau mengucapkan selamat pada orang lain?!


Apa hatimu sudah berpaling, Sayang? Kau tak menolak genggaman tangannya. Meskipun kau terpaksa, hatimu sungguh hebat bisa menahan kabar ini.


Apakah kita benar-benar sudah berakhir?!


Tidak! Aku tidak terima Gerald! Separuh hidupku aku gunakan untuk mencintai dan bersama denganmu. Aku tidak terima euforia kebahagiaan kita direbut olehnya!


Aku tahu. Kau berpura-pura tenang! Bersabarlah sebentar lagi, Sayang. Aku akan segera membawamu pergi darinya! Kita akan bersama kembali, hidup bahagia bersama anak kita!


Regis menatap dalam Elisa. Tatapan itu membawa kecemburuan bagi Roxena. Di meja makan ini, terjadi pergolakan perasaan yang berusaha ditekan sampai titik terendah. Mereka menyembunyikan perasaan dibalik senyum dan ketenangan.


Ini bukanlah sarapan biasa. Ini adalah sarapan yang menelan pil pahit atas perasaan yang dirasakan.


*


*


*


"Aku berubah pikiran, Erin. Bunuh Elisa dan bayinya untukku!"titah Roxena sepulang dari sarapan. Saat ini Roxena tengah berada di luar hotel, meninggalkan Gerald sendiri di kamar. Roxena ingin memenangkan pikirannya yang kacau.


Masih terbayang di benaknya senyum lembut Regis untuk Elisa. Tatapan Gerald yang masih memiliki perasaan. Roxena menangkap semuanya. Namun, di antaranya hanya satu yang tidak bisa Roxena terima, tatapan dingin Regis padanya. Dibalik keramahan Regis ada tatapan sedingin es yang menyerang Roxena.


Ketakutan akan tidak bisa mendapatkan Regis dan juga kehilangan Gerald, Roxena ingin memutuskan sumber keduanya yakni Elisa.

__ADS_1


Erin menghela nafas kasar. Pemikiran Roxena tentang bisnis dan perasaan memang berbeda. Kali ini Roxena menggunakan emosinya bukan rasionalitasnya.


"Apa Anda sanggup menahan kebencian Tuan Gerald dan Tuan Regis yang Anda cari?"tanya Erin menatap serius Roxena.


"Kebenciannya tidak akan berefek padaku. Aku hanya ingin Elisa mati!'


"Bagaimana dengan kesedihan mereka, Nona?"


"Aku tidak peduli!!"


"Anda peduli!"


"Aku tidak peduli, Erin!!"


"Anda tidak bisa membohongi perasaan Anda, Nona! Anda peduli pada perasaan Tuan!"


"Mana buktinya?!"tantang Roxena dengan nafas memburu.


"Banyak, Nona! Hanya saya Anda sembunyikan di balik dinginnya hati dan keras kepala Anda. Nona, saya sudah belasan tahun mengikuti Anda. Anda selalu emosional jika menyangkut Tuan. Anda ingat saat Tuan Besar memanggil Tuan tanpa izin? Anda menghukum Thomas dan Jack karenanya. Anda juga mengirimkan pengawal dan menjaga Tuan dari bahaya. Anda memperlakukan Tuan dengan baik, Nona dan itu bukanlah hakikat dari dendam."


"Aku tidak-"


"Saya belum selesai, Nona! Anda peduli pada perasaan Tuan. Anda melakukan hal kasar pada Tuan hanya karena satu alasan, Anda mengancamnya untuk tetap di sisi Anda, Anda bahkan tidak membunuh Elisa."


"Diam Erin!"


"Anda ingin mengatakan tidak peduli? Semua hanya rencana Anda agar Tuan patuh? Ya, itu benar. Tapi, yang lebih benar karena Anda takut kehilangan Tuan. Nona, saya tahu benar Anda manipulatif. Dan kali ini Anda terjebak di dalamnya. Nona, dendam dan cinta batasnya hanya setipis tisu. Dalam membalas dendam hanya ada dua kemungkinan, dendam padam atau terbakar di dalam dendam itu sendiri! Nona, tolong hentikan trik atau rencana manipulasi Anda lainnya. Cukup dan tentukan keputusan Anda. Saya muak dengan Anda yang bertele-tele bahkan lemah karena Tuan!"


Erin membungkuk setelah mengatakan semuanya. Wajah Roxena dipenuhi dengan amarah, ia menunjuk geram Erin.


Roxena tidak bisa berkata-kata. Roxena tidak dapat membalas kata-kata Erin. Detik ini pun hatinya masih dipenuhi dengan kegelisahan dan dilema. Pernah Roxena memikirkannya. Sayang, ia tetap tak bisa memutuskan dendam yang telah berakar di dalam hati. Bahkan cahaya yang ia anggap sebagai Rey, putranya dengan Regis di masa lalu tidak ia dengarkan.


Sekali lagi Erin memohon. Mata Roxena memerah. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa. Memijat pelipis yang berdenyut sakit.


"Tidak ada jalan mundur, Erin. Puluhan kehidupan aku menanti. Membalas dendam dan kembali bersama dengannya. Setiap kehidupan aku merangkai mimpi, berharap semuanya akan terwujud. Menurutmu aku harus mundur?"


"Terbakar dendam?" Roxena menarik sudut bibirnya. Air mata membahasi pipinya. "Aku menjalani kehidupan yang mengerikan sekaligus membosankan karena terbakar dendam, Erin. Terbakar sekali lagi dan gagal, tidak masalah! Aku akan menagihnya di kehidupan selanjutnya!"


"Setelah puluhan kehidupan, dua pria yang membuat hidupku berwarna dan suram berada dalam satu kehidupan yang sama. Haruskah aku mundur? Haruskah aku menerima kekalahan?" Roxena menggeleng keras.


"Aku tidak akan kalah, Erin. Sekalipun aku kalah, aku akan mengangkat wajahku dengan bangga. Membiarkannya bersama dengan Elisa dan aku bahkan tidak bisa mendapatkan Gerald, lebih baik aku membunuh mereka, Erin!!'


"Nona!" Lidah Erin keluh.


"Jangan katakan apapun tentang melepas dendam, Erin! Jika kau tidak bisa melakukannya, aku punya banyak anggota untuk melakukannya. Jika mereka menolak aku akan melakukan dengan tanganku sendiri!"putus Roxena, menyeka air matanya kasar.


Apa yang kau tangisi, Roxena?!


Erin memejamkan matanya. Sulit untuknya merubah tekad Roxena. Erin hanya menginginkan satu hal, kebahagiaan Roxena. Jangan menderita lagi, Roxena. Kau harus bahagia. Itulah yang Erin inginkan.


Akan tetapi, dendam sudah mendarah daging. Dendam yang membawa Roxena melalui puluhan kehidupan.


"Meskipun Anda ingin membunuh Elisa, Anda harus memikirkannya dalam keadaan kepala dingin, Nona," ujar Erin melemah. Erin mencari cara agar Roxena tidak mengambil keputusan yang merugikan.


"Anda akan kehilangan kartu jika menghabisi nyawa Elisa sekarang," ujar Erin.


Roxena mendongak dengan tatapan tanya.


"Mungkin Anda sudah lupa. Elisa mengandung anak kandung Tuan. Apa Anda rela wanita lain memiliki benih Tuan?"


Roxena melebarkan matanya mendengar penuturan Erin. Tubuhnya langsung tegak dengan mata bergerak memikirkan kata-kata Erin.

__ADS_1


"Apa Anda bersedia untuk menunggu beberapa bulan lagi, Nona?"


Akhirnya senyum Roxena terbit. Senyum licik layaknya rubah.


*


*


*


Gerald yang bosan di kamar keluar untuk berjalan-jalan. Gerald perlu udara segar untuk menguraikan kekusutan pikiran dan hatinya. Ia perlu mengambil keputusan karena Roxena sudah memberi pilihan padanya.


Meskipun cacat, Regis itu memenuhi standar. Dia kaya, tampan, dan terpenting ia menyukai Elisa. Bahkan Elisa hamil anaknya.


Elisa hamil anaknya?


Nyutt!


Gerald menyentuh dadanya. Ia berhenti dan menyandarkan kepalanya pada dinding.


"Gerald." Suara familiar menyapa Gerald. Gerald menoleh dan membeku. Itu Elisa. Elisa yang menatapnya penuh kerinduan.


"Elisa."


"Gerald." Air mata Elisa turun deras.


Gerald refleks hendak menyeka air mata itu. Tapi, langkahnya tertahan saat melihat perut Elisa yang menonjol.


"Jangan menangis, Elisa. Bayimu ikut sedih juga," ucap Gerald datar.


"Gerald." Bahkan saat sudah berdua, Gerald datar seperti saat bersama dengan Roxena.


"B-bisakah kita bicara di tempat lain?"tanya Elisa serak dan terbata. Gerald menimbang sesaat. Mungkin ini akan jadi pertemuan terakhir dan ada yang ingin Gerald sampaikan pada Elisa.


Gerald mengangguk. Mengikuti Elisa menuju salah satu kamar yang penjagaan ketat. Gerald menduga-duga, apakah ini bantuan dari Regis?


"Elisa."


"Gerald!!" Saat sudah masuk ke dalam kamar, Elisa langsung berbalik dan memeluk erat Gerald. Tangis Elisa pecah seketika. Ia menangis sejadi-jadinya. Memeluk erat, menumpahkan kerinduan yang mendalam. Menangisi perpisahan yang menyakitkan.


"Gerald, hiks … hiks …."


"Gerald, hiks … aku sangat merindukanmu, Gerald."


Gerald tidak membalas, bahkan tak membalas pelukan Elisa.


Merasakan hal itu, Elisa mendongak dan sedikit melonggarkan pelukannya, "ada apa, Gerald? Mengapa kau tidak membalasku? Apa kau takut pada wanita jahat itu?!"


"Elisa, aku …."


Gerald bingung. Ia bahkan ingin menjauh dari Elisa.


"Kau tidak merindukanku?! Apa kau tahu bagaimana hancurnya hatiku saat tahu kau menceraikanku? Saat kau meninggalkanku dan menerima kabar kau menikah dengan wanita jahat itu?!"


"Jangan-jangan dia mencuci otakmu! Kita bersama belasan tahun, Gerald. Aku tidak percaya kau melupakan perasaan kita!" Elisa berpikir demikian. Ia menyentuh wajah Gerald. Hatinya sangat bahagia. Berjinjit untuk mengecup bibir Gerald.


Elisa sangat merindukan Gerald. Mereka sudah bertemu, tidak boleh berpisah lagi.


"Tenang saja, jangan takut! Ada aku!"


"Gerald … ayo kabur! Aku sudah mempersiapkan semuanya! Tempat kita bisa terhindar dari wanita jahat itu!"ajak Elisa.

__ADS_1


__ADS_2