Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 71 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

Gerald dipindahkan ke kamar Roxena. Hari semakin larut. Namun, Roxena tak segera memejamkan mata. Ia duduk di dekat jendela dengan anggur di tangannya. Minum tenggak demi tenggak, berusaha mengobati kegelisahan hatinya.


Tindakan Gerald ini benar-benar mengusik hatinya.


"Sepertinya aku akan kalah," gumam Roxena. Kemudian meletakkan botol anggur itu dan meninggalkan kamar.


"Anda mau ke mana, Nona?"tanya Erin yang berpapasan dengan Roxena.


Roxena mengabaikan pertanyaan Erin. Sama sekali tidak menoleh ke belakang.


*


*


*


"Meskipun gagal mencelakainya, kita berhasil mengusik dirinya. Untuk sementara, dia akan fokus pada suaminya, bukan perusahaan. Hanya saja waktu kita terbatas. Lawrence Group tidak bisa dianggap remeh meskipun Roxena tidak mengurusnya!"ucap seseorang di seberang telpon.


Stella yang tengah dalam pangkuan seorang pria mendengus pelan.


"Ada rumor dia tidak menyukai suaminya. Bagaimana jika itu sama sekali tidak menahannya?"tanya Stella ketus.


"Jangan marah, Lady. Semua hanya tentang waktu. Lebih baik Anda menikmati pelayanan saya," bisik Pria yang menghabiskan malam dengan Stella itu. Stella menggelinjang saat pria itu mencium dan mengecup lehernya lalu naik ke daun telinga.


"Bisa menjadi pasangannya, mana mungkin tidak penting, Lady. Anda tenang saja. Saya akan melakukan hal lain untuk menahannya."


"Hm."


Stella mematikan panggilan sepihak. Menatap kesal pria yang terus saja bermain di ceruk dan telinganya. Lalu kedua tangan yang meremas dadanya. Menaikkan hasrat Stella.


"Berani sekali kau!"


"Anda jangan mempertanyakan keberanian hamba. Jika hamba tidak berani, bagaimana mungkin bisa menghangatkan ranjang Anda, Lady?" Meraih dan mengecup punggung tangan Stella.


"Oh, Jade! Kau membuatku gila!"erang Stella frustasi. Pria bernama Jade itu terus menggodanya. Stella tidak tahan lagi. Ia membalikkan tubuhnya dan menjatuhkan Jade ke ranjang.


"Sebenarnya siapa kau, Jade? Kau pelayan baru yang mempesona dan penuh keberanian. Apa tujuanmu? Apa yang kau inginkan dariku?"tanya Stella di tengah pergulatan panasnya.


Jade tersenyum, mengecup punggung Stella. Stella kembali mengerang. Setiap sentuhan berhasil merangsang Stella. Dirinya benar-benar di ambang kenikmatan.


"Tujuan saya hanya Anda, Lady."


Dua jam kemudian, Stella tak sadarkan diri di tengah pergulatan. Jade menarik dirinya dan duduk di tepi ranjang.


"Mengapa Magnolia kerajaan begitu rendahan? Bahkan sudah tidak suci lagi. Menjijikkan!"decak Jade tak senang. Memungut dan mengenakan pakaiannya kembali.


Jade kemudian melangkah perlahan menuju meja kerja Stella. Itu ada di sebelah kamar yang dapat diakses tanpa harus keluar dari pintu kamar.


"Ladyku benar. Nafsu makan putri ini sangat besar. Huh!" Jade berkata setelah mendapatkan apa yang ia inginkan.


Jade bergegas keluar dari kamar Stella. Dia yang sudah diangkat menjadi pelayan pribadi Stella yang spesial memiliki akses keluar dan masuk. Ia tak perlu mengendap untuk keluar, kepalanya tegak dan penuh percaya diri. Tak lupa senyum yang memikat. Senyum yang akan ia torehkan saat tujuannya tercapai.


*


*


*


"Persahabatan kita membuat iri banyak orang. Ada yang mengatakan bahwa mereka ingin seperti kita. Ada yang mengatakan bahwa persahabatan kita akan membawa petaka. Dua pria dan satu wanita, apakah tidak ada kemungkinan jatuh cinta pada wanita yang sama?"


"Cinta membawa kekuatan. Tapi, cinta juga membawa kehancuran. Gerald, Xena, apapun yang terjadi, jangan jadikan persahabatan kita sebagai petaka!"


Kala itu, mereka tengah piknik di bawah pohon rindang. Duduk melingkar dan saling mengobrol, membicarakan keseharian, hal baru, dan berita-berita hangat kekaisaran.

__ADS_1


"Aku hanyalah putri seorang Duke. Bagaimana bisa disandingkan dengan dua cahaya kekaisaran?"


"Lalu … apakah persaudaraan dan persahabatan kita akan hancur hanya karena cinta? Cinta seperti apa yang bisa menghancurkannya? Aku percaya pada kalian berdua, Regis, Gerald, kalian tidak mungkin berseteru hanya karena memperebutkan aku, kan?"


Regis dan Gerald saling tatap. "Kami lahir dari Ayah dan Ibu yang sama. Tidak ada saudara lain. Mana mungkin menghunuskan senjata satu sama lain?"sahut Regis tertawa.


Namun, agaknya Gerald memiliki pendapat berbeda.


"Ya kan, Gerald?"


"Alangkah damainya jika seperti itu. Hanya saja, terkadang seseorang tidak bisa mengendalikan hatinya. Dan satu hal yang pasti, manusia tidak bisa menentang takdir. Ku pikir, aku akan bertindak sesuai kondisi. Meskipun kita lahir dari rahim yang sama, kita berbeda, Kakak," jawab Regis. Pada akhirnya ia tidak memberi jawaban pasti.


Roxena dan Regis saling tatap. Kala usia mereka barulah 15 tahunan.


"Ah … jalan kita masih panjang. Jodoh telah ditakdirkan. Semoga saja, persahabatan kita tidak berubah menjadi petaka," harap Roxena yang diangguki Regis lalu Gerald.


"Semoga saja persahabatan kita tidak menjadi petaka?"gumam Roxena getir. Saat ini, ia tengah berada sendirian di rumah kaca yang sudah selesai dibangun. Aneka mawar terdapat di dalam ini.


Roxena tertawa, menertawakan kemunafikan dirinya. Nyatanya ia jatuh cinta pada Regis dan itu bersambut. Mengira mereka memang dijodohkan. Sayang, ternyata Gerald juga mencintainya dan tidak terima dengan hubungan itu. Akhirnya perang saudara pecah. Kekacauan yang menjungkirbalikkan kehidupannya.


"Pada akhirnya … akulah yang memulai kesalahan ini. Andai saja aku memegang teguh percakapan itu, apakah akhirnya akan berbeda?"


"Apakah reinkarnasi tak berujung ini adalah karma atas kemunafikanku? Apakah ini hukuman Tuhan atas dosa yang telah aku buat?"


"Gerald tidak bersalah. Andai saja aku menyimpan rapat cinta dan menolak cintanya, pasti tidak akan ada pertumpahan darah," ucap Roxena gemetar. Dadanya terasa sesak.


"Regis, Ayah, Ibu, semuanya, aku berdosa pada kalian! Hiks!"


Roxena berteriak. Teriakan gemetar yang menggema dalam rumah kaca itu. Akhirnya Roxena memahami alasan di balik reinkarnasinya selama ini.


Bukan dendam. Melainkan rasa bersalah. Rasa bersalah yang tidak ada obatnya. Penyakit hati yang terus menggerus dirinya. Jatuh dan tak bisa bangkit, terjerumus dalam jurang dalam dan menutupi dengan kemarahan dan kebencian.


"Ibu."


Suara yang sama seperti saat Roxena terbaring sakit. Cahaya terang di tengah kegelapan. Roxena mendongak. Matanya menyipit, "Rey?"


"Bukan?" Roxena mengerjap pelan. Lantas siapa? Ia tidak punya anak lain selain Rey?!


"Saya adik Kak Rey, Ibu. Waktu itu saya belum lahir. Ibu … saya selalu berdoa pada Tuhan, saya ingin menjadi anak Ibu. Saya harap keinginan saya segera terwujud, Ibu. Saya akan jadi anak yang baik. Saya mohon Ibu jangan membenci saya."


Suara itu memelas hingga membuat air mata Roxena jatuh. Bibirnya gemetar. Ternyata itu adalah anak keduanya.


*


*


*


Tangis pilu terdengar dari sorang wanita memeluk putus asa seorang anak laki-laki. Tubuh anak laki-laki itu terdapat luka bakar. Dan di belakang wanita itu api berkobar garang menghanguskan bangunan.


"Bangun, Rey! Jangan tinggalkan Ibu!"


"Rey! Pangeranku, Ibu mohon, hiks!"


"Jangan tinggalkan Ibu, Rey!"


"Pangeran Rey sudah meninggal, Permaisuri. Anda harus merelakannya." Orang-orang yang menyaksikan itu berkata dengan pilu. Seraya memohon pada wanita itu yang tak lain adalah Roxena.


"Merelakannya?" Roxena mendongak. Jejak ketidaksenangan begitu kental.


"Aku tidak bisa!"jawab Roxena.


"Permaisuri, Pangeran Rey sudah meninggal. Kita tidak bisa melakukan apapun. Kita hanya bisa memberikan pemakaman terbaik untuk Pangeran Rey." Para pelayan dan pejabat kekaisaran yang ada di sana kembali memohon pada Roxena.

__ADS_1


"Apakah ini takdir? Pangeran Rey bukan anak Kaisar. Hidup matinya tidak berpengaruh pada kekaisaran, justru akan menjadi ancaman." Hanya saja, masih ada yang sanggup mengatakan itu. Sialnya terdengar oleh Roxena.


Roxena bangkit. Lalu mengambil pedang dari prajurit di sana. "Permaisuri!" Mereka berteriak kaget. Roxena mengecek ketajaman pedang itu. Lalu tersenyum sinis.


"Benar. Rey bukan anak Kaisar. Rey anakku! Hidup matinya tidak penting bagi kekaisaran. Tapi, dia adalah segalanya bagiku!"ucap lantang Roxena.


"Apa yang kau lakukan, Xena?! Letakkan pedang itu!!" Gerald yang baru hadir setelah pulang dari tugas di luar istana berteriak panik.


"Kau datang?"


"Xena, jangan hilang akal. Rey sudah tiada. Tapi, kita memiliki satu anak lagi," ucap Gerald mencoba menenangkan Roxena.


"Jangan mendekat!"teriak Roxena. Ya, Roxena sedang hamil dan usia kandungnya sudah lima bulan.


"Akalku sudah lama hilang, Gerald!"


"Hal yang membuatku bertahan sudah tidak ada lagi. Untuk apa aku hidup?"tanya Roxena getir.


"Tidak. Ada hal lain, aku, anak kita, kekaisaran! Ku mohon, Xena! Letakkan pedang itu!"


Roxena menggeleng keras. Ia mendekatkan pedang itu ke lehernya sendiri.


"Aku kehilangan orang yang aku cintai karenamu! Hari ini, aku akan mengembalikan rasa sakit yang aku alami. Namun, itu tidak akan cukup!"


"Xena!"


"Dengarkan aku, Gerald! Aku bersumpah … aku akan membuatmu merasakan sakit yang aku rasakan selama ini. Setiap air mata, setiap luka, setiap darah, dan setiap rasa sakit, aku akan menagihnya! Kau akan berada pada posisiku!!"


"XENA!!" Gerald berteriak kencang saat Roxena menggorok lehernya sendiri. Jatuh di samping jasad Rey.


Suara tangis terdengar bersahutan. Dan api semakin membara. Keadaan itu sangat kacau. "XENA!!"


*


*


*


Gerald membuka matanya. Ia mendapatkan ingatan masa lalu lagi. Hanya saja, ingatan itu tidak runtut. Acak dan membuatnya harus menyusun sesuai tempat.


Gerald diam untuk waktu yang lama. Ia terkejut. Ingatan itu benar-benar mengerikan. Menyaksikan darah keluar dari leher Roxena. Dan sumpah itu, Gerald merinding.


"Ugh!" Gerald merintih sakit saat ia berusaha untuk duduk. Tangannya meraba-raba, menemukan perban pada pinggangnya.


"Ini di mana?" Kamar luas dan mewah ini asing bagi Gerald. Apakah ini kamar hotel? Atau rumah lain Roxena? Tapi, mengapa tidak membawanya ke rumah sakit atau apartemen?


"Xena." Gerald memanggil. Suaranya pelan, tubuhnya lemas. Ia butuh minum.


"Anda sudah sadar, Tuan?"


Gerald menoleh. Itu dokter Liu yang masuk bersama dengan Erin.


"Kalian?"


"Saya Liu, Dokter pribadi Nona." Sekali lagi, Dokter Liu memperkenalkan diri.


"Saya akan mengecek kondisi Anda." Dokter Liu mengecek denyut nadi Gerald.


"Kau dari Tiongkok?"tanya Gerald.


"Benar," jawab Dokter Liu singkat. "Sudah aman. Tinggal penyembuhan luka saja. Selebihnya saya rasa Anda sudah paham."


"Terima kasih, Dokter Liu." Dokter Liu tersenyum tipis.

__ADS_1


"Di mana Xena? Lalu ini di mana?"tanya Gerald menatap Erin.


"Nona … dia ada sedikit urusan. Akan kembali sebentar lagi. Lalu untuk pertanyaan kedua, baik saya atau Liu tidak punya hak untuk menjawabnya."


__ADS_2