
Menyusuri kota yang penuh dengan pesona bersama orang terkasih adalah kebahagian yang tidak terlukiskan. Di bawah keindahan Madrid yang eksotis dengan bangunan abad pertengahan, adalah suatu kesenangan berharga yang akan menjadi kenangan indah.
Meskipun malam tidak terlalu dingin, Gerald membuat Roxena lebih mendekat padanya. Erat menggenggam jemari. Senyumnya terukir indah.
“Meskipun kota sangat gemerlap di malam hari, tetap tak bisa mengimbangi keindahan bulan. Dia punya pesona tersendiri. Itu sama sepertimu, Xena. Meskipun kau berada di antara banyaknya manusia, semua perhatian akan tetap tertuju padamu. Meskipun kau berada di kerumunan, aku akan bisa menemukanmu,” tutur Gerald lembut. Mereka berhenti tak jauh dari para pemusik jalanan yang tengah memainkan biola.
“Puitis sekali.”
“Tidak, Xena. Bahkan ratusan puisi, lagu, bunga atau apapun itu, tetap tidak bisa dibandingkan denganmu. Kau sangat spesial, kau berbeda dengan kebanyakan orang. Kau … mempunyai mental yang kuat, kau punya tekad dan sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Mungkin karena inilah baik di kehidupan sebelumnya atau di kehidupan ini, aku jatuh cinta padamu. Xena, aku-”
Pengakuan itu Roxena hentikan dengan menutup mulut Gerald dengan tangannya. Matanya mendelik tak senang. “Berhenti mengumbar kata manis atau pengakuan cinta. Aku tidak butuh pengakuan berulang kali jika hati sering mengingkari. Aku hanya butuh satu kali pengakuan untuk seumur hidup,” tegas Roxena.
Gerald menarik sudut bibirnya. “Pernikahan adalah pengakuan seumur hidup. Berarti kau tidak akan pernah meninggalkanku, tidak akan pernah pula menduakanku dalam pernikahan ini. Aku sangat senang mendengarkan.”
Roxena langsung terdiam terkejut. Sepertinya ia mengatakan hal yang salah. Tapi, bukan prinsipnya menarik kembali kata yang telah terucap. “Lupakan saja. Kita di sini untuk bersenang-senang. Aku lapar.”
Roxena berjalan lebih dulu. Disusul oleh Gerald. Tidak disangka, Roxena akan mengatakan hal itu. Jika begitu, tak perlu ada yang dikhawatirkan. Lagipula Regis terlihat tak tertarik pada Roxena. Pasti tidak akan merebut Roxena darinya.
Mereka memilih sebuah restoran dan duduk di luar. Menikmati keramaian kota dan juga keindahan permainan pemusik jalanan. Gerald sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari Roxena. Tak bosan memandang wajah cantik Roxena yang unik. Mata hazel tajam yang menyimpan sejuta kedinginan. Bibir tipis yang jarang sekali tersenyum tulus. Rahang yang tegas dan tulang selangka yang memikat. Tubuhnya tinggi semampai dengan kulit seputih susu. Dengan kecantikan itu tak heran Roxena memiliki reputasi lain di luar posisinya sebagai Putri Tunggal Keluarga Lawrence. Julukannya adalah Lily putih, di dunia bisnis tinggal ditambahkan kata berdarah. Atau Lily of death.
“Kau berencana membuatku mabuk?”sinis Roxena saat melihat sebotol anggur yang ikut tersaji dalam makan malam. Roxena teringat dengan Gerald yang memberikan anggur dengan kadar alkohol tinggi.
“Ah tidak. kadarnya rendah.”
“Jangan sembarangan. Posisi kita di luar. Meskipun aku menempatkan pengawal di sekitar sini, tidak menutup kemungkinan sergapan mendadak!”bisik Roxena tegas. Gerald langsung menelan ludah kasar, ia tidak memikirkan hal itu.
“Kalau begitu bagaimana dengan cocktail atau mocktail?”tawar Gerald, menarik botol anggur dari meja.
Roxena tiba-tiba merebutnya. “Tapi, karena kau sudah memesannya, segelas anggur tidak masalah.”
“Ah.” Gerald mengerjapkan matanya. Ternyata tetap tak bisa lepas dari anggur.
“Sudah lama aku tidak sebebas ini. Menikmati anggur di tengah keramaian, mendengarkan biola dan juga menyaksikan tari Fandango. Namun, aku tidak ingin mengucapkan terima kasih padamu,” ucap Roxena, matanya fokus pada beberapa orang yang melakukan tari pasangan Spanyol. Gesit dan bersemangat, diiringi dengan musik yang mendukung, mengingatkan Roxena pada kehidupan menjadi Nona bangsawan. Meskipun tangannya kasar karena berlatih pedang, ia harus tetap menguasai etika dan tarian untuk menunjang status di pergaulan kelas. Apalagi dulu ia adalah seorang putri duke.
“Aku sudah begitu lama tinggal di Madrid. Namun, kau tak pernah membawaku mengunjungi icon-icon Madrid yang tersohor. Aku sedih mengingatnya,” cetus Gerald. Roxena meliriknya.
“Jika ada waktu … beberapa hari lagi aku akan membawamu ke Puerta de Alcala.”
“Sungguh?”
“Hm.”
“Aku akan mengatur jadwalku seefisien mungkin. Kau jangan ingkar janji. Ah … Spanyol dijuluki negeri matador. Aku sangat ingin menonton para matador menaklukan banteng, apakah-”
Berhenti saat menerima tatapan kesal Roxena. Gerald tertawa renyah. “Baik-baik. Aku tidak akan menuntut.”
“Apa yang mau lihat dari acara itu?”
“Matador melawan banteng, bukankah itu icon yang sangat terkenal?”tanya Gerald heran.
“Sebagai seorang dokter, seleramu unik juga, ya?” Sebuah sindiran.
“Kau … tidak menyukainya?”tebak Gerald.
“Budaya itu membawa polemik dan kontroversi. Meskipun aku tidak suka, itu adalah budaya. Dan budaya itu sudah terkenal, mana mungkin dihapuskan. Kehidupan manusia dan kebudayaan selalu berjalan berdampingan. Meskipun aku hebat, mana bisa menghapuskan sejarah panjang?” Roxena tersenyum tipis.
Gerald mengingat-ingat. Ya, tradisi atau budaya matador itu memang ekstrim. Nyawa adalah taruhannya. Dan penonton bersorak melihatnya. Itu memang suatu hiburan. “Tiba-tiba aku tidak ingin melihatnya.”
Roxena menghela nafas pelan. “Jika ada waktu, weekend kita bisa mengunjungi beberapa tempat.”
__ADS_1
“Really?”
“Hm.”
Gerald senang bukan main. Kencan kali ini, ia untung besar.
“Ah … ayo, aku siapkan sesuatu untukmu,” ajak Gerald sesaat setelah ia membayar makan malam mereka. Ia juga melihat waktu.
“Aku belum minum anggur!”protes Roxena.
“Bisa minum di rumah.” Gerald membawa botol anggur dan menarik Roxena ke suatu tempat. Mereka di tengah kerumunan dengan langit cerah. Gerald mendongak menatap langit, mau tak mau Roxena juga ingin menatap langit.
Tiba-tiba ada cahaya warna warni membentuk formasi di langit. Cahaya warna merah membentuk hati. Cahaya warna biru membentuk kata-kata. Pemandangan itu sontak menarik perhatian orang-orang, mereka segera mengabadikan moment dengan kamera ponsel dan ada yang menduga-duga, siapa yang melakukan hal itu.
Untuk wanita yang sangat spesial, Istriku.
Terima kasih telah memilihku.
Aku berjanji, akan memenuhi sumpah pernikahan kita.
Seumur hidup ini akan aku habiskan bersama denganmu.
Aku mencintaimu, Istriku.
“Aku mencintaimu, Xena.” Gerald, dia yang melakukan itu. Mengecup kening Roxena sedang sang wanita yang dimaksud terdiam.
“Aku-”
Tiba-tiba Gerald memutar tubuh Roxena.
“Ugh!!” Terdengar rintihan yang menjatuhkan Gerald. Roxena tersadar, ia diserang!
Pelaku penyerangan itu tidak sendiri, mereka bergegas bergerak ke arah Roxena. Hal itu memicu kepanikan. Gerald yang terkapar dengan darah yang terus mengucur dari luka di pinggang mencoba bangkit untuk membantu Roxena.
“Hei, Gerald. Kau dengar aku?” Penglihatan Gerald semakin samar. Ia mengangguk pelan sebagai jawaban meskipun suara itu samar.
“Tidak apa-apa. Aku akan mengobatimu.” Dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan, Roxena menggendong Gerald menuju mobil. Mengemudi dengan cepat, mengabaikan aturan lalu lintas. Pikirannya kosong.
Roxena membawa Gerald menuju markas Light and Shadow. Ia tidak bisa berpikir jernih, hanya ada pikiran Gerald harus selamat.
“LIU!! LIU!!” Roxena menggendong Gerald dengan berteriak memanggil dokter pribadinya. Mengabaikan sapaan dan tatapan para anggota. Ada beberapa anggota yang bergegas menuju ruangan Dokter Liu.
“Lady!!” Dokter Liu yang mendengar kabar segera menemui Roxena.
“Selamatkan suamiku!!”
Dokter Liu melihat Roxena dan Gerald yang digendong. Darah segar menetes mengotori lantai.
“Ayo, Lady.” Dokter Liu membawa mereka menuju klinik. Dokter Liu segera menangani Gerald sedang Roxena bersandar pada dinding, menggigit jarinya, mengabaikan bajunya yang bernoda darah.
“Senor kehilangan banyak darah. Ambil dua kantong darah golongan AB!”titah Dokter Liu.
“Tekanan darah Senor menurun, Dokter!”
Klinik ini lengkap. Dokter Liu memasangkan alat bantu pernafasan dan penunjang hidup lainnya. Kondisi Gerald sangat berbahaya.
“Jangan biarkan dia mati, Liu!”titah Roxena. Dokter Liu mengangguk pelan mendengar seruan itu.
Anda sudah mendapatkan hati Lady, Senor.
__ADS_1
“Nona.” Erin datang tergopoh. “Anda baik-baik saja?” Memeriksa kondisi Roxena.
“Aku baik. Dia yang terluka karena melindungiku dari tusukan pisau. Dasar bodoh! Mengapa mengorbankan nyawa dan tubuh mulusnya?!”ketus Roxena.
“Tuan, dia ….”
“Tekanan darah sudah stabil. Senor sudah keluar dari masa kritis.” Ucapan Dokter Liu menenangkan semua orang, kecuali Roxena. Ia tidak akan tenang sebelum Gerald membuka mata.
“Kapan dia akan bangun?”
“Kemungkinan besar besok pagi, Lady,” jawab Dokter Liu.
*
*
*
“Aku akan menginterogasi penyerang itu!” Roxena menuju penjara bersama dengan Erin.
“Beraninya melukai suamiku!”
“Di mana mereka?” Penjaga penjara tampak ketakutan.
“Di mana mereka?!” Nada rendah yang menyeramkan. Penjaga penjara itu langsung berlutut.
“Bawahan ini lalai dalam tugasnya, Lady. Mereka bunuh diri di dalam sel, Lady!”lapornya dengan penuh rasa takut.
Roxena mengibaskan tangannya, masuk sendiri ke dalam penjara. Tiga penyerang itu terbaring tak bernyawa di dalam sel. Berani mati saat tugas gagal, ini bukan kali pertamanya.
Roxena segera memeriksa tubuh mereka. Barangkali menemukan petunjuk.
“Gerakan Misterius!”ucap Erin begitu melihat tanda di bagian lengan kanan mereka.
Roxena mengernyit, apakah identitasnya sebagai Lady Light and Shadow terungkap atau memang dirinya sebagai Roxena Lawrence yang diincar? Tapi, atas motif apa? Apakah gerakan misterius ini berubah haluan?
“Gerakan Misterius,” gumam Roxena.
Roxena menghela nafas kasar. “Belakangan ini aku bertemu banyak orang dengan ambisi dan nafsu makan yang besar.”
“Namun, Nona. Dibandingkan semua itu … apakah tidak apa Nona membawa Tuan kemari? Apa Anda sudah siap Tuan mengetahui identitas lain Anda?”tanya Erin hati-hati.
“Apa yang perlu ditakutkan. Hal seperti sudah klise dalam novel. Dia juga bukan orang awan.”
Erin mencernanya. “Anda benar, Nona.”
“Penyerangan mereka sangat merugikanku. Cari akar gerakan sialan ini!! Aku akan mencabut mereka sampai akhir.”
“Artinya Anda mengangkat bendera perang terhadap ….”
“Mereka yang memintanya.”
“Baik, Nona!”
*
*
*
__ADS_1
Gerald dipindahkan ke kamar Roxena. Hari semakin larut. Namun, Roxena tak segera memejamkan mata. Ia duduk di dekat jendela dengan anggur di tangannya. Minum tenggak demi tenggak, berusaha mengobati kegelisahan hatinya.
Tindakan Gerald ini benar-benar mengusik hatinya.