Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 97 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

Kediaman utama Lawrence gempar dengan kedatangan Roxena dan Gerald. Pasangan suami istri itu datang dengan membawa koper. Dengan gaya Roxena yakni pakaian hitam, keduanya memasuki kediaman utama. Tuan Lawrence yang mendengar kedatangan sang putri dan putra menantunya segera keluar dari perpustakaan, tempatnya biasa menghabiskan waktu.


“Xena!!” Terkejut tapi tak melebihi rasa senangnya. Akhirnya, setelah sekian lama Roxena kembali menginjakkan kaki di kediaman ini, terakhir kali waktu pewarisan posisi kepala keluarga.


“Kau datang?”tanyanya senang kemudian melihat koper yang dibawa oleh Gerald. “Menginap? Atau tinggal seterusnya bersama Ayah?”


“Aku lapar, Ayah,” ucap Roxena. Gerald menyenggol Roxena, merasa tidak pantas seperti itu. Namun. bukan Roxena namanya jika menurut. Wajahnya dingin pada Tuan Lawrence yang memanggil kepala dapur.


“Bawakan camilan dan teh. Lalu buatkan makanan favorit putriku, juga makanan favorit menantuku!”


“Ah untuk sementara aku tidak minum teh. Bawakan saja jus kiwi,” ucap Roxena.


“Jus kiwi! Buatkan segera!!”


Pelayan bagian dapur terlihat ragu, “maaf, Tuan. Kita tidak memiliki buah kiwi,” ucapnya takut.


“Tidak ada kiwi?” Roxena terhenyak lalu menatap Tuan Lawrence. Dalam tatapan itu mengatakan, bagaimana bisa tidak ada buah kiwi di lemari penyimpanan sebesar itu?


Gerald yang sudah tahu kebiasan Roxena telah berganti segera menengahi, “buatkan saja jus buah yang ada di penyimpanan,” ujar Gerald, ia memegang pundak Roxena. “Ini bukan apartemen. Xena.”


“Baik, Tuan.” Pelayan itu menjawab setelah memastikan tidak ada penolakan dari Roxena meskipun masih terlihat kesal.


“Dessertnya jangan lupa,” cetus Roxena, sebelum pelayan itu berlalu tapi arah matanya pada Tuan Lawrence.


“Akan dibuat, tenang saja.” Tuan Lawrence kemudian mengajak mereka duduk di ruang keluarga. Gerald yang sudah akrab langsung saja mengobrol diawali dengan kabar.


“Aku akan tinggal di sini sampai berangkat untuk pertemuan keluarga,” beritahu Roxena dengan gayanya yang mendominasi. Gerald tersenyum simpul. Sedangkan Tuan Lawrence segera memerintahkan pelayan untuk membeli stock kiwi. Roxena akan menginap selama tiga hari. Benar, tiga hari lagi akan berangkat ke pegunungan keluarga Lawrence untuk pertemuan musim gugur. Dan sebentar lagi akan memasuki musim dingin. Perubahan suhu mulai terasa.


“Xena, Gerald, bagaimana? Kalian sudah mempersiapkan semuanya?”


“Dia sudah menghabiskan uangnya,” sahut Roxena.


“Kami sudah menyiapkan semuanya, Ayah. Beberapa hari yang lalu kami membelinya. Kualitas terbaik, semoga dapat diterima dengan baik oleh para keluarga di sana,” ujar Gerald.


“Apa alasan mereka tidak menerima? Hei, Gerald, ingat kataku, jika tidak diterima, lemparkan saja ke wajah mereka. Jika mereka sombong, kau pukul saja wajah-wajah angkuh itu. Aku akan membelamu,” cetus Roxena, merasa terganggu dengan kata-kata Gerald yang dianggap sedang merendahkan diri.


Tuan Lawrence tersenyum simpul. Menghadiri acara itu hanyalah sebuah tradisi. Meskipun kepala keluarga, Roxena tidak bisa seenaknya meniadakan acara itu. Kalau ditiadakan, leluhur akan marah dan keluarga Lawrence akan terkena bencana. Begitulah kata-kata orang tua Lawrence. Ya, tradisi sulit diubah, sudah mendarah daging.


“Aku bukannya tidak berani, Xena. Tapi, aku harus menjaga tata kramaku di depan para tetua. Meskipun mereka tidak memegang kepemimpinan, suara mereka sangat berpengaruh,” ujar Gerald. Keluarga Lawrence di sana layaknya orang tua yang tugasnya memberi izin dan restu. Sayangnya, Roxena sudah muak dengan hal itu, membawa Gerald yang sekadar formalitas. Diakui atau tidak, jawabannya hanya satu mereka harus menerima keputusannya. Hadiah-hadiah itu juga, hanya tradisi layaknya membawa kado saat menghadiri acara ulang tahun.


“Sudah-sudah. Xena memang seperti itu. Sampai mulutmu berbusapun, jika dia sudah memutuskan tidak akan bisa ditarik kembali. Putriku ini lebih keras daripada batu,” ucap Tuan Lawrence, memarahi Roxena secara tidak langsung.


“Tapi, Ayah … material terkeras yakni intan saja bisa terpotong. Baja juga akan merenggang jika terkena panas. Keputusan boleh teguh karena menyembunyikan perasaan aslinya,” tanggap Gerald seraya menatap Roxena.

__ADS_1


Roxena yang tengah meminum jus apel menaikkan alisnya. “Apa maksudmu?”tanya Roxena.


“Maksudku, sekeras apapun dirimu pasti akan ada yang bisa meluluhkannya.”


“Maksudnya dirimu?”


“Aku tidak berani mengatakannya,” jawab Gerald, karena dirinya tidak yakin. Roxena saat ini memang sangat keras. Meskipun di depan Gerald tampak sudah luluh namun di belakang sudah ada list rencana yang sedang berjalan atau menunggu eksekusi. Istrinya ini sangat dalam, ia belum menyelam terlalu dalam.


Roxena berdecak pelan. Tuan Lawrence tersenyum senang, sudah menanggapi hal kecil, artinya sudah menerima. Memang bukan hal mudah untuk bisa mendekati Roxena.


“Hahaha … andai saja kalian benar-benar pindah ke kediaman ini-” Tuan Lawrence tidak melanjutkan kata-katanya. “Sering-sering saja mampir Ayah sudah sangat senang.”


“Hm.” Itu tanggapan Roxena. Kembali Gerald yang menanggapinya lebih panjang.


“Jika kami ada waktu, kami pasti akan berkunjung, Ayah. Hanya saja … dengan pekerjaanku, juga dengan pekerjaan Roxena, akan sulit untuk menyesuaikannya. Akan lebih baik jika Ayah yang datang dan menginap di apartemen. Atau Ayah tinggal saja bersama kami?”tawar Gerald. Roxena membulatkan matanya seketika.


Tuan Lawrence tampak tertarik dengan tawaran itu. Ia tertawa, senang punya menantu seperti Gerald. Hanya saja, “sungguh senang bisa tinggal bersama dengan anak dan menantu. Hanya saja … Ayah tidak mau mengganggu waktu pribadi kalian. Mungkin akan lebih baik menginap. Untuk tinggal di sana … terlalu berat untuk Ayah meninggalkan kediaman ini. Meskipun terlihat kesepian, di sinilah rumah Ayah,” ujar Tuan Lawrence. Di rumah ini adalah masa terbahagia sekaligus masa kesedihannya.


“Yah, lebih baik menemani ibu di sini,” celetuk Roxena.


Gerald segera menepuk bahu Tuan Lawrence, membisikkan sesuatu, “Xena sudah memaafkan Ayah. Hanya saja seperti yang Ayah, Xena sulit untuk mengatakannya. Jika tidak, kami tidak akan menginap di sini untuk waktu yang terbilang lama.”


Mendengar itu, mata Tuan Lawrence memerah. Ia menyeka sudut matanya. Tersenyum gembira. Benar-benar lega.


“Tidak ada duka, untuk apa menangis. Kau lagi, apa kau bisikkan? Biarkan aku mendengarnya!”ketus Roxena. Kehamilan sangat mempengaruhi moodnya. Gerald tersenyum lebar.


Roxena berdecak. Ia lantas berdiri dan melangkah pergi dengan menghentakkan kakinya.


Sudah puluhan kehidupan. Sifat kekanakan masih ada. Dendam memang mengubah banyak hal. Tuhan … berikanlah kebahagian untuk Xena. Asal dia bahagia, aku rela melakukan apapun, batin Gerald.


“Xenaku sudah kembali. Tidak ada penyesalan lagi di dunia. Aku hanya tinggal meminta pengampunan dari istriku,” gumam Tuan Lawrence.


“Apa yang Ayah katakan?”tanya Gerald, merasa ganjal dengan ucapan tidak jelas Tuan Lawrence.


“Tidak ada. Ayah hanya sangat bahagia.”


“Kau susullah Xena. Dia pasti ke kamar. Ayah mau ke dapur dulu,” ujar Tuan Lawrence yang diangguki oleh Gerald.


Gerald menaiki tangga menuju kamar Roxena. Ini kali kedua ia masuk ke dalam kamar Roxena di kediaman utama. Tidak ada yang berbeda, persis seperti yang pertama kali. Warnanya lebih cerah dengan furniture yang lebih banyak, juga ada boneka serta miniatur lainnya.


“Dengan penampilanmu saat ini, kamar ini sangat tidak cocok untukmu, Xena,” celetuk Gerald. Ia berdiri di belakang Roxena yang saat ini tengah menatap lukisan keluarga mereka.


“Meskipun bukan seleraku, kamar ini sangat berharga karena disiapkan langsung oleh Ibuku. Warna, tata letak, semua hiasan, aku tidak mengubahnya sedikitpun. Juga sebagai bentuk hormatku padanya,” sahut Roxena. Ada makna yang begitu dalam. Gerald menganggukkan kepalanya mengerti. Ia kini berdiri sejajar dengan Roxena. Ikut menatap lukisan itu. Tiba-tiba terbesit rasa bersalah di hatinya. Seharusnya ia tidak mengatakan kata-kata kasar itu di depan makam ibunda Roxena. Gerald harus menebusnya.

__ADS_1


“Xena.”


“Hm.”


“Aku izin mengunjungi makam ibu mertua.”


Roxena menoleh pada Gerald. “For?”


“Ada yang ingin aku katakan,” jawab Gerald membalas tatapan itu.


“Mungkin bisa saat hari kita berangkat.”


“Syukurlah.”


“Hm Xena, apakah kau tidak canggung tidur di kamar seperti ini?” Kembali Gerald menyelipkan godaan. Roxena menarik smirk.


“Apartemen yang kau ubah tanpa izinku saja bisa aku terima. Apalagi dengan kamarku sendiri. Apanya yang canggung, asal sudah mata tertutup dan menjadikanmu guling, tidurku akan sangat nyenyak.”


Gagal menggoda. Tapi, tidak berhenti sampai di sana, “yang pastinya karena ada diriku. Xena … kau sangat romantis.” Gerald memeluk Roxena. Roxena hanya menggumam.


*


*


*


Di sisi lain, Jonathan kekeh menolak tekanan keluarga kerajaan untuk menikah dengan Stella. Ia sudah tahu kebenarannya. Memutuskan pertunangan sudah menjadi keputusan bulat. Keluarga Esca juga tidak menentangnya. Menikahi penghianatan, mau menjebak mereka, kah?!


Meskipun hari ini, Xavier datang untuk membujuknya langsung, Jonathan tidak tergerak. Ia dengan tegas menolaknya. Xavier yang sudah kesal dengan pembatalan pertunangan secara sepihak semakin naik pitam.


“Jika kau terus seperti ini, ESA Group akan terkena imbasnya. Tidak akan ada yang bisa menolong kalian! Kalian akan tamat!!”ancam Xavier. Jonathan lebih dulu memberi hormat sebelum membalas ucapan itu.


“Maaf, Yang Mulia Putra Mahkota, ESA Group telah lama berdiri dan menjadi salah satu pondasi ekonomi kerajaan. Jika Anda menekan kami, kestabilan kerajaan akan terguncang. Apakah pantas demi seorang pengkhianatan yang ingin menggulingkan saudaranya sendiri, Anda mengganggu stabilitas ekonomi kerajaan? Mengganggu kepentingan rakyat? Jika parlemen tahu, bukankah masalah akan semakin lebar? Jalur pembatalan pertunangan adalah yang terbaik. Tolong jangan libatkan saya dalam urusan keluarga kerajaan!!”tandas Jonathan. Ia menatap tajam Xavier.


Xavier tampak terkejut. Darimana Jonathan tahu bahwa Stella melakukan pengkhianatan sedang kabar itu telah diblokir?! Apakah ada telik sandi? Tapi, siapa? Istana memang menyimpan banyak misteri dan rahasia.


“Tolong jangan ganggu saya lagi, Yang Mulia,” ujar Jonathan tersenyum.


“Saya tidak sanggup menerima kehormatan menikahi seorang penghianatan,” ujarnya memberi penegasan.


Xavier tidak bisa membalas kata-kata itu. Layaknya permainan catur, ia sudah dikepung, dan hampir skakmat. Xavier mencari cara. Tapi, tidak ada cara. Ia buntu. Jonathan sedikit menyeringai. Ada kesenangan tersendiri melihat seorang putra mahkota kebingungan. Juga heran, mengapa masih sangat peduli pada adiknya sedang adiknya malah hendak mencelakai?


“Yang Mulia ada kabar dari istana!!” Tiba-tiba sekretaris Xavier masuk dan membisikkan sesuatu pada Xavier.

__ADS_1


“Tidak mungkin!!”ucap Xavier setelah mendengar beritanya.


Jonathan menunjukkan wajah tertarik saat Xavier meninggalkan kantornya dengan buru-buru dan panik. “Hal menarik apalagi yang terjadi di istana. Tuan Luz, mungkin dia tahu sesuatu.”


__ADS_2