
"Nona sepertinya kita ditargetkan," ucap Erin yang menyadari bahwa mobil yang ia kemudikan diikuti oleh beberapa mobil. Bergerak cepat mengejar mereka.
Roxena menaikkan pandangannya dari kalung dan jepit rambut yang ia beli di pelelangan tadi. Melihat ke belakang. Mobil-mobil yang mengejar mereka semakin cepat dan kini sudah mengapit mereka di tiga sisi, belakang, kanan dan kiri.
"Hentikan mobilnya, Erin."
"Nona? Saya sudah memanggil bantuan. Kita hanya harus bertahan dari mereka? Mengapa berhenti?"
"Aku belum puas bermain," jawab Roxane, menyimpan kotak kalung dan jepit rambut itu. Kemudian kembali memakai topengnya. Tak lupa menyelipkan pistol di pinggang belakang.
Erin menghela nafasnya. Nonanya ini sangat senang bermain dengan nyawa, baik nyawa orang lain dan nyawa sendiri. Namun, tetap menurut. Menghentikan mobil dan terjadi guncangan akibat ditabrak dari mobil yang mengikuti di belakang.
Orang-orang yang mengejar mereka keluar dari mobil. Begitu juga Roxena dan Erin. Ternyata yang mengejar mereka adalah pria yang duduk di kursi nomor 39 tadi. Pria itu tampaknya menyimpan dendam dan ingin membalas kelakuan Roxane yang merugikan dirinya tadi, sekaligus ingin mengambil kalung yang Roxena dapatkan.
Roxane bersandar pada bagian depan mobilnya dengan Erin di sampingnya. Mengamati orang-orang yang mengejarnya itu, terutama pimpinannya.
Ada sekitar 10 orang termasuk pria nomor 39 itu. "Malam-malam begini, mengapa tuan-tuan sekalian mengganggu perjalanan kami?"tanya Roxena, menyilangkan kedua tangannya. Nada bicaranya tenang namun tatapan menuhus tajam.
"30 juta dollar. Berikan kalung itu padaku!"ucap pria nomor 39 yang menggunakan topeng rubah itu. Bawahannya membuka koper berisikan uang dengan nominal yang disebutkan.
Roxena mengangkat satu alisnya. "Apa ini?"tanyanya seolah tak paham, memiringkan kepalanya.
"Kalung itu!"jawab pria bertopeng rubah penuh penekanan.
"Oh. Tapi, saya pebisnis. Mana mungkin menjual kembali dengan harga membeli." Roxena menggelengkan kepalanya.
"2 kali lipat, bagaimana?" Roxena menarik seringai.
"Kau!" Pria itu mengepalkan tangannya kesal.
"Kau mengejarku. Barang itu, pasti sangat penting. Namun, akulah yang memegang kendali. Pilihan ada di tanganmu, deal atau tidak?"
Pria itu menimbang. 60 juta dollar untuk sebuah kalung? Benar-benar harga yang fantastis! Dan ya, juga sedikit tak masuk akal.
"60 juta dollar. Aku akan membayarnya!"
Roxane tersenyum. "Harganya sudah naik. 3 kali lipat."
"Keterlaluan!!"pekik pria itu marah. Ia mengangkat tangan, bawahannya bergerak, mengepung Roxena dan Erin. Negosiasi harga tak tercapai maka kekerasan adalah cara lainnya.
"Mencari masalah dengan orang tidak dikenal sangat berbahaya, loh. Erin."
__ADS_1
Perkelahian tak dapat dielakkan. Erin melawan 3 orang kini. Sedangkan Roxena, dengan santai menarik pistol yang disembunyikan di pinggang. Menodongkannya tepat di hadapan pria bertopeng rubah itu. Gerakan yang sangat cepat membuat pria bertopeng rubah itu gagal merespons cepat. Bawahan pria itu juga membawa pistol. Balas menodongkannya pada Roxena dan juga Erin.
"Aku bayar lebih, serahkan kalung itu baik-baik atau kalian akan celaka. Nona, sayalah yang memegang permainan." Pria itu mengancam. Secara kasat mata, pihak Roxena kalah jumlah.
"Benarkah?" Roxena malah menarik smirk. Erin mundur dan kembali ke sisi Roxena.
Tak lama kemudian, beberapa mobil SUV berhenti di sekitar mereka. Para pria berseragam, datang dan menodongkan senjata pada kelompok pria bertopeng rubah itu. "Bagaimana sekarang?"
Roxena menarik pistolnya. Menginstruksikan bawahannya untuk maju. Perkelahian kembali berlangsung. Tidak hanya fisik namun juga senjata. "Kita kalah jumlah, Tuan."
"Sial!" Pria bertopeng rubah itu kehilangan banyak bawahan. Mereka … kalah.
Tak puas sampai membuat pria itu berlutut, Roxena menjarah isi mobil pria itu. Baik barang yang dibeli di pelelangan maupun barang berharga lainnya.
"Terima kasih atas makan malamnya." Roxena berbalik. Bersiap meninggalkan lokasi. Akan tetapi, langkahnya terhenti saat melihat tubuh beberapa bawahan yang terbaring, ada yang luka parah dan juga tewas karena terkena tembakan.
"Urus mereka dengan baik," titah Roxena sebelum masuk ke dalam mobil.
*
*
*
"Tuan! Nona terluka!"ucap Lily saat Gerald membuka pintu. Gerald mencerna ucapan Lily.
"Lantas?"tanyanya tak acuh. Terluka harusnya ke rumah sakit, mengapa menganggu tidurnya. Lagipula, apa yang wanita itu lakukan sampai bisa terluka? Malam seperti ini lagi. Itulah yang ada dalam benak Gerald. Menanamkan sebuah kesan baru bahwa Roxena adalah wanita yang buruk. Sudah punya suami namun pulang tak kenal waktu.
"Anda kan dokter! Ayo, cepat! Kotak P3K sudah ada di sana." Lily menarik Gerald tak sabar.
Kan kini mereka berada di kamar Roxena. Ini adalah kali pertama Gerald menginjakkan kaki di sini. Dekorasi yang suram, layaknya rumah hantu.
Di ranjang, Roxena berbaring. Di sisinya ada Erin dan Sophia serta Lily yang baru bergabung.
Kemeja Roxena tersikap. Menampakkan luka di bagian pinggang. Darah masih mengalir keluar.
"Cepat, Tuan! Nona hampir kehabisan darah!!"seru Lily.
"Hei, Prof. Apa kau melupakan sumpah doktermu?"tanya Roxena. Meskipun terluka, nada bicaranya tidak berubah.
"CK!"
__ADS_1
Di hadapankan pada pertanyaan itu, Gerald tak bisa berkutik. Maju dan mengambil tempat untuk mengeluarkan peluru yang masih bersarang. Peralatan yang disiapkan sangat lengkap. Gerald segera melakukan tugasnya sebagai dokter.
"Hei, wanita gila. Apa yang kau lakukan di sana sampai berulang kali terluka?"tanya Gerald ketus. Itu menggelitik hatinya. Ia penasaran, ingin tahu.
"Kau ingin tahu?"tanya Roxena.
"Hm. Aku penasaran, mengapa kau selalu selamat. Mengapa tidak mati saja?" Pertanyaan pedas itu Gerald layangkan. Roxena terbatuk pelan.
Erin sudah mengepalkan tangannya erat. Ingin rasanya memukul wajah Gerald.
"Jika itu dulu, mungkin aku tak akan melawan. Namun, di kehidupan ini, aku sudah bertemu denganmu, mana mungkin aku rela mati?"sahut Roxena datar.
"Kehidupan ini? Kehidupan lalu? Apa hubungan kita di masa lalu? Dendammu padaku dari mana asalnya? Jika itu memang kesalahanku, katakan bagaimana caraku menebusnya. Aku lelah dengan hubungan seperti ini." Gerald berkata tanpa menatap Roxena. Fokus pada pekerjaannya mengobati luka Roxena.
Roxena tersenyum tipis. "Entahlah. Aku juga sudah lupa. Aku hanya ingat, aku sangat membencimu."
Pertanyaan yang tidak dijawab. Gerald menghembuskan nafas kasar. "Sttt!"
Roxena meringis kala peluru yang bersarang di tubuhnya diambil.
"Tampaknya kau tak mau bekerja sama."
"GERALD!!" Roxena mengeram, giginya mengertak saat Gerald dengan sengaja menekan lukanya.
"Sialan, kau!!"
"Aku bermimpi. Aku melihatmu. Namun, meskipun itu dirimu, kalian memiliki kepribadian yang berbeda. Entah itu mimpi kehidupan lalu atau apa, aku yakin kau yang lebih tahu. Sejujurnya aku tak percaya dengan kehidupan lalu. Atau memang dirimu yang gila. Wanita gila, sekeras apapun aku mencoba, sikapmu tak bisa aku mengerti," ucap Gerald tenang. Roxena menaikkan alisnya sebelah.
"Aku tak peduli dengan kehidupan lalu atau apalah itu. Aku tidak mengingatnya sama sekali. Aku hanya tahu, kau menghancurkan hidupku. Memisahkanku dari wanita yang aku cintai. Aku hanya tahu, aku membencimu!!"tandas Gerald, selesai membalut luka Roxena.
"Hm. Terserahmu saja." Roxena melambaikan tangannya. Kemudian memalingkan wajahnya dan menutup mata.
Lily dan Sophia undur diri. Begitu juga dengan Erin. "Aku pasti akan keluar dari penjara ini," ucap Gerald sebelum meninggalkan kamar Roxena.
"Kau yang dulu adalah aku yang sekarang. Aku hanya ingin kau merasakan semua rasa sakit yang aku rasakan. Baik besar atau kecil, kau harus merasakannya."
Namun, mengapa hatiku sakit mendengar kata-katamu? Apakah kebencianku memudar atau ada perasaan lain?
Hahh
Roxena menghela nafas kasar.
__ADS_1
Sejujurnya aku juga tak mengerti hatiku. Aku membencinya. Namun, aku mengharapkan perhatiannya. Aku benar-benar gila. Bahkan melukai diri sendiri untuk itu.
Roxena mengusap lukanya. Tersenyum kecut.