Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 50 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

Roxena mengangkat satu alisnya. "Jadi, kau mau apa?"


"Berkencanlah denganku!"jawab Gerald serius.


"Kencan? Untuk apa? Kita kan sudah menikah," heran Roxena.


Gerald tersenyum lebar. Sudah ia duga. Roxena adalah dirinya dulu sewaktu masih berhubungan dengan Elisa. Meskipun otoriter, mengerikan, dingin, dan kepribadian yang buruk, Roxena masih menyimpan sisi polos.


"Tentu saja untuk mempererat hubungan di antara kita. Meskipun kita sudah menikah, aku belum sepenuhnya mengenalmu. Begitu juga dirimu," jelas Gerald.


Roxena menggeleng tidak setuju. "Aku mengenalmu!"


"Ah~ baiklah. Anggap saja begitu."


"Mengingat kesibukan kita, kita hanya bertemu sebelum dan sepulang kerja. Kita tidak ada waktu yang benar-benar khusus untuk mengenal lebih dekat satu sama lain. Hubungan kita masih canggung. Jadi, ku harap kau tidak menolak permintaanku," tutur Gerald menjelaskan.


Roxena tampak mempertimbangkan.


Dalam hati Gerald menggerutu kesal, mengapa sulit sekali menerima permintaan sederhana seperti ini? Namun, dirinya juga was-was. Bagaimana jika Roxena menolak?


Tapi, harusnya sih setuju.


"Kapan?"


"Ya? Kau setuju?"


"Waktunya?"tanya Roxena mempertegas.


"Sepulang kerja ini, kau bisa?"


"Okay."


Gerald tersenyum lega.


"Setelah ini, kau akan pergi ke mana?"tanya Gerald.


"Kantor."


"Apa kau tidak lelah?"


"Tidak."


Di pesawat ia hanya duduk dan memeriksa laporan. Pekerjaan biasa seperti itu tidak melelahkan baginya.


"Mau berangkat sekarang?"tanya Gerald saat melihat Roxena berdiri.


"Hm."


Gerald ikut berdiri. Keluar mendekati Roxena. Roxena mengernyit heran.


Cup!


Roxena membelalakkan matanya. Tubuhnya membeku di tempatnya.


Dan Gerald, ia mundur beberapa langkah setelah mengecup kening Roxena.


"Aku akan mengirimkan lokasinya nanti," ucap Gerald.


Semua itu tak lepas dari penglihatan para pengunjung kantin. Mereka terperangah melihat kemesraan pasangan yang dirumorkan saling membenci itu. Meskipun masih ada kesan canggung, itu sudah mematahkan statement mengenai hubungan Gerald dan Roxena yang tidak harmonis.


"Ya." Roxena menjawab singkat lalu membalikkan tubuhnya meninggalkan kantin.


Telinganya terasa panas.


Apa-apaan tadi?!


Aku semakin yakin. Dia menggemaskan.


*


*


*


Tindakan Gerald tadi membuat Roxena terkejut. Roxena tidak menyangka Gerald akan melakukan itu, di depan banyak mata lagi!


Meskipun ia tidak peduli pandangan orang, Roxena tetap tidak bisa menyembunyikan rasa malunya.


Telinganya masih panas bahkan saat mobil sudah menjauh dari Lawrence Hospital. Erin yang menyetir keheranan melihat Roxena yang seperti merasa gerah. Berulang kali mengipas area telinga dengan tangan. Padahal pendingin udara bekerja dengan baik.


"Apa suhunya perlu dinaikkan, Nona?"


"Tidak perlu," jawab Roxena dengan masih mengipas telinganya.


"Anda tampak sangat kepanasan, Nona," celetuk Erin kemudian.


Roxena mengabaikannya.


Erin tersenyum simpul.


"Erin apa kau tahu apa saja yang dilakukan saat kencan?"tanya Roxena tiba-tiba.

__ADS_1


"Mana saya tahu, Nona. Saya kan tidak pernah berkencan," jawab Erin sekenanya. Jangankan kencan, dekat dengan laki-laki lebih dari pekerjaan saja dari pernah. Jika dikatakan Roxena adalah orang yang gila kerja, maka Erin lebih gila lagi. Selama hidupnya ini didedikasikan untuk membantu Roxena, baik di Lawrence Group maupun LS, dan di luar keduanya.


"Eh~"


Erin tersentak dan punggungnya terasa dingin. "Saya akan segera mencari tahu, Nona!!"


"Bagus!"


*


*


*


Roxena telah tiba di lokasi yang Gerald kirimkan. Sebuah restoran.


Roxena pergi sendiri tanpa ditemani Erin. Namun, Erinlah yang mengatur penampilan Roxena. Mengenakan dress berwarna biru dengan rambut digerai, serta memakai beberapa aksesoris pendukung. Meskipun tidak glamor, penampilan Roxena berkelas.


Kencan itu adalah saat dua orang bertemu dengan tujuan mencari keserasian di antara keduanya sebagai calon atau pasangan. Seperti kencan buta, saat orang asing dipertemukan menuju satu tujuan. Ada beberapa aturan saat kencan, usaha dengan maksimal, jangan sibuk dengan dunia sendiri, ramah, dan jangan berlebihan. Ada banyak jenis kencan, makan malam bersama, museum date, aquarium date, ke tempat wisata, menonton, dan lainnya.


Dari lokasi yang dikirimkan oleh Tuan, sepertinya termasuk jenis dinner date.


Roxena mengingat apa yang Erin katakan.


"Nyonya Chaddrick?"


Begitu masuk ke dalam restoran disambut oleh pelayan. Roxena mengernyit sesaat sebelum mengangguk.


Nyonya Chaddrick, ia baru pertama kali dipanggil seperti itu.


"Tuan Chaddrick sudah menunggu Anda, mari Nyonya," ajak pelayan tersebut.


Roxena mengangguk.


Secara teknis ini bukan kencan pertamanya. Tapi, sudah sangat lama ia tidak berkencan.


Roxena dibawa naik menuju lantai dua. Sepertinya ruang VIP.


"Silahkan, Nyonya." Pelayan itu membukakan pintu. Roxena segera masuk.


Pencahayaan ruangan remang-remang. Roxena mendengar langkah kaki. Sikapnya menjadi waspada.


Tak


Tak


Suaranya semakin mendekat.


Tiba-tiba pencahayaan menjadi terang dan Gerald sudah berlutut di depannya dengan menyodorkan buket mawar merah


"Apa ini?" Roxena tidak senang.


"Ah … surprise. Kau … tidak senang?"


"Jika lampu tidak segera dinyalakan tadi, kau sudah terbaring di lantai!!"ketus Roxena.


Deg!


Gerald tidak tahu jika Roxena sangat sensitif. Padahal kamarnya sendiri remang-remang.


"Maaf." Namun, tidak masalah.


Gerald kemudian mengajak Roxena duduk. Di atas meja tersaji berbagai menu steak dengan kematangan medium well. Ditambah dengan minuman dan dessert.


Ada tambahan bunga mawar segar di dalam vas yang diletakkan di tengah meja. Dan aroma ruangan ini, mawar.


Kekesalan Roxena menghilang. Ia merasa rileks berada di sini.


Melihat Roxena yang menyukainya, Gerald tersenyum puas.


"Yang lain mungkin biasa saja. Tapi, dessert ini kesukaanmu, kan?" Roxena mengarahkan tatapannya pada dessert.


Panna cotta dan rose semifreddo.


"Hm." Roxena mengangguk singkat.


"Silakan, Nyonya." Gerald menyodorkan steak miliknya yang telah dipotong kecil. Roxena tengah mendapatkan act of service dari Gerald.


Mereka makan dalam keheningan. Hanya ada bunyi alat makan yang beradu.


"Kau menyiapkan semua ini?"tanya Roxena setelah makanannya habis.


"Benar. Banyak rekan dokter yang menyarankan restoran ini, jadi aku memilihnya. Ku dengar dan aku perhatikan kau suka mawar, jadi aku siapkan buket, pewangi aroma mawar, dan juga dessert mawar ini. Aku harap kau menyukainya," jawab Gerald.


"Ya." Sahutan singkat.


"Apa urusanmu di luar negeri lancar?"


"Ya."


"Kau tidak menambah luka lagi, kan?"

__ADS_1


"Hm."


Suasana kembali hening.


Ciptakan suasana yang romantis. Harus ramah dan jangan fokus pada hal lain. Fokuslah pada pasangan kencan Anda, Nona.


Ucapan Erin terngiang di ingatannya. Tidak ada bahan pembicaraan.


Dalam ketenangannya, tangan Gerald berkeringat dingin. Ia bingung mau membicarakan apa. Jawaban Roxena sangat singkat.


"Aku bingung dengan kencan ini. Semua bisa dilakukan di rumah, mengapa harus membuang uang? Tempatnya memang beda tapi suasananya sama," cetus Roxena.


"Mungkin karena percakapan kita lebih ke tanya jawab. Harusnya kita mengobrol santai, tentang apapun itu," sahut Gerald.


"Aku tidak suka basa-basi," tegas Roxena.


Gerald mengepalkan tangannya. Dugaannya benar. Gerald memberanikan dirinya. "Meskipun kita sudah sepakat, kau tetap memasang dinding yang sangat tebal. Aku bisa menjangkaumu. Namun, dalam sekejap kau kembali menjauh. Roxena Lawrence, percayalah. Aku sungguh-sungguh dengan hubungan ini. Aku tidak berpura-pura. Aku … aku belajar untuk menyukai dan mencintaimu."


"Sebuah hubungan tidak akan berhasil jika satu orang saja yang berjuang. Aku tahu … kebencianmu begitu besar. Tapi, Xena … cahaya cinta akan menghilangkan kebencianmu. Aku mohon, lepaskan dirimu dari kebencian dan genggam tanganku menuju cahaya yang penuh cinta."


"Aku tahu … kau pasti tidak percaya dengan kata-kataku. Mustahil manusia berubah dalam beberapa hari, bukan? Tapi, aku mohon. Cobalah untuk percaya." Gerald bangkit dan berlutut di sisi Roxena. Meraih tangan Roxena dan meletakkan di dadanya.


"Rasakanlah, jantungku berdebar lebih kencang saat bersama denganmu. Perasaanku … tidak berbohong."


Gerald menundukkan wajahnya.


Detak jantung Gerald memang lebih kencang. Roxena juga merasakan hal yang sama.


Keduanya itu sama. Logika dan hati bertentangan dan terkadang bersatu. Kadang mengikut hati, kadang mengutamakan logika. Terkadang keduanya sinkron.


"Hatiku telah beku," ucap Roxena.


"Aku akan mencairkannya. Aku hanya butuh satu darimu, kepercayaanmu bahwasanya aku sungguh-sungguh padamu."


Melihat kesungguhan di mata Gerald, Roxena tak bisa menolaknya. Pada akhirnya mengangguk kecil.


Gerald tersenyum puas. Ia kemudian berdiri dan sedikit membungkuk. Meletakkan kedua tangannya pada pipi Roxena.


"Boleh aku menciummu?"


"Ya."


Cup!


Segera Gerald mendaratkan bibirnya pada bibir Gerald. Mereka berciuman. Cukup intens karena Roxena membalas. Itu adalah ciuman pertama yang disetujui.


"Aku tidak akan mengecewakanmu!" Gerald menyatukan kening mereka. Ia telah berkomitmen pada dirinya sendiri.


"Jika kau mengecewakanku atau mengkhianatiku, aku akan membuatmu merasakan siksaan mengerikan!!"ancam Roxena.


"Aku berjanji!"


Roxena akhirnya tersenyum. Senyum yang tulus dan tawa yang bahagia.


"Ah benar! Ayo makan dessert nya. Aku yakin ini sesuai dengan seleramu!"ucap Gerald. Ia kembali ke tempat duduknya.


Roxena mencobanya. Matanya membulat lalu menatap Gerald selidik.


Gerald senyum-senyum puas.


"Sesuai seleramu, kan?"


"Kau …. Darimana kau mendapatkannya?!"


Dessert yang sesuai seleranya hanya bisa dibuat oleh satu orang. "Ini rahasia menantu dan mertua."


Kapan Gerald dan Tuan Lawrence menjadi dekat?!


Lalu darimana Gerald tahu bahwa ia hanya suka dessert yang dibuat oleh Tuan Lawrence?!


Apa yang ia lewatkan? Atau memang tidak dilaporkan?!


"Kurang ajar!!"


"Kau kenapa?" Gerald kaget. Tiba-tiba Roxena menggebrak meja.


"Pria tua itu mencarimu, hah?!"


"Kau salah paham." Gerald menenangkan Roxena.


"Aku yang memintanya membuat dessert ini. Mengenai dari mana aku tahu, aku menyimpulkannya sendiri. Kau sendiri yang sering mengejekku, aku ini profesor. Aku punya kemampuan analisa yang bagus. Lalu jangan hukum Jack dan Thomas, mereka sangat baik dan mengerjakan tugas mereka dengan sungguh-sungguh."


Mendengar penjelasan Gerald, Roxena meredakan kemarahannya. Ia kembali memasukkan dessert ke dalam mulut.


Gerald lega.


Setelah dessert habis, mereka memutuskan untuk pulang. Lagi, Gerald melakukan act of service dengan membukakan pintu untuk Roxena.


Lagu romansa diputar saat perjalanan pulang. Rasa lelah baru terasa sekarang, Roxena memejamkan matanya.


Tetap terlelap saat mereka tiba di basement apartemen. Gerald mengambil ponselnya dan mengabadikan momen itu. "Cantik." Satu kata mendefinisikan rupa Roxena.

__ADS_1


"Aku tidak akan mengecewakanmu."


__ADS_2