Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 45 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

"Maaf saya terlambat," ucap Gerald memasuki ruang rapat.


Semua dokter departemen kardiovaskular sudah berkumpul. Tinggal Gerald seorang yang belum karena baru saja keluar dari ruang operasi.


"Tidak apa-apa, Prof. Gerald. Silahkan duduk. Kita akan segera mulai pertemuannya," ucap Kepala Departemen yang diangguki oleh Gerald. Gerald mengambil tempat duduk yang berjarak dua kursi dari kursi kepala departemen.


"Baik semuanya, kita akan memulai rapat hari ini. Dokter Glenn, silahkan dimulai," ucap kepala departemen menunjuk dokter yang akan memandu jalannya rapat. Dokter yang dituju maju dan segera menjelaskan agendanya.


Ini adalah rapat di awal pekan. Merupakan rapat rutin selain rapat akhir pekan. Rencana dalam sepekan dibahas dalam rapat ini. Termasuk jadwal dokter dan jadwal operasi. Serta pasien yang baru masuk, keluar, dan juga dalam masa penanganan. Masalah pasien baru yang serius serta akan dipilih seorang dokter untuk menjadi penanggung jawab.


Seakan dejavu, ada pasien yang menderita penyakit jantung yang serius dan memiliki potensi operasi gagal yang tinggi. Para dokter kebanyakan tidak berani ambil resiko karena tingkat kebersihan yang kecil. Belum lagi yang ditangani merupakan anak pembesar di negara ini. Jika terjadi sesuatu, karir mereka benar-benar dipertaruhkan.


"Kemungkinan sembuhnya kecil. Ada beberapa anggota keluarga yang menyarankan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, orang tuanya bersikeras untuk melakukan tindakan. Mereka mengatakan lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali. Dan mereka sempat menemui saya, mempercayakan operasi pasien terhadap salah satu dokter di ruangan ini."


Kepala departemen mengedarkan pandangnya sedang para dokter menahan nafas mereka. Gerald mengangkat alisnya saat tatapan kepala departemen berhenti padanya.


"Saya?"tanya Gerald memastikan.


"Beliau berkata bahwa temannya merekomendasikan Anda untuk mengambil tindakan operasi."


"Aorta robek tipe A, dengan prosedur Bentall?"


"Benar."


"Ini adalah operasi tersulit di bidang kita. Untuk menyelamatkan nyawa pasien akan dilakukan pergantian aorta asendens arch dengan graft dari bahan dacron. Namun, masalahnya adalah untuk melakukan pergantian, pembuluh darah yang rusak harus benar-benar bersih dari darah." Dokter Glenn menjelas prosedur yang akan digunakan.


"Kita dapat menggunakan mesin heart lug untuk menggantikan fungsi jantung dan paru-paru lalu menurunkan suhu tubuh pasien. Saat suhu tubuh menurun, aktivitas otak akan berhenti dan darah yang dialirkan ke organ lain selain otak akan dihentikan. Waktunya hanya terbatas selama 40 menit. Jika melewati waktu tersebut, operasi akan gagal." Hampir sebagian dokter menahan nafas mendengarnya. Gagal dalam melakukan operasi adalah mimpi buruk bagi seorang dokter.


"Selain masalah waktu, juga ada masalah pada proses penyambungan karena ukuran pembuluh darah yang kecil. Jadi, operasi ini membutuhkan ketelitian dan ketepatan yang tinggi," ucap Dokter Glenn mengakhiri penjelasannya.


"Bagaimana, Prof. Gerald?"tanya Dokter Glenn kemudian.


"Siapa yang rekomendasi saya?" Operasi ini sulit dan menantang. Gerald penasaran siapa yang berani memberikan kepercayaan sebesar itu padanya.


"Teman dari Luxemburg. Kemungkinan besar dari pasien yang pernah Anda tangani sewaktu bekerja di sana," jawab kepala departemen.


"Okay." Gerald setuju dengan itu. Lagipula ia sudah biasa dibebani operasi yang sulit dan menantang.


Wajah-wajah lega terlihat jelas.


Sekitar 30 menit kemudian rapat berakhir. Gerald berdiri lebih dulu. "Saya ingin menyampaikan sesuatu."


"Ya, Prof. Gerald?"


"Saya mohon maaf karena membagi jadwal saya kepada Anda sekalian. Tapi, meskipun bukan jadwal saya, jika Anda membutuhkan bantuan saya, saya siap untuk itu," ucap Gerald tegas. Ia sudah memikirkan hal ini matang.


Para dokter saling pandang. Mereka jelas sudah mengetahui hal itu. Meskipun sedikit kesal, siaplah mereka di bawah titah pimpinan.


"Err … Prof. Gerald, Anda tidak perlu sungkan. Namun, jika Anda sudah memutuskan demikian, saya berterima kasih untuk hal tersebut," tanggap Kepala Departemen yang disetujui oleh dokter lain.


Ya, meskipun Gerald dingin, jika diajak diskusi termasuk orang yang humble. Tak keberatan untuk membagikan pengalaman kepala dokter lain. Gerald berpegang pada prinsip pengalaman adalah guru terbaik.


Semakin itu banyak mencoba dan melakukan sesuatu, semakin banyak pula pembelajaran yang ia dapatkan. Entah itu saat belajar atau praktek langsung.


*


*


*


"Prof. Gerald, boleh kita bicara sebentar?" Kepala Departemen berada di depan ruangannya saat Gerald keluar untuk pulang kerja.


Jack dan Thomas yang tak pernah jauh dari Gerald saling lirik. "Ya, Pak?"


"Begini … Anda sudah cukup lama di departemen ini. Namun, belum ada penyambutan sama sekali. Jadi, apakah Anda bersedia makan malam dengan para dokter lain? Ya, seperti jamuan makan menyambut Anda di sini. Selain itu juga untuk menyampaikan rasa terima kasih dan bangga pada Anda. Keberhasilan operasi sulit belakangan ini tak lepas dari kedatangan Anda. Bagaimana, Prof?" Kepala departemen menyampaikan niatnya menemui Gerald.


"Sekarang?"


"Benar, Prof. Lokasinya ada di lantai dasar. Jadi, tidak akan memakan waktu banyak. Dokter lain juga sudah ada yang menunggu di sana," jelas Dokter lagi. Gerald melihat jam tangannya.

__ADS_1


Meskipun disebut jamuan makan malam, ini belum waktunya makan malam. "Ah … tidak akan lama, Prof. Saya dan yang lain paham karena Anda sudah menikah." Seakan tahu kekhawatiran Getald, kepala departemen segera menyakinkan.


"Okay." Jika dihitung, ia tidak akan pulang terlalu malam, masih terkejar makan malam dengan Roxena.


"Kalau begitu, mari Prof."


Sembari jalan, Gerald mengirim pesan memberi kabar pada Roxena. Ya, selayaknya pasangan suami istri normal.


Jack dan Thomas mengikuti tanpa kata. Mereka benar-benar menjaga Gerald selama berada di luar kediaman.


*


*


*


Lily membuka pintu saat mendengar suara bel apartemen dibunyikan. "Kalian? Apa yang terjadi pada Tuan?!"


Lily setengah berteriak melihat Gerald dipapah Thomas dan Jack. Kakinya terlihat lemas dengan kepala menunduk.


"Ayo masuk, tidurkan di sofa," ucap Lily.


Thomas dan Jack melakukan sesuai instruksi. Roxena yang mendengar keributan dari ruang tengah beranjak dari ruang makan.


"Apa yang terjadi padanya?"tanya Roxena dingin, menyilangkan kedua tangan di dada.


"Tuan mabuk, Nona," jawab Thomas gugup. Ia dan Jack gagal menjaga Gerald.


"Mabuk? Dia minum di jamuan itu?"


"Iya, Nona. Kami berjaga di luar saat itu. Tiba-tiba dipanggil masuk karena Tuan tumbang karena mabuk," jelas Jack, tubuhnya bergetar menerima tatapan tajam Roxena.


"Ini kelalaian kami, Nona. Kami pantas dihukum." Keduanya berlutut gemetar.


"Ya, Erin akan mengurus kalian. Pergilah kepadanya." Setelah membungkuk, keduanya segera undur diri.


"Pria ini merepotkan." Roxena berdecak. Gerald tampak lelap.


"Aku mengalah." Segera memapah Gerald menuju kamar.


Lily dan Sophia mengintip melihat apa yang dilakukan oleh Roxena.


"Emm … panas!"


"Tidak nyaman."


"Ugh!"


Baru saja dibaringkan di ranjang, Gerald mengeluh dengan kondisi tak sadar. Tangannya menarik-narik dasi dan kemeja mencoba untuk melepasnya.


"Dokter-dokter sialan itu!"geram Roxena.


"Menggemaskan," decak Roxena saat mengamati lebih jauh tingkat Gerald. Wajahny memerah dengan tubuh bergerak tidak nyaman. Gumaman terdengar seperti rengekan anak kecil.


"Huh! Kau harus bersyukur karena Nona ini melayanimu!"ucap Roxena kemudian melepas dasi Gerald. Kemudian melepaskan satu demi satu kancing kemeja Gerald. Sesekali menepis tangan Gerald yang mengganggu.


"Tubuhnya sempurna." Roxena masih sempat menatap perut Gerald yang sixpack. Otot-otot perut itu membuat Roxena tergoda. Ia tersenyum smirk.


Dengan kedua tangannya menjamah bagian atas Gerald. Perut dan dada menjadi sasarannya. Senyumnya semakin lebar saat melihat ekspresi kegelisahan Gerald. Lalu dengan gemas mencubit ****** Gerald.


"Ugh!!"


Gerald mengeluh pelan. Tetap tidak membuka matanya. "Hehehe!"


"Ayo, Lily! Jangan lihat lebih jauh lagi!"ajak Sophia yang mengerti kelanjutan dari tindakan Roxena itu.


*


*

__ADS_1


*


"Astaga, benar-benar tidak bangun? Jika tidak ada pengawal kau akan jadi bulan-bulanan ba*jingan," kagum Roxena melihat Gerald yang tetap tak bangun meskipun Roxena sudah menyentuh bagian atas dan bawah, meninggalkan banyak jejak di sana. Namun, tak berniat melakukan hubungan.


"Huh! Meskipun ini kesempatan emas, aku tidak akan melakukannya!" Menutupi tubuh polos Gerald. Roxena melangkah keluar setelah merapikan penampilannya.


Makan malam ditemani Lily dan Sophia.


*


*


*


"Ugh!!"


Gerald terbangun karena rasa pusing yang semakin menjadi. Pandangannya buram, mengerjap beberapa kali untuk menetralkan penglihatannya.


Segera penglihatannya cukup cerah, inderanya menganalisa dan memorinya memutar.


Ingatan terakhir kali adalah dirinya yang dibujuk minum sebagai tanda bahwa Gerald adalah bagian dari Lawrence Hospital. Lalu, baru setengguk, ia sudah tidak tahu yang terjadi.


Gerald meruntuki toleransinya yang begitu rendah terhadap alkohol.


Selesai mengingat, Gerald selesai menganalisis. Dirinya berada di kamar Roxena dan terdengar suara gemericik air dari kamar mandi.


Wait!


Dirinya mabuk dan ada yang aneh dengan tubuhnya.


"Yaaakkk!!"


Berteriak kaget melihat tubuhnya yang polos dibalut selimut. Mencoba mengingat pergaulan yang dilakukan. Sayang, tidak ada sama sekali. Sekeras apapun mencoba tetap tidak ada.


"Sh*it! Ganas sekali!" Melihat tubuhnya yang penuh dengan jejak.


"Sudah bangun?" Suara dingin yang menyapanya. Roxena keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe.


Gerald mendadak memeluk tubuhnya sendiri. Tatapannya horor pada Roxena.


"Tidak ada yang terjadi." Mana mungkin Gerald percaya. Dengan tubuh polos dan banyak jejak itu.


"Lalu ini semua?!"tanyanya ketus menunjuk jejak yang Roxena tinggalkan.


"Kau menggemaskan. Jadi, aku buat beberapa jejak, hehehe." Tidak ada rasa bersalah. Toh ia tidak bersalah.


Wajah Gerald bersemu merah. Meskipun sudah sepakat, hal-hal intim masih canggung bagi dirinya. Tapi, satu yang membuat Gerald berdebar yakni ketenangan Roxena.


"Kau mengambil peran dan kata-kataku!!" Pria yang dikenal dengan image dingin itu berteriak protes.


Roxena mengangkat alisnya. "Memangnya harus selalu pria yang boleh melakukan dan mengatakan itu?"


"Lagipula seharusnya kau senang dilayani olehku."


"Dilayani?"ulang Gerald teleng.


"Hahaha!!" Tiba-tiba Roxena tertawa. Melihat Gerald kebingungan benar-benar menyenangkan.


"Ada yang lucu?"kesal Gerald. Ia semakin merasa malu.


"Haha … tidak! Kau itu … polos, hahaha!"jawab Roxena.


"Polos?"


"Ahhh … lupakan saja. Kau bangun dan mandilah," suruh Roxena kemudian.


"Barang-barang mu sudah dipindah kemari," ucap Roxena yang melihat Gerald hendak keluar kamar.


"Okay."

__ADS_1


Gerald berbalik dan menuju kamar mandi. Di bawah guyuran shower, Gerald menetralkan debaran jantungnya.


Perasaan ini tak mungkin salah. Aku jatuh hati padanya?


__ADS_2