Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 62 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

Erin meninggalkan Gerald dan Roxena di kamar hotel. Sementara dirinya bersandar di depan kamar, berjaga jika tiba-tiba terjadi hal di luar perkiraan.


Di dalam kamar, sepasang insan itu masih dalam keadaan terkejut. Anehnya, genggaman tangan keduanya tidak terlepas.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"gumam Roxena bingung. Hal ini diluar prediksinya.


Gerald memalingkan wajah pada Roxena, dahinya mengernyit, "maksudmu kau tidak tahu tentang mereka?"


"Kau menuduhku?"sergah Roxena tak senang.


"Aku menyembunyikan tujuan kita sebelumnya. Bukan hal aneh jika aku menuduhmu!"sahut Gerald.


Gerald masih menguasai ketenangannya meskipun matanya memancarkan gejolak emosi.


Roxena melepaskan genggaman tangan Gerald.


Ah! Gerald hendak menggapainya lagi. Tapi, Roxena berdiri dan melangkah menjauh. Kedua tangannya menyilang di dadanya.


"Peluangnya kecil. Aku tidak pernah bertaruh Elisa akan muncul apalagi hadir sebagai pasangan Regis," ucap Roxena.


"Jadi, semua ini hanya kebetulan semata?"tanya Gerald memastikan. Ia mencoba percaya pada Roxena. Meskipun, hatinya dipenuhi dengan gejolak.


Sekarang ketakutan terbesar Gerald bukan kehilangan Elisa. Melainkan kehilangan wanita yang berdiri membelakanginya ini, istrinya, Roxena Lawrence.


Gerald melihat besarnya perasaan Roxena untuk Regis. Gerald tak mau Roxena pergi darinya. Roxena adalah miliknya!!


Hanya saja tetap tidak nyaman melihat Elisa bersama dengan Regis. Biar bagaimanapun Elisa adalah kekasihnya selama bertahun sebelum menikah yang berakhir dengan perceraian paksa. Jika ditanya dan jawabannya langsung dari hati, Gerald masih mencintai Elisa.


"Takdir memang kejam," lirih Roxena memeluk tubuhnya sendiri.


Ugh!


Roxena merasa kakinya lemas dan kepalanya pusing. Ia berjalan tertatih menuju sofa.


Kemunculan Gerald dan Elisa secara bersamaan, apa yang harus Roxena lakukan?


Tiba-tiba Roxena merasa geram. Elisa mencuri start terhadap Gerald dan Elisa. Jika benar, Elisa berhubungan dengan Regis, maka dua kali ia mendapatkan barang bekas.


Tunggu, kehamilan Elisa, Regis pasti menyadarinya. Lalu … Gerald, apa yang akan ia lakukan saat tahu Elisa hamil? Meninggalkanku atau memilih tinggal?


Roxena menatap Gerald lekat-lekat. "Mengapa kau tidak berlari memeluknya? Selama ini itu keinginanmu, kan?"tanya Roxena.


"Kau juga sama. Dia adalah cinta pertamamu … mengapa kau tetap di sampingku? Bahkan … kita bergandengan tangan?"tanya balik Gerald.


"Aku terlalu terkejut. Tidak tahu harus melakukan apa. Terlebih di sana ada banyak pasang mata," jawab Roxena memalingkan wajahnya ke arah lain.


Gerald menarik sudut bibirnya. Ia melangkah menghampiri Roxena, menundukkan tubuhnya sejajar dengan Roxena.


"Kau berkilah, Xena," bisik Gerald. Gerald sudah paham gerak tubuh Roxena terutama saat ia berbohong, netranya tidak akan menatap netra lawan bicara, sama seperti yang Roxena lakukan pada Tuan Lawrence.


"Omong kosong apa?!" Roxena berseru marah. Mata keduanya bertatapan sejenak sebelum Roxena menundukkan tatapannya.


Gerald menaikkan dagu Roxena, tetap saja arah pandang Roxena tak pada dirinya. Wanita itu melirik ke samping. "Mungkin … kita sudah sehati. Hatiku adalah milikmu dan sebaliknya hatimu adalah milikmu."


"Bullshit!"sangkal Roxena. Sayang, getaran hatinya berlainan. Jantungnya berdebar kencang.


"Tiga detik, dorong aku jika kau tidak mencintaiku," bisik Gerald yang kemudian mencium bibir Roxena.


Roxena membelalakkan matanya. Gerald hanya memberinya waktu tiga detik?!


Dan ini sudah lebih tiga detik. Tapi, Roxena tak mendorongnya. Ciuman Gerald sangat lembut. Bohong jika Roxena tidak menyukainya. Apalagi ia bisa melihat alis tebal dan bulu mata lentik Gerald.


Gerald mengulurkan tangannya melepas Jade vine dan sanggulan Roxena. Hingga rambut panjang itu tergerai indah menutupi bahu Roxena yang terbuka.


Tunggu!


Roxena membeku. Ia bahkan tak menolak saat Gerald berpindah mengecup leher kemudian menatap matanya. Tatapan Gerald dipenuhi dengan cinta.


Roxena dilema.


Benarkah ia mencintai Gerald?!


"Tubuhmu lebih jujur, Xena. Kau mencintaiku. Hatimu telah menjadi milikku. Di kehidupan ini kau telah memilihku," ucap Gerald seraya menggendong Roxena berpindah menuju ranjang.


"Tunggu, Gerald!"


Ugh!!


Tubuh Roxena bergetar saat Gerald kembali menghujani darinya dengan ciuman dan kecupan.


Perlahan tapi pasti, Gerald sudah menanggalkan gaun Roxena.


"Ugh!"


"Panggil namaku, Xena."


Roxena tidak dapat berpikir jernih. Padahal ia tidak mabuk ataupun minum afrodisiak. Sentuhan lembut Gerald membuat tubuhnya semakin panas.


"Gerald~"

__ADS_1


"Ya?"


Gerald mendongak. "Jangan di sana. Rasanya aneh."


"Tapi, kau menyukainya, kan?" Gerald kembali naik, mengecup bibir Roxena dan kembali mengecup bagian lain.


Roxena meletakkan satu tangannya di wajahnya. Perlakuan Gerald hari ini berbeda. Sensasi aneh yang baru ia rasakan.


"Gerald …."


"Jika kau mengkhianati kata-katamu, aku bersumpah akan membuatmu dan dia menderita seumur hidup!!"


"Aku tidak akan berkhianat."


Malam membara mereka lewati. Stamina Gerald yang luar biasa berhasil menaklukkan Roxena di ranjang. Roxena tertidur bahkan sebelum Gerald menyudahi kegiatannya.


"Apa kau tahu apa yang ku rasakan saat melihat Elisa?"tanya Gerald menatap Roxena yang tidur nyenyak.


"Aku ingin berlari memeluk Elisa. Tapi, aku ragu. Kakiku tidak ingin bergerak, tubuhku kaku, Xena. Aku malah menggenggam tanganmu. Kau memberiku kesempatan untuk memilih. Dan sekarang aku sudah mendapatkan jawabannya, apapun yang terjadi, aku akan tetap bersama denganmu. Untuk penebusan dosa dan yang terpenting karena aku mencintaimu, Xena."


Gerald mengecup lama kening Roxena. Mutiara bening jatuh dari pelupuk matanya. Sungguh-sungguh dengan apa yang ia ucapkan.


Gerald kemudian tidur dengan memeluk Roxena.


*


*


*


Erin tetap berjaga di depan pintu kamar. Ia tidak beranjak sedikitpun. Erin tidur dengan posisi berdiri bersandar pada dinding.


Erin membuka matanya saat mendengar derap langkah mendekat.


Wajahnya menoleh ke arah suara. Seorang pria berjas rapi. Tampaknya staff hotel.


"Selamat pagi, Nona," sapanya ramah.


"Pagi."


"Ada kepentingan apa?"tanya Erin to the point.


"Presdir Capital Group mengundang Tuan dan Nyonya Chaddrick sarapan bersama," jawabnya ramah. Erin melihat jam tangannya, sudah pagi rupanya. Erin baru menyadarinya.


"Akan saya sampaikan pada Presdir Lawrence."


Dibalas dengan suara serak Roxena.


"Di lantai dan ruang mana?"tanya Erin setelah mendapat jawaban dari Roxena.


"Lantai 15 ruang VVIP 1." Setelah menyampaikannya, staff itu melangkah pergi.


Erin kemudian masuk ke dalam kamar.


"Nona."


Roxena duduk di tepi ranjang dengan wajah lelahnya. Mata Erin lalu tertuju pada Gerald yang masih tidur dengan selimut menutupi dada.


"Ugh!"


"Anda baik-baik saja, Nona?"cemas Erin melihat Roxena memegangi pinggang saat berdiri.


"Pinggangku sangat sakit!"jawab Roxena melirik kesal Gerald.


Erin tersenyum. Ia segera merapalkan doa dalam hati. Semoga segera ada kabar baik.


"Mungkin ada perubahan jadwal."


"Mendekatlah."


Roxena membisikkan sesuatu pada Erin.


"Laksanakan, Nona!"


Setelah Erin keluar, Roxena membangunkan Gerald. Tadinya ia berpikir untuk pergi sendiri. Tapi, lebih aman membawa Gerald.


Gerald menggeliat. Netranya perlahan terbuka. Senyum langsung ia sunggingkan dan cup.


Kecupan selamat pagi mendarat di bibir Roxena. "Pagi, Istriku."


Jika istri lain mungkin sudah tersipu malu. Lain dengan Roxena dengan wajah datarnya. "Keluarga Regis mengundang kita sarapan bersama. Aku sudah menyetujuinya. Aku akan mandi lebih dulu."


Awalnya Gerald tidak senang mendengar nama Regis. Setelah memikirkan ulang dan kemungkinan yang ada, Gerald harus memanfaatkan momen itu untuk membuktikan bahwa Gerald sudah move on dari Elisa. Juga untuk membuktikan kepemilikannya atas Roxena Lawrence.


"Mandi bersama."


"Tidak!"


"Tidak ada penolakan." Gerald langsung menggendong Roxena. Tak menghiraukan rontaan dan makian Roxena.

__ADS_1


*


*


*


Baju couple kembali digunakan oleh Roxena dan Gerald. Kembali Roxena menggunakan gaun cream dan Gerald menggunakan jas warna senada.


"Penampilanmu sempurna sekali. Mau menggoda siapa?!"ketus Roxena.


"Aku tidak boleh mempermalukanmu."


"Cih! Pikirkan dirimu saja!"


"Baiklah. Aku tidak ingin mempermalukan diriku sendiri," ralat Gerald.


"Kau semakin pintar berkilah!"cibir Roxena.


Gerald menelengkan kepalanya, "apakah tadi malam aku tidak memuaskan?"


"Apa?"


"Kau marah-marah tidak jelas. Apakah kemampuanku buruk?"


Astaga. Wajah Gerald memelas seketika. "Aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Kudengar wanita akan kesal jika tidak terpuaskan. Haruskah aku mengulanginya sampai bisa memuaskanmu?"


"Hah?!"


"Stop! Jangan bahas itu! Kita terlambat!" Buru - buru Roxena melangkah keluar.


Gerald mengejar, "sejak kapan kau peduli tentang itu?"


"Maksudmu aku tidak disiplin?!"berang Roxena menyiku pinggang Gerald.


"Ouh! Bukan itu … ahh sudahlah!!" Gerald frustasi sendiri. Kembali ia mengejar Roxena untuk menggandeng tangannya.


Di ruang makan VVIP 1, Presdir Capital Group beserta keluarga inti sudah datang. Elisa hadir di antara mereka. Suasana akrab dan hangat.


"Regis, Elisa, apakah kalian sudah menentukan tanggal pertunangan kalian?"tanya Presdir Capital Group.


"Uhuk!" Elisa tersedak.


"Kau baik-baik saja?"cemas Regis.


"Pertunangan?"tanya Elisa memastikan.


"Iya, pertunanganmu dengan Regis, Elisa. Regis sudah mengumumkan di acara tadi malam bahwa Regis mencintaimu. Menurut aturan keluarga Francois, kalian harus melangsungkan pertunangan lebih dulu sebelum ke pernikahan," ujar Nyonya Francois bersemangat.


"Jangan begitu, Ibu. Elisa terkejut mendengarnya," ujar Regis.


"Menunggu apa lagi, Regis? Kalian itu cocok terlebih di dalam perut Elisa ada cucu kami."


"Ibu …." Regis memelas.


Nyonya Francois mengembik kesal. "Karena sebenarnya aku sudah melamarnya lebih dulu dan ingin melangsungkan pernikahan dengannya."


Regis menggenggam jemari Elisa yang terbelalak kaget. "Apa yang-"


"Benarkah?!" Nyonya Francois tampak sangat girang.


"Kalau begitu persiapan pernikahan sudah bisa dimulai."


Elisa kehilangan kata-kata. Regis menatapnya penuh penasaran.


Elisa dilema. Ia telah masuk terlalu dalam ke keluarga ini. Elisa diperkenankan sebagai kekasih yang tengah mengandung anak Regis. Menjalani kesepakatan sandiwara yang kian hari menuju kenyataan.


Jemarinya mengepal sedang bibirnya tersenyum. Elisa tidak punya kekuatan untuk menyangkal lagi. Ia hanya berharap Regis tidak mengingkari kesepakatan.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya Chaddrick." Presdir Capital Group berdiri.


Nyonya Chaddrick? Elisa mendongak.


Miris sekali.


Senyumnya pahit. Berusaha tenang melihat Gerald menggandeng Roxena.


Tidak ada hal lain yang dipikirkan Elisa selain prihatin pada Gerald. Sudut pandang Elisa menangkap bahwa Gerald terpaksa dan sangat tertekan.


"Saya lega Anda menerima undangan saya." Presdir Capital Group mengulurkan tangannya berjabat tangan dengan Gerald dan Roxena.


"Saya ingin menyampaikan permohonan maaf sekali lagi atas ketidaknyamanan malam tadi. Menjamu Anda sarapan adalah salah satu cara saya mengungkapkan ketulusan saya. Saya harap Anda menikmati hidangannya."


Presdir Capital Group sangat ramah.


"Selain itu, saya juga ingin menjalin hubungan baik dengan Lawrence Group. Perusahaan telah diambil alih oleh Putra saya. Berharap akan ada kerja sama di antara kita."


Roxena menatap Regis. Sementara Gerald menatap Elisa.


Gerald dan Roxena tersenyum, "sungguh sopan sekali."

__ADS_1


__ADS_2