
Jonathan memasuki salah satu ruang VIP restoran. Ia menemui seseorang yang tak lain adalah Tuan Luz.
Tuan Luz menyambutnya dengan senyum lebar. Menuangkan anggur dan memberikan pada Jonathan sebagai sambutan. Jonathan menerimanya, menatap minuman berwarna ungu itu.
“Apa yang ingin Anda katakan, Tuan Luz,” tanya Jonathan setelah menenggak habis anggur dalam gelasnya.
“Duduk dulu. Jangan terburu-buru. Senior dan Junior harus banyak sharing,” ujar Tuan Luz dengan tawa. Duduk dan kemudian menyantap makanan yang pesan lebih dulu.
“Saya tidak punya waktu luang untuk mendengarkan omong kosong, Tuan Luz!” Jonathan mulai geram. Tuan Luz tertawa seraya menganggukkan kepalanya.
“Okay-okay. Presdir ESA Group sangat sibuk. But, bagaimana jika menyangkut tunanganmu?”tanya Tuan Luz dengan senyum khasnya.
“Lady Stella? Anda mengetahui sesuatu?”
Tuan Luz mengangguk. “Duduklah dulu. KIta bicara pelan-pelan.”
“Apa yang Anda ketahui?” Langsung bertanya begitu duduk.
Tuan Luz menelan kunyahan steak. Lalu menunjuk Jonathan, “kau pasti akan langsung mengambil keputusan begitu mendengarnya.”
“Jangan bertele-tele, Tuan Luz!!”tegas Jonathan geram. Tak sabar mengetahui kabar Stella yang tidak bisa ia hubungi lagi.
“Mendekat.” Gerald menyeret kursinya, duduk tepat di samping Tuan Luz. Tuan Luz membisikkan sesuatu.
“Tunanganmu itu tidak sakit melainkan dijadikan tahanan rumah,” bisik Tuan Luz, seketika mengejutkan Jonathan. Jonathan memasang wajah tidak percaya. Kesalahan apa yang Stella lakukan hingga menjadi tahanan rumah? Bukankah dia orang yang lihai dan bisa bermain apik?
“Kejahatannya bukan kejahatan kecil. Sangat besar bahkan bisa terancam hukuman mati.”
“Katakan dengan jelas, Tuan Luz!!” Jantung Jonathan berdebar kencang.
“CK!” Tuan Luz berdecak kesal. “Generasi zaman sekarang tidak sabaran sekali,” gerutunya.
“Tunanganmu merencanakan pemberontakan. Buktinya sudah berada di tangan Raja.”
Degg!!
Mata Jonathan membulat sempurna. “Anda jangan bicara sembarangan, Tuan Luz! Darimana Anda mendengar kabar mengerikan itu?!” Marah, merasa bahwa itu hanyalah ucapan asal. Tuan Luz mengedikkan bahunya. Ia sangat santai dengan mimik seriusnya.
“Masih ada satu kabar lagi, apa kau mau mendengarnya?”
“Apa?”
“Kau pernah bertemu dengan pelayan pria yang berada di sisi Stella?”tanya Tuan Luz memastikan. Jonathan menggeleng. Tuan Luz langsung mendesah, tampak kasihan pada Jonathan.
“Kau itu diselingkuhi dan selingkuhannya adalah seorang pelayan.”
“APA?!” Ini lebih mengejutkan lagi.
“Apa yang Anda katakan, Tuan Luz? Dapatkan Anda mempertanggungjawabkan ucapan Anda?”tantang Jonathan. Tuan Luz mengangguk pelan. Ia meletakkan gelas anggurnya.
“Raja menjadi buktinya. Lalu … tentang perselingkuhan … mungkin kau pernah melihat Stella memakai jepit rambut magnolia?” Tuan Luz kembali bertanya. Gerald mengingat dan membenarkannya.
Wajahnya menggelap seketika. Penuh amarah karena dikhianati dan marah karena pihak kerajaan merahasiakan kejahatan Stella dengan penyakit dan meminta pernikahan dimajukan. MIMPI!!
“Hei, jangan emosi begitu,” sentak Tuan Luz.
“Ayo minum lagi.” Kembali memberikan anggur untuk Jonathan.
__ADS_1
Jonathan menghabiskannya dalam satu tenggak. Ia mulai menganalisis dan memilah. Tuan Luz dikenal sebagai orang yang tidak neko-neko. A ya A, B ya B. Dia dikenal sebagai pengusaha senior yang sangat lugas. Tidak akan bicara tanpa memiliki bukti.
Jonathan memilih mempercayai perkataan Tuan Luz. Lagipula, sesuai dengan sikap pihak kerajaan. Tapi, mengapa malah mempercepat pernikahan bukan menghukum Stella? Mengapa mau mengikat dirinya dengan pengkhianat? Jonathan tidak terima. Nama baik keluarga Esca akan tercoreng, mereka akan menderita kerugian.
Tuan Luz menarik senyum diam-diam.
Lawrence Tuan itu mendapatkan putri yang sangat hebat. Mampu memukul seorang Lady kerajaan sampai ke titik ini. Aku harus mempertahankan hubungan baik dengannya. Lalu Esca Group, apakah usia kalian sama seperti penderita kanker stadium akhir atau seperti kayu bertunas?
*
*
*
“Ada apa, Ayah?” Xavier datang memenuhi panggilan Raja.
“Gawat, Xavier. Keluarga Esca Group mengirimkan pembatalan tunangan dengan Stella!!”
“Apa? Dengan alasan apa, Ayah?”
“Mereka mengatakan tidak bisa menerima pernikahan dengan seseorang yang akan segera mati. Mereka juga mengirimkan kompensasi untuk itu. Nama kerajaan tercoreng karena ini. Mereka juga sudah mengumumkan keputusan itu ke media!” Raja bingung sekarang. Mengapa keadaan menjadi sangat rumit.
Stella juga mengapa harus membuat masalah sebesar ini?! Xavier segera memikirkan jalan keluar, sesekali ia mengeram kesal dengan tindakan keluarga Esca. Ini tidak menganggap dan menghormati keluarga kerajaan. Mereka dapat dihukum. Hanya saja, itu bukan masalah utama.
“Mereka tidak akan bisa lari, Ayah! Gunakan kekuasaan kita sebagai penguasa!”tegas Xavier. Bagaimanapun, pernikahan ini harus terlaksana, baik secara kesepakatan yang telah disetujui maupun atas dasar perintah yang berarti wajib. Mereka punya kekuatan untuk menekan suatu perusahaan, meskipun itu akan sedikit sulit karena yang dilawan adalah perusahaan keuangan terbesar di negara ini. But, mereka juga sedang goyah.
“Aku akan menemui Stella. Mohon izin ayahanda,” ucap Xavier meminta. Raja memberi izin, menyertakan surat izin pada Xavier.
*
*
*
Begitu masuk ke istana Stella langsung berteriak untuk menemukan keberadaan Stella. Jade yang mendengarnya menyongsong ke sumber suara. “STELLA, INI KAKAK, KAU DI MANA?”
“Salam kepada Putra Mahkota,” sapa Jade, menyambut putra mahkota.
“Kau … siapa?” Asing dengan Jade.
“Saya pelayan pribadi Lady, Yang Mulia,” jawab Jade santun. Xavier menilai. Ia curiga, mengapa memilih pelayan laki-laki? Namun, segera ditampik.
“Mana Lady Stella?” Tujuannya yang lebih utama. Jade mengantarkan Stella ke kamar. Ia menunggu di luar kamar, tetap memasang telinga baik-baik.
“Stella, adikku!” Xavier tidak sanggup melihat keadaan Stella yang berantakan. Stella yang tubuhnya terasa sangat remuk membuka matanya.
“Kakak!” Terkejut.
“Stella … apa yang terjadi padamu? Mengapa kau jadi seperti ini?” Tidak ada jejak kemarahan akibat perbuatannya. Tapi, untuk apa Xavier menemuinya.
“Kakak … kau tidak membenciku?”tanya Stella dengan mata menahan tangis.
“Adikku lebih penting daripada tahta. Maafkan kakak yang tidak bisa mengubah konstitusi. Kakakmu ini masih terlalu lemah.” Maksudnya adalah, jika bukan karena peraturannya, dengan senang hati Xavier memberikan posisinya pada Stella. Bahkan selama beberapa tahun, selama ia mengabdi di akademi militer, Stella lah yang mengurus pekerjaanya. Sayangnya, mereka terikat konstitusi dan ia telah dipercaya. Tidak bisa mengecewakan rakyat.
“Kakak dan Ayah memikirkan jalan keluar untukmu. Kami berpikir untuk menikahkanmu lebih awal dengan Jonathan. Sayangnya … mereka menolak. Tapi, tenang saja. Kakak akan membuatnya setuju,” jelas Xavier, tidak membahas mengenai Jonathan yang mengirimkan surat pembatalan pertunangan.
“Apakah itu bisa membantuku, Kak? Kesalahanku ini ….”
__ADS_1
“Bisa. Namun, kau harus melepaskan status kebangsawanmu, menjadi rakyat sipil biasa.”
Stella tersentak. Benar juga, salah jika ia berharap tidak akan ada yang berbeda. “Aku ikut pengaturan kakak saja.”
“Kakak masih ada urusan. Nanti akan berkunjung lagi.” Stella mengangguk.
“Jaga kesehatanmu. Jangan sedih, kami menyayangimu, Stella.”
“Iya, Kakak.” Stella mengantar kepergian Xavier dengan tatapan sayu. Padahal ia punya kakak yang sangat baik, ayah yang sangat baik, ibu yang sangat menyayanginya. Bukankah itu sebuah anugrah? Mengapa ia tidak melihatnya malah sibuk mengejar hal yang tidak pasti? Padahal tanpa menjadi yang terbaik, ia mendapatkan kasih sayang yang melimpah.
“Stella….” Stella menghapus kasar air matanya.
“Mau apa kau?”
Jade tersenyum smirk. Ia sudah mendengar semua percakapan kakak beradik itu. “Menurutmu, apa alasannya menolak tanggal pernikahan? Bukankah seharusnya diterima dengan baik karena akan segera menjadi kerabat anggota kerajaan?” Mulai melakukan manipulatif.
“Kau benar-benar lancang, Jade!”hardik Stella melempar vas bunga ke arah Jade. Jade menghindarinya dengan santai. Ia lalu tertawa sinis.
“Karena kau sudah tidak berguna. Menikah cepat pun tidak ada gunanya karena kau adalah aib!”
“Stop, Jade! Ku mohon!!’
“Ah … kakakmu tadi berbohong padamu. Keluarga Esca bukan hanya menolak mempercepat pernikahan namun juga mengumumkan pembatalan pertunangan denganmu, Stella. Kabar kau sakit parah sudah tersebar luas. Stella. kau tamat!!”
“Apa yang barusan kau katakan?” Stella pias. Jonathan membatalkan pertunangan?
“Bagaimana caramu mengetahuinya?” Bukankah dilarang menggunakan alat komunikasi?
Jade tersenyum rahasia. “Stella.” Mendekati Stella. Stella beringsut mundur. Takut dengan Jade.
“Coba kau katakan padaku, menurutmu apakah keluarga Esca akan menerima menantu pengkhianat? Apakah kau akan tetap diperlakukan sebagai seorang Lady atau justru lebih parah dari seorang pelayan? Apakah menurutmu kau akan terbebas setelah meninggalkan istana? NO, STELLA!!”
“Ibaratnya adalah keluar dari kandang singa masuk ke kandang harimau. Kau terjebak di dalamnya.”
“Coba katakan padaku, jika terikat pernikahan, bisakah kau lari dari penderitaan? Statusmu juga bukan seorang Lady melainkan rakyat sipil. Menurutmu … apakah kau akan hidup dengan baik?” Jade mencengkram dagu Stella. Stella menatap ke arah lain, tidak mau bertatapan dengan Jade.
“Aku beri satu jalan keluar yang lebih baik dari semua itu.” Jade menghempaskan dagu Roxena.
“Menikah denganku!”
“TIDAK AKAN PERNAH!!”
Tatapan tajam Jade langsung menghunus. Ia lantas tertawa terbahak. “Kau akan memohon untuk itu.”
“Ladyku pada akhirnya akulah pilihanmu. Dengar, jika kau menikah denganku, kau tidak perlu melakukan apapun. Aku akan membelikan rumah yang sangat indah. Kamar luas dengan lemari penuh barang. Kau akan dilayani dua puluh empat jam! Hidupmu akan sangat enak. Kau hanya perlu melebarkan kakimu setiap kali aku menginginkannya,” papar Jade dengan penuh percaya diri. Sangat yakin dengan kata-katanya.
Bagi Stella, setiap kata yang terlontar dari bibir Jade adalah hinaan yang menguliti harga dirinya. Tunggu, apakah di mata Jade, ia masih memiliki harga diri sedang dirinya sekarang dijadikan pemuas nafsu untuk Jade.
“Kau punya banyak waktu untuk memikirkannya. Ingat, menikah denganku sangat menguntungkan, loh. Di luar pekerjaanku sebagai pelayan, aku ingin sangat kaya. Rumah, mobil, aset, aku memilikinya. Kau tidak akan kesusahan. Tawaran yang bagus, bukan? Jangan lupa diterima, okay?”
Setelah mengatakan semua hal itu, Jade keluar meninggalkan Stella yang langsung membanting lampu tidur. Ia sangat emosi. Mengapa?! Mengapa ia tidak bisa melawan Jade? Ia juga takut pada pelayan rendahan itu?!
ARRGHHH
Jade menyeringai mendengarnya. Ia sangat puas bisa membuat Stella seperti ini. Akhirnya, setelah kian lama, ia mendapatkan kesempatan. Tentu tidak akan ia sia-siakan. Terlebih misinya tidak disebutkan bahwa ia tidak boleh menyentuh Stella, artinya sah-sah saja kan? Bekerja sekaligus bersenang-senang, itulah yang ia lakukan. Misinya memang selalu berkaitan dengan wanita karena ia memiliki pesona untuk itu.
Di Light and Shadow, ia dijuluki Penakluk Wanita. Ia adalah Playboy Kelas Kakap. Stella sudah lama menjadi incarannya dan kini, ia akan menjadikan itu mainan yang sah.
__ADS_1