Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 7 Sedikit Khawatir


__ADS_3

Erin menatap cemas Roxena yang melangkah menjauh bersama dengan Gerald. Tadi saja, Gerald mencekik Roxena sampai habis kehabisan nafas. Erin takut Gerald akan lepas kendali lagi dan kembali mencelakai Roxena.


Apalagi, mereka hanya berdua. Lily dan Sophia, Roxena meliburkan mereka selama dua minggu tanpa memberi alasan yang jelas.


Tidak, tidak. Nona bukan Wanita yang lemah, batin Erin, ia menghela nafas pelan sebelum meninggalkan area apartemen Roxena.


Tiba di apartemennya, Roxena langsung menuju kamar dan menguncinya, meninggalkan Gerald yang diam di ruang tengah. Pria itu bingung. Dan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Mengingat kejadian yang ia alami. Masih


menerka alasannya.


Aku semakin senang melihat kebencianmu.


Apa yang dicari Roxena dari dirinya. Dan sebenarnya siapa Wanita itu? Keluarga Lawrence?


Saat Gerald tidak menemukan jawaban atas semua pertanyaannya, perhatiannya tertuju pada majalah di atas meja. Ada foto Roxena di dalamnya.


“Lawrence Group?” Mata terbelalak melihat identitas asli Roxena. Wakil Presdir Lawrence Group, putri tunggal keluarga Lawrence yang merupakan keluarga berpengaruh.


Sebenarnya apa salahku padanya? Seumur hidup ini, Wanita yang berhubungan denganku adalah Elisa. Bagaimana bisa ada dendam denganku?


Memijat dahinya. Matanya mencari jawaban. Dan sampai saat ini tidak ia temukan.


Elisa!


Ya! Yaya!


Gerald harus mengetahui kabar Elisa. Handphone?!


Sial! Alat komunikasinya diambil. Identitas dirinya juga. Hanya jam tangan yang tetap melekat di pergelangan tangannya. Melihat ke arah pintu. Sial! Roxena masuk dengan sidik jari dan ia tidak tahu sandinya. Laptop? Telepon? Matanya mencari. Bergerak memeriksa seluruh ruang kecuali kamar Roxena. Tetap tidak ada jumpai.


Sial! Apartemen ini apartemen manusia?


Gerald baru menyadari bahwa dekorasi apartemen ini sangat suram, warna hitam mendominasi. Begitu juga dengan furniturnya. Dan lampu ruangan, tidak ada yang dinyalakan jika tidak ia nyalakan tadi.


Dia tinggal sendirian?


Terbesit niat buruk di hati Gerald. Namun, segera ditepis mengingat Elisa masih ada ada pengawasan Roxena.


Elisa. Sial! Hati Gerald berdenyut sakit, Wanita yang ia cintai itu, pasti sangat hancur dan tertekan. Tanpa sadar, air mata Gerald berjatuhan. Dadanya sesak. Pria yang dikenal dingin itu luruh, rapuh, memeluk dirinya sendiri seakan tengah memeluk Elisa. “Sayang, hiks, maafkan aku, hiks. Aku tidak bisa membiarkanmu celaka, hiks. Maafkan aku….”


*


*


*

__ADS_1


Gerald terbangun di tempat yang sama. Matanya sembab. Kepalanya terasa sangat sakit. Tenggorokannya sakit, ia haus. Dan perutnya meronta lapar.


Gerald bangkit, menuju dapur. Minum dengan rakusnya.


Wanita itu … sialan!


Bahkan, sejak ia diculik, tidak ada makanan yang masuk ke perutnya. Sudah biasa memang, terutama saat ia melakukan operasi yang memakan waktu berjam-jam. Namun, lihatlah, tidak ada makanan yang bisa dimakan, kecuali mie instan.


Gerald meremas kesal mie instan itu. Gerald sangat enggan memakannya. Namun, ia tidak mungkin membiarkan dirinya mati konyol karena kelaparan. Mengetuk dan berbicara dengan Roxena?


Tidak! Lebih baik ia makan makanan yang sangat ia hindari saja.


Aroma mie instan itu menyeruak. Membuat perut semakin meronta lapar. Gerald makan dengan lahapnya.


Ke mana Wanita itu?


Gerald bertanya dalam hati setelah selesai makan dan mencuci piring.


Sudah jam 09.00, tidak ada tanda-tanda kehadiran Roxena. Gerald, ia sedikit lega. Kembali duduk di sofa dan memikirkan cara untuk lari tanpa membahayakan Elisa. Tapi, lagi-lagi bagaimana caranya. Otak professor


Gerald seakan tidak berfungsi di saat genting ini. Kembali mengecek pintu, sekali lagi dipatahkan dengan kenyataan. Menyusuri dan menilik sudut apartemen, itu seperti penjara tanpa cela. Dan Gerald ingat, apartemen ini berada di lantai yang sangat tinggi. Kaca-kacanya, dibuat bak tahan dengan tekanan. Gerald, ia benar-benar di penjara oleh Roxena.


Otaknya yang seakan buntu, membuatnya kembali putus asa. Namun, ia tidak bisa menyerah. Gerald harus memperjelasnnya. Jika salah paham, maka harus diluruskan. Jika tidak, ia harus tahu alasannya. Bisa-bisa ia yang gila karena Roxena.


Aneh.


Sebenarnya bagaimana kepribadian Wanita itu?


Tidak ada hiasan feminim di dinding, benar-benar monokrom. Bahkan, satu foto Wanita itu tidak ada dipajang, sepanjang matanya memandang, dinding benar-benar polos.


Gerald menatap telivisi di hadapannya. Lalu menunduk melihat majalah. Informasi di dalamnya tentang Roxena kurang. Mencoba mencari informasi lewat televisi.


Halo Sobat Bisnis! Kabar terbaru datang dari Lawrence Group. Putri tunggal keluarga Lawrence, Roxena Lawrence yang beberapa waktu lalu dilantik menjadi wakil presdir Lawrence Group, akan segera dilantik menjadi


Presdir Lawrence  Group. Kabar tersebut telah dikonfimasi dan valid.


Peralihan kekuasaan dalam waktu yang singkat itu, membuat banyak spekulasi, terlebih dikabarkan bahwa Roxena Lawrence telah menikah dan pria yang menjadi suaminya terlihat di pesta perayaan ulang tahun Tuan Lawrence tadi malam. Sayangnya, tidak ada foto mengenai siapa suami Roxena Lawrence, semua penasaran diikuti dengan rasa patah hati. Sebenarnya, siapa suami dari Roxena Lawrence, bagaimana rupa dan latar belakangnya hingga bisa menaklukan Wanita yang dijuluki Lily of Death itu? Semua sangat menantikan publikasinya!


Gerald berdecak pelan. Ternyata sudah menyebar. Wait, dilantik menjadi Presdir? Hanya dalam satu malam sudah diputuskan?


Patah hati?


Gerald mengeryit. Wanita dingin itu? Lily of Death? Apakah ada yang menyukainya?


Gerald bergidik. Tidak ada senyum yang tulus dari Wanita itu. Benar-benar bingung.

__ADS_1


Lupakan!


Apa yang harus aku lakukan?


Opsi membunuh sudah dihapuskan.


Menyerah dan menunduk?


Itu bukan karakternya.


Ah, benar!


Cara itu yang paling mungkin. Namun, melihat kebencian itu, apakah mungkin?


Batu yang keras akan berlubang jika ditetesi sedikit demi sedikit.


Elisa, Sayang. Tolong jangan tertekan dan menyakiti dirimu


sendiri. Aku pasti akan kembali, tunggu aku!


*


*


*


Gerald tidak tahu kapan ia tertidur. Ia terbangun saat mendengar suara pintu terbuka dan suara langkah kaki masuk. Gerald waspada.


Matanya membulat saat menyalakan lampu. “K-Kau!”


Yang ditunjuk tersenyum smirk dengan baju yang terdapat bercak darah, serta masih ada darah yang menempel di wajah Roxena. Roxena menyeringai. Bau anyir tercium. “Kau pasti lapar, bukan? Makanlah ini.” Roxena melangkah mendekat. Gerald tetap pada posisinya.  Roxena meletakkan sebuah plastic berisi makanan di meja. Kemudian, dengan sedikit tertatih menuju kamarnya.


“Tunggu!”


“Hm?” Roxena memalingkan wajahnya ke arah Gerald. “Apa kau baik-baik saja?”tanyanya, tentu sebagai sosok Gerald yang seorang dokter, bukan Gerald!


“Hm?” Roxena memiringkan kepalanya. “Mengapa begitu sama?” Sekilas wajahnya sendu.


“Bukankah seharusnya kau senang jika aku terluka?” Sinis.


“Tenang saja. Aku tidak akan mati. Tenang saja, hahaha….” Roxena masuk ke dalam kamar.


“Benar-benar gila!”maki Gerald kesal, kemudian melirik makanan yang dibawa oleh Roxena tadi. Ini sudah tengah malam dan ia hanya makan mie instan tadi pagi.


Tapi, harusnya ia makan itu?

__ADS_1


Di lain sisi, Roxena tengah melamun di ranjangnya. Bajunya sudah terganti. “Semuanya sama hanya bertukar peran,” gumam Roxena, tersenyum tipis kemudian menyikap sedikit piyama tidurnya, ada perban yang membalut pinggang. Tampaknya terluka.


“Padahal aku membencinya selama ini. Tapi, hanya dengan kata itu, hatiku menghangat?”


__ADS_2