Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 29 Pindah Haluan?


__ADS_3

Gerald gelisah dalam tidurnya. Bulir-bulir keringat memenuhi dahinya. Erangan halus terdengar. Bibirnya pucat. Gerald tampaknya mengalami mimpi buruk.


Ugh!


Hah!


Hah!


Tersentak bangun. Nafasnya terengah-engah.


"Mimpi ini lagi," gumam Gerald, menyentuh kepalanya yang terasa pusing. Belakangan ini, ia sering bermimpi tentang hal yang sama. Bukan hanya itu, memori aneh juga hadir di pikirannya. Mimpi dan memori itu, menghantui dirinya.


Mimpi yang sama. Di sebuah tempat yang tidak Gerald kenali. Gerald melihat barisan pasukan yang berdiri gagah. Mereka berbaris rapi, posisi tegak sempurna dan pandangan lurus ke depan. Menghadap pimpinan mereka, seorang wanita.


Gerald berulang kali memastikan dalam setiap mimpinya. Wanita yang memimpin pasukan itu adalah Roxena. Namun, bukan Roxena yang ia kenal sekarang. Roxena yang ada di mimpinya dipenuhi dengan energi positif. Ia penuh semangat dan welas asih. Seorang pemimpin yang sangat dihormati oleh bawahannya. Tak ada sedikitpun Gerald lihat kepribadian dingin dari Roxena dalam mimpinya itu.


Mimpi itu terus menganggu dirinya. Memastikannya berulang kali. Namun, mimpi itu berbanding terbalik dengan memori aneh yang ada hadir di benaknya. Dalam memori itu, ia melihat Roxena yang penuh dengan keputusasaan, memeluk seorang pria yang bersimbah darah.


"Aku membencimu."


Ucapan Roxena dalam memori itu berdengung dan terus mengusik hatinya. Mimpi dan memori itu jelas era yang berbeda. Berulang kali ia memikirkannya. Mungkinkah ada kehidupan lalu? Dan ia kembali lahir tanpa membawa ingatannya di kehidupan lalu? Sementara Roxena memiliki semua itu? Namun, sebagai saintis, sulit bagi untuk mempercayai tentang hal reinkarnasi dan semacamnya, meskipun sudah ada penelitian tentang hal tersebut.


Hatinya meragu namun logikanya menyangkal.


Hah


Lagi.


Gerald Hela nafasnya panjang.


Ada banyak hal yang Gerald tak mengerti. Sikap Roxena yang tak menentu juga membuatnya bingung. Jika benci maka benci saja. Mengapa harus ada perasaan lain yang membuatnya semakin rumit? Hati memang sukar dipahami.


Roxena. Roxena Lawrence, mana dirimu yang sebenarnya?


Gerald tak melanjutkan tidurnya. Waktu menunjukkan pukul 05.00 dini hari. Gerald memilih bangun dan mendinginkan tubuhnya di bawah pancuran shower.


Harus memperjelasnya. Namun, Roxena tak mau bekerja sama. Hanya bisa menunggu waktu.


Sudah 3 hari Gerald tak melihat kehadiran Roxena di apartemen. Dari yang ia dengar dari Lily dan Sophia, Roxena tengah melakukan perjalanan bisnis.


Sempat terbesit rasa khawatir. Malam itu, Roxena kan sedang terluka. Namun, segera ia tepis. Bukan urusannya juga. Lagipula, wanita itu tidak menghormati dirinya. Jangankan pamit. Membahasnya saja tidak ada.


Ya. Hatinya juga tidak jelas. Ia membenci namun ingin dipandang. Ia tak suka namun terkadang rasa khawatir dan tak senang hadir di hatinya.


Sebenarnya, bagaimana hubungannya dulu dengan Roxena? Apa yang ia hancurkan? Apakah pria dalam pelukan Roxena dalam mimpinya itu?


"Silahkan, Tuan." Lily menghidangkan kopi untuk Gerald. Seperti biasanya, setiap pagi secang kopi hitam menemani Gerald.


"Perjalanan bisnis Nona kali ini ke Asia. Mungkin akan pulang lebih lama dari biasanya," ujar Lily memberitahu.


Gerald tidak menggubrisnya. "Selama Nona tidak di dalam negeri, harap Anda berhati-hati saat berada di luar," ucap Lily lagi, memberi peringatan.

__ADS_1


Gerald tidak menjawabnya. Memilih menikmati secangkir kopi itu. Lily menghela nafas pelan. "Gunakan mobil yang disarankan oleh Nona. Itu akan lebih melindungi Anda, Tuan."


"Wanita itu di luar negeri. Pengawasan padaku juga tidak begitu ketat. Harus mengirim pesan pada Elisa!"


Gerald sudah memikirkan ini sejak tahu dari Lily bahwa Roxena tidak akan pulang dalam waktu cepat. Melalui email, Gerald mengirim pesannya. Namun, tak terkirim. Selalu gagal.


Mengapa?


Gerald tidak mengerti. Ia mencoba lagi, mencoba mengirim pesan secara biasa namun juga tak bisa terkirim. Mencoba dari media sosial. Juga tidak bisa. Apa alasannya?


Mencoba mencari jawabannya. Tidak diblokir. Apakah alasannya ada di Elisa?


Gerald memijat dahinya. Ternyata tak terlalu diawasi karena sudah diantisipasi. Gerald berdecak. Wanita itu memang penuh perhitungan. Namun, di dunia ini, ponsel bukan hanya satu saja.


Meskipun itu uangmu, semuanya dalam pengawasanku.


Sial!


Gerald punya uang tapi tak bisa leluasa menggunakannya. Lemah! Gerald merutuki dirinya yang lemah. Sebagai seorang pria dan suami, ia tak berkutik di bawah tekanan Roxena.


Gerald kembali mengesampingkan niatnya. Dihelanya nafas dan kembali bekerja.


Pekerjaan hari ini telah selesai. Gerald merenggangkan tubuhnya. Thomas dan Jack, kedua pengawalnya langsung membungkuk kala Gerald keluar dari ruang kerjanya.


Seperti ucapan Lily tadi, Gerald memutuskan untuk menggunakan mobil putih yang diberikan oleh Roxena tempo hari. Mobil itu memang lebih menyakinkan.


Sementara di belahan lain bumi, Elisa tengah berkutat dengan pekerjaannya. Semenjak disadarkan oleh asistennya, Violet, Elisa menghabiskan waktunya untuk bekerja. Menghasilkan banyak karya serta membangun koneksi dengan banyak pihak, terutama para Nyonya kaya yang bersimpati atas apa yang menimpanya.


Namun, justru hal itulah yang membuat Violet khawatir. Nonanya ini, terlalu memaksakan dirinya. Dalam benak Elisa, hanya ada satu tujuan, mendapatkan kembali suaminya.


"Nona, sudah puluhan desain yang Anda buat namun tidak ada yang membuat Anda puas. Hari juga sudah gelap. Lebih baik Anda istirahat dan dilanjutkan besok," ucap Violet, seraya meletakkan secangkir coklat hangat di meja Elisa. .


"Tidak bisa, Vio. Desainnya harus sudah jadi besok. Aku tidak berniat mengecewakan klien satu ini. Klien ini sangat penting!!"jawab Elisa menolak. Masih sibuk dengan goresan pensil di atas kertas, membuat sketsa gaun.


"Kalau begitu istirahatlah sejenak, Nona. Tubuh dan pikiran Anda butuh rileks. Dan biasanya inspirasi datang saat kita sedang rileks. Bukan tertekan, Nona," bujuk Violet.


"Anda bahkan melewatkan makan siang. Tapi, tidak dengan makan malam!"ucap Violet lagi.


"Vio, aku baik-baik saja. Melewatkan makan siang tak akan membuatku mati. Keluarlah, desain ini akan jadi sebentar lagi," ucap Elisa. Ia menolak untuk berhenti.


Violet menghela nafas kasar. "Saya akan mengantar makan malam Anda," ucap Violet sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruangan Elisa.


Elisa masih pada pekerjaannya. Namun, berhenti kala Violet sudah keluar. Elisa menatap minuman coklat yang masih mengepulkan asap.


Dengan simpatinya, aku bisa bertemu dengan Gerald tanpa harus melukai Gerald. Aku harus menyelesaikannya!


Seminggu sudah Roxena berada di luar negeri. Gerald masih tidak tahu kapan jadwal pasti kepulangan Roxena. Pria itu menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Memeriksa pasien dan melakukan operasi, dua kegiatan utamanya.


Malam ini, hujan turun dengan derasnya. Gerald menatap keluar. Melamun.


Gerald tersadar saat mendengar keributan di luar. Ia segera keluar kamar. "Wanita gila?!"

__ADS_1


Gerald tertegun di tempatnya. Ia merasa de Javu. Ya, bukankah seminggu lalu Roxena juga berada di situasi ini? Tubuhnya basah kuyup dengan darah yang mengalir dari bagian pinggang kiri.


Daripada berdebat lagi, lekas ia mengambil peralatan. Roxena tampaknya hampir kehilangan kesadaran dengan Erin yang menatap cemas Roxena. Begitu juga dengan Lily dan Sophia.


"Kali ini, karena apa?"tanya Gerald, mendapati lagi-lagi luka tembakan.


"Apa kalian mafia, hah? Bermain dengan senjata api?!" Nada bicaranya naik.


Erin, Lily, dan Sophia saling pandang. "Kau berulang kali terluka. Tidak mau mengatakan apapun?"


Gerald kesal. Terus mengomel. Sementara Roxena yang hampir kehilangan kesadarannya hanya mengerjakan matanya sayu.


"Erin, bukankah Nonamu ini Presdir? Mengapa tidak ada penjagaan yang ketat? Kalian dibayar untuk membiarkannya terus terluka, hah?!"


"S-saya-"


Erin tercekat. Bingung harus menjawab apa.


Memang benar, Tuan. Tapi, Nona kan bukan hanya sekadar Presdir Lawrence Group.


"Hei-hei, jangan ribut. Kepalaku sakit," ucap Roxena lemah.


"Diam kau!"ucap Gerald dengan nada membentak. Ia marah. Entah berapa kali sudah ia mengobati Roxena. Wanita ini tak ada jeranya.


"Kau seorang wanita, bagaimana bisa tubuhmu dipenuhi bekas luka."


Roxena tertawa pelan. "Kau melihatnya?"


"Di masa lalu aku adalah seorang ksatria. Luka adalah bagian dari diriku."


"Konyol!"sentak Gerald.


"Gerald, luka-luka ini membuktikan perjuanganku. Kau jangan menatapnya jijik!"ketus Roxena kemudian.


"Lukamu kemarin belum kering sudah ada luka baru. Kalau bosan hidup katakan, biar aku yang membunuhmu!!"


"Sudah ada dirimu, mana mungkin aku bosan hidup. Gerald, kau adalah tujuan hidupku."


Sttt!


"Saat sakit kau selalu mengatakan omong kosong. Kembalilah pada dirimu sendiri, Roxena Lawrence!!"kecam Gerald. Ia sudah selesai mengobati Roxena. Cukup banyak darah yang hilang. Gerald lantas melayangkan tatapan pada tiga wanita yang masih setia di samping Roxena itu.


"Dia akan mati kedinginan jika tidak ganti pakaian."


Lily dan Sophia lekas memapah Roxena.


"Hei, Gerald." Roxena memanggil sebelum menuju kamarnya.


"Aku senang. Terima kasih." Setelahnya melangkah ke kamar dibantu oleh Lily dan Sophia.


Terima kasih? Aku tidak salah dengar?

__ADS_1


Erin yang melihat semuanya, terdiam di tempatnya. Otaknya merespon cepat, menerka hubungan Roxena dan Gerald saat ini.


Apakah kebencian itu sudah berubah haluan?


__ADS_2