
"Apakah belakangan ini ada masalah yang sangat besar? Nona tidak sadarkan diri karena tertekan dan kelelahan. Terlebih kondisi tubuhnya belum benar-benar pulih."
Dokter Liu menatap Erin yang datang bersama dengannya tadi, lalu berganti menatap Gerald yang duduk di sofa dengan pandangan menunduk.
"Memang ada beberapa masalah besar belakangan ini. Mungkin kelelahan aku percaya. Tapi, tertekan?" Erin menatap tanya Dokter Liu, lalu turut menatap Gerald.
Merasakan tatapan intens pada dirinya, Gerald mengangkat wajahnya menatap balik kedua wanita itu. "Aku tidak tahu. Dia menggila hanya karena jepit rambut. Lalu berteriak memegangi kepalanya. Aku tidak tahu apa yang terjadi."
Wajah Erin langsung menggelap. Melangkah lebar menghampiri Gerald. "Nona tidak akan tertekan jika itu bukan sesuatu yang penting. Saya pikir sekarang bukan Nona yang memberi Anda derita melainkan Anda yang memberikan penderitaan untuk Nona!"
"Jepit rambut dari masa lalunya sangat tidak penting!"ucap Gerald. Masalah masih berputar di sana. Hatinya kembali panas mengingat nama Regis.
Erin semakin geram mendengar jawaban Gerald.
"Nona tidak pernah selemah ini. Tidak pernah kecuali sejak berurusan dengan Anda!"ucap Erin menunjuk wajah Gerald.
"Harusnya Anda tidak merusak barang-barang Nona. Padahal Anda sudah diperlakukan dengan baik. Dasar tidak tahu diri! Kau benar-benar membuatku emosi. Kau semakin berani dan melanggar batas. Tampaknya wanita itu harus menanggung akibat dari kelancanganmu ini!!"
Gerald bergeming. Tidak ada ketakutan di matanya. Erin tersentak pelan melihatnya.
"Cukup, Erin. Biar aku yang bicara. Kau emosi dan memakinya sekasar apapun tidak ada gunanya. Karena dia adalah milik Nona. Sebagai bawahan kita tidak bisa mencampuri urusan pribadi mereka terlalu jauh." Dokter Liu menepuk bahu Erin.
Erin tidak puas. Tapi, ia tetap mundur beberapa langkah.
"Perkenalkan saya Liu, dokter pribadi istri Anda." Dokter Liu mengulurkan tangannya.
"Gerald," jawab Gerald membalas uluran tangan itu. "Apa yang harus saya lakukan?"tanya Gerald kemudian.
"Saya tidak bisa menjawabnya. Tapi, jika Anda bertanya apa yang saya sarankan untuk kesehatan Nona, saya bisa menjawabnya," jawab Dokter Liu.
"Sebenarnya tidak ada perawatan khusus. Hanya saja … beliau harus mendapatkan ketenangan. Karena masalahnya bukan pada fisik melainkan psikis."
Tapi, itulah yang lebih parah. Psikis lebih serius dari fisik. "Sebagai dokter pribadi Nona, saya berharap besar pada Anda." Dokter Liu tersenyum ramah. Kemudian melangkah keluar dengan menarik tangan Erin.
"Liu kau tahu emosi Nona meledak-ledak. Mengapa sebelumnya ini tidak terjadi?"tanya Erin saat mereka sudah berada di ruang tengah. Di sana ada Lily dan Sophia yang menunggu dengan gelisah.
"Bukankah katamu tadi Nona sering seperti ini sejak Tuan hadir? Artinya ada emosi lain yang Nona pendam selama ini. Namun, begitu Tuan hadir perlahan emosi itu menyeruak naik." Dokter Liu menghela nafas pelan.
"Erin, emosi adalah hal yang sulit untuk dimengerti. Meskipun kita sudah lama mengikuti Nona, beliau menyimpan banyak sisi yang tidak kita ketahui."
"Emosi Nona sangat variatif belakangan ini. Suami Nona ini benar-benar sesuatu."
Dokter Liu menghela nafas pelan. "Aku sudah meresepkan obatnya. Lalu untuk makanan Nona buat seperti yang aku kirim terakhir kali," ucap Dokter Liu pada Lily dan Sophia. Keduanya mengangguk paham.
"Nona … apakah parah?"tanya Sophia, masih tak tenang.
"Berisitirahat dengan cukup dan pastikan tidak ada keributan. Jauhkan alkohol ataupun rokok dari Nona," jawab Dokter Liu menjelaskan.
Sophia kembali mengangguk. Erin dan Dokter Liu kemudian meninggalkan apartemen Roxena.
"Belum ada tanda-tanda?"tanya Erin saat keduanya sudah di dalam mobil.
"Kehamilan Nona tidak semudah itu, Erin. Kehamilan tidak hanya dipengaruhi oleh fisik tapi juga psikis. Kita berdoa saja semoga mereka segera berbaikan. Dan mulai menyadari perasaan satu sama lain."
"Perasaan?"beo Erin mengernyitkan dahinya.
Dokter Liu mengangguk. "Dari yang ku lihat tadi, tatapan Tuan saat kau menyebut jepit rambut adalah cemburu yang dipadukan dengan sedih. Lalu saat melihat Nona, ia menatapnya dengan tatapan bersalah dan menyesal."
Dokter Liu adalah orang yang sangat sensitif dengan perubahan seseorang. "Kisah mereka lebih rumit dari yang kita lihat, Erin."
*
*
*
Gerald merenungkan diri setelah mendengar perkataan Erin dan mengingat kembali hal-hal sebelum Roxena tak sadarkan diri. Gerald merenung seraya menggenggam jemari Roxena.
__ADS_1
Meskipun mata Roxena terpejam rapat, keangkuhan tak lekang darinya.
"Semua penderitaanmu karenaku?"
Sungguh karenaku.
"Aku menambah penderitaanmu. Aku benar-benar pria bre*ngsek!"
"Jelas-jelas aku tahu barang itu sangat penting bagimu. Tapi, sekali lagi kecemburuanku menghancurkannya."
"Sejujurnya aku sangat bingung. Diriku yang sekarang bukanlah diriku yang dulu. Tapi, kedua sifat dan perasaanku bercampur menjadi satu. Apa yang harus aku lakukan untukmu … agar kau bisa memaafkanku atas hal ini?"
Gerald sadar, untuk menembus kesalahannya di masa lalu mana mungkin cukup dengan satu hal.
"Lebih baik kau sadar dan memaki diriku, daripada kau memejamkan mata seperti ini. Hatiku sakit, perasaanku semakin tidak menentu. Xena, aku mohon sadarlah."
Air mata Gerald jatuh membasahi tangan Roxena.
Di bawah alam sadar Roxena, wanita itu dihadapkan pada kehidupan pertama dan kehidupannya saat ini. Perbedaan yang signifikan. Dua perasaan yang bergejolak di hatinya antara cinta dan benci. Tapi, ia tidak bisa memilih satu diantaranya keduanya.
Tiba-tiba Roxena merasakan ada yang jatuh dari atas. Itu adalah tetesan air yang semakin lama semakin deras. Kenangan yang ada di depannya berganti menjadi kenangan saat masa pernikahan mereka.
Meskipun benci mendominasi, mereka masih ada sisi romantis dan tampak saling mencintai.
Perlakuan Gerald yang lembut untuk mendapatkan cintanya sejujurnya menyentuh. Tapi, fakta bahwa untuk mendapatkannya Gerald membantai keluarganya adalah sesuatu yang tidak bisa ditoleransi.
Penderitaan antara benci dan cinta sudah ada sejak kehidupan masa lalunya.
Dan Roxena juga mendengar kata-kata Gerald. Di bawah hujan itu, tangis Roxena pecah.
Apa yang harus ia pilih?
*
*
*
Gerald tidur dengan tetap menggenggam jemarinya.
Sorot mata Roxena dingin. Membuat keputusan untuk tidak memberikan hati pada Gerald.
Tapi, keputusan itu tidak akan merubah apa yang telah berjalan. Tidak masalah. Ia memang menerima kelembutan Gerald tapi tidak memberikan hatinya pada Gerald. Ia akan tetap pada tujuan awalnya.
Roxena lantas menyingkirkan tangan Gerald. Ia bangun dan berjalan menuju jendela. Membuka gorden, hari masih gelap gulita.
"Sebenarnya takdir macam apa yang kau siapkan untukku? Mengapa harus ada kebimbangan padahal aku sudah lama memutuskannya?"gumam marah Roxena.
"Aku mulai muak. Aku ingin membunuhnya. Tapi, aku tidak bisa melakukannya."
"Siapa kau?! Siapa kau yang bisa seenaknya membolak-balik hatiku?!"
Roxena menunjuk langit malam yang penuh dengan bintang. Seolah senang menonton kehidupannya yang penuh dengan lika-liku.
"Tuhan, jika kau memang ada kapan aku bisa mendapatkan keadilan atas semua yang terjadi padaku? Keinginanku sederhana, membalas dendam dan bersatu bersama dengan kekasihku. Apakah begitu sulit?" Meratap. Roxena masih menunjuk langit dengan kesal.
Ughhh!!
Kepalanya terasa sakit lagi. Kesadarannya seperti ditarik.
"Ibu … ibu …."
Roxena mendengar suara anak kecil. Tapi, tak dapat melihat sosoknya. Hanya ada secercah cahaya yang sangat terang. Cahaya itu berada tak jauh dari dirinya.
"Siapa kau?"tanya Roxena dengan mata menyipit.
"Ibu." Cahaya itu kembali memanggil.
__ADS_1
"Rey?" Roxena memanggil.
Cahaya itu tidak segera membalas.
"Anggap saja begitu, Bu."
"Rey? Kau kah itu, Nak?" Mata Roxena dipenuhi dengan kerinduan. "Sayang … apakah ini pertanda kita akan segera bertemu lagi?"
"Semua yang terjadi telah ditakdirkan, Ibu. Sekeras apapun ibu mencoba tidak akan berhasil karena semua sudah ditentukan."
"Apa maksudmu, Rey? Ibu tidak bisa menerimanya!"
"Ibu … saya harap ibu mendapatkan kebahagiaan di kehidupan ini. Ibu … mungkin ibu bisa menentang takdir dengan kehidupan ibu selama ini. Tapi, Tuhan sudah menggariskan kehidupan ibu. Ibu jangan terlalu membenci Ayah dan terobsesi dengan dendam. Ibu … takdir kehidupan ibu bukan karena dendam. Takdir tragis kalian akan berubah."
"Dia membunuhmu, Rey! Dia bukan ayahmu! Bagaimana bisa ibu melupakannya?!"seru Roxena marah. Nafasnya menderu.
"Ibu pasti bisa. Kita akan segera bertemu, Ibu. Saya sangat menantikannya. Tolong jangan benci saya." Cahaya itu perlahan memudar dan Roxena kembali sadar dan menyadari bahwa ia kembali terbaring di ranjang.
"Xena, kau baik-baik saja? Apa perlu aku panggil dokter Liu lagi?" Ada Gerald yang begitu cemas padanya. Gerald terbangun saat mendengar teriakan Roxena dan mendapati Roxena terbaring di lantai.
Roxena tidak menjawab. Ia masih mencerna apa yang baru saja terjadi.
Ibu tidak mungkin membencimu, Rey.
"Xena?"panggil Gerald cemas. Roxena yang melamun menoleh.
"Aku baik-baik saja."
"Tapi, kau sudah dua kali tak sadarkan diri."
"Aku baik-baik saja!"tegas Roxena.
"Maafkan aku." Gerald menunduk. "Aku tak seharusnya emosi dan impulsif. Aku kembali menorehkan luka dalam hatimu."
"Katakan padaku. Apa yang harus aku lakukan agar kau bisa memaafkanku."
Gerald memohon.
Sama sekali tidak merubah mimik wajah Roxena. "Mengapa harus aku yang memikirkannya?"tanya Roxena dingin.
"Xena … aku bukan orang yang mengerti hal seperti ini. Tolong, katakan padaku. Aku akan melakukan apapun."
"Jika aku katakan untuk mengembalikan jepit rambut itu apakah bisa?"balas Roxena. Sorot matanya sedingin es. Sama seperti tatapan awal Roxena.
Gerald tercekat. Jepit rambut itu sudah hancur lebur tergilas kendaraan. Bagaimana cara mengembalikannya?
"Keluar. Aku ingin sendiri!"ucap Roxena kemudian.
"Xena."
"Keluar!"
Dengan enggan, Gerald keluar kamar dengan gontai. Pikirannya berkecamuk. Bagaimana cara mengembalikannya jepit rambut itu?
Meskipun kesal pada Gerald, Sophia juga tak tega melihat Gerald yang begitu lesu. Padahal suasana sudah nyaman mengapa kembali panas lagi?
"Bagaimana cara mengembalikannya?"
Sophia mendengar keluh Gerald yang berada di ruang tengah.
Sophia mendengar. Dengan wajah datarnya ia berkata, "jika tidak mampu bertanggung jawab jangan melakukan hal bodoh!"
"Sophia, tolong bantu aku." Gerald menatapnya putus asa.
Sophia menyipitkan matanya. "Di balik kesempurnaan Profesor Anda, ada kebodohan yang sangat besar," cibir Sophia.
"Ada cara mengembalikannya. Tapi, meskipun sudah kembali barang itu hanyalah sebuah tiruan yang kehilangan kenangannya."
__ADS_1
"Tidak masalah. Selama bisa mengembalikan barangnya!"
Sophia tersenyum sinis. "Buat kembali barang itu dengan tangan Anda sendiri!"