Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 43 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

"Ini … kalian yang membuatnya?" Gerald terhenyak dengan makanan di atas meja. Itu semua adalah makanan kesukaannya. Lily dan Sophia bekerja keras untuk membuatnya, mulai dari mencari tahu apa saja makanan kesukaan Gerald, resep dan hasil yang sempurna, serta bahan dan tata letak penyajian.


"Benar. Nona yang meminta kami untuk membuatnya," sahut Lily senang.


"Kalian … tahu dari mana?"tanya Gerald. Tak pernah ia membuka hal ini pada kedua pelayan itu.


Tunggu. Keduanya tersenyum melihat kepolosan Gerald. Gerald bergidik. Roxena benar-benar berkuasa!


Tapi, terlepas dari itu. Gerald senang. Masakan itu bisa mengobati sedikit kerinduan kampung halaman. "Terima kasih."


"Sudah tugas kami, Tuan."


Beberapa saat kemudian, Roxena bergabung dengan mereka. Wanita itu menggunakan dress berwarna biru dengan rambut digerai bebas. Mata hazelnya memancarkan kesan dingin.


Padahal tadi begitu dekat, mengapa dinding es itu kembali menebal?


Roxena menatap Lily dan Sophia, mengisyaratkan kedua orang itu menjauh dari meja makan.


"Bagaimana keadaanmu sekarang?"tanya Gerald membuka pembicaraan. Ya suasana ini, Gerald sudah mulai terbiasa.


"Baik," jawab singkat Roxena.


"Ada keluhan atau yang tidak nyaman?"tanya Gerald lagi.


"Ini bukan ruang pemeriksaan!"jawab Roxena. Menegaskan bahwa ini bukan saat membahas kesehatannya. Ia hanya ingin makan dengan tenang tanpa dijejali pertanyaan dan semacamnya.


"Ah. Kau tidak nyaman. Maaf."


"Hm?" Roxena tersentak pelan. Dan hanya mengangguk singkat. Keduanya makan dengan lahap. Roxena tampak tidak asing dengan menu sore ini.


Selesai makan, mereka berpindah ke ruang tengah. Hening. Tidak ada yang memulai pembicaraan.


Aku buntu. Apa aku tanya lagi tentang kesehatannya? Masalah tadi dengan karakternya malah akan berang jika ku tanyakan. Bagaimana ini? Keheningan ini menyekikku!!jerit Gerald frustasi dalam hati.


"Aku akan memberikan kompensasi karena menyusahkanmu. Minta apa saja kecuali yang berhubungan dengan wanita itu dan juga jadwal kerjamu. Dokter-dokter Lawrence Hospital adalah dokter yang telah melewati seleksi tinggi. Selain itu aku membayar mereka untuk bekerja. Kau tidak boleh direndahkan dan ditindas di wilayahku! Hanya aku yang bisa menindasmu!" Kata-kata dingin yang angkuh. Wanita itu serius dengan apa yang ia katakan.


"Huh?" Gerald tidak menyangka hal ini. Ia bisa minta apapun kecuali dua hal. Tapi, apa yang Roxena pikirkan saat ini? Memberinya kompensasi? Apa menurut Roxena, dirinya dirugikan karena merawat dan menemani istri yang sedang sakit? Ah, jika sebelum ia memantapkan tekad mungkin iya tapi Gerald tak merasakan itu sekarang. Sebaliknya, Gerald senang.


Meskipun demikian, kompensasi adalah hal yang menggiurkan.


"Ehem."


"Jika demikian izinkan aku menyampaikan satu permintaan."


"Sungguh cepat kau memikirkan. Mau sudah memikirkannya sejak lama, bukan?"tanya Roxena, dingin dan menyindir.


"Tidak."


"Hm?"


"Sebagai suami istri kita perlu merekatkan hubungan. Bisakah kita melakukan hal-hal yang normal dilakukan suami istri?"tanya Gerald menyampaikan keinginannya. Untuk memahami Rocens, Gerald perlu banyak komunikasi dengan Roxena.


Gerald cemas. Permintaan ini pasti menimbulkan kecurigaan bagi Roxena. Lihatlah matanya yang menyipit seakan menelanjangi dirinya.


"Kemarin kau meledak-ledak marah padaku. Saat ini … apa kau sedang mengejarku?"


"Mungkin."


"Apa alasannya? Wanita itu … apakah dia bukan prioritasmu lagi?"


Deg!


Gerald terdiam cukup lama. "Apa yang membuatmu berubah seperti ini? Apa kepalamu terbentur sesuatu? Atau jiwamu sudah berganti?"


"Karena … masa lalu dan juga kau lebih daripada Elisa."


"Masa lalu?" Roxena cukup tenang menghadapinya.


"Aku akan berusaha menebus kesalahanku di masa lalu. Aku tidak akan lari, bahkan jika kau memberiku kesempatan untuk itu," tutur Gerald tegas. Cukup sudah bermain tarik ulur. Benang merah harus diluruskan menjadi benang biru.


"Kau yakin?"


"Yakin!" Gerald merasa mantap dengan keputusannya. Meskipun ada rasa bersalah untuk Elisa.

__ADS_1


"Meskipun wanita itu berdiri di hadapanmu?"


"Ya!"


"Hubungan suami istri normal termasuk urusan ranjang?"tanya Roxena frontal. Ia ingin kepastian. Pembicaraan ini menarik. Membuat mood nya membaik. Tanpa diduga Gerald yang lebih dulu menundukkan kepalanya. Ini - perkembangan yang sangat bagus.


Namun, Gerald tidak refleks menjawab. Pria itu terdiam seakan baru memikirkannya. Rosana mengetukkan jarinya di lengannya.


"Kita adalah suami istri," jawab Gerald setelah cukup lama mempertimbangkan. Gerald memalingkan wajahnya. Pipi dan telinganya bersemu merah.


"Baik. Aku menerimanya."


Gerald lega mendengarnya. "Tapi, aku pebisnis. Kesepakatan tanpa kontrak sama saja bohong. Lily ambilkan kertas dan penaku."


Oh. Gerald paham. Mana mungkin Wanita itu percaya begitu saja. Tapi, mengapa tidak diketik saja? Itu lebih efisien dan rapi ketimbang tulis tangan, bukan?


"Eh?"


Gerald terhenyak melihat alat tulis yang dibawa Lily. Kertas itu bukan kertas pada umumnya. Seperti kertas untuk kanvas lukis dengan kualitas terbaik. Lalu pena dan tintanya.


Gerald berpikir bahwa Roxena mempertahankan hal tersebut. Melihatnya serius menuliskan surat kontrak, Gerald yang bisa untuk berhenti terkejut. Tulisan itu begitu rapi. Ujung pena yang lebih tebal dari pena pada umumnya, menuliskan jelas kata demi kata dalam penulisan tegak bersambung. Tulisan tangan yang indah.


"Tanda tangani." Roxena menyerahkan pena dan juga kontrak yang baru saja selesai dan ditandatangani.


Gerald membaca lebih dulu. Isinya tak berbeda dari point-point yang telah mereka bicarakan. Segera ditandangani dan dikembalikan pada Roxena.


"Berikan pada Pengacara untuk di stempel." Sophia menerimanya dengan hati-hati.


"Kita punya teh?"tanya Roxena pada Lily.


"Tidak ada, Nona." Roxena tidak pernah mengonsumsi teh di sini. Yang tersedia hanyalah coklat bubuk, bubuk kopi, dan juga minuman beralkohol.


Roxena menghela nafas kasar, tampak kecewa. "Padahal aku ingin tea time," gumam Roxena. Kebiasaan lama di kehidupan sebelumnya. Rutinitas saat masih hidup sebagai seorang bangsawan.


"Em Nona, Anda ingin teh yang bagaimana? Saya dengar teh dari Tiongkok adalah yang terbaik. Namun, Anda terlihat suka mawar, bagaimana dengan teh mawar?"saran Lily.


"Hm … mawar."


"Tidak, buat sendiri," ucap Roxena yang mengagetkan Lily.


"Keberatan?"tanya Roxena pada Lily.


"Tidak, Nona! Saya sanggup!" Lily menyanggupi. Roxena mengangguk senang.


"Hmm … lalu apa yang kita lakukan?"tanya Roxena menatap Gerald. Mereka sudah sepakat untuk menjadi suami istri normal.


"Kau mau melakukan apa?"tanya balik Gerald.


"Tidak ada," jawab Roxena. Ia tidak ingin melakukan apapun selain bersantai. Juga berencana tidak ke kantor besok.


"Baiklah. Kau istirahat saja. Aku akan ke kamar." Gerald berdiri.


Tunggu! Kamar?!


"Suami istri normal mereka satu kamar, kan?"


Gerald membeku.


Satu kamar?


"Err … mungkin," jawab Gerald kaku, wajahnya kembali bersemu merah. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain


"Pffftt … hahahaha …." Roxena tertawa lepas.


Disusul dengan suara pintu yang cukup keras. Roxena masih tertawa. Sedang Sophia dan Lily menjulurkan kepala mengintip. Ekspresi keduanya jengah. Mengira kedua orang itu berdebat dan Gerald kalah.


"Pia, kemari lah." Sophia terkejut. Ia mendekat lambat.


"Kau pergilah ke kediaman lama. Ambil mawar di sana. Lalu …."


Roxena menjeda ucapannya. Matanya sedikit berseri namun kembali mendingin. "Tanyakan pada Tuan Besar koki mana yang membuat dessert kemarin."


"Dessert? Anda menginginkan? Kami bisa membuatnya," heran Sophia. Ia dan Lily adalah paket pelayan komplit. Dari pekerjaan rumah tangga, koki handal, dan anggota dengan tugas berangkap.

__ADS_1


"Rasanya berbeda. Aku ingin makan dari tangan yang sama."


"Uhm … baik, Nona."


Sophia segera menjalankan perintah. Sedangkan Lily, ia kembali membuat catatan mengenai teh mawar. Dari bahan, proses pengiriman, dan juga penyeduhan.


"Akan lebih baik jika memiliki teh jenis lain. Aku akan minta pada dokter Liu," gumam Lily senang.


Kini, Roxena sendirian di ruang tengah. Menyunggingkan senyum sinis. Entah ini permainan atau sungguhan, aku akan menikmatinya. Aku menantikan kehidupan kita, Gerald.


*


*


*


Sampai senja menghilang dan hari mulai gelap, Roxena tak beranjak dari ruang tengah. Ia membaca sebuah buku tebal.


Roxena tenggelam dalam bacaannya. Ia menghabiskan waktu dengan bersantai. Menenangkan pikirannya dan sesekali muncul ide atau rencana di benaknya.


"Nona."


Roxena menoleh. Lily sudah kembali dengan membawa satu keranjang penuh kelopak mawar.


"Saya kembali bersama dengan dessert." Mengangkat satu keranjang lagi.


"Bagaimana dengan kokinya?"


"Tuan Besar tidak memberitahu saya, Nona. Beliau hanya berkata akan mengirimkan dessert seperti ini setiap akhir pekan. Juga ada teh mawar buatan sendiri yang dibawakan oleh Tuan Besar," jelas Lily.


"CK!" Roxena berdecak.


Sampai kapan mau berbohong?


"Baiklah. Sajikan untukku!"


Lupakan saja! Dessert time lebih utama. Sangat cocok jika dipadukan dengan teh dan juga membaca.


Lily bergegas. Tak butuh waktu lama untuk menyajikannya.


Roxena mencium aroma teh itu. Aroma segar yang manis. "Ahhh!" Perasaan lama yang terangkat kembali.


Lily tersenyum lebar melihat Roxena yang menikmati sajian itu. Roxena memang tak berniat untuk makan malam. Ia ingin beberapa cemilan dan kebetulan dibawakan dessert ini.


"Ah, ya Nona. Tuan Besar menitip pesan pada saya. Beliau bertanya kapan Anda dan Tuan berkunjung ke kediaman lama? Beliau ingin melakukan perjamuan untuk merayakan pernikahan Anda," ucap Lily menyampaikan pesan lisan yang ia terima dari Tuan Lawrence.


"Beliau berkata pesta pernikahan itu hal yang penting. Karena Anda dan Tuan sama-sama sibuk beliau berkata bahwa beliau yang akan menjadi penanggung jawab acara. Beliau akan mengurus semuanya. Anda dan Tuan hanya perlu hadir dengan pakaian pesta pernikahan. Beliau juga menambahkan menanti kabar baik dari Anda dan Tuan," lanjut Lily. Lily terlihat sangat bersemangat. Lain dengan Roxena yang muram.


"Sudah terdengar olehnya, ya?" Gala dinner kemarin menciptakan banyak berita tentangnya dan juga Gerald.


"Ini akhir musim panas. Mungkin di akhir musim gugur bisa dilakukan. Ada banyak hal yang harus diurus," jawab Roxena setelah berpikir cukup lama.


Roxena harus menyelesaikan merger dan akuisisinya. Belum lagi harus waspada dan membuat banyak rencana untuk menghadapi musuhnya. Ingin istirahat cukup? Itu tampaknya akan sulit sekalipun Erin membuat jadwal sedemikian rupa.


"Hah! Aku ini bukan Nona Muda biasa, Lily. Tanggung jawabku sangat banyak. Menjadi kepala keluarga, aku belum melakukan perjamuan resmi untuk anggota keluarga. Ahh, jika diingat-ingat aku akan melakukan banyak perayaan. Akan lebih baik jika semuanya digabungkan. Itu lebih efisien."


"Setuju, Nona!" Lily semakin bersemangat.


"Roxena." Seseorang memanggil namanya.


"Gerald?" Pria itu baru keluar kamar, mengenakan celana pendek dan kaos polos.


"Mungkin sudah saatnya tidur satu kamar," ucap Gerald. Terasa jejak malu-malu di sana.


"Khayyy!!"


Lily berteriak histeris. "Sungguh? Sungguh? Ahhh … terima kasih, Tuhan! Anda sudah memberi pencerahan untuk Tuan dan Nona!!"


"Hentikan, Lily!"seru Roxena. Namun, wanita itu malah melenggang mencari Sophia. Astaga, suara girangnya terdengar jelas.


Wajah Gerald merah padam. Tapi, tidak melangkah pergi. Ia mulai memberanikan diri menatap Roxena.


"Baiklah." Roxena mengulas senyum lebar. "Mari tidur satu kamar!"

__ADS_1


__ADS_2