Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 19 Menjemput Suami


__ADS_3

Roxena melepas kacamatanya, menatap rumah sakit keluarga Lawrence yang berdiri tegak di hadapannya. Rumah sakit modern dengan bangunan dinding didominasi kaca. Cahaya matahari sore, memantul dan menyilaukan mata.


Masih mengenakan dress di pelantikan tadi, Roxena melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Matanya mencari arah ke bagian bedah jantung dan paru-paru.


"Nona." Direktur rumah sakit datang tergopoh menghampiri Roxena yang kini berdiri di balkon, menatap aktivitas di lantas dasar dan juga mobilitas sepanjang mata memandang.


"Hm?" Roxena melirik sinis.


Direktur rumah sakit meringis pelan. Waktu sakit saja sudah menakutkan. Dan kini, berdiri di depannya dengan keadaan pulih.


"Presdir."


"Apa ada yang memanggilmu?"tanya Roxena, dengan tetap pada posisinya.


Direktur rumah sakit melirik staff yang ikut bersamanya.


"Saya mendengar kabar kedatangan Anda, Presdir."


"Suamiku, di mana dia?"tanya Roxena, tak menanggapi jawaban itu.


"Professor Gerald? Beliau sedang melakukan operasi, Presdir."


Roxena berbalik. "Tunjukkan jalannya."


Direktur rumah sakit itu bergegas, mempersilahkan Roxena mengikutinya.


"Nona."


"Presdir." Direktur rumah sakit menyapa, menyiratkan untuk memberi sapaan ulang.


"Presdir."


Kini, di sinilah Roxena berada. Matanya melihat ke bawah, di mana Gerald tengah fokus melakukan operasi. Di tempat yang sama dengan dirinya pula, ada banyak dokter lain juga dokter magang yang menyaksikan Gerald melakukan operasi.


Mata Roxena menyipit, "apa mereka tidak ada pekerjaan?"tanya Roxena.


"Mereka tengah belajar, Presdir. Mengamati dan mempelajari cara Professor melakukan operasi. Prof adalah salah satu dokter spesialis yang terkenal di bidangnya," ungkap direktur rumah sakit, menjelaskan dengan hati-hati.


"Oh."


Roxena memperhatikan Gerald. Agaknya kata-kata pria lebih tampan saat sedang serius benar adanya. Roxena melengkungkan senyum. Bukannya lega, orang yang berada di sekitarnya malah bergidik.


Dan dengan cepat, satu persatu dari para magang dan dokter lainnya meninggalkan ruang, menyisakan Roxena, direktur rumah sakit, dan beberapa staff yang ikut dengan mereka tadi.


"Sudah selesai, Presdir," ujar direktur rumah sakit memberitahu.


"Hm."


Roxena melihatnya. Gerald mengangkat kedua tangannya diikuti padamnya lampu operasi. Roxena kemudian melangkah keluar, menunggu di depan ruang operasi. Di sana ada dua pengawal Gerald. Roxane menyuruh mereka untuk pergi.


"Kau?"


Gerald terkejut dengan kehadiran Roxena tepat saat ia keluar dari ruang operasi. Bahkan ia belum menurunkan masker dan penutup kepalanya. Direktur rumah sakit menyapa Gerald ramah. Pria itu, bukan sekadar dokter di rumah sakit ini namun juga suami dari Roxena, Presdir mereka.


"Mau apa kau?"tanya Gerald dingin.


Ya meskipun interaksi suami dan istri itu tidak normal.

__ADS_1


"Menjemputmu," jawab Roxena santai. Ia melebarkan senyumnya. Dengan cepat menggendong Gerald meninggalkan area ruang operasi.


"Lepas!" Gerald memberontak, berusaha melepaskan gandengan tangan Roxena. Namun, tak bisa. Gerald, pria itu sama sekali tidak menjaga air wajahnya. Tak peduli meskipun ditatap aneh sepanjang jalan yang mereka lewati menuju ruangan Gerald.


"Cepat ganti bajumu!"titah Roxena. Ia duduk di kursi kerja Gerald.


"Apa maksudmu?"tanya Gerald. Ia bertanya sembari membuka pakaian operasinya. Menunjukkan bentuk tubuhnya pada Roxena.


Bukan terpesona. Roxena malah menatapnya dingin. "Apa kau sedang menggodaku?"tanya Roxena dingin.


"Hah?" Gerald tersedak. Matanya menatap horor Roxena. Apa wanita itu serius? Menggoda dirinya?


Huek!!


Gerald merasa mual seketika. Ia kini membelakangi Roxena. "Aku punya banyak pria dengan tubuh sepertimu. Ah, kau harus olahraga. Lemakmu sudah menumpuk," ucap Roxane dengan tatapan sinisnya.


Hah?


Terkejut. Gerald mematung, menatap dirinya di depan cermin.


Lemak katanya?


Tampaknya terpengaruh dengan ucapan Roxena. Menyentuh perutnya. "Inikan karenamu!"berang Gerald, menunjuk kesal Roxena. Entahlah, dirinya selalu kesal jika berurusan dengan Roxane.


"Me? Di apartemen ada gym, mengapa tak kau gunakan. Lagipula apa aku melarangmu olahraga dan makan kenyang? Huh!!"dengus Roxane.


"Ah, cepatlah pakai bajumu. Mataku sakit!"


Roxane berdiri dari duduknya. Gerald gegas memakai kemejanya.


"Ayo."


"Ikut saja."


"CK!"


Tiba di parkiran, Roxane menyerahkan kunci mobilnya pada Gerald. Tadi, Roxane mengemudi sendiri.


"Apa ini?"tanya Gerald, mengernyit melihat kartu mirip ATM yang diberikan oleh Roxane.


"Kunci mobil."


"Ah, dasar udik!"decak Roxane. Ia merebut kunci mobil itu dan membuka pintu mobil lalu menyalakan mesin mobil sebelum akhirnya beralih duduk di kursi kemudi.


Gerald masuk. Benar, ia merasa udik saat ini. Namun, tak mungkin mengatakannya.


"Itu inovasi terbaru dari Lawrence Motor. Mobil ini, juga mobil modifikasi. Jadi, ada beberapa fitur yang tidak ada di mobil biasa," ucap Roxane memberitahu.


Gerald yang sudah mengemudi, melirik Roxane yang menatap keluar.


Mengapa mengatakannya padaku? Memangnya aku peduli?


"Ini mobil baru, aku berikan untukmu."


Alis Gerald terangkat sebelah. Bukankah ia sudah punya mobil.


"Kaca mobil ini anti peluru. Bodynya juga sudah diperkuat, termasuk bannya. Speed mencapai 300 km perjam. 0-100 meter hanya perlu 2.9 detik. Ini mobil yang cocok untukmu sebagai suamiku," jelas Roxane lagi. Ia bicara dengan tetap melihat keluar.

__ADS_1


"Kursi penumpang bisa direbahkan, kau bisa istirahat dengan nyenyak saat perjalanan pulang -."


"Aku menolaknya!"


"Hm?"


"Aku tak butuh mobil ini atau barang apapun darimu. Kau memang menikahiku secara paksa. Namun, bisakah kau sedikit memberiku muka? Jangan tunjukkan kekayaan atau kuasamu di hadapanku! Aku muak!"pungkas Gerald. Ia merasa harga dirinya tercoreng.


"Oh? Ya sudah simpan saja di garasi," sahut Roxane enteng.


Garasi? Apakah ada garasi di apartemen? Basement, bukan?


"Gerald," panggil Roxane pelan.


"Ya?"


"Arahnya salah," ucap Roxane.


"Kita mau ke mall."


"Mengapa tak kau bilang dari tadi?!"kesal Gerald. Ia putar balik segera.


Roxane tertawa pelan. "Jika terus seperti ini, aku bisa melupakan dendamku," kekeh Roxane.


Gerald melirik sinis.


"Aku masih menanti penjelasan darimu!"tandas Gerald.


"Hahaha, apa yang mau dijelaskan? Biarkan saja waktu yang menjawabnya. Toh, masa-masa kita masih panjang," ucap Roxane, sendu.


Nyutt!


Perasaan ini lagi? Sebenarnya apa? Mengapa hatiku selalu sakit melihat wajah sendunya?


"Gerald." Roxane kembali memanggil.


"Hm." Disahut dengan gumam.


"Apa kau masih mencintainya?"tanya Roxane, serius. Ia benar-benar menantikan jawaban.


"Ya." Menjawab tanpa ragu.


"Sampai kapan?"


"Selamanya."


"Benarkah?"


"Kau pikir perceraian paksa ini menghapus cintaku untuknya? Kalau salah besar! Selamanya, hatiku hanya mencintainya!"


"Ah, pembicaraan ini tak akan berujung. Lupakan saja."


Kini, mereka sudah tiba di mall. Entah apa yang ingin Roxane lakukan.


"Gerald."


Memanggil lagi. "Ya?" Gerald menjawab dengan geram.

__ADS_1


"Satu yang harus kau tahu. Semua terulang kembali. Hanya saja, kita bertukar peran. Aku pernah menjawab selamanya akan mencintainya. Namun, aku goyah. Aku merasa bersalah. Memutuskan untuk mengakhiri dengan membawa dendam dan air mata bersamaan. Aku penasaran, apakah akhirnya akan sama atau berbeda?"


Gerald tertegun. Dengan kata-kata itu dan perubahan ekspresi Roxane yang kembali dingin. Wanita itu, menarik seringai.


__ADS_2