Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 104 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

Keesokan paginya, Xavier dengan malas beranjak dari ranjangnya. Sudah ada asisten pribadi dan para pelayan yang menyambutnya, membantu dirinya bersiap untuk hari besarnya.


Selesai mandi, para pelayan membantu Xavier mengenakan pakaian resmi kerajaan. Pakaian berwarna hitam lengkap dengan aksesorisnya.


Penampilannya sempurna. Segera bergabung dengan kedua orang tuanya. Raja dan Ratu juga tampil formal. Wibawa mereka menyebar, bertambah besar saat menggunakan pakaian formal kerajaan.


Acara pemberkatan akan dilakukan pukul 12.00 waktu setempat.


Setibanya di gereja tempat dilangsungkannya pemberkatan, mereka langsung mengambil posisi masing-masing dan para tamu undangan yang diundang untuk menghadiri prosesi juga sudah berdatangan. Tak terkecuali, Roxena dan Gerald yang sudah menempati kursi. Keduanya tampak semakin serasi dengan balutan pakaian couple berwarna salem.


Gerald yang lebih ekstrover mengobrol dengan beberapa orang yang ada di dekatnya sedangkan Roxena lebih kepada acuh. Terdengar masih ada kata-kata ucapan selamat untuk kehamilan Roxena, hanya disambut dengan senyum tipis. Pernikahan ini dilakukan pada weekend, jadi keduanya tak perlu mengambil cuti.


Tak lama kemudian, prosesi pernikahan dimulai. Acara ini disiarkan secara langsung. Jadi, rakyat yang penasaran bisa menyaksikan melalui live streaming.


Pengantin wanitanya datang. Gaun putihnya memiliki ekor yang sangat panjang. Menyeret di permadani merah. Di balik tudung itu, tersimpan wajah yang sangat rupawan. Ia menuju altar bersama dengan sang ayah.


Langkah demi langkah, pandangan ke depan, semakin dekat dengan altar pernikahan. Mireya tersenyum kala Xavier mengulurkan tangannya.


"Yang Mulia Xavier, saya serahkan putri saya pada Anda," ucap Perdana Menteri sopan.


Xavier mengangguk singkat.


Di lain sisi, Roxena menatap gaun yang digunakan Mireya dengan penuh minat. Menyadari tatapan sang istri, timbul keinginan Gerald untuk mengejek.


"Gaun pernikahannya sangat berbeda dengan gaun hitammu, Xena," bisik Gerald yang langsung membuat Roxena mencembik kesal. Lirikan tajam ia layangkan pada sang suami.


"Berisik!"


"Hanya kau yang membuat prosesi pernikahan menjadi suram, Xena. Mengucap janji suci tidak akan terulang lagi. Kau … tidak akan bisa memakai gaun seperti itu." Gerald terus menggoda seraya menyindir. Entahlah, senang melihat wajah Roxena bersemu kesal.


"Berisik!"


"Gaun itu setidaknya membutuhkan waktu sebulan pengerjaan desainer ahli. Belum lagi tiaranya. Xena, kau iri kan dengan gaun miliknya?"


"Mulutmu mau dijahit hah?"bisik Roxena mengancam. Gerald tersenyum lebar sebagai jawaban.


"Baru kali ini aku melihatmu iri dengan pakaian orang lain. Tapi, bagaimanapun kau tak akan bisa menggunakannya." Ucapan Gerald itu malah semakin memantik Roxena.


"Benarkah?"


Keduanya terus berbisik. Hingga akhirnya Gerald merinding melihat senyum Roxena.


Sepertinya aku membangunkan ambisi yang tidak seharusnya.


"Aku menyatakan mereka sebagai suami dan istri!!"


Tepuk tangan meriah menyambut pernyataan itu.


"Aku tidak iri, Gerald." Acara di dalam gereja telah usai. Kini pengantin baru itu sudah naik kereta kencana untuk melakukan parade menuju lokasi jamuan makan siang. Roxena menatap itu dari anak tangga gereja. Gerald menopang tubuhnya agak tidak oleng.


"Aku sudah merasakan gaun seperti itu. Pernikahan megah dan pesta yang panjang." Tatapan Roxena sendu.


"Yang aku sayangkan adalah … mengapa aku terlambat menyadarinya dan membuat pernikahanku suram. Of course. It's my fault. Aku … hanya sedikit menyesal."


"Tidak perlu dirisaukan, Xena. Meskipun prosesi pernikahan kita suram tapi pernikahan kita penuh warna. Tak perlu disesali." Tadi, Gerald hanya bercanda. Ia tak mau Roxena terus memikirkannya. Tak baik untuk kesehatan.


"Tapi, aku sudah menemukan cara untuk mengurangi rasa penyesalan ini."


"Dengan cara?" Senyum Roxena membuat Gerald berdecak. Apapun itu, ia akan mengelus dada sebagai reaksi.


*


*


*


Stella termangu menatap televisi yang tengah menyiarkan acara pernikahan Xavier. Jade mengizinkan dirinya untuk menyaksikan acara itu.


Hatinya berdenyut sedih, juga bercampur kesal.


"Dari sekian banyak wanita mengapa harus dia?"gumam Stella. Sudah jadi rahasia publik jika Stella tidak begitu akur dengan kakak iparnya saat ini.


"Apa yang kau pikirkan, Stella?" Jade datang dan langsung duduk di samping Stella. Memberikan kecupan pada wanita itu.


"Aku tidak suka dia," ucap Stella menunjuk Mireya yang tampak tengah tersenyum lebar menyapa rakyat.

__ADS_1


"Tidak ada urusan denganmu lagi." Jade mematikan televisi.


"Ingat, Stella. Sekarang kau bukan lagi bagian dari mereka!" Mencengkram dagu Stella.


Stella tersenyum tipis. "Kau sudah mengisolir diriku dari pergaulan, Jade. Sisa hidupku akan aku habiskan bersamamu."


"Baguslah jika kau sadar."


Tangan Jade lalu mengusap perut rata Stella. " Di sini ada anak kita. Kau harus menjaga dirimu baik-baik, Stella."


"Dua puluh empat jam aku diawasi, Jade," sahut Stella pelan.


"Omong-omong, mengapa kau tidak menyukainya? Dari track record nya, dia cocok bersanding dengan Xavier."


Stella tidak menjawabnya. Baginya itu sudah selesai. Meskipun ia tidak menyukai Mireya namun benar kata Jade, Mireya pantas mendampingi kakaknya. "Aku lelah, Jade."


Jawaban Jade adalah menggendong Stella menuju kamar.


Obsesi bercampur dengan cinta. Semula obsesi Jade adalah menaklukan Stella. Dan berlanjut dengan membuat Stella bergantung padanya dari segala sisi, seolah Stella tidak akan bisa hidup tanpa Jade.


Stella, wanita itu sudah sangat pasrah. Kecerdasannya hilang, menguap entah kemana. Berharap bahwa suaminya hanya akan memperlakukan dirinya dan anaknya kelak dengan baik.


*


*


*


Perayaan pernikahan Xavier dan Mireya berlangsung selama 7 hari. Di hari terakhir pesta, Roxena dan Gerald kembali hadir sebagai tamu. Sekali lagi memberikan ucapan selamat pad Xavier dan Mireya.


Pesta itu dihadiri banyak tamu, lebih banyak dari pada tamu di pesta sebelumnya karena merupakan akhir acara, bukankah akhir adalah puncak?


Instrumen dimainkan mengiringi pesta. Pelayan hilir mudik mengantarkan minuman. Pemandangan lazim di pesta-pesta seperti ini.


“Semoga segera dikaruniai pewaris, Yang Mulia,” ucap Stella dengan sungguh-sungguh.


“Tunggu saja kabar baiknya, Nyonya Lawrence,” sahut Xavier, tersenyum paham akan maksud Roxena.


Aku mendukung kerajaan ini. Jika ingin aku rebut kekuasaan kalian, sudah sejak lama aku lakukan. Ingat ini, Yang Mulia Putra Mahkota Xavier, aku tidak akan mengusik jika tidak diusik. Jadi, sebaiknya pikirkan ratusan kali sebelum mengusikku!!


Peringatan Roxena beberapa waktu lalu terngiang di ingatan Xavier. Mimik serius Roxena membuat xavier takut.


“Lalu, pria kolot itu, taklukan saja. Anda punya hak atas dirinya,” tambah Roxena dan itu membuat Mireya sedikit terbelalak. Apa Roxena tahu sesuatu? Bagaimana caranya?


“Semoga kebahagian melingkupi Kerajaan dan seisinya. Semoga sejahtera dan damai selalu. Selamat!!” Roxena mengangkat gelasnya ke atas, suaranya yang lantang lantas dibalas dengan koor selamat dari para tamu. Gerald dan Roxena kemudian berpamitan, mereka meninggalkan pesta.


“Mengapa kau sangat peduli dengan urusan ranjang mereka, Xena?” Gerald yang sedari tadi menahan rasa penasaran langsung bertanya kala mereka sudah di mobil.


“Jika terjadi pergeseran kekuasaan karena tidak segera ada kabar pewaris selanjutnya, maka akan mempengaruhi banyak sektor, Gerald. Saat ini, Xavier tidak punya wanita yang ia cintai jadi secepatnya ia harus memiliki anak dan jatuh cinta pada Mireya.”


“Bukankah terlalu awal untuk mengkhawatirkannya, Xena? Mereka baru seminggu menikah,” heran Gerald. Roxena berdecak lalu membisikkan sesuatu pada Gerald. Sorot mata Gerald tercengang.


“Jika Xavier tidak memulai, biarlah Mireya yang memulai.”


“Aku lelah. Dua anak ini kian hari kian berat,” aduh Roxena menatap perutnya yang membuncit.


Gerald tidak mengatakan apapun selain mengusap perut Roxena.


*


*


*


“Tidak ada yang salah dengan Istri Anda, Yang Mulia.” Sekretaris Xavier melapor.


“Tidak mungkin. Pasti ada.” Xavier menolak laporan itu. Masih bertahan dengan pemikirannya sendiri. Drama pernikahan romantis, entah sampai kapan Xavier bisa melakukannya. Di luar ia memperlakukan Mireya hangat sedang di dalam kediamannya begitu dingin.


“D-Dia! Pasti ada alasannya dia mau menikah denganku. Dia sangat tidak menyukaiku! Sejak kecil, dia selalu memusuhi dan membuatku sial!!”


“Bahkan lihat ini, dia mencubitku tadi. Aku bisa mati jika harus seumur hidup dengannya!!”ratap Xavier menunjukkan bekas cubitan Mireya pada sang sekretaris.


“Sudah malam, apa pekerjaan Anda belum selesai juga, Yang Mulia?” Dari arah pintu, Mireya datang, memberikan tatapan tajam pada Xavier.


“Lihat itu, kau lihat kan. Tatapannya seperti mau membunuhku!!”seru Xavier berlindung di belakang sekretaris. Sungguh, tubuh tegapnya tak berguna saat ini.

__ADS_1


“Hamba pamit.” Sekretaris memilih pergi.


Xavier memanggil sekretarisnya namun sekretaris malah mempercepat langkahnya.


“Berhenti di sana, Mireya!!”seru Xavier saat Mireya melangkah masuk.


“Mengapa? Kita suami istri, aku tidak akan membunuhmu, Xavier.” Mireya memutar bola matanya malas, “ckckck!! Tubuh tegap tentaramu tak ada artinya. Kau … penakut sejak dulu!!”cibir Mireya.


“Diam kau!!” Xavier gemetar. Tampak seperti trauma. Mireya menghentikan langkahnya, sekitar tiga langkah lagi dari Xavier yang berlindung di balik meja.


“Saatnya tidur, ayo!!” Mireya melipat kedua tangannya di dada. “Saatnya membuat pewaris.”


Mata Xavier melotot sempurna. “NO!!”


“CK!” Mireya berdecak. Lalu ia berbalik, “Ingat penolakanmu ini, Xavier.” Lalu melangkah keluar.


Karena ini adalah penolakan terakhirmu.


*


*


*


Mengapa sangat panas?


Xavier merasa tidak nyaman. Ia berhenti sejenak dari pekerjaannya untuk mengipasi wajahnya yang memerah.


“Anda baik-baik saja, Yang Mulia?”


“Dinginkan lagi AC-nya!”titah Xavier yang segera dilaksanakan.


Xavier melepas beberapa kancing kemejanya. Rasanya sangat panas semakin panas dan seperti membuatnya gila. Rasa tidak nyaman berkumpul di umbun-umbunnya. Nafasnya mulai terengah meskipun suhu ruangan semakin dingin. Dalam hati bertanya-tanya, apa yang terjadi padanya?


“Wajah Anda semakin merah, Yang Mulia. Akan saya panggilkan tim dokter.” Xavier mengangguk singkat.


Sial! Apa itu!!


Dalam suasana itu, ia malah teringat bentuk tubuh Mireya pada malam pernikahan, di mana saat itu Mireya mengenakan lingerie yang menonjolkan bentuk tubuh.


“Gila!!”umpat dirinya saat melihat sosok Mireya mendekat. Xavier merasa dirinya berhalusinasi. Mireya datang dan menyentuh dirinya, panas dan semakin panas dan kini berkumpul gairah pada satu titik, gairah yang menginginkan kepuasan mutlak.


Gairah mengalahkan logika. Ia menikmati sentuhan Mireya, wanita dan istri yang ia benci. Rintihan kenikmatan keluar dari bibirnya dan itu terdengar sampai ke pintu keluar. Sekretaris mengurungkan niatnya dan mengiring dokter yang panik menjauh. Keheranan para dokter dijawab dengan senyuman manis sang sekretaris.


Di ruang kerja itu terdapat ruangan yang diperuntukkan sebagai kamar untuk beristirahat. Di dalamnya adalah sepasang suami dan istri yang tengah bergelut bermandikan keringat. Kamar itu menjadi saksi seorang gadis menjadi wanita dan saksi bahwa Xavier sangat menyukai aktivitas intim bersama istrinya itu.


Hingga akhirnya mereka tertidur dengan berpelukan. Senyum puas terukir dari keduanya. Namun, kepuasan itu berubah jadi sesuatu yang menakutkan bagi Xavier saat ia sadar. Ia berteriak histeris saat bangun. Tubuh telanjang yang penuh dengan bercak lalu Mireya yang terbangun di sisinya. Matanya membulat sempurna, menunjuk Mireya dengan takut, “kau!! Aku!! Mengapa?!!!”


“Kita suami istri, Xavier.” Xavier ingat semuanya.


“K-Kau menjebakku?!”


“Ah, hanya memberikan pancingan.” Tak ada rasa takut atau rasa bersalah.


“Mengapa?!” Pria itu berteriak keras dan menunjuk murka Mireya yang tetap tenang sambil memunguti satu persatu pakaiannya, merenggut saat tahu pakaian itu robek.


“Aku tidak menginginkanmu, Mireya! Aku tidak menyukaimu! Mengapa kau lakukan ini? Untuk apa? Pewaris?! Agar kau bisa semakin berkuasa? Atau untuk keuntungan Ayahmu?!”


Mireya menatap Xavier tidak senang. “Kita adalah suami istri. Hubungan ini bukan sesuatu yang salah! Lalu pewaris, bukanlah sudah menjadi tanggung jawab kita untuk menghadirkannya?!”


“Kemudian jangan bawa-bawa Ayahku dalam hubungan kita karena Ayahku tidak menginginkan apapun selain kebahagiaanku dan ketentraman negeri ini!!”


“Xavier hentikan pemikiran negatifmu tentangku. Aku menikah denganmu bukan karena kekuasaan.”


“Lalu? Karena apa? Kau kan membenciku hingga terus menggangguku setiap saat. Kau tahu, aku trauma dekat-dekat denganmu dan sekarang aku harus menahannya karena kau istriku!!”


“Kau ingin membunuhku secara perlahan, kan?!”


Raut wajah Stella yang muram berganti dengan lirikan sinis. Mengapa Xavier ini buta pada perasaannya?


Mireya menyugar rambutnya. Ia frustasi dengan sikap Xavier. "Dengar, Xavier! Aku akui kejahilanku di masa lalu padamu. Maaf jika itu menimbulkan trauma untukmu. Namun, alasanku melakukan itu karena …." Mireya menjeda ucapannya. Memindai ekspresi Xavier yang menunggu kelanjutannya.


"Karena aku …."


Aku tidak bisa sabar lagi.

__ADS_1


"Karena aku menyukaimu, Xavier! Aku cinta kamu. Karena itu juga aku menerima pernikahan ini!" Wajah Mireya memerah. Lalu dengan tergesa ia meninggalkan kamar. Meninggalkan Xavier yang tertegun dengan pengakuan Mireya.


"Dia … cinta aku?"


__ADS_2