Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 44 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

"Karena kau membaca buku filsafat 'A World as Will and representation', bolehkah aku bertanya sesuatu?"tanya Gerald memulai pembicaraan.


Gerald telah berada cukup lama di dalam kamar Roxena. Mereka tidak melakukan kontak fisik. Roxena duduk di sofa sembari membaca buku. Kacamata membingkai apik mata hazelnya. Sementara Gerald, pria itu diam mengamati.


Buku A World as Will and representation, atau dikenal juga dengan judul Dunia sebagai kehendak dan representasi, adalah buku yang ditulis filsuf adalah Jerman pada abad ke-18. Secara singkat buku itu membahas tentang tindakan atau keinginan seseorang itu mengacu atau didasari oleh dua hal yakni emosi (perasaan) dan logika (pemikiran yang nyata).


Gerald mengingat-ingat judul buku itu cukup lama. Ia juga mencari sedikit informasi dari internet dan akhirnya melontarkan pertanyaan itu. Baginya agak kurang cocok jika Roxena membaca buku itu. Di mata Gerald, tindakan Roxena kepadanya di luar kendali baik perasaan dan juga logika. Ia sama sekali tidak paham.


"Apa?"tanya Roxena tanpa mengalikan pandang dari bukunya.


"Kau tipe yang mana? Emosi atau logika?"tanya Gerald.


"Oh. Kau penasaran dengan itu?"tanya Roxena yang diangguki singkat Gerald.


"Daniel Goleman, penulis, psikolog, dan jurnalis sains Amerika mengemukakan beberapa macam bentuk emosi antara lain amarah, kesedihan, rasa takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel, dan malu. Aku memiliki semua emosi itu. Ah aku meragukan salah satunya yakni cinta."


Gerald terkesiap. Roxena tersenyum smirk. "Aku sudah lama tidak merasakannya. Entahlah, debaran aneh tidak bisa disimpulkan cinta, bukan? Mungkin saja sebuah penyakit," kekeh Roxena kemudian.


"Okay." Gerald menguasai emosinya. Ia kembali mendengar.


"Setiap insan memiliki semua emosi. Dunia menganggap bahwa wanita itu sosok yang emosional dibandingkan pria. Hal itu karena wanita lebih berani mengekspresikan emosinya ketimbang pria."


Gerald setuju dengan itu. Meskipun, tidak sepenuhnya seperti itu. Terkadang seorang pria lebih emosional daripada wanita.


"Percayakah kau dengan seseorang yang hanya selalu memakai logika dan melupakan emosi?"tanya Roxena meminta pendapat Gerald.


"Entahlah. Aku tidak pernah melihat yang seperti itu, atau mungkin itu dirimu," sahut Gerald.


"Ya, kau benar. Bahkan seorang jenderal perang, pembunuh sadis, pelaku pemerkosaan, dan orang gila sekalipun masih menggunakan emosi dan juga akalnya yang sudah cacat."


Roxena tersenyum. "Manusia itu makhluk yang memiliki perasaan dan akal. Jadi, jika kau tanya aku tipe yang mana, aku adalah manusia biasa yang bertindak berdasarkan emosi dan logika."


"Jika kau tanya aku cenderung menggunakan yang mana, mana aku lebih sering menggunakan rasionalitas. Dan untukmu adalah emosional. Bagaimana? Menjawab pertanyaanmu?"tanya Roxena setelah menjelaskan panjang lebar.


"Ya." Gerald menyentuh rambutnya kikuk. Jawabannya sederhana mengapa dijelaskan panjang lebar?


"Karena kau sedikit tertarik dengan filsafat, bagaimana jika kita berdiskusi?"tawar Roxena. Sorot matanya sangat tertarik dengan pembicaraan ini.


"Pengetahuanku tidak banyak. Jika kau tidak puas, harap dimaklumi."


"It's okay."


"Di suatu negara ada sepasang kekasih. Mereka sudah menikah diam-diam dan berencana memberitahu pada keluarga. Namun, di dalam perjalanan pulang, mereka dicegat oleh saudara sang suami. Dituduh melakukan kejahatan fatal hingga harus dihukum mati. Sang istri ditangkap dan dipaksa menikahi pembunuh suaminya."


Gerald terdiam mendengar penuturan Roxena. Itu sangat mengganggu, menyeruakkan lubang kecil menyakitkan.


"Sang istri menolak tegas karena dirinya sudah menikah. Namun, pembunuh suaminya sangat kejam dan tidak mengenal penolakan. Anggota keluarga sang istri dibantai satu persatu hingga sang istri setuju. Dan akhirnya keluarganya habis menyisakan dirinya sendiri."


"Selanjutnya apa kau tahu apa yang terjadi, Gerald?"tanya Roxena.


"Seharusnya wanita itu bunuh diri atau dibunuh." Gerald menjawab cepat.


Roxena tersandung tipis. "Kau benar. Seharusnya itu akan jadi akhir penderitaan karena akan segera menyusul suami dan keluarganya. Namun, takdir berkata lain. Wanita itu … hamil." Sorot mata Roxena redup sesaat setelah mengatakan hal itu.


"Pada akhirnya, wanita itu menyerah setelah semua keluarganya binasa. Dia sangat bodoh, bukan? Hanya karena bayi yang belum tumbuh lengkap, hanya karena teringat impian saat bayi itu lahir, dia goyah. Menjadi istri pembunuh itu. Selanjutnya, apa kau tahu apa yang terjadi? Dia disiksa atau dimuliakan?"


Kembali Roxena melontarkan pertanyaan. Kali ini Gerald memikirkannya cukup lama.


Suami dan anggota keluarganya dihancurkan. Namun, tidak ada yang membahas tentang anggota keluarga pihak suami. Dari awal kisah sampai saat ini, menimbulkan banyak jejak pertanyaan.


Menikah diam-diam, mengapa?


Tiba-tiba dituduh melakukan kejahatan fatal dan dihukum mati oleh saudaranya sendiri.

__ADS_1


Dan istrinya dinikahi secara paksa. Terlalu banyak pertanyaan dan spekulasi.


Gerald berpikir keras untuk menjawabnya, "Dia dinikahi secara paksa, sekalipun dimuliakan, dia tidak akan merasakannya. Justru akan dirasakan sebagai neraka dunia olehnya. Jika dia dinikahi hanya untuk disiksa, untuk apa dinikahi? Meskipun sudah bukannya lagi zaman perbudakan. Namun, perbudakan tidak akan pernah hilang," jawab Gerald. Ia tampak sedih.


"Wanita itu … menyedihkan."


Roxena membulatkan matanya. Menyedihkan katanya?


"Heh … heheheh…." Terbahak. Roxena benar-benar tidak menduganya.


"Jadi, menurutmu … siapa yang salah? Wanita itu, suaminya, atau pembunuhnya?"tanya Roxena lagi.


"Semuanya memiliki kemungkinan bersalah. Hal itu harus didalami untuk mendapatkan sebuah kepastian. Namun, siapapun yang salah, karma akan mengikuti dirinya. Kejahatan atau kebaikan, kecil atau besar, ada balasan setimpal untuk itu."


Diam. Roxena terhenyak.


Aku tidak percaya kau bisa mengatakan hal semacam ini.


Tapi, kau benar tentang itu. Karma mengikuti pelakunya.


"Ah … lupakan cerita itu." Roxena melihat jam dinding. Sudah hampir larut. "Saatnya tidur."


Roxena bangkit, menyimpan buku dan kacamatanya di lemari lalu merebahkan tubuh di atas ranjang.


"Aku akan tidur di sini!"


"Tubuhku saja menekuk di situ. Kau ada jadwal operasi besok, bagaimana bisa melakukannya dengan badan yang kaku?"


Akan lebih kaku jika tidur di ranjang itu.


"Aku tidak akan menerkammu."


Setelah mengatakan itu, barulah Gerald beranjak. Duduk kaku dan kemudian menaikkan kedua kakinya berbaring. Perlahan memejamkan matanya.


Aneh … awalnya kaku namun mengapa terasa nyaman?


Ketukan di pintu mengganggu sepasang insan yang tidur berpelukan. Sang pria lebih dulu membuka mata. Mengerjap pelan, merasakan deru nafas wanita dalam pelukannya.


Rambut yang berantakan itu terlihat menggemaskan. Wajah yang polos itu begitu cantik. Pria itu mengulurkan tangannya menyentuh wajah sang wanita.


"Ehm." Segera ditarik kembali tangan itu. Mengamati kenyenyakan tidur sang wanita. Namun, ketukan di pintu tak kunjung berhenti.


Segera dengan hati-hati beranjak dan membuka pintu. "Sekretaris Erin?"


"Selamat pagi, Tuan. Apa Nona sudah bangun?" Pria itu Gerald. Erin bertanya sembari menjulurkan kepalanya mengintip ke dalam.


"Dia masih tidur. Menjemputnya bekerja?"


Erin terkejut dengan pertanyaan itu. Biasanya kan acuh tak acuh.


Kepalanya terbentur apa?


"Nona tidak ke kantor hari ini. Saya hanya ingin membahas beberapa hal sebelum bekerja," jelas Erin. Biasanya ia leluasa membangunkan Roxena. Namun, mengingat Gerald ada di dalamnya, tentu itu akan melanggar privasi suami istri.


"Mohon menyingkir, Tuan."


"Ah, ya!" Baru sadar jika Gerald menghalangi jalan dengan tubuhnya.


Gerald membalikkan tubuhnya. Melihat Erin yang langsung membuka gorden dan mematikan lampu itu. "Waktunya bangun, Nona." Dan juga membuka selimut Roxena. Membuat pemiliknya membuka mata.


"Hari ini libur biarkan aku tidur lebih lama, Erin." Dengan muka bantalnya memelas dengan nada kesal.


"Meskipun Anda tidak ke kantor, ada tugas yang harus Anda selesaikan," jelas Erin.

__ADS_1


"Nanti saja."


"Tidak bisa! Berkas itu perlu untuk meeting nanti."


"Kau menyebalkan!"gerutu Roxena pada akhirnya. Ia bangun dengan wajah cemberut dan semua itu tak lepas dari pengamatan Gerald yang masih ada di tempat.


Sejujurnya dia memang menggemaskan.


Gerald meninggalkan tempat, kembali ke kamarnya untuk bersiap.


"Hubungan Anda dan Tuan semakin membaik," cetus Erin.


"Dia mengibarkan bendera putih," sahut Roxena yang baru selesai mencuci wajahnya.


"Sungguh? Tuan kan sangat angkuh." Erin tak percaya.


"Keangkuhan sangat mudah dihancurkan, Erin."


"Tapi, ini lebih baik. Saya harap seterusnya akan berjalan sesuai rencana," harap Erin yang diangguki Roxena. Meskipun begitu, ia harus membuat banyak rencana cadangan.


"Mana berkasnya?"


Erin segera memberikan setumpuk berkas yang ia bawa untuk Roxena. Roxena segera memeriksanya. Kembali menggunakan kacamatanya.


Sekitar 30 menit kemudian terdengar suara ketukan pintu. Itu Gerald yang sudah siap berangkat bekerja. "Aku ada jadwal lebih awal."


"Ya."


"Jangan lupa sarapan. Aku berangkat." Setelah berpamitan, Gerald berangkat bekerja. Erin terpana dengan itu.


"Dari hasil penyelidikan saya, Tuan adalah orang yang romantis terhadap pasangannya. Astaga, Nona! Tuan tidak benar-benar jatuh cinta pada Anda, kan?!"


"Mungkin itu karmanya," sahut singkat Roxena. Ia fokus pada pekerjaannya. Setelah ini barulah akan beranjak sarapan lalu kembali melakukan hal lain.


Sekitar satu jam kemudian, semuanya selesai. Roxena merenggangkan tubuhnya. "Hari ini aku serahkan padamu."


"Baik, Nona."


"Kau sudah sarapan?"


"Sudah, Nona. Saya lebih tepat waktu daripada Anda," kekeh Erin yang berhasil membuat wajah Roxena menggelap.


"Oh. Kau terlalu lenggang, Erin."


"Eh, tidak, Nona!" Senyum itu bahaya. Segera melarikan diri sebelum Roxena benar-benar murka.


"Em … Nona, Anda sarapan di ruang makan atau di kamar?" Keluar satu datang satu. Lily menunggu jawaban.


"Di sini saja."


"Laksanakan, Nona!"


Lily segera menyajikan sarapan untuk Roxena. Sederhana saja, roti tawar, beberapa jenis selai termasuk selai mawar, dan tentunya teh mawar.


Roxena sarapan dengan tiga lembar roti, menggunakan selai coklat dan mawar. Tak lupa menyesap teh mawarnya.


"Suasana ini sangat tenang," gumam Roxena. Lily sudah keluar. Meninggalkan Roxena dengan keheningannya.


Ingatannya kembali ke waktu sebelum bangun. Roxena dapat merasakannya. Kehangatan selama tidur itu bukan berasal dari selimut. Itu dekapan yang hangat dan nyaman.


Dan mengingat kembali pula pembicaraan tadi malam.


Wanita itu … menyedihkan.

__ADS_1


"Entahlah. Aku juga tidak tahu karena mati rasa. Mungkin benar menyedihkan hingga langit mendengarkan permohonannya. Tapi, entah mengapa aku menjadi teringat dan bimbang. Aku terlahir kembali dan kembali karena dendam atau hal lain?"


__ADS_2