
Selamat pagi.
Apa kau sudah bangun?
Apakah tidurmu nyenyak?
Jangan lupa sarapan.
Have a nice day.
I miss you.
Rentetan pesan dari Gerald memenuhi notifikasi pesan Roxena.
Roxena termenung melihatnya. Memikirkan apa yang Gerald pikirkan saat mengirim pesan-pesan itu.
"Semua sudah beres, Nona." Erin menghadap Roxena dengan tangan yang penuh bekas luka akibat memukul. Di tangannya memegang sebuah pistol. Menghadap Roxena yang tengah
duduk menatap pemandangan mengerikan.
Darah dan mayat bergelimpangan. Aroma anyir menyebar luas. Matahari sudah terbit membuat pemandangan itu terlihat jelas. Roxena tersenyum tipis. Menyimpan ponselnya kemudian berdiri.
Di atas gerbang besi di utama, terpancang bendera Light and Shadow sebagai tanda bahwa wilayah kekuasaan ini telah jatuh ke tangan mereka.
"Sebarkan rumor di dunia bawah jika LS telah mengambil alih wilayah kekuasaan semua gangster di sini!"
"Baik, Nona." Erin segera mengintruksikan anggota untuk menyebarkan.
Tujuan Roxena adalah untuk mendapatkan rasa takut dan hormat dari siapapun yang mendengarnya.
"Mari kita kembali, Nona. Anda harus beristirahat," ujar Erin. Roxena dan dirinya tidak tidur hingga matahari terbit. Mereka bergerak untuk menuntaskan target yang telah ditetapkan.
"Erin, apakah tidak ada pertanyaan di hatimu mengenai apa yang ku lakukan saat ini?"tanya Roxena. Erin patuh padanya. Sekalipun mulutnya mengomel menentang, Erin tetap melakukannya.
Erin terhenyak pelan mendengarnya. Tak lama ia tersenyum. "Anda melakukan semua ini pasti melalui pertimbangan matang. Saya percaya pada Anda. Apapun rencana Anda, tujuan Anda adalah demi kebaikan LS serta Lawrence Group."
"Kalau begitu … terima kasih telah percaya."
Erin tersentak.
"Ayo kembali."
*
*
*
Apa kau sudah makan siang?
Kau belum membalas pesanku sejak pagi.
Sepertinya kau benar-benar sibuk.
Semoga pekerjaanmu lancar. Aku akan mengirim pesan lagi sore nanti.
Roxena yang baru bangun kembali mendapati rentetan pesan dari Gerald. Hari sudah sore. Ia hampir satu harian.
Tok
Tok
Terdengar suara ketukan pintu. "Nona. Apa Anda sudah bangun?"
"Masuk!"
"Saya mendapatkan informasi terbaru mengenai Elisa, Nona."
"Hm?"
"Katakan padaku."
Elisa mendekat dan membisikkan sesuatu pada Roxena. Mata Roxena terbelalak.
"Itu bisa dipastikan?!"
"Saya sudah memastikannya, Nona." Elisa menjawab pasti. Roxena terdiam. Sorot matanya memancarkan amarah dan juga kesedihan sekaligus.
"Anda ingin melakukan sesuatu, Nona? Saya akan melakukannya!"
Roxena memijat dahinya. Informasi itu mengacaukan suasana hati Roxena.
Erin gelisah.
"Tidak. Biarkan saja. Aku sudah memberikannya kesempatan. Namun, jika dia melakukan sesuatu yang nekat … aku tidak akan melepaskannya!!" Kedua tangan Roxena mengepal.
Erin menurut.
"Apa jadwalku hari ini?"tanya Roxena.
"Hanya ada jadwal makan malam dengan Presdir Draco, Nona."
__ADS_1
"Baiklah."
*
*
*
Kini Roxena tengah berada di sebuah restoran untuk makan malam bersama Presdir dari Draco Group.
Makan malam membahas hal-hal seputar pekerjaan dan kerjasama mereka. Roxena cukup puas dengan Presdir Draco ini. Orangnya humble dan memang tidak banyak omong kosong. Memiliki wibawa dan berdedikasi tinggi pada pekerjaannya.
Usianya sudah setengah abad. Memiliki seorang istri dan juga seorang putri yang sebentar lagi akan kembali dari luar negeri. Di kalangan pebisnis Luxembourg, Keluarga Draco dikenal sebagai keluarga yang bahagia dan harmonis.
Oleh karenanya, Roxena tak ragu menerima proposal kerja sama mereka dan berlanjut sampai saat ini. Bahkan kerjasama mereka lancar meskipun ada banyak rumor tak sedap mengenai Roxena. Terutama rumor yang membahas tentang Roxena merebut suami orang yakni Gerald.
"Omong-omong saya belum mengucapkan selamat atas pernikahan Anda, Presdir."
"Anda menyindir saya?" Roxena mengangkat kedua alisnya.
"Tentu saja tidak. Saya tidak ingin terlibat urusan di luar pekerjaan. Saya tulus mengucapkannya." Presdir Draco tersenyum.
"Takdir manusia itu sudah digoreskan. Meskipun saya tidak suka dengan cara Anda, Anda kan bukan orang yang gegabah," kekeh Presdir Draco kemudian.
"Toh Anda juga tidak merugikan saya," tambahnya lagi dengan mengangkat bahu. Inilah yang Roxena suka. Meskipun bagi banyak orang sikap tak acuhnya adalah karakter yang buruk tapi bagi Roxena sebaliknya. Dirinya suka dengan orang yang tidak ikut campur dengan urusan orang lain. Ya, meskipun tidak berlaku di beberapa kasus.
"Omong-omong apa Anda pernah mendengar Capital Group?"tanya Presdir Draco serius.
"Ku dengar itu perusahaan keuangan," jawab Roxena.
"Lebih tepatnya perusahaan terkaya di negara ini. Dua minggu lagi, Capital Group akan mengadakan gala dinner. Dan gala dinner kali ini akan dihadiri oleh pewaris tunggal Capital Group!!" Presdir Draco tampak bersemangat.
"Anda ingin menjadikannya menantu?"cibir Roxena langsung.
"Eh … hahaha terlihat jelas rupanya." Roxena berdecak.
"Untuk apa Anda mengatakan hal ini?"tanya Roxena. Padahal ia tidak ada urusannya dengan seluk beluk Capital Group.
"Eh? Anda tidak tahu?! Lawrence Group masuk dalam daftar tamu undangan!" Presdir Draco menatap Roxena heran.
"Benarkah?" Roxena meletakkan gelas yang sebelumnya ia goyahkan.
"Kalau begitu haruskah saya menghadirinya?" Roxena mengangkat alisnya menatap Presdir Draco.
"Mungkin. Karena mungkin saja ada hal menarik di gala dinner tersebut," sahut Presdir Draco sembari tersenyum lebar.
"Okay." Roxena mengangguk.
*
*
*
"Saya sudah mengkonfirmasi pada cabang. Undangan tersebut memang ada, Nona. Apakah Anda akan menghadirinya secara pribadi?"tanya Erin. Roxena baru saja menyuruhnya untuk mengecek kebenaran yang dikatakan oleh Presdir Draco tadi.
"Pewaris itu … orang seperti apa?"tanya Roxena.
"Dari informasi yang saya dapatkan, pewaris Capital Group tidak pernah menampakkan wajahnya di publik. Saya juga mencari data pribadinya namun informasi mengenai keluarga tersebut dilindungi dengan sandi yang rumit. Selain itu, pewaris tersebut dikabarkan mengalami cacat permanen karena kecelakaan sewaktu kecil," jelas Erin.
"Namanya?"
"Maafkan saya, Nona!!"
Roxena tersenyum. Ia setuju dengan Presdir Draco, ini menarik. Seberapa spesial pewaris itu hingga semua identitasnya dirahasiakan? Bahkan nama pun juga.
"Aku perlu gaun baru," ucap Roxena.
"Anda-" Erin terkesiap. Jarang sekali Roxena ingin menghadiri gala dinner terutama di luar negeri. Tapi, "Anda serius, Nona?" Tapi, negara ini sensitif untuk Roxena. Gala dinner itu pasti mengundang banyak orang. Ada kemungkinan Elisa hadir di dalamnya. Ditambah lagi, informasi tentang Elisa yang berhubungan dengan orang besar.
"Pesan gaunnya dari Elisa Boutique!"
"Hah?!"
"N-Nona, Anda serius? Meskipun Anda tidak kenal takut, tapi Anda serius ingin memprovokasi terang-terangan?! Saya tidak setuju!"
Roxena tertawa.
"Erin, provokasi apanya? Gerald itu milikku, aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku!!"tegas Roxena.
"Tapi, Nona-"
"Ini menarik, Erin. Jangan cemas, kita memegang kendali." Roxena melambaikan tangannya.
Erin menghela nafas kasar. Jika sudah membuat keputusan sulit untuk ditentang. Akhirnya terpaksa setuju. Erin langsung menyuruh bawahan untuk memesan gaun dari Elisa Boutique.
*
*
*
__ADS_1
Keesokan paginya, Roxena dan Erin langsung kembali menuju Spanyol. Penerbangan selama kurang lebih 3 jam itu dihabiskan dengan memeriksa laporan Lawrence Group.
Roxena masih tidak membalas rentetan pesan dari Gerald. Ia hanya membaca kemudian menutup ruang pesan.
"Anda langsung ke apartemen atau-"
"Lawrence Hospital."
"Baik, Nona."
Erin segera mengeluarkan mobil. Setelah Roxena masuk mereka langsung menuju Lawrence Hospital.
Mereka tiba di rumah sakit menjelang jam makan siang. Roxena meninggalkan Erin di parkiran, sementara dirinya menuju ruangan Gerald. Beberapa petinggi yang mengetahui Roxena datang langsung menghampiri untuk menyapa.
Namun, Roxena hanya menanggapinya dengan anggukan kecil, tak menunda langkahnya menuju ruangan Gerald. Ia membawa sebagai paper bag.
Tiba di ruangan Gerald, kosong tidak ada orang. Roxena menunggu dengan duduk di kursi Gerald. Mengamati ruang kerja suaminya ini.
Simple dan elegan. Ruangan tertata rapi.
Cukup lama Roxena menunggu. Ia sampai bosan mengetukkan jarinya ke atas meja.
"Em." Tangannya terulur meraih kalender. Setiap tanggal yang telah terlewati diberi tanda silang. Dan ada yang double dengan dilingkari dan diberi keterangan. Tampaknya Gerald punya kebiasaan menandai tanggal.
Roxena membalik kalender menjadi bulan sebelumnya. Sama juga. Ia mengingat-ingat bagian yang ditandai oleh Gerald.
Deg!
Roxena terpaku saat melihat tanggal pernikahannya dengan Gerald, disilang dan dilingkari dengan keterangan "aku dan dia bersumpah menjadi suami istri."
"Astaga! Kebiasaannya … tidak berubah."
Ceklek.
Roxena menoleh ke arah pintu.
Itu Gerald. Terpaku sesaat kala mata mereka bertemu. Beberapa detik kemudian Gerald melangkah lebar dan grepp!
Memeluk erat Roxena. Yang dipeluk kaget namun tak mendorong Gerald.
"Mengapa? Mengapa tak membalas semua pesanku padahal kau membacanya?"tanya Gerald serak dengan tetap memeluk Roxena.
"Kau memelukku terlalu erat!!"
"Ahhh!!"
Gerald refleks melepaskan. Wajahnya memerah dengan mata yang berkaca-kaca. Roxena mengerjap beberapa kali.
Apa pria di depannya ini sungguhan Gerald yang ia kenal di masa ini? Memeluknya sampai menangis?
Apakah begitu merindukan dirinya?
"Maaf."
"Apa maaf saja cukup? Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Tidak selera makan bahkan tidak fokus karena merindukanmu. Apakah aku melakukan kesalahan hingga kau mengabaikan semua pesanku?" Memberondong Roxena dengan keluhan membuat Roxena terlonjak.
Roxena bingung. Dalam hatinya merasa kesulitan untuk mengatasi ini. Otaknya berpikir keras.
Sebenarnya tidak ada alasan khusus Roxena mengabaikan pesan Gerald. Hanya saja situasi hatinya tidak bagus untuk membahas tentang kerinduan.
"Ahh! Aku membawakanmu sesuatu." Roxena menyodorkan paper bag yang ia bawa tadi.
Gerald menerima dan segera melihat isinya. "Auxerrois grape?"
"Kau dari negaraku?" Gerald menatap Roxena terkejut. Ekspresinya berubah. Menjadi cemas.
Roxena tahu tatapan itu. Tatapan curiga padanya. Hatinya kesal. Namun, juga mengatakan wajar.
"Tujuanku bukan untuknya!!"tegas Roxena.
Gerald menimang. Ya, Roxena memang mengerikan tapi menepati janji. Pada akhirnya Gerald percaya.
Melihat Gerald yang sudah tenang, Roxena kembali berkata, "aku juga bawa anggur dari sana. Kadar alkoholnya rendah, ku pikir masih bisa ditoleransi," ucap Roxena.
"Okay."
"Lalu … bisakah kita pergi makan siang?"tanya Roxena saat merasakan perutnya berbunyi.
"Ah! Baik! Ayo kita makan di kantin!"ajak Gerald, dengan semangat menggandeng tangan Roxena.
Tiba di kantin, Gerald memesan beberapa makanan.
Roxena melirik sekitar. Intimidasi yang ia keluarkan membuat pengunjung lainnya menjaga jarak. Meskipun begitu tetap saja mereka berdua menjadi pusat perhatian.
Roxena makan di kantin rumah sakit? Ekslusif bersama dengan Gerald, suaminya!
Tentu akan menjadi perbincangan di lingkungan rumah sakit. "Omong-omong Roxena, kompensasi anggur ini mana cukup membayar keluhanku."
"Oh, kau melunjak?"sinis Roxena.
"Tidak. Sebagai suami istri normal, aku bisa mengajukan permintaan. Lagipula aku sedang kesal padamu. Seharusnya kau menghibur atau merayuku agar tidak kesal lagi," tutur Gerald menjelaskan.
__ADS_1
Roxena mengangkat satu alisnya. "Jadi, kau mau apa?"