Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 15 "Kapan Aku Bisa Pulang?"


__ADS_3

HAHAHA!


Roxena tertawa senang. Senang, hingga wajahnya begitu berseri.


Uhuk


Uhuk


"Nona!" Lily berseru khawatir. Ia mendekat pada Roxena dan mengecek kondisi infus dan selang oksigen Roxena. Tipe yang Roxena gunakan ada nasal cannula, yang sangat memungkinkan penggunanya untuk bicara normal. Lily juga mengecek beberapa vital lainnya.


"Biarkan saja mereka bersenang-senang, aku akan segera membalasnya," ucap Roxena, setelah batuknya reda.


"Nona, Anda harus menahan diri. Luka jahit Anda masih sangat basah. Jika Anda tertawa sekencang itu, luka jahitnya bisa robek dan dokter itu akan marah," ujar Lily, wajahnya mengharap Roxena menurut.


"Menahan diri? Hehehe, aku sedang menahan diri, Lily," ucap Roxena, tersenyum tipis. Ekspresinya berubah dingin seketika.


"Pengamanan rumah sakit semudah ini? Panggil Erin!"


Nona mulai serius!


Erin datang dengan wajah tegang. "Lakukan seleksi ulang penjaga!"titah Roxena. Pengamanan rumah sakit yang dicap sebagai rumah sakit terbaik di negara ini bisa dikacaukan, tentu akan merusak reputasi Lawrence Group! Ia harus menjaga nama baik perusahaan. Penyerangan tadi malam dirahasiakan dari publik. Rekaman CCTV juga telah dihapuskan.


Tadi malam, tiba-tiba ada yang menyerang area ruang rawat Roxena. Tujuannya tentu untuk mencelakai Roxena dan semacamnya.


"Pecat yang tidak masuk kriteria. Ganti dengan anggota kita. Ah, jangan lupa laporan mingguan organisasi! Ragaku memang sakit, tapi tidak dengan otakku!"ucap Roxena tegas. Mendadak, ia menjadi kesal.


"Beraninya cecunguk itu masuk ke wilayahku!"geram Camelia.


Uhuk


Uhuk


"Meskipun demikian, Anda harus bedrest, Nona," cetus Erin. Merapikan selimut Roxena.


Roxena mendengus sebal.


Lupakan saja.


*


*


*


Lily dan Sophia tengah kembali ke apartemen. Ini adalah hari Minggu, libur untuk Gerald yang tidak ada jadwal. Dari pagi hingga sore hari, tidak ada kelihatan batang hidungnya.


Roxena memutar bola matanya kesal. Tidak ada yang menarik tanpa kehadiran pria itu. Erin yang sibuk dengan pekerjaannya menggeleng pelan. Roxena, bak anak kecil yang kebosanan. Erin terlalu serius untuk diajak bercanda.


Tuan Lawrence juga tidak menampakkan batang hidungnya. Apalagi Benjamin. "Kapan aku bisa pulang, Erin? Mataku sakit melihat dekorasinya."


Itu sudah rengekan kesekian kalinya yang Erin dengar. Erin memilih untuk mengabaikannya.


Roxena berdecak. Ia sadar tengah diabaikan. "Apa telingamu tuli? Pergilah ke dokter!"ketus Roxena.


"Pria itu apa tidak punya hati? Istrinya sakit bukan ditemani. Menelpon saja tidak, sialan!!"maki Roxena kemudian.


Lagi, Erin memutar bola mata malas.


Kalian kan bukan suami istri normal, Nona, ratap Erin dalam hati.


"Aku bosan, Erin. Aku belum bisa duduk, aku ingin makan beef, aku ingin makan paella, aku juga ingin makan turron. Lidahku mati rasa makan bubur hambar itu," keluh Roxena. Ini kali pertama ia masuk rumah sakit sebagai pasien. Biasanya cuma demam ringan, minum obat pereda panas sudah aman.


"Nona, bersabarlah," ucap Erin. Ia juga tidak bisa melanggar larangan dokter. Toh semua demi kebaikan Roxena sendiri.


"Aku ingin ice Americano," rengek Roxena lagi.


"Nona, saya sedang bekerja," jawab Erin. Ia tersenyum, meminta pengertian Roxena. Roxena mencembikkan bibirnya.


"Kau menyebalkan! Apa pekerjaan lebih penting daripada aku?"


Erin mengerjap. Benarkah ini Nonanya?

__ADS_1


"Apa Anda benar Nona saya? Roxena Lawrence?"tanya Erin curiga.


"Maksudmu?!"gerutu Roxena kesal.


Erin memicingkan matanya. "Anda suka warna putih?"


"Menikah saja aku pakai gaun hitam," sahut Roxena ketus. Erin mengusap dadanya lega. Wanita itu kemudian meninggalkan pekerjaannya.


Beralih menghubungi Gerald, berharap pria itu menjawabnya.


"Nona," ucap Erin, membiarkan Roxena sendiri yang berbicara.


^^^"Di mana kau?"^^^


"Di kamar."


^^^"Suruh Lily memasak sup, lalu bawakan kemari."^^^


"Hm."


^^^"Kau juga kemari!"^^^


"Aku menolak."


^^^"Kau berani menolakku?!"^^^


"Sialan!"


Panggilan terputus.


"Apa itu salam yang benar?"tanya Roxena pada Erin, yang disambut endikkan bahu Erin.


*


*


*


Roxena membalas dengan wajah dingin pula. "Kau mau kemana?"tanya Roxena, melihat Gerald yang berjalan keluar.


"Pulang."


"Memang ada yang menyuruhmu pulang?"


"Lalu? Aku sudah mengantar sup itu." Gerald menunjuk sup yang sudah diterima oleh Erin.


"Suapi aku!"ucap Roxena.


"Suapi?" Mata Gerald membulat.


"Tidak." Langsung menolak.


"Ya?"


"Tidak."


"Mau wanita itu-"


"Bisakah kau tidak mengancamku dengan Elisa? Aku muak dengan ancamanmu! Jika aku menikah denganmu tak membuatnya lepas juga, untuk apa aku menikah denganmu?"geram Gerald emosi. Ia melangkah menghampiri Roxena.


"Lebih baik aku mati saja daripada harus hidup denganmu! Jika bukan demi Elisa, tak sudi aku berada di sini. Apalagi tinggal di gua hantu itu!" Gerald mengambil sup dari tangan Erin, bersiap untuk menyuapi Roxena. Dengan gerakan dan ekspresi yang tidak sinkron, Gerald menyodorkan suapan pada Roxena.


"Gua hantu? Apartemen harga milyaran kau bilang gua hantu?" Roxena mendelik. Mengabaikan sup itu.


"Oh, ralat. Aku sudah memperbaikinya. Setidaknya layak huni," jawab Gerald dengan seringainya, bersamaan dengan itu menyuapkan sup ke mulut Roxena yang membuka.


"Apa yang kau lakukan dengan apartemenku?!" Bertanya setelah menelan.


"Gerald Chaddrick!"


"Ya, Roxena Lawrence!"jawab Gerald tak kalah keras.

__ADS_1


"Kau diam dan makanlah. Kau harus punya banyak energi untuk terus mengancam dan membenciku!"ucap Gerald. Terus menyuapi Roxena, dan wanita itu, tidak membantah lagi walau mimik wajahnya kesal.


Erin menggumam dalam hati. Telinganya panas dengan perdebatan suami istri itu. Tiada hari tanpa berdebat.


Hingga akhirnya sup itu telah habis. Roxena bersendawa pelan.


Dan Gerald, ia bersiap untuk pulang. "Kapan aku bisa pulang?"tanya Roxena untuk yang kesekian kalinya.


Gerald tidak langsung menjawab. Melainkan melihat alat-alat yang menampilkan kondisi kesehatan Roxena. Juga mengecek infus dan juga oksigen.


"Apa kau masih merasa kesulitan bernafas? Jika tidak, besok sudah bisa lepas oksigen," ucap Gerald.


"Apa kau bodoh?"sarkas Roxena.


"Aku habis operasi besar!"tandas Roxena kemudian.


"CK!" Gerald meruntuki dirinya sendiri.


"Erin, kau mintalah perawat mengganti infus," ujar Gerald pada Erin. Erin segera melaksanakan.


"Kapan aku bisa pulang?"tanya Roxena sekali lagi.


"Satu minggu lagi, setelah luka jahit cukup kering," ujar Gerald, setelahnya melangkah pergi, pulang ke apartemen.


"HEI! DASAR BRENG*SEK!!"kesal Roxena. Saat Erin kembali, disambut dengan aura mencekam yang dingin. Perawat yang hendak mengganti infus bahkan bergidik dan mengusap tengkuknya beberapa kali.


*


*


*


"YAA!! GERALD BR*NGSEK! KAU PASTI SENGAJA KANN!!"


Gerald menulikan pendengaran. Ia sedang mengatur frekuensi tetesan infus Roxena.


"LIHAT INI! Bagian atasnya tidak bagus! Kau pasti sengaja kan? Iya kan?"


Gerald hanya menatap malas Roxena yang menunjukkan jahitan di dadanya.


"Hei, kau tuli, ya?!"


Uhhgg?


Roxena membelalakkan matanya saat mulutnya disumpal dengan buah apel yang ada di atas nakas.


Fuiih!


"Kau ribut sekali. Radio rusak kalah dengan mulutmu."


"Tidakkah kau bisa memakluminya? Lagipula kau sudah menikah, apa yang tak takutkan?!"balas Gerald setelah Roxena diam.


"Hmhp!"


"Dasar tidak profesional!"


"Terserahmu!"


"Aku pulang hari ini."


"Tiga hari lagi," jawab Gerald.


"Tidak ada. Hari ini aku pulang. Erin sudah mengurus semuanya," sahut Roxena dengan senyum kemenangannya.


Gerald mendengus. "Terserahmu. Aku tidak peduli." Setelahnya melenggang pergi.


"Heh?! Lihat saja nanti!"


Erin yang lagi-lagi menyaksikan perdebatan itu, menepuk dahinya pelan.


Ya Tuhan, kuatkanlah aku. Keributan yang sesungguhnya akan segera kembali.

__ADS_1


__ADS_2