Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 60 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

Sabtu siang, Roxena dan Gerald bertolak menuju Luxembourg. Gerald masih tidak tahu ke mana tujuan mereka. Pesawat yang digunakan adalah pesawat pribadi.


Sepanjang perjalanan, Roxena dan Erin sibuk bekerja. Sementara Gerald sibuk membaca buku yang ada di dekatnya.


"Tuan Luz sudah mengirimkan proposalnya, Nona."


"Kirimkan soft file nya padaku," balas Roxena.


Beberapa pekerjaan sudah Roxena selesaikan. Roxena mengecek jadwal selanjutnya, baik jadwal perusahaan maupun jadwal Light and Shadow.


Di hari Senin, jadwal Roxena sangat padat. Di sana ada jadwal untuk mengawasi jalannya seleksi masuk anggota yang beberapa waktu lalu mengajukan permohonan pada LS. Semua informasi yang disampaikan oleh pihak pemohon telah divalidasi.


"Kita akan segera mendarat, Nona," ucap Pramugari pada Roxena.


Roxena dan Erin gegas menyimpan alat kerja mereka. Begitu juga dengan Gerald.


"Pakaian Anda dan Tuan sudah dikirimkan ke hotel, Nona."


Gerald melihat keluar jendela. Hari sudah sore. Sekitar pukul 16.00 waktu Luxembourg.


Gerald masih menerka-nerka di mana dirinya sekarang. Menatap wajah Roxena yang malah tersenyum padanya.


Deg!!


Jantung Gerald seakan berhenti saat ia tahu di mana dirinya sekarang. Bandar Udara Luxembourg Findel.


Wajahnya puas. Lutut Gerald terasa lemas. Ia menatap Roxena tidak percaya.


Gerald langsung dihantui banyak prasangka buruk. Mengapa Roxena membawanya kemari? Gala dinner itu, apakah hanya tipuan?!


Elisa?!


Teringat pertengkaran beberapa hari lalu. Apa Roxena ingin balas dendam? Tapi, percakapan Roxena dan Gerald saat di pesawat tadi sangat lancar dan menyakinkan.


"Ada apa?"tanya Roxena dengan wajah polosnya.


"Apa maksudmu, Xena?!"tanya Gerald rendah tapi menekan.


Roxena menyilangkan kedua tangannya, "maksud apa? Bukankah kau sudah tahu aku membawamu menemaniku menghadapi gala dinner. Ah, tepatnya gala dinner Capital Group," jawab Roxena, masih menatap heran Gerald.


Tangan Gerald terkepal erat. "Mengapa kau menyembunyikan hal ini, hah?! Apa yang kau rencanakan, Xena?! Kau mau menghukumku karena merusak jepit rambutmu?" Mencengkram bahu Roxena. Kedua matanya tajam, mencari jawaban di mata Roxena.


"Em … kalau ku katakan apa kau mau ikut?"tanya Roxena menaikkan alisnya. Rasanya senang melihat Gerald yang terlihat panik bercampur marah.


"Kau! Keterlaluan!"


Roxena merubah mimik wajahnya seketika. Sedikit menggelap, ada sorot kemarahan pada tatapannya, "apa maksud kata-katamu?! Kau sendiri yang mengatakan bahwa kau sudah melupakan masa lalumu! Kau sendiri mengatakan bahwa hanya aku yang ada di hatimu. Kau sendiri yang mengatakan bahwa kau akan membayar semua dosa-dosamu dengan mencintaiku. Lalu … apa ini? Jangan katakan bahwa hatimu goyah hanya karena hal ini?! Lalu … kau pikir aku sudi membawamu menemui wanita itu?!"


"Gerald Chaddrick, aku memang picik dan pendendam. Tapi, aku tidak akan melakukan sesuatu yang merugikanku!"


Erin menatap pasangan yang tengah bersitegang itu. Wajahnya datar, dan lebih memutar bola mata malas.


Erin menebak bahwa Roxena membawa beberapa tujuan dalam perjalanan kali ini. Melihat wajah tuan muda Capital Group yang misterius itu dan juga menguji kesungguhan Gerald. Jika hati Gerald sudah teguh kemungkinan besar Roxena akan melabuhkan hatinya.


"Ini adalah ujian untukmu. Kau bebas menentukan pilihanmu. Namun, ingatlah bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi terhenti!"ungkap Roxena.


Gerald akhirnya menyadarinya. "Aku akan buktikan padamu!"tekad Gerald.

__ADS_1


"Bahkan jika kau berhadapan dengan Elisa?"tanya Roxena menantang.


Gerald terdiam. Ia ragu pada dirinya sendiri.


Bisakah ia melakukannya?


*


*


*


Gerald lebih banyak diam setelah mereka meninggalkan bandara. Di balik kediaman itu, hatinya bergelut intens. Roxena sangat pandai membuat hatinya bergetar dan berantakan.


Pintu cinta untuk Elisa yang hampir tertutup sempurna tiba-tiba Roxena buka dengan paksa. Dilema ini begitu berat baginya.


Gerald berusaha untuk positif thinking. Capital Group adalah perusahaan besar. Hanya orang tertentu yang bisa mendapatkan undangan gala dinnernya.


Lalu di kota ini, persentase bertemu dengan Elisa kecil kecuali jika memang disengaja. Gerald berharap ia tidak bertemu dengan Elisa. Saat ini, ia bisa menyakinkan dirinya tidak akan goyah.


Bisa saja ia berubah pikiran dan lari dari semua kata-kata yang pernah dilontarkan pada Roxena.


"Gerald … jika kau memilih untuk lari aku akan membunuhmu dan akan mencarimu di kehidupan selanjutnya. Tidak masalah melalui satu kehidupan lagi. Aku sudah terbiasa. Namun, jika kau memilih untuk tetap di sisiku, aku akan menahan persen kepercayaanku padamu," ucap Roxena tanpa menatap Gerald.


Nona selalu konsisten pada hal apapun. Kecuali, cinta pada Tuan Gerald. Bahkan saat hatinya begitu rapuh, Nona memberikan kelonggaran dan memastikan kenyamanannya. Nona yang enggan memberi pilihan bahkan berulang kali memberi kebebasan untuk Tuan memilih. Nona … perasaan Anda yang sebenarnya bukanlah dendam melainkan ….


Erin tersenyum tipis.


Kini mereka sudah berada di hotel dan bersiap untuk menghadiri gala dinner. Gerald tak terlalu memperhatikan setelan pakaian.


Berbeda dengan Roxena yang memperhatikan detail gaun miliknya, terutama mengecek bagian bawah yang biasanya dicantumkan bordiran Elisa Boutique.


Memikirkan bagaimana ekspresi Elisa saat tahu desainnya digunakan oleh Roxena, membuat Roxena semakin bersemangat.


“Kau membawanya.” Gerald melihat jade vine di atas meja rias. Di mana Roxena tengah menata rambutnya dibantu oleh Erin.


“Itu melengkapi penampilanku. Apa kau cemburu?” Roxena mendongak.


“Sebaliknya. Aku senang,” jawab Gerald mengulas senyum.


“Biar aku saja,” ujar Gerald, mengambil alih tugas Erin. Erin menepi, mengamati interaksi keduanya. Seperti pasangan normal. Lalu busana couple itu sungguh cocok, seperti khusus dibuat untuk mereka. Darah bangsawan yang melekat pada Roxena membuatnya sangat memperhatikan penampilan saat menghadiri salon/perjamuan sosial/acara gala dinner seperti ini.


Gerelad memakaikan jade vine pada sanggulan Roxena. “Kau sangat cantik, Xena. Bahkan dengan wajah dinginmu, kau semakin mempesona.”


“Jangan lemparkan pujian padaku sebelum kau memastikan hatimu, Gerald,” sahut Roxena dingin.


“Ya,” jawab Gerald singkat.


“Acaranya sudah dimulai, Nona. Mari kita menuju ballroom,” ajak Erin setelah melihat jam tangannya.


Roxena berdiri, kemudian menggandeng lengan Gerald. Erin berjalan di belakang keduanya. Tempat mereka menginap satu lokasi dengan tempat acara. Ballroom di hotel ini terkenal luas dan mampu menampung tamu sampai dengan 2000 tamu. Begitu memasuki lantai ballroom atmosfer keamanan yang ketat begitu terasa. Sebelum memasuki ballroom, tamu harus menunjukkan undangan untuk bisa masuk serta ada pemeriksaan x-ray seperti pemeriksaan di bandara.


Dekorasi ballroom didominasi warna putih. Guci-guci besar diisi dengan mawar putih sehingga wangi mawar putih begitu semerbak. Piramida minuman tersebar, pelayan hilir mudik melayani tamu yang semakin banyak.


Karena acara ini di luar negeri, rupa Roxena tak begitu dikenali di sini. Roxena menyukainya, ia bisa sedikit lebih bebas, ya meskipun penampilannya dan Gerald sudah menarik perhatian.


Perhatian itu membuat Gerald risih. Erin yang sudah biasa tersenyum tipis. Satu hal yang membuat para tamu itu tak berani mendekat, aura dominasi Roxena menegaskan bahwa ia bukan wanita sembarangan.

__ADS_1


“Ini hanya bagian kecil, Gerald. Jika kau memilihku, kau akan sering menemaniku menghadiri acara seperti ini, entah itu acara gala dinner atau acara formal lainnya,” bisik Roxena.


“Aku mengerti.”


“Selamat malam Tuan dan Nyonya.” Ya, ada yang punya keberanian lebih untuk menyapa Roxena dan Gerald yang duduk menikmati sajian selagi menunggu Tuan Rumah memulai acara secara resmi.


Itu adalah seorang wanita muda. Angkuh di mata Roxena. “Apakah Anda bertiga tidak salah tempat duduk?”tanyanya merendahkan.


Benar, tempat duduk telah diatur oleh Tuan Rumah, setiap meja dan kursi memiliki nomor dan posisi duduk tamu akan diberi tahu saat pencatatan nama tamu.


“Maaf sebelumnya, Nona. Apa yang Anda maksud?”tanya Erin tenang.


“Mungkin Anda baru pertama kali menghadiri acara mewah seperti ini. Apakah kalian tidak sadar bahwa kursi ini tidak pantas untuk kalian? Menduduki kursi orang lain adalah perbuatan yang tidak sopan, terlebih ini adalah kursi untuk Lawrence Group,” ucap wanita muda itu. Masih dengan keangkuhannya.


Roxena menaikkan alisnya, nona muda dari keluarga mana ini? Tahu Lawrence Group tapi tak tahu dengan struktur pimpinannya. Lalu apa busananya kurang mewah?


“Kami duduk di tempat yang tepat, Nona. Mungkin Anda keliru,” sahut Erin.


“Rendahan tidak tahu diri!! Ku katakan tidak pantas ya tidak pantas!!” Nona muda itu malah memekik dan membuat keributan semakin besar.


“Bagaimana bisa wajah es ini duduk di sini bahkan ditemani pria tampan?! Sangat tidak adil!”tunjuknya pada Roxena. Tubuhnya tampak tidak sinkron tapi tak ada yang berani menghentikannya. Roxena penasaran dengan identitasnya.


“Dia bahkan tidak tahu sopan santun! Bagaimana bisa dia duduk tanpa menyapa senior? Kau pikir kau siapa?! Pindah, duduklah di sudut, kau merusak pemandangan!”


“Ah ….” Roxena baru menyadarinya.


“Anda mabuk, Nona,” ucap Gerald dingin.


Nona muda itu maju selangkah, tersenyum penuh arti pada Gerald, “saya mabuk karena ketampanan Anda, Tuan. Bagaimana jika kita duduk berdua?”ucapnya dengan mata menggoda.


“Tolong hentikan sebelum kesabaran saya habis, Nona.” Erin kembali pasang badan. Nona itu menggertakkan giginya. Ia hendak melayangkan tamparan pada Erin. Benar-benar di luar kendali.


“Hm.” Roxena malah memandangnya sebagai pertunjukkan menarik.


“Ketika rasionalitas hilang, seseorang tidak bisa mengendalikan diri. Bahkan jika di depannya adalah seorang raja, sumpah serapahnya tidak akan berhenti. Aku heran, mengapa dia bisa ada di sini.”


”Dia menghinamu, apa kau diam saja?”


“Bukankah kau sudah membelaku? Lagipula dengan identitasku sudah cukup untuk membungkamnya,” sahut Roxena santai.


“AHHH … SAKITTT!!”


“J*LANG! BERANINYA MENYAKITIKU!!”


Melihat kegilaan itu, Erin segera mengambil tindakan lanjut, memegang kedua tangan dan meletakkannya di belakang, Erin menahan tubuh Nona muda itu.


“APA KALIAN TAHU SIAPA AKU?! AKU ADALAH KEPONAKAN DARI PEMILIK CAPITAL GROUP!!”


“Saya tidak peduli siapa Anda!”bisik Erin.


“Presdir Roxena!” Di tengah itu, ada yang menyapa Roxena. Itu adalah Presdir Draco yang datang bersama dengan istri dan anak tunggalnya.


Presdir Roxena? Duduk di kursi Lawrence Group?!


Orang-orang di sana terhenyak. Pandangan mereka langsung prihatin pada Nona muda itu. “Asisten Erin mengapa Anda menahan Nona Jenny?”tanya heran Presdir Draco.


“Nona ini kurang ajar pada kami. Sepertinya pengamanan di sini kurang dan keluarganya lalai. Acara Capital Group, mengapa begitu kacau? Mereka benar-benar tidak peduli dengan reoutasi, ya?” Gerald yang menjawab. menatap tajam Nona muda bernama Jenny, wajahnya memucat seakan sadar dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


Mampus aku!


__ADS_2