Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 93 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

Saat Regis memakamkan anaknya yang telah gugur, Roxena mengunjungi Regis di ruangan terpisah dari klinik. Biasa digunakan jika ada banyak anggota yang sakit.


Regis, sosok yang ia cintai di masa lalu terbaring tak berdaya. Rasanya sedih melihatnya. Nasib Regis di kehidupan ini begitu buruk. Mengalami kecelakaan hingga merenggut fungsi kedua kakinya. Lalu cinta yang tidak terbalas yang berakibat pada kondisinya sekarang.


Kepalanya diperban. Di tubuhnya terpasang infus dan oksigen. Tidak terdapat banyak alat penunjang kehidupan karena Regis tidak mengalami masalah selain pada benturan di kepala.


Roxena mengusap lembut pipi Gerald. Wajah yang selalu ia rindukan, dulu dan sedikit untuk sekarang. Menatapnya dalam-dalam. Wajah tampan yang sama seperti dalam ingatannya. Sama persis.


Roxena menitikkan air mata. "Akan lebih baik jika kita tidak bersama. Aku tidak mau egois padamu, Regis. Aku sudah membantumu mendapatkan Elisa. Kau mulailah hidup dengannya."


"Jangan tidur terlalu lama. Kau punya hutang padaku!"


"Tidak ada yang gratis. Kau harus membayar dengan harga yang sesuai. Aku akan menantikannya!"


"Regis … selamat tinggal."


Roxena meninggalkan ruangan itu. Tanpa Roxena sadari, sudut mata Gerald mengeluarkan air mata.


*


*


*


Setelah memakamkan janin Elisa, Gerald memutuskan untuk mengunjungi Elisa. Semakin mendekati kamar Elisa semakin perasaannya campur aduk. Gerald tidak yakin bisa menghadapi kesedihan Elisa. Ia kembali ragu saat sudah berada di depan pintu kamar.


Di saat dia ragu dan memutuskan untuk pergi, ada yang menepuk bahunya lembut. Gerald menoleh, tersentak pelan. "Xena?"


Roxena menjawabnya dengan tersenyum. "Masukkan jika kau ingin masuk. Tuntaskan semua urusanmu dengannya. Aku tidak akan marah," ujar Roxena tenang dan juga tulus. Gerald mengerjap, tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Ah, maaf untuk hal kemarin. Aku lepas kendali." Roxena menunduk, mengakui kesalahannya.


"Kau …"


"Cepatlah masuk sebelum aku berubah pikiran," ujar Roxena mendorong Gerald untuk mengetuk pintu.


"Siapa?" Terdengar suara Violet menjawab ketukan pintu Gerald.


Rasanya kembali memberi dorongan, hingga akhirnya pintu kamar itu terbuka. Dengan langkah yang masih ragu dan perasaan campur aduk yang masih ada, Gerald memasuki kamar.


"Elisa."


Panggilan itu membuat Elisa yang semula menyembunyikan wajahnya di balik lutut mengangkat wajahnya. "Gerald."


Elisa langsung bangkit dan berlari menghampiri Gerald. "Gerald. Anak kita … hiks … maafkan aku …."


"Ini bukan salahmu. Semua sudah takdir, Elisa."


Grepp!


Elisa langsung memeluk Gerald. Menangis sejadi-jadinya dalam pelukan pria yang sangat dicintai selama belasan tahun itu. Tidak ada kata yang terucap lagi, hanya tangis yang terdengar.


Violet meninggalkan kamar, memberi waktu untuk Gerald dan Elisa.


Deg!


Viot terkejut mendapati Roxena berada di luar kamar. Cepat-cepat ia membungkuk dan menyapa Roxena.


Lalu mengambil posisi berjauhan. Sesekali melirik Roxena yang tetap pada posisinya. Berdiri bersandar pada dinding dengan kedua tangan menyilang di dada. Matanya terpejam.


Di dalam, Gerald mulai menenangkan Elisa. Menghibur wanita yang pernah mengisi hatinya itu. "Gerald apa kau sungguh tidak mencintaiku lagi?"tanya Elisa, ia ingin memastikannya lagi.


Gerald tidak langsung menjawab. Jika ditanya masih mencintai tentu masih mencintai. Namun, Gerald tidak memiliki alasan untuk kembali pada Elisa. Karena saat ini, hanya Roxena tujuannya.


"Maaf, Elisa."


"Sungguh tidak mencintaiku lagi?"tanya Elisa sekali lagi, menatap mata Gerald. Gerald tak menghindarinya. Gerald mengangguk membenarkan.


Elisa tersenyum getir. Rupanya hanya ia yang berpikir bahwa Gerald bercanda atau terpaksa. Hati Gerald sudah berpaling bukan miliknya lagi.


Akibat untuk menyangkal hal ini, Elisa melakukan kesalahan fatal. Melukai Regis dan kehilangan bayinya. Sungguh harga yang sangat mahal.


Dunia ini kejam. Tidak adil.


"Kau sudah menikah dengan Regis. Terimalah dia sebagai suamimu. Buka dan mulailah lembaran baru bersamanya. Aku yakin dia dapat membahagiakanmu."


"Menurutmu begitu?"


"Hem."


"Baiklah. Aku akan menerimanya. Mulai saat ini aku akan menjadi istrinya. Hari ini juga aku menyatakan bahwa aku tidak mencintaimu lagi, Gerald!"

__ADS_1


Gerald memejamkan matanya.


"Aku akan melupakan semua tentang kita. Memasuki babak baru kehidupanku. Hari ini akan jadi hari perpisahan kita di mana aku menyetujui perceraian kita!!" Begitu lantang. Gerald mengangguk pelan. Tujuannya datang memang untuk menuntaskan semuanya.


"Terima kasih untuk cinta dan lukanya, Gerald. Semoga kau berbahagia bersama pilihanmu. Tolong doakan kebahagiaanku juga." Elisa menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Aku aku minta maaf sekali lagi, Elisa. Maaf telah membuatmu seperti ini." Gerald menunduk dalam.


"Keluarlah." Elisa melambaikan tangannya mengusir Gerald. Gerald menyeka air matanya, kalau bangkit dan melangkah keluar kamar. Sebelum ia keluar, Gerald menoleh ke belakang, tersenyum untuk Elisa.


Kau wanita baik dan kuat. Terima kasih untuk semuanya, Elisa.


*


*


*


"Sudah selesai?" Begitu mendengar suara pintu terbuka, Roxena langsung mendekati pintu. Gerald mengangguk membenarkan. Sementara Violet masuk untuk mengecek kondisi Elisa.


"Jika begitu … siap untuk menyambut lembaran baru?" Roxena mengulurkan tangannya pada Gerald. Tersenyum dengan tulus.


Sejak Gerald keluar dari pintu itu, ya sudah benar memutus masa lalunya. Sudah berdamai juga. Ini adalah waktu yang tepat untuk benar-benar mulai lembaran baru.


"Tentu." Gerald menerima uluran itu. Keduanya bergandengan tangan, berjalan berdampingan meninggalkan kamar Elisa. Senyum keduanya tulus dan penuh kelegaan.


*


*


*


Sore harinya, asisten Regis menemui Roxena. Pria itu menyampaikan maksud kedatangannya adalah untuk menyampaikan keputusan. Bahwasannya ia akan membawa Regis kembali ke Luxembourg.


Kota ini asing bagi mereka. Bukan lebih aman jika Regis dirawat di kediaman keluarga Francois.


Roxena juga tidak punya alasan untuk menahan kepulangan mereka. Ia mengangguk menyetujui. Hanya saja rosena memberi persyaratan berupa mereka harus menutup mata ketika meninggalkan markas LS. Syarat itu disetujui.


Sore itu pula, Roxena mengatur keuangan untuk Regis dan keluarga. Tatapan sinis asisten Regis tak pudar pada Elisa. Elisa yang tahu kesalahannya tidak mengatakan apapun yang membela dirinya.


Gerald ikut mengantarkan kepulangan mereka. Erin ditunjuk oleh Roxena untuk mengantar mereka sampai ke bandara.


Regis yang masih dalam keadaan koma sudah berada di dalam mobil. Begitu juga dengan Elisa dan Violet. Menyisakan asisten Regis untuk berpamitan sekali lagi. "Kami mohon maaf atas segala kelancangan dan keributan yang kami lakukan, Presdir Lawrence. Kami mengharapkan keramahan hati Anda."


"Oh ya, aku harus menekankan sesuatu padamu. Komanya Regis tidak ada hubungannya dengan Lawrence Group!"tegas Roxena. Karena jika sampai hal itu terjadi, maka reputasi Lawrence Group akan jatuh, Lawrence group akan mengalami kerugian.


"Saya mengerti, Presdir. Kesalahan Nyonya dan Tuan tidak akan limpahkan kepada orang lain," jawab asisten Regis.


"Bagus! Berangkatlah." Sebelum masuk ke dalam mobil, matanya ditutup dengan kain hitam.


Mobil yang dikemudikan oleh Erin dan dikawal dengan satu mobil lagi, melaju meninggalkan markas LS.


Roxena memeluk Gerald. "Babak baru dimulai."


"Hm." Mengecup kening Roxena.


*


*


*


Malamnya, Roxena dan Gerald pulang ke apartemen. Roxena sangat merindukan kamar utamanya ini. Setibanya di sana langsung melemparkan diri ke atas empuknya sofa.


"Kau memikirkan apa?" Melihat dahi Gerald yang mengernyit.


"Aku penasaran. Bagaimana tanggapan keluarga Francois terhadap apa yang terjadi pada Regis dan Elisa," jawab Gerald jujur.


Roxena menyangga dagunya. "Capital Group akan goyah. Serta Elisa akan sulit diterima."


Pernikahan dadakan itu pasti sangat mengejutkan. Apalagi Elisa sudah keguguran dan Regis dalam keadaan koma. Jika Asisten Regis itu jujur maka semua kesalahan akan dilimpahkan pada Elisa.


Meskipun sudah berstatus istri dengan pernikahan yang sah, keluarga Francois dapat tidak mengakuinya. "Satu-satunya cara hanyalah Regis segera sadar."


"Kau khawatir pada Elisa?"terka Roxena. Gerald tidak menampik. Artinya benar.


"Elisa harus berjuang. Kau tidak perlu cemas begitu. Bukankah kau yang paling mengenal Elisa?"


Tanggapan Roxena juga tidak lepas kendali seperti yang lalu.


Hah!

__ADS_1


"Kau benar. Elisa harus berjuang dan aku yakin dia pasti bisa."


"Tapi, Gerald kau tidak boleh sering-sering membahas Elisa bersamaku. Aku sangat cemburuan, kau tidak mau kan aku lepas kendali seperti kemarin?"


Gerald tersadar. "Maafkan kau. Janji tidak akan lagi."


"Boleh membicarakan jika aku yang membuka topiknya!"tegas Roxena.


Gerald tersenyum. "Baiklah, My Lady."


*


*


*


Kondisi Stella benar-benar mengenaskan. Dirinya tidak disiksa oleh kerajaan namun oleh Jade. Dilarangnya kunjungan dan hanya menyisakan dua pelayan, Jade semakin leluasa bermain dengan Elisa yang ia klaim sebagai tawanannya. Hubungan badan yang pasti dilakukan, yang diwarnai dengan pemaksaan dan penolakan.


Saat melancarkan aksinya, Jade biasanya akan memberikan obat tidur pada Rose. Lalu dengan bebas melakukan apa yang ia inginkan pada Stella yang tidak punya kekuatan untuk melawan. Disiksa secara fisik dan mental. Setiap hari, Jade selalu membisikkan kata-kata untuk mencuci otak Stella.


Putri keluarga utama di kerajaan itu jatuh dalam kubangan lumpur. Kehilangan kehormatan dan martabat. Kekuasaan dan juga kekuatan. Menyedihkan!!


Seperti hari ini, Jade kembali membisikkan kata-kata pada Stella. Tatapan Stella sayu, wajahnya pucat, dan seperti kehilangan semangat hidup.


"Ladyku. Saya pikir Anda tidak cocok menjadi seorang Princess."


"Anda tidak akan bisa bebas. Semua gerak-gerik Anda diawasi. Pernikahan Anda juga disetujui karena menguntungkan pihak kerajaan. Anda menginginkan kerajaan ini, apa kerajaan ini menginginkan Anda? Anda tidak pantas berada dalam istana yang kejam ini, Lady."


"Mari pergi denganku, Stella. Hidup bersama di luar. Aku jamin, kau tidak akan kekurangan apapun."


"Diam!"


"Lagipula, Stella … kau sudah hancur. Bagaimana jika tunanganmu tahu bahwa setiap malam kau menghabiskan malam denganku?"


"Diam!"


"Diam!"


"Jangan bicara lagi, Jade!!"teriak Stella ketakutan. Tampaknya, kejiwaannya terganggu.


"Menurutmu dia akan menerimamu?"


"Sekarang kau adalah Lady terbuang, Stella. Tidak punya kekuasaan dan kekuatan. Apakah dia masih menginginkanmu?"


"Ku pikir tidak akan. Kau ikut sudah kotor Stella. Sudah barang bekas yang tidak berharga. Hanya aku … satu-satunya yang bisa menerimamu."


"Nathan!"


"Nathan tidak akan membuangku!" Stella berteriak histeris. Ia meronta. Mencoba mencakar Jade. Dengan mudah Jade menahan tangan Stella.


"Jangan gunakan tangan cantik ini untuk memukul, Stella." Jade malah menjilat jemari Stella.


Stella merinding. "Kau membangunkanku, Stella."


Mata Stella membulat sempurna. Ia tidak mau. Mencoba lagi. Akhir seperti sebelumnya. Ia tidak bisa lari dari Kungkungan Jade.


*


*


*


"Nathan." Tuan Besar memanggil Sang putra yang baru kembali dari perusahaan.


"Ada apa, Ayah?"tanya Jonathan penasaran.


"Pihak kerajaan mengirimkan suatu keluarga kita." Tuhan Besar SK menyodorkan sebuah map pada Jonathan.


Jonathan membacanya, lalu menyimpulkan bahwa keluarga Kerajaan ingin mempercepat pernikahan menjadi dua minggu lagi. Alasannya tidak terlalu jelas. Disebutkan bahwa Stella yang sakit parah meminta pernikahan dimajukan karena takut jika mampu bertahan sampai tanggal pernikahan yang telah ditetapkan sebelumnya.


Seberapa parah sakit Stella, bukankah terakhir kali Stella sangat sehat? Juga ia dilarang untuk berkunjung. Bukankah itu tidak masuk akal?


"Besok aku akan memastikannya, Ayah," ucap Jonathan memutuskan.


"Ya, harus dipastikan. Ini menyangkut masa depan keluarga Esca. Tidak bisa sembarangan. Jika tidak cocok, lebih baik putuskan saja pertunangan kalian. ESA Group akan membayar biaya ganti rugi," tegas Tuan Besar. Bagi pengusaha, keuntungan adalah nomor 1. Jika kesepakatan itu dirasa tidak menguntungkan, untuk apa dipertahankan?


"Baik, Ayah." Jonathan juga memikirkan hal yang sama. Merasa bahwa … hubungannya dengan Stella tidak bisa dipertahankan. Apalagi dikatakan bahwa Stella sakit parah hingga divonis tidak akan hidup lama.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2