
Berulang kali Gerald menghela nafas. Mempertimbangkan apakah ia harus memberi kabar Elisa saat ini juga atau tidak? Telepon sudah di sisinya. Bahkan nomornya sudah ia tekan. Namun, tak kunjung dihubungi.
Ucapan Roxena masih terngiang-ngiang. Apakah Elisa akan aman jika ia menghubungi Elisa? Sedang syarat agar Elisa selamat adalah memutus hubungan dengan Elisa. Namun, hatinya sangat merindu.
Dilema!
Bingung!
Antara rindu dan keselamatan Elisa, mana yang harus ia pilih? Ia akui, ia takut pada kekuasaan Elisa, karena Gerald, ada seseorang yang harus ia lindungi. Apalagi, ia tidak bebas, dua pengawal ditugaskan untuk menjaga dan mengawasinya.
Hah!
Pada akhirnya ia kembali meletakkan gagang telepon itu. Hari pertama bekerja, Gerald diajak berkeliling dan dikenal dengan lingkungan rumah sakit dan departemen tempatnya bekerja.
"Kita pulang," ucap Gerald, jam pulang telah tiba.
"Baik, Tuan." Gerald berjalan lebih dulu. Kedua pengawal itu berjalan di belakang Gerald.
"Tunggu, ini bukan jalan ke apartemen!"ucap Gerald, ia ingat jalan ke rumah sakit, seharusnya jalan pulangnya sama, tapi ini berbeda. Gerald meningkatkan kewaspadaannya.
Apalagi ini?!
"Tuan tenang saja, kami lebih tahu jalan pulang," jawab datar pengawal yang mengemudi.
“Kalian jangan macam-macam, aku suami Nona kalian!”ucap Gerald memperingati.
“Kami tahu, Tuan. Kami tidak akan menyakiti Anda,” jawab Pengawal satu lagi.
Kewaspadaan Gerald semakin terwujud, ini memang bukan jalan pulang. Ini adalah ke kediaman keluarga Lawrence. “Tuan Besar ingin berbicara dengan Anda. Karena waktu itu, perjumpaan Anda dan beliau sangat singkat,” ucap Pengawal yang mengemudi tadi. Namanya Thomas, sementara rekannya bernama Jack.
Thomas membukakan pintu untuk Gerald. Kediaman dengan gaya klasik itu terpampang di depan Gerald. Perasaannya semakin tidak enak.
Tap
Tap
Tapi, apapun itu harus dihadapi. Gerald diarahkan menuju ruang pribadi Tuan Lawrence. Pria tua itu sudah menunggu. Saat ini berdiri membelakangi Gerald, menatap lukisan keluarga yang tergantung di dinding. Gerald secara tak langsung juga melihatnya. Hanya ada tiga orang. Sosok pria yang muda itu, Gerald kenali sebagai Tuan Lawrence. Lantas gadis kecil dan wanita itu, apakah Roxena dan ibunya?
Dahinya mengernyit. Ingatan waktu pesta mengalir kembali.
Aku adalah Ayah yang gagal.
Anak yang lahir karena hasil perselingkuhan, tidak akan pernah mewarisi keluarga Lawrence.
“Ah, kau sudah datang?” Tuan Lawrence berbalik dengan tersenyum. “Ayo duduk,” ajaknya kemudian di sofa. Gerald duduk.
“Kau pasti juga melihat lukisan itu, bukan? Jika kau mengira itu adalah Xena dan ibunya, kau benar. Itu keluarga kecilku yang sangat bahagia sebelum … sebelum aku membuat kesalahan yang sangat fatal. Kebodohanku membawa kehancuran dalam rumah tanggaku. Istriku … bunuh diri dan Xena, ia sangat membenciku.” Tuan Lawrence bercerita dengan sendu. Kesedihan terpancar begitu pekat dari matanya.
Gerald menaikkan satu alisnya. Untuk apa menceritakan hal itu. “Sekarang Xena sudah menikah denganmu, bahkan tanpa sepengetahuanku.” Tuan Lawrence terkekeh. Sebagai seorang Ayah tentu itu pukulan keras untuknya.
“Aku yakin dengan pilihan Xena. Namun, aku semakin yakin setelah tahu pekerjaanmu.”
“Mungkin kau terpaksa menikah dengan Xena, meninggalkan semuanya di negara asalmu, juga orang yang kau cintai.”
Gerald tersentak. Tuan Lawrence sudah tahu.
“Aku tahu ini berat untukmu-”
“Jika begitu, kembalikan semua pada tempatnya. Saya … tidak bisa terikat dengan pernikahan paksa ini!”sela Gerald memotong dengan cepat. Gerald, ia sedikit berharap.
Tuan Lawrence terperangah, sebelum tertawa, tertawa pelan dan akhirnya terbahak. “Kau seorang profesor, mengapa mengatakan hal bodoh seperti itu?”
Gerald terperanjat. Ia terbawa alur!
Sialan!
__ADS_1
“Gelarmu Profesor tapi kau begitu polos. Xena, dia menyukai pria yang polos. Benar-benar pandai mencari.”
Bulu kuduk Gerald terangkat. Tuan Lawrence mulai menunjukkan tujuannya memanggil Gerald.
“Lupakan semua tentang dirimu di sana. Pekerjaan, cinta, atau hubungan apapun itu. Sejak kau menginjakkan kaki di sini, kau hanyalah Gerald Chaddrick, suami Xena dan dokter kardiovaskuler Lawrence Group!!”
“Satu hal yang harus kau ingat, jangan pernah berpikir untuk kembali!! Sekalipun kau tidak mencintai Xena, cukup berdiri saja di sampingnya, maka kau dan semua yang kau tinggalkan akan aman!!”
Tangan Gerald mengepal erat. Anak dan Ayah sama saja!
“Selama kau patuh, kau akan aman di keluarga ini! Lalu, kau harus bisa melindungi dirimu sendiri. Karena, putriku, Xena. Dia memang dipuja dan itu sebanding dengan banyak orang yang tidak menyukainya, termasuk putraku. Meskipun pewaris sudah aku tetapkan, semuanya dapat berubah. Aku memang mengancammu, namun juga aku meminta padamu. Tetaplah di sampingnya.”
“Dasar konglomerat sialan!”maki Gerald, tak bisa menahan amarahnya.
“Terserah padamu. Gelar profesor mu itu bukan pajangan, kan?!”sahut Tuan Lawrence tenang namun sarkas.
“Kau boleh kembali. Rahasiakan hal ini dari Xena,” titah Tuan Lawrence, kembali bangkit dan menatap foto keluarga itu.
*
Setibanya di apartemen, Roxena sudah pulang. Menunggu sambil membaca majalah. Sinis dan tajam, itulah ekspresi yang Gerald tunjukkan pada Roxena. “Hari pertama yang sibuk, ya?” Roxena bertanya, itu lebih ke basa basi.
“Tak perlu kau pedulikan aku!!”
“Apa gunanya memelihara orang sakit?!”balas Roxane dengan datarnya.
“K-Kau!!”
“Marah tak akan membuatmu kenyang. Jika kau ingin membalasku, kau harus punya tenaga. Dan itu ponsel untukmu.”
Roxena menunjuk paper bag di atas meja kemudian masuk ke dalam kamarnya. Lily dan Sophia datang menghampiri Gerald yang lagi-lagi terdiam.
Suka pria polos?
Gerald teringat dengan ucapan itu.
Apa semua yang aku tunjukkan dianggap kepolosan baginya?
“Di meja makan sudah ada makan malam, Tuan,” ujar Lily.
“Aku sudah kenyang,” ucap Gerald kemudian melangkah menuju kamarnya.
“Rasanya aneh, ada suami istri yang tinggal di kamar berbeda,” ucap Sophia.
“Dan kitanya yang harus waspada. Kita menyaksikan interaksi keduanya di dalam sini. Kita harus menjaga mulut jika mau aman,” sahut Lily.
“Tekanan di sini semakin bertambah. Keduanya bagai air dan api saat ini. Aku tidak tahu siapa yang akan ikut terbakar atau ikut tenggelam,” balas Sophia.
“Apakah api yang akan padam karena air, akan berlaku di sini?”tanya Sophia kemudian yang dibalas dengan endikkan bahu Lily. Ia tak mau memikirkannya. Cukup melayani Nonanya dengan maksimal.
__ADS_1
“Halo, Tuan Lawrence.”
“Iya, Xena.”
“Jangan campuri urusan rumah tanggaku, Tuan Lawrence!”
“Xena, Ayah hanya ….”
“Saya hanya minta hal itu. Selamat malam.”
Roxena menutup panggilan sepihak. Ia tahu, ia tahu Tuan Lawrence memanggil Gerald.
Roxena tak ingin siapapun mencampuri urusannya dengan Gerald, sekalipun itu membantunya. Roxena kemudian menghubungi seseorang lagi. "Thomas dan Jack membangkang perintahku. Berikan hukuman setimpal untuk keduanya!"
"Baik, Nona!"
Ia menghela nafasnya. Sudah beberapa hari mereka menikah. Roxena duduk di sofa, sambil minum anggur. Mata hazelnya menerawang jauh. Jauh, membuat ingatannya ke masa-masa itu.
Jika aku sudah menemukan Gerald, harusnya aku juga akan segera bertemu dengannya, kekasihku.
Air mata jatuh dari pelupuk matanya.
Aku sangat merindukanmu…
*
Di sisi lain.
“Penobatan itu, aku tidak bisa membiarkannya terjadi!” ucap seorang pria muda yang tak lain adalah Benjamin.
“Kau harus membantuku. Kali ini tidak boleh gagal!” Benjamin tengah berbicara dengan seseorang lewat telepon.
“Aku tahu kau menyukainya. Bantu aku mendapatkan Lawrence Group, maka kau akan mendapatkannya!”
“Tua bangka itu? Aku tidak peduli. Aku hanya mau Lawrence Group!”
````
Panggilan berakhir dan Benjamin menyeringai. “Roxena Lawrence, kau tidak akan selamat kali ini!!”
````
__ADS_1