
Roxena tertawa renyah saat mereka tiba di mobil. Gerald yang keheranan langsung saja menanyakan apa gerangan yang Roxena tertawakan. Dengan santai, Roxena menjawab, "kebodohan Jonathan."
Gerald paham maksud dan tujuan Roxena membawanya. Untuk melindungi Roxena dari kemungkinan niat buruk. Roxena adalah wanita yang penuh dengan perhitungan. Ia tidak akan datang tanpa memperhitungkan semua kemungkinan yang terjadi.
"Padahal lusa dia akan menjadi tunangan orang lain. Nyalinya terlalu besar untuk menjebakku," kekeh Roxena.
Gerald mengangguk paham. Ia cepat mengerti dan belajar.
Roxena membuka laci penyimpanan, mengambil sesuatu berupa undangan mewah menggunakan kertas hitam dan bertinta emas. Tertulis di atasnya undangan pertunangan antara Stella dan Jonathan. Akan diadakan di istana. Hal itu diputuskan guna menjamin keselamatan anggota keluarga yang akan hadir di dalamnya.
"Kau sudah melihat istanaku, bagaimana jika kau membandingkannya dengan istana kerajaan?"tawar Roxena.
"Aku pikir lebih indah istanamu. Namun, ada satu hal yang tidak bisa dibandingkan," jawab Gerald.
Roxena menunggu Gerald melanjutkan kata-katanya. "Sejarahnya."
Roxena berdecak. Memang siapa yang mau mengubah sejarah kerajaan?! Yang ia inginkan adalah mengubah masa depan dan mencatatkan dirinya dalam sejarah.
"Ah … kali ini aku ingin bersaing dengannya," ucap Roxena. Gerald yang fokus mengemudi kembali menoleh sekilas pada Roxena.
Stella selalu menganggap Roxena sebagai saingan. Semakin lama semakin terlihat jelas keinginan untuk merebut apa yang Roxena miliki. Sayangnya, Roxena tak memiliki keinginan seperti itu. Justru, keinginannya lebih besar daripada sebuah tahta Kerajaan.
Roxena menatap Gerald, dalam dan cukup lama. Entahlah, semenjak mengetahui dirinya hamil, menatap wajah Gerald dalam waktu yang lama menjadi keharusan. Apakah ini pertanda lagi? Anaknya akan mirip dengan Gerald?
Wait, mirip dengan Gerald!
Wajah Roxena mendadak suram. Moodnya menjadi buruk. Merasakan tekanan atmosfer di sekitarnya turun, Gerald kembali menoleh pada Roxena.
"Ada apa, Xena?"
"Aku yang mengandung, aku yang melahirkan, bagaimana bisa mirip denganmu?"gumam Roxena. Gerald mengerti tidak paham.
"Mau laki-laki atau perempuan, anakku harus mirip denganku!"ucap Roxena. Perkataan itu terasa janggal bagi Gerald. Ia refleks melihat perut Roxena.
Merasa situasi ini akan membahayakan, Gerald menepikan mobil. "Mengapa-"
"Kau hamil, Xena?"tanya Gerald serius.
"Hamil?" Otak Roxena merespon dengan cepat. Ia memutuskan untuk merahasiakan hal ini sementara waktu. Berakting dengan wajah polosnya. Ditambah dengan kernyitan di dahi. "Tidak?" Ada jejak kekecewaan di mata Gerald.
"Mengapa kau berpikir aku hamil?"
"Kau membahas kemiripan anak, aku langsung terpikir hal itu."
"Aku hanya teringat percakapan beberapa bawahanku." Roxena kembali berkilah. Menciptakan satu kebohongan dan terus menambahnya.
"Xena." Nada rendah Gerald memanggil. Meraih jemari dan menatap serius Roxena. "Bagaimana jika anak kita kelak tidak mirip denganmu? Apa yang akan kau lakukan?" Ada rasa takut di hati Gerald. Ia ingat bahwa Roxena tak pandang bulu, bagaimana jika Roxena ….
"Harus mirip! Jika tidak … mungkin aku harus mendidiknya agar mirip denganku. Apa kau punya pikiran aku akan memakan anakku sendiri?"selidik Roxena tajam.
Gerald tidak menjawabnya. "Menyebalkan!"ketus Roxena. Ia menggembungkan pipinya.
Ada alasan khusus Gerald berpikir seperti itu. Karena mimpi terakhirnya, Roxena bunuh diri dalam keadaan hamil. Ia takut.
"Kita mau bermalam di sini?!"tanya Roxena masih dengan nada ketusnya.
*
*
*
"Mereka bertengkar?"
Dengan wajah bosannya Lily bertanya. Sophia mengedikkan bahu, tak mau berspekulasi.
"Kali ini karena apa?" Baru beberapa hari sudah kembali bertengkar. Apakah pasangan ini tidak bisa akur selalu?
"Kau ini, seperti tidak paham karakter Nona saja," ujar Sophia tenang.
"Meskipun Tuan itu menjadi penurut, kau pikir semua tindakan Nona dapat diterima? Terlebih, pemikiran dan tindakan Nona kadang tak memikirkan perasaan orang lain."
"Aku lelah dengan pertengkaran mereka," keluh Lily.
Sophia menepuk bahu Lily. "Sudah resiko."
__ADS_1
*
*
*
Gerald tak tidur malam itu. Ia merenungkan mimpi dan pertengkaran yang terjadi beberapa waktu lalu. Roxena tak mengizinkannya masuk ke kamar, alhasil ia tidur di kamar yang pertama kali ia tempati.
Sementara Roxena tidur dalam ketidak tenangan. Ia sangat kesal pada Gerald. Anak ini sangat ia dambakan, mengapa harus dilenyapkan hanya karena tidak mirip dengannya? Memang kemiripan hanya berdasarkan rupa?
Ia juga tidak sekejam itu! Lagipula apakah salah mengutarakan keinginannya? Dia yang mengandung, melahirkan dengan taruhan nyawa, lalu juga menyusui, apakah tidak boleh meminta anaknya harus mirip dengannya?
Roxena membuka matanya. "Pria menyebalkan itu!"
"Jika rupa mirip denganmu, aku akan membuangmu!"desis Roxena, kembali memejamkan matanya, menarik selimut menutupi seluruh tubuh.
Gerald keluar dengan mata pandanya. Mendapati Roxena sudah berada di meja makan dan menikmati sarapan berupa roti berselai.
Roxena melirik acuh. Lily menyajikan secangkir kopi untuk Gerald.
"Pia, buatkan aku bubur kacang merah lalu antarkan ke kantor," suruh Roxena.
"Baik, Nona."
"Aku berangkat."
"Masih marah," gumam Gerald. Tidak nyaman diabaikan seperti ini.
"Jika Tuan berkenan, apakah bersedia mengantarkan makan siang dan bubur untuk Nona nanti?"tawar Sophia pada Gerald yang begitu lesu. Namun, tak tahu harus berbuat apa.
*
*
*
Centauri berjalan dengan lancar tanpa kendala berarti. Perusahaan keuangan baru itu sudah dikenal oleh publik dalam waktu singkat. Menjadi anak perusahaan Lawrence Group tentu suatu kebaikan tersendiri.
Nasabah yang semakin meningkat dari hari ke hari. Serta kerja sama dengan berbagai pihak yang mulai dibangun termasuk dengan lembaga pemerintahan.
Proposal permohonan kerja sama juga terus dikirim, baik ke email maupun dikirimkan langsung ke perusahaan.
"Dalam waktu 3 tahun, Centauri akan menjadi perusahaan keuangan utama di negara ini!"ucap Roxena penuh keyakinan saat pertemuan rutin dewan direksi perusahaan.
Roxena mengusap dahinya saat para dewan direksi meninggalkan ruangan. Meeting telah usai. Semenjak tahu dirinya hamil, dirinya merasa mudah lelah. Padahal hanya persentasi biasa.
Erin lekas menyodorkan minum untuk Roxena. "Sebaiknya Anda beristirahat sebentar sebelum melanjutkan pekerjaan, Nona," tutur Erin.
Roxena mengangguk menyetujui. Ia minum lalu meninggalkan ruang meeting, kembali ke ruangannya. Memasuki kamar yang ada di dalamnya. Sebelum beristirahat, Roxena mengatur timer di ponselnya.
Di waktu bersamaan, Gerald tiba di perusahaan Lawrence Group. Sebelum masuk, ia menatap bangunan pencakar langit yang bersinar itu. Silau sampai ia menyipitkan matanya. Kedua pengawal ia suruh tetap di mobil.
Memasuki Lobby. Gaya dekorasi itu tentu sangat familiar bagi Gerald. Gerald menuju resepsionis. "Permisi."
"Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa dibantu?" Resepsionis yang ramah.
"Ruangan Roxena Lawrence ada di lantai berapa?"tanya Gerald langsung.
Resepsionis itu menilik penampilan Gerald. Celana kain, kaos dibalut mantel bewarna hitam serta menenteng sebuah paper bag. Penampilan kasual namun cocok dengan Gerald.
Gerald yang merasa diperhatikan menatap balik resepsionis itu. Dahi resepsionis itu berkerut. Ia kemudian meminta waktu pada Gerald. "Sebelumnya bisa katakan nama dan keperluan Anda, Tuan?"
Tidak mungkin pengantar makanan berani menanyakan ruangan Pimpinan tertinggi mereka.
"Gerald Chaddrick, mengantar makanan untuk Xena."
Gerald Chaddrick, memanggil Pimpinan mereka dengan akrab?! Wajah resepsionis itu langsung pias. "Maafkan saya, Tuan."
"Eh?"
"Ruangan Presdir ada di lantai 69. Anda akan menemukan meja sekretaris Erin di sana," jelas Resepsionis itu.
Gerald mengangguk mengerti. "Silakan gunakan lift khusus, Tuan. Anda akan langsung naik ke lantai 69," ujar resepsionis mengarahkan.
Gerald kembali mengangguk dan menuju lift yang disebutkan. Dalam waktu singkat, Gerald tiba di lantai tujuan. Kepala Gerald sedikit pusing. Ini pertama kali ia bangunan yang sangat tinggi. Tak jauh dari lift itu, Gerald mendapati Erin tengah sibuk memeriksa dokumen untuk diserahkan pada Roxena nanti.
__ADS_1
"Sekretaris Erin." Erin mendongak. Ia terkejut mendapati Gerald di hadapannya.
"Tuan?! Anda … mengapa Anda ada di sini?"
"Mengantar makan siang."
"Hah?" Erin mengingat-ingat. Tadi pagi suasana hati Roxena memang sedikit tidak bagus.
"Xena di dalam?"
"Iya, Tuan." Erin keluar dari mejanya. Membukakan pintu untuk Gerald. "Hanya saja Nona sedang istirahat di kamar, Tuan."
Gerald mengangguk paham. Ia masuk dan lebih dulu mengedarkan pandang. Dominasi hitam putih, misterius dan elegan.
Gerald meletakkan paper bag di atas meja sofa lalu melangkah mendekati jendela kaca ruangan. Menatap kota dari gedung pencakar langit ini. Cukup dengan itu, ia bergegas melihat Roxena di dalam kamar.
"Siapa?" Dasar tidurnya tidak lelap, Roxena langsung membuka mata menden pergerakan asing di kamarnya.
"Ah, aku mengganggu istirahatmu," sesal Gerald.
"Gerald? Sedang apa kau di sini?"selidik Roxena, meraih ponselnya untuk menonaktifkan timer.
"Mengantar makan siangmu."
"Bukankah aku menyuruh Sophia?"
"Aku menawarkan diri."
"Sudah jam makan siang, basuh wajahmu aku akan menghidangkan makan siang di meja," ujar Gerald. Roxena memijat pelan dahinya.
Mengangguk pelan sebagai jawaban. Gerald keluar sementara Roxena membasuh wajahnya. Sesaat mematut diri di depan cermin. Wajah cantiknya tampak lelah. Kantung matanya terlihat jelas. Roxena menghela nafas kasar. Ternyata lebih serius bertengkar dengan Gerald ketimbang menangani masalah pekerjaan.
Makan siang yang lengkap, tak lupa bubur kacang merah pesanan Roxena juga tersedia. "Apa kau memiliki masalah pekerjaan, Xena?"
"Lebih tepatnya denganmu," sahut Roxena.
Gerald langsung tertunduk. "Maaf."
Gerald menyerah lebih dulu?! Dia mengaku kalah?! Roxena terkesiap, ini sudah kesekian kalinya.
"Harusnya aku tidak berpatok pada mimpiku yang terakhir," sesal Gerald.
"Mimpi apa?" Roxena meletakkan mangkuk buburnya.
Gerald tampak ragu, takut mengusik luka lama Roxena. Hanya saja sulit untuk dihindari.
"Kau bunuh diri dengan bayi dalam kandunganmu."
Deg!
Jantung Roxena seakan berhenti berdetak. Ingatan-ingatan itu mulai menghampiri. Bunuh diri, itu adalah caranya mati di kehidupan pertama. Mati bersama kedua anaknya.
"J-jadi kau berpikir aku akan membunuh bayiku sekarang?"
"Aku takut. Aku tidak mau hal itu terulang kali."
"Kau benar, aku memang bunuh diri bersama dengan anak itu. Hanya saja … apa kau tahu alasanku, Gerald?"
Gerald menggeleng. Gerald merasa ia tidak pernah benar-benar memahami Roxena. Segala tindakan Roxena masih terasa abu-abu baginya.
"Karena aku takut." Nada bicara Roxena lemah.
"Rey, putraku yang berumur lima tahun telah tiada. Saat itu, hanyalah Rey alasanku untuk tetap bertahan. Sedang kau, aku membencimu."
"Aku tidak sanggup melanjutkan hidupku lagi. Dan jika pun aku sanggup, aku takut tidak bisa menjaga dan menyayangi anak itu dengan baik. Aku takut dia menderita karena di dalam hatiku, dia adalah anak dari orang yang menghancurkan hidup dan kebahagiaanku."
Jadi, secara mental, secara tak langsung, Gerald adalah pelakunya.
"Tapi, itu semua adalah masa lalu. Sekarang aku menginginkan seorang anak. Aku akan menyayanginya. Aku akan membuat dunia merayakan kelahirannya," ucap Roxena penuh keyakinan.
"Xena … maafkan aku." Rasanya seribu sesal dan jutaan kata maaf tak cukup. Pria itu menunduk dalam.
Roxena tersenyum simpul. Semua sudah berlalu. Ia juga mulai mengecap kebahagiaan. Jadi, ia mentoleransi ketakutan Gerald.
"Lupakan saja."
__ADS_1