Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 40 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

Sedan putih yang dikendarai Erin membela jalanan kota dengan kecepatan normal. Meninggalkan mansion keluarga ESA Group yang masih melangsungkan gala dinner. Setelah percakapan singkat dengan Jonathan langsung berpamitan pulang.


Sama seperti Tuan Luz dan beberapa tamu lain yang sempat berbincang dengan Roxena, mereka menantikan kerja sama dengan Lawrence Group.


"Tuan belum makan apapun, Nona," ucap Erin pada Roxena. Roxena seketika menoleh pada Gerald.


Gerald tertidur. Bagaimana bisa ia tidur tanpa kewaspadaan?


Alis Roxena sedikit menekuk. "Dia hanya duduk tanpa melakukan apapun?"tanya Roxena memperjelas.


"Hanya minum."


Roxena berdecak pelan.


Gerald yang lelah bekerja, lalu dipaksa ikut menghadiri gala dinner dan dihadapkan pada situasi ramai yang tidak disukai, membuat rasa lelahnya semakin meningkat dan menjadi bosan. Sekuat tenaga ia menahan kantuknya.


Begitu masuk mobil langsung memejamkan mata tidur tanpa memikirkan hal lain. Ia hanya ingin istirahat.


Terdengar dengkuran halus. Sepertinya sudah sangat lelap.


"Dia bisa tidur dengan perut kosong?"


"Anda juga belum makan malam, Nona," sahut Erin, kembali menambahkan, "Anda juga sering melewatkan waktu makan."


Roxena merasa tertohok. Memberikan sorot dingin pada Erin.


"Huh!"


"Melalui pewarisnya ESA Group ingin melebarkan sayap mereka. Tampaknya mereka akan membuat sebuah perubahan besar. Terlebih Lady Stella adalah kekasih Jonathan. Apakah kita tidak perlu melakukan sesuatu, Nona?"tanya Erin. Meskipun ia mendampingi Gerald tadi, Erin mendapat dan mengumpulkan banyak informasi.


"Keluarga Lawrence juga digosipkan dalam acara tadi. Anda digunjing karena tidak mengadakan pesta pernikahan dan juga pesta pengangkatan, menganggap Anda tidak mendapatkan restu dari Tuan Lawrence untuk hal tersebut. Jika hal ini terus berlangsung tampaknya akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Serta ada banyak mata wanita yang tertarik pada Tuan. Nona, akan lebih baik Anda menunjukkan kepemilikan mutlak atas Tuan dengan menyelenggarakan pesta," tutur Erin panjang lebar.


"Mengadakan pesta itu mudah, Erin. Hanya saja waktunya tidak tepat."


Erin diam sejenak kemudian menganggukinya. Jadwal Roxena padat. Terlebih ia bukan hanya memegang posisi tertinggi di Lawrence Group. Namun, juga mengurus Light and Shadow. Meskipun memiliki banyak tangan kanan tetap saja urusan yang harus ia tangani menggunung.


Dalam beberapa hari ke depan, Roxena akan kembali melakukan perjalanan bisnis, dalam rangka meninjau perusahaan yang telah diakuisisi dan melaksanakan pengaturan selanjutnya.


Melirik prihatin Gerald. Pria itu jelas makan hati. Diperlakukan sesuka hati oleh Roxena. Terkadang muncul rasa tidak senang di hati Erin mengenai perlakuan Roxena pada Gerald. Namun, kembali lagi kepada prinsipnya, Roxena tidak akan berbuat sesuatu tanpa alasan yang kuat.


Nona yang tidak konsisten. Tuan pun begitu. Kapan tarik ulurnya akan selesai?


Erin kembali melirik ke belakang di mana Roxena tengah menatap lekat Gerald.


Menyentuh wajah Gerald, Roxena menyunggingkan senyum tipis.


Hutfft!


"Mari lupakan kebencian itu sejenak. Memberikan cinta lalu menebasnya bukankah itu lebih baik?"lirih Roxena yang tetap terdengar di telinga tajam Erin.


Eh?


"Saya pikir itu bukan hal yang benar, Nona. Saya takut Anda akan terkena karma nantinya. Lebih baik Anda fokus pada satu hal saja, benci atau cinta. Tapi, kebanyakan kisah benci itu berubah menjadi cinta," ungkap Erin, dengan pelan.


"Takdir sudah memberiku kesempatan untuk balas dendam, Erin. Bagaimana mungkin aku menolaknya?"


"Tapi, bagaimana jika takdir berkehendak lain, Nona? Benci menjadi cinta. Anda bilang Anda mempunyai kehidupan masa lalu yang berhubungan dengan Tuan."


"Pernahkah Anda memikirkan alasan Anda dilahirkan kembali? Apakah karena kebencian atau justru sebaliknya?"tanya Erin yang membuat Roxena termenung.


Erin yakin. Di dalam hati Roxena memang ada cinta untuk Gerald. Sayangnya, Roxena selalu berusaha membunuhnya.


"Erin." Setelah hening cukup lama, Roxena mengangkat pandangannya. "Jika dihadapkan pada pilihan keluarga dan cinta, mana yang akan kau pilih?"


"Tentu saja Keluarga, Nona!"jawab Erin lugas. Bahkan tak berpikir panjang untuk menjawab.


"Di masa lalu, dia membantai keluargaku, membunuh suamiku. Bagaimana mungkin aku tidak membencinya? Erin, kau tak m merasakan sakit yang aku rasakan!!"tegas Roxena.


Keras kepala. Mendengarkan namun mengabaikan.


Erin menghela nafas pelan. "Okay, Nona. Tapi, ingatlah ini Nona, apapun yang akan terjadi, saya akan tetap ada di sisi Anda."


Erin telah bersumpah, ia akan mengabdi seumur hidup pada Roxena.


Arogansi, otoriter, mempermainkan hati sesukanya, aku adalah cerminanmu di kehidupan ini, Gerald!


Dug!


Roxena terperanjat.


Kepala Gerald tiba-tiba tak mampu mempertahankan posisinya, jatuh dan bersandar di bahu.


Erin tersenyum simpul.


Namun, hati tak akan bisa berbohong, Nona.


*


*


*


Sepanjang perjalanan kembali, Gerald tertidur lelap. Bahkan tak terbangun saat Roxena menggendongnya.

__ADS_1


Erin berdecak kagum di dalam mobil. Kekuatan fisik Roxena memang patut diacungi jempol.


"Nona." Lily dan Sophia menyambut.


"Eh?!"


"Buka kamar Gerald." Lily bergegas.


Roxena masuk dan merebahkan Gerald di tempat tidur. Menyelimuti dan mengecup dahi Gerald. Semua perlakuan itu sama sekali tidak menganggu tidurnya. Bahkan semakin lelap.


Dia seperti bayi. Bayi besar yang menggemaskan.


Nona berkelakuan aneh lagi.


Sophia dan Erin saling tatap. Lihatlah tatapan penuh arti Roxena itu. Seakan-akan dia benar-benar mencintai Gerald. Entah itu kebenaran atau tidak, itu pemandangan yang indah.


Roxena keluar dari kamar Gerald.


"Besok siapkan makanan kesukaannya," tidak Roxena.


"Err … Nona, makanan kesukaan Tuan, apa?"tanya Lily bingung.


"Kalian tidak tahu?" Kedua orang itu menggeleng.


"Makanan kesukaannya-"


Deg!


"Cari tahu sendiri!!" Roxena melenggang pergi masuk ke kamarnya.


Meninggalkan beban pada dua pelayan itu.


"Anda yang istri saja tidak tahu, bagaimana dengan kami?"gumam Sophia.


"Sudahlah. Ayo kita cari tahu saja. Barangkali ada petunjuk di media sosial lama Tuan," ucap Lily.


"Bukankah sudah dihapus?"


"Hehe, tampaknya kau sudah melupakan keahlianku, Pia?!" Lily tersenyum.


*


*


*


Gerald terbangun dari tidurnya. Menelaah dimana dirinya berada.


Kamarku?


Ia bertanya-tanya. Lalu memeriksa tubuhnya sendiri. Pakaian melekat rapi, tempat tidur tidak acak-acakan. Tidak terjadi pergulatan. Gerald menghela nafas lega.


Mimpiku semakin aneh saja.


Lalu mengingat bunga tidurnya.


Tidurnya nyenyak. Di dalam tidur itu, mimpinya begitu indah.


Menghela nafas. Memilih mengabaikannya. Kakinya melangkah turun, menyibak tirai jendela.


Mentari bersinar cerah. Tubuhnya terasa sangat rileks. Padahal kemarin terasa dibebani gunung.


Tok


Tok


"Anda sudah bangun, Tuan?" Suara Lily.


"Ya!" Gerald menjawabnya.


"Baik, Tuan."


Gerald tak langsung bergegas. Ia termenung. Pertengkaran kemarin membekas di ingatan.


Ugh!


Kepalanya sakit mengingat wajah mencemooh Roxena. Kata-kata pedas merendahkan yang terlontar. Gerald trauma dengan itu.


Aku tidak boleh mengeluh lagi. Aku harus menghadapinya. Habis gelap terbitlah terang. Gerald kau harus konsisten!!


Menepuk pipinya sendiri.


Ia bersiap. Keluar dari kamar menggunakan training dan kaos oblong.


Wanita ini mengganti minumannya?


Batin Gerald langsung bertanya. Setahunya Roxena akan menikmati minuman coklat di pagi hari. Namun, hari ini hanya ada teh yang tersaji. Disusul dengan kopi untuknya.


"Gym apartemen kosong. Kau berlatih saja di sana. Erin akan menemanimu," ucap Roxena mengawali pembicaraan.


"Kau mau ke mana?"tanya Gerald seraya duduk.


Dahi Roxena mengerut tipis. "Ada urusan."

__ADS_1


"Oh."


"Aku akan menyusul nanti. Aku harap ada perubahan karena kau akan sparring denganku."


Uhuk!!


Gerald tersedak. "Sparring denganmu?!" Gerald langsung bergidik. Dengan Erin saja ia babak belur, bagaimana dengan Roxena?!


"Kau laki-laki, kan?"tanya Roxena dengan tampang seriusnya.


"Baiklah. Tidak jadi denganku. Lily dan Sophia juga akan menemanimu latihan."


"Ya?!"


"Baik, Nona."


"Memang mereka bisa?"


"Tenang saja, Tuan. Anda akan merasakannya nanti!"


Senyum kedua pelayan itu tampak mengerikan. "Tidak-tidak. Aku akan mati dihajar oleh mereka. Jika kau ada urusan aku ikut saja!"


Itu seperti permohonan. Lily dan Sophia saling tatap. Apa Roxena akan membiarkan Gerald ikut ke markas LS?


"Jika kau tidak mau, baiklah. Tunggu aku kembali kalau begitu."


"Ya-ya. Ini juga baik." Lebih baik daripada dihajar bawahan Roxena.


*


*


*


Sembari menunggu Roxena, Gerald mencari berita tentang Elisa.


Bangkit dari keterpurukannya, Elisa sang Desainer mengeluarkan karya terbarunya.


Itu adalah artikel tentang karya baru Elisa. Mantan istrinya itu memang sangat berbakat. "Syukurlah kau sudah bangkit, Elisa."


Eh?!


Saat kembali ke beranda, Gerald mendapati ada artikel tentang dirinya dan juga Roxena.


Gerald membukanya. Ia penasaran dengan apa yang ditulis.


Ada foto. Dan juga kalimat penjelasan. Tidak banyak karena tidak dilengkapi dengan tanggapan tamu undangan. Lalu di dalam artikel itu juga memuat sub berita lainnya.


Roxena Lawrence terlihat menghadiri gala dinner ESA Group bersama dengan sang suami


Terlihat mesra namun tak mengadakan pesta pernikahan: Apakah pernikahan tersebut tidak direstui?


Tanggapan Presdir Lawrence Group terhadap merger dan akuisisi yang dilakukan Lawrence Group: Darah muda yang bergejolak!


"Roxena ini memang sesuatu."


Gerald mengangkat pandangannya. "Pesta pernikahan, ya?"


Saat menikah dengan Elisa, Gerald mengadakan pesta tertutup. Namun, berita pernikahannya ramai diberitakan. Dia memang hanya seorang dokter tapi Elisa adalah desainer ternama.


Omong-omong ia juga baru dua kali menghadiri pesta bersama dengan Roxena. Kali ini ia ikut, kemungkinan besar berikutnya juga akan ikut lagi.


Lalu … Roxena marah saat ia protes tentang jadwalnya. Ia juga tidak boleh lemah dan diberi fasilitas. Haruskah ia merubah kepribadiannya?


Menjadi pembuat onar terlintas di benaknya. Ia punya bekingan yang kuat. Secara status sosial, keluarga Lawrence hanya berada satu tingkat di bawah keluarga kerajaan.


Akan tetapi … Gerald buntu untuk melakukan itu. Bagaimana menjadi pembuat onar, ia sama sekali tidak tahu. Hidupnya dinamis. Selalu teratur dan juga disiplin.


"Ini membuatku gila!"erang Gerald.


*


*


*


Sementara itu, Roxena tengah mendengarkan laporan dari beberapa tangan kanannya. Buku jarinya memutih mendengar laporan dari tangan kanan yang ia perintahkan untuk menyelidiki masalah penyerangan tempo hari.


"Pimpinan Sky sempat berinteraksi dengan keluarga kerajaan. Dan juga dengan keluarga ESA Group."


"Mereka benar-benar menargetkanku!"geram Roxena.


"Semua orang kita siap menerima perintah, Lady. Silahkan turunkan perintah Anda!" Membungkuk pada Roxena.


"Tidak." Roxena mengendalikan emosinya.


"ESA Group tidak bisa diremehkan. Kekuatan keluarga kerajaan juga tidak lemah. Apalagi mereka menjadi kerja sama dengan negara lain dan tergabung organisasi dunia. Sulit untuk bergerak dengan kemungkinan samar."


"Kita tidak bisa menerima ini, Lady. Mereka meremehkan LS!" Bawahan Roxena menolak. LS memiliki harga diri yang tinggi. Ditindas tanpa dibalas itu sangat memalukan bagi mereka.


"Ah, kau salah. Aku bukan menyerah tapi menunda untuk peluang yang lebih besar. Fokus kita saat ini adalah meningkatkan kekuatan. Sebarkan perintahku! Ambil alih kekuatan yang di bawah kita, di dalam dan luar negeri. Lalu rekrut calon yang pantas, hanya dengan melampaui kekuatan banyak negara kita akan mampu!"


"Si, Lady!"

__ADS_1


Mereka langsung menerima keputusan itu.


__ADS_2