Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 30 Mimpi


__ADS_3

Memiliki posisi dan status yang lebih tinggi dari kebanyakan orang tak serta merta membuat kehidupan Roxena damai sejahtera. Apalagi dengan identitasnya yang lain. Memiliki banyak musuh dan sering berhadapan dengan penyerangan ataupun maut sudah menjadi bagian dari diri Roxena. Luka di tubuhnya adalah bukti bahwa hidupnya tidaklah seterang sepak terjangnya membawa keluarga Lawrence dalam masa keemasan.


Entah berapa kali sudah tubuhnya menjadi sarang peluru. Entah berapa kali pula tubuhnya menjadi sasaran senjata tajam. Roxena sama sekali tidak bisa menghitungnya.


Dan penyerangan kepada dirinya kembali terjadi. Begitu keluar dari bandara, dirinya diserang. Akibat penerbangan panjang, Roxena lengah dan akhirnya selamat dengan satu tembakan yang ia terima. Sementara Erin tak terkena tembakan karena target penyerapan adalah Roxena.


*


*


*


"Astaga! Nona demam!!" Sophia memekik keras saat hendak membangunkan Roxena karena hari sudah beranjak siang. Roxena tampak gelisah dengan butir keringat mengalir deras. Dahinya mengernyit dan bibirnya yang pucat menggertak. Dan kesadaran Roxena juga rendah. Ia tak bisa melihat dengan jelas. Sulit untuk membuka mata karena pusing yang teramat.


Sophia segera keluar untuk mengambil handuk kecil dan juga air untuk mengompres dahi Roxena. Tak lupa menyuruh Lily menghubungi dokter organisasi untuk memeriksa Roxena.


Tak butuh waktu lama untuk dokter pribadi Roxena di organisasi Light and Shadow tiba. Segera memeriksa Roxena.


"Lady kelelahan akibat perjalanan bisnis dan juga luka yang Lady dapatkan tadi malam," ucap dokter berjenis kelamin wanita itu. Kini Roxena sudah mendapatkan penanganan. Disuntik obat pereda panas dan juga diinfus, tak lupa perban luka diganti.


"Siapa yang menangani luka Lady belakang ini?"tanya Dokter itu, karena sudah ada beberapa bekas dan luka baru pada Roxena.


"Itu Tuan yang menanganinya," jawab Lily.


"Suami Lady?" Mata Dokter itu memicing.


"Apa suami Lady seorang dokter?"tanyanya lagi. Lily menjawab dengan anggukan.


"Jika begitu, di mana suami Lady? Lady sedang sakit seharusnya beliau ada di sisi Lady."


"Em … Dokter Liu, untuk hal itu, kami tak punya keberanian untuk menjawabnya. Takutnya nanti menimbulkan kesalahpahaman dan kami tak berani menanggung akibatnya," jawab Sophia, yang diangguki oleh Lily.


Dokter Liu mengerutkan dahinya. Ia tahu sang Lady sudah menikah. Namun, belum pernah bertemu langsung dengan Gerald apalagi tahu bagaimana hubungan suami istri itu sebenarnya.


Melihat ekspresi Lily dan Sophia, Dokter Liu memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Setelah meninggalkan obat pada Lily dan Sophia serta menjelaskan aturan minumnya, juga memberikan rekomendasi makanan untuk Roxena, Dokter Liu pamit undur diri.


*


*


*


Roxena sungguh merasa tubuhnya sangat panas sekaligus dingin. Tubuhnya tak berdaya, sangat lemas. Namun, ia masih mampu menangkap pembicaraan ketiga bawahannya. Pengaruh obat yang diberikan membuat kesadaran Roxena terenggut seluruh setelah sebelumnya tak mampu bangun ataupun tidur.


Dan di saat Roxena membuka matanya ia telah berada di tempat yang berbeda. Di depannya adalah hamparan daratan gersang yang penuh dengan kepala manusia yang tengah berperang. Matahari yang terik menyengat sama sekali tidak mempengaruhi semangat prajurit dari kedua belah pihak.


Di garis terdepan. Seorang jenderal memimpin. Mengacungkan pedangnya, semakin mengobarkan semangat prajuritnya.

__ADS_1


Roxena tersentak pelan di tempatnya. Di berada di antara kerumunan itu namun sama sekali tidak terpengaruh. Tubuhnya bak udara.


"Ini-"


Ucapannya terhenti saat melihat wajah jenderal yang berlumuran darah itu.


"Diriku?"


Roxena mencerna situasi. Situasi perang, jenderalnya adalah dirinya, apakah ia memimpikan kehidupan lalunya?


"XENA, AWAS!!"


Roxena kembali tersadar sadar mendengar itu. Suara yang masih familiar di ingatannya.


"Regis!" Dirinya di masa lalu menyebutkan sebuah nama. Tadi, sebuah panah mengarah ke jenderal wanita itu dan dihalau oleh seorang pria yang dipanggil Regis itu.


"Regis." Roxena bergumam dengan air mata yang menetas tanpa diminta.


"Hei, wanita gila! Kau baik-baik saja atau bagaimana?"


Roxena mendengar suara. Memanggil dirinya dan merasakan bahwa tubuhnya tengah diberi sentuhan berupa tepukan.


"Wanita Gila!" Panggilan itu semakin sering. Membuat Roxena membuka matanya. Pandangannya kabur dan siluet seorang pria menyambut dirinya.


"REGIS!!" Roxena bangun dan memeluk sosok pria dalam pandangannya itu. Memeluk erat dan menyembunyikan wajahnya di ceruk sang pria, menghirup dalam aroma pria itu.


Roxena membuka matanya. Kepalanya yang masih pusing lambat untuk mengenali pemilik suara itu. Roxena melepas pelukannya dan melihat siapa yang ia peluk.


"Gerald?"


"Apa?!" Gerald menjawab dengan ketus, menatap tajam Roxena yang tampak kebingungan. Roxena lantas melihat kedua tangannya sendiri lalu mencubit pipinya. Tentu sakit.


"K-kau? Mengapa dirimu? Di mana Regis? Apa yang kau lakukan di sini?"


Gerald mengeryit. Tidak paham apa yang Roxena katakan. Roxena masih kebingungan.


"Siapa Regis?"tanya Gerald.


"Regis?" Roxena malah balas bertanya. Gerald semakin kesal. Wanita di depannya ini benar-benar sudah gila.


Roxena lalu mengedarkan pandangannya. Ingatan masa lalu dan masa sekarang bertabrakan. Ingatannya kacau hanya karena satu mimpi singkat.


Ini kamarku bukan medan perang.


Roxena sudah menguasai ingatannya. Lalu melihat ke arah meja dekat ranjangnya. Ada air hangat, sup sarang burung, dan juga obat. Roxena lantas menatap Gerald yang masih di sana, menatap dirinya campur aduk. Aneh, kesal dan juga ada perasaan lain di hatinya.


Regis?

__ADS_1


"Tinggalkan aku sendiri," ucap Roxena, memalingkan wajahnya.


Tak terdengar jawaban. Hanya decakan kesal dan suara pintu yang ditutup dengan kasar. Roxena menghela nafas lalu memijat dahinya.


Mengapa aku bermimpi masa lalu? Pertanda apa ini?


Lalu tadi … memalukan sekali. Mau diletakkan di mana wajahku nanti?


Roxena mengingat saat ia memeluk Gerald dan mengiranya adalah orang lain. Wajahnya memerah karena itu.


Cukup lama Roxena menguasai hatinya dari rasa malu dan juga kesal pada dirinya sendiri. Dan kini, perutnya terasa sangat lapar. Aroma sup burung walet menarik dirinya.


"Apa Liu datang?"gumam Roxena, sebelum akhirnya menyantap habis sup tersebut. Lantas minum obat dan menghabiskan air hangat yang mulai mendingin.


"Berapa lama aku tak sadarkan diri?"gumam Roxena, melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul 16.00 waktu setempat. Memutuskan untuk bangkit dan membersihkan diri. Roxena sudah merasa tubuhnya baik-baik saja.


*


*


*


Regis … Regis … who Regis? Mengapa hatiku sangat tidak senang saat wanita itu menyebutkan nama itu dan memelukku?


Setibanya di kamar, Gerald menyentuh dadanya. Ada rasa tidak nyaman di sana.


Roxena bisa begitu lembut memanggil nama pria lain. Memeluknya erat seakan sudah lama tidak bertemu dan tak ingin kehilangan.


Jika dia menyukai Regis-Regis itu mengapa harus menghancurkan kehidupanku? Lagi, tatapannya tadi … hatiku sangat sakit. Mengapa?


Saat sadar bahwa yang dipeluk bukan Regis, tatapan Roxena menjadi benci sebelum akhirnya kembali tanpa ekspresi.


Hari ini, ia pulang lebih cepat dari pada biasanya. Bahkan sebelum jam pulang kerja ia sudah berada di apartemen. Begitu masuk, langsung diminta oleh Lily dan Sophia memeriksa Roxena yang katanya tengah demam sekaligus membawakan makan, minum, dan juga obat.


Sebagai seorang dokter yang tahu Roxena terluka, Gerald yang menolaknya. Dan saat masuk ke kamar Roxena, ia disambut dengan Roxena yang gelisah dalam tidurnya. Gerald berusaha membangunkan Roxena karena sudah terlalu lama tidur. Namun, begitu bangun malah membuat hatinya tak senang.


Gerald menghela nafasnya. Semakin hari, semakin tidak jelas saja hatinya.


Huff!


Lupakan saja. Ini bukan apa-apa. Mana mungkin aku menaruh perasaan pada orang yang sudah membuat kehidupanku hancur dan berantakan?


Gerald meyakinkan hatinya. Menegaskan pada dirinya sendiri.


Gerald lantas membuka buku catatannya yang ada di meja belajar sekaligus meja kerjanya. Di dalam sana, berisi catatannya tentang sikap dan perilaku Roxena.


Gerald tengah menyusun rencana. Bagaimana caranya bisa lepas dari cengkeraman Roxena, setidaknya mendapatkan kepercayaan Wanita itu. Gerald menyadarinya. Sorot mata kebencian itu terkadang sudah tidak ada. Digantikan dengan sorot mata dingin yang seperti tidak dapat tergapai. Roxena, terkadang menunjukkan perasaan padanya. Namun, wanita itu seperti tidak mau terikat. Tak mau terlalu dalam pula. Sungguh sulit untuk Gerald mengerti. Hingga akhirnya, Gerald menyimpulkan satu hal. Kesimpulan yang sama seperti yang terdahulu. Rencana yang sempat ia pikirkan namun belum juga terealisasi.

__ADS_1


Semakin lemah aku di depannya, semakin lemah pula ia padaku. Aku pasti bisa pergi dari tempat ini!


__ADS_2