Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 6 Menghadiri Pesta


__ADS_3

Bagai kerbau dicocok hidungnya, begitu nasib Gerald saat ini. Meskipun penentangan tersorot jelas di matanya, pemberontakan dengan fisik, ia tak bisa lari dari genggaman Roxena.


"Aku masih ingat jelas waktu itu. Kau mengatakan bahwa jangan pernah berpikir untuk lari. Jika tidak, orang yang kau cintai akan mati. Hari ini, akhirnya aku bisa membalas kata-katamu itu. Berperilakulah dengan baik agar wanita itu selamat."


Kata-kata Roxena terngiang di benaknya.


Waktu itu, saat itu?


Kapan ia mengatakannya? Gerald tidak pernah main hati dengan wanita lain. Ia setia pada Elisa, cintanya.


Paranoid, wanita gila. Hanya itu yang Gerald yakini dari Roxena.


"Nona, kita sudah sampai," ucap Erin, menyadarkan lamunan Gerald. Gerald melihat keluar. Kediaman mewah dengan gaya klasik berada di hadapannya. Dan kediaman itu terlihat sangat ramai, seperti ada pesta di dalamnya. Gerald mengingatnya, beberapa wanita di balik kemudi itu, Erin, menyebutkan perihal pesta ulang tahun.


"Hm."


Roxena turun lebih dulu. Disusul oleh Gerald. Mereka masih menggunakan pakaian pemberkatan tadi.


Roxena mendekat, meletakkan tangannya pada lengan Gerald. "Kau!"


"Berperilakulah seperti kita saling mencintai," ucap Roxena penuh penekanan.


Gerald kembali hendak menyentakkan tangannya. Tidak, ia menahannya. Muak dengan ancaman Roxena. Kembali, senyum puas itu tersungging di bibir Roxena.


Erin mengikuti dari belakang. Para tamu sudah banyak berdatangan. Lantai satu kediaman dijadikan sebagai tempat acara pesta ulang tahun berlangsung. Interior gaya klasik mendominasi. Lampu gantung berwarna emas itu menambah kesan kemewahan.


Suasana yang tadinya cukup riuh, hening saat Roxena melangkahkan kakinya masuk. Ekspresinya berubah menjadi dingin sedang Gerald datar.


Bisik-bisik mulai terdengar. Membicarakan siapa gerangan pria yang menggandeng oleh Roxena itu? Bukankah selama ini, Roxena tidak memiliki hubungan yang serius dengan pria?


Wajah Erin semakin terlihat tidak senang.


"Kakak?! Kau datang?"


Ini bukan pesta, tapi pertunjukan drama keluarga yang nyata

__ADS_1


"Sungguh tidak terduga kau memenuhi undanganku," ucap seorang pria muda, usianya ada di bawah Roxena. Tampan, dan mirip dengan Tuan Lawrence yang berdiri di sebelah pria itu.


Roxena menatap sinis pria itu. "Aku pulang ke rumahku sendiri!"ucap Roxena dengan penekanan. Wajah pria itu menjadi tidak senang namun ia sembunyikan di balik senyuman.


"Kakak bisa saja bercandanya," kekehnya pelan.


"Xena, kau datang. Ayah sangat senang," ucap Tuan Lawrence, menatap sendu Roxena. Senyum terukir di bibirnya.


Roxena mengangguk pelan. "Lalu, siapa pria di sampingmu ini? Apakah dia pasanganmu?"tanya Tuan Lawrence menatap Gerald, kemudian menatap Erin meminta jawaban lebih dahulu. Erin mengangguk.


"Tuan-"


"Ayah. Aku pulang untuk menagih ucapanmu," ucap Roxena, menarik tangan Gerald menunjukkan cincin pernikahan yang susah payah disematkan.


Mata Tuan Lawrence membulat sejenak. Kemudian menguasai keterkejutannya. "Xena, kau sudah menikah? Kapan dan di mana? Mengapa tidak memberitahu Ayah?"tanyanya lembut. Roxena tetap pada sikap dinginnya.


"Bukankah pesan Anda pada Erin adalah aku menghadiri pesta ulang tahun Anda dengan membawa pasangan? Aku sudah datang dan memenuhi permintaan Anda. Kini, tepati janji Anda padaku!"ucap Roxena dengan penuh penekanan.


Gerald tengah menelaah situasi. Apakah alasan Roxena menikah dengannya adalah … perebutan harta warisan?


HAHA


"MENGEJUTKAN! PUTRIKU SELALU MENGEJUTKAN AYAHNYA INI. BENAR-BENAR PUTRIKU!" Tuan Lawrence tertawa senang. Ia bahkan maju dan menepuk bahu Gerald. Tidak curiga sama sekali karena percaya dengan Roxena putrinya.


Roxena menepuk tangan Gerald pelan. Gerald tersenyum kaku. "Selamat malam, Tuan." Meskipun tak senang, ia harus mengikuti permainan. Dalam hatinya dipenuhi dengan segala macam kekesalan dan umpatan.


"Panggil aku Ayah. Kau adalah putra menantu sulungku. Hahaha, selamat datang di keluarga Lawrence," ucap Tuan Lawrence kemudian memeluk Gerald.


Roxena tersenyum tipis. "Ayah, kita tidak bisa menerima sembarangan orang menjadi menantu. Mungkin Kakak cemas karena kepulanganku. Makanya memutuskan menikah dengan terburu-buru. Identitas pria di samping kakak itu tidak kita ketahui secara jelas. Apakah keluarga Lawrence semudah itu dimasukin orang asing, Ayah?"


"Apa hakmu bicara di sini dan mempertanyakan keputusanku, Benjamin? Seharusnya kau yang mengingatkan dirimu sendiri. Anak yang lahir karena hasil perselingkuhan, tidak akan pernah mewarisi keluarga Lawrence. Pewaris tunggal yang sah hanya aku seorang. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun! Lebih baik khawatir dirimu sendiri!!"tandas Roxena.


Tuan Lawrence menatap kesal pria bernama Benjamin itu. "Kuliah di luar negeri bukannya bijak malah sembrono. Pergilah ke kamarmu dan renungkan kesalahanmu!"titah Tuan Lawrence yang disambut dengan tangan Benjamin yang mengepal erat. Ia menatap marah Tuan Lawrence dan Roxena lalu pergi.


Para tamu yang hadir, jadinya melihat drama keluarga itu. "Menantuku, dari mana kau berasal dan bagaimana latar belakangmu? Lalu apa pekerjaanmu? Keluarga Lawrence memang sangat menjunjung latar belakang. Namun, Xena berbeda. Asalkan ia bahagia, aku tidak masalah dengan latar belakangmu. Aku hanya minta, kau menjaga dan mencintai Xena sepenuh hati karena aku … aku adalah Ayah yang gagal. Meskipun Xena kuat, dia tetaplah wanita yang membutuhkan perlindungan. Ayah minta, jadilah suami yang bertanggung jawab, okay?"

__ADS_1


Meskipun kata-katanya terdengar lembut, itu adalah sebuah penekanan disertai dengan ancaman halus.


Gerald menatapnya datar. Geram mendarah daging di benaknya.


Putrimu menikahiku secara paksa, membuatku berpisah dengan wanita yang sangat aku cintai. Bertanggung jawab bagaimana yang kau maksud? Mencinta dan menyayanginya? Cih! Dalam mimpimu!! Aku bukan pria lemah, aku akan membalas perlakuan dan penghinaan putrimu padaku!!


Gerald kemudian tersenyum tipis dan mengangguk pelan. "Tampaknya dia canggung, Ayah. Aku tidak memberitahu siapa diriku padanya."


"Ah … begitu rupanya." Tuan Lawrence mengangguk paham.


"Ayah, ini adalah malam pernikahan kami. Kami ingin menghabiskan waktu berdua-"


"Baiklah-baiklah. Kalian kembalilah. Hahaha ini hadiah ulang tahun yang sangat luar biasa. Hahaha…."


Roxena kemudian mengajak Gerald dan Erin meninggalkan tempat.


"Aku membencimu!!"desis Gerald saat mereka tiba di mobil. Gerald langsung menyerang Roxena, mencekiknya dengan penuh kemarahan.


"APA YANG KAU LAKUKAN?!"


Erin langsung menarik Gerald, mencoba menyelamatkan Roxena. Sedang Roxena sendiri, tidak melakukan perlawanan. Malah terdengar kekehan yang bercampur dengan nafas yang tercekat. Sorot mata Roxena penuh dengan kemenangan, seakan puas melihat kebencian membara Gerald.


"Aku akan membunuhmu, wanita gila!!"


Gerald semakin mengeratkan cekikannya. Wajah Roxena memucat.


"LEPASKAN ATAU WANITA ITU MATI?"ancam Erin dengan mengangkat teleponnya, bersiap memerintahkan orang Roxena yang masih berada di Luxemburg menghabiskan nyawa Elisa.


Gerald menoleh. Cekikannya melonggar.


"DASAR WANITA GILA!!"umpatnya penuh amarah. Nafasnya memburu dan terduduk lemas.


Roxena bangun. Ia tertawa pelan. "Kau tidak akan bisa membunuhku. Dan aku, akan semakin puas melihat kebencianmu itu!"ucap Roxena serak.


"Sebenarnya apa salahku padamu?"tanya lirih Gerald.

__ADS_1


"Salahmu?"


"Entahlah."


__ADS_2