
Keesokan harinya.
Erin dan Gerald berada dalam perjalanan menuju sebuah galeri lukis.
"Apa Xena sudah di sana?"tanya Gerald memecah suasana hening selama perjalanan.
Erin melihat jam tangannya, "mungkin dalam perjalanan, Tuan."
"Oohh."
"Lalu apa kau tahu gala dinner itu dilakukan di mana?"tanya Gerald lagi penasaran.
"Saya tidak berani mendahului Nona. Anda tidak perlu cemas, Nona sudah mengatur semuanya," jawab Erin menjelaskan. Gerald menghela nafas kasar.
"Anda punya pertanyaan lagi, Tuan?" Beberapa saat setelah suasana di dalam mobil kembali hening. Sedangkan di luar penuh dengan hiruk-pikuk kendaraan dan aktivitas kota yang tak pernah berhenti.
"Tidak ada," jawab Gerald.
*
*
*
"Tuan Gerald, perkenalan ini adalah Max, pelukis yang akan membuat lukisan pernikahan Anda dan Nona," ujar Erin memperkenalkan Gerald pada Max, sang pelukis terbaik yang berada di bawah naungan Light and Shadow. Usianya sudah 60 tahun, Max adalah pelukis senior yang sangat disegani.
"Gerald."
"Max. Senang bertemu dengan Anda, Tuan." Max lebih dulu membungkuk sebelum berjabat tangan dengan Gerald.
"Apa Xena belum datang?"tanya Gerald yang belum mendapati kehadiran Roxena.
"Mungkin ada sedikit kendala. Tidak perlu cemas, Tuan. Lebih baik Anda berganti pakaian lebih dulu," jawab Erin, kemudian segera mengecek ponselnya.
Max mengambil alih, "mari, Tuan," ajak Max.
Ada keresahan di hati Gerald. Tapi, melihat Erin yang cukup tenang ia segera menyingkirkannya.
Erin mencoba menghubungi Roxena. Panggilan itu masuk tapi tidak dijawab oleh Roxena.
Erin yang sebenarnya khawatir semakin khawatir. Ia mencoba menghubungi anggota yang menjadi pengawal bayangan Roxena.
Erin terkesiap pelan begitu mengetahui alasan Roxena tidak kunjung tiba. Ia menghela nafas pelan lalu menyimpan ponselnya.
"Apa terjadi sesuatu dengan Xena?" Gerald yang sudah berganti pakaian kembali mendatangi Erin dengan raut wajah cemas. Sudah lebih dari tiga puluh menit Roxena tak kunjung hadir. Dihubungi juga tidak dijawab.
"Nona ada urusan mendadak, Tuan. Sebentar lagi Nona akan tiba," jawab Erin menenangkan.
"Jangan terlalu cemas, Tuan. Nona bukan wanita lemah. Sembari menunggu, bagaimana jika Anda menikmati beberapa koleksi galeri saya?"tawar Max.
"Ide bagus. Max adalah pelukis senior. Karyanya sangat berharga," timpal Erin setuju.
"Aku akan menunggu." Gerald tidak tertarik dengan lukisan, selama Roxena belum ada di depan matanya.
Erin dan Max saling pandang, tak berdaya.
__ADS_1
Sudah hampir satu jam mereka menunggu. Gerald berulang kali bertanya dan berniat menyusul Roxena sendiri. Erin menahannya. Jika Gerald berbuat sesuatu bisa-bisa malah semakin runyam.
"KAU INI BAGAIMANA?! XENA TIDAK TAHU DI MANA DAN BAGAIMANA KEADAAN. MANA MUNGKIN AKU SEBAGAI SUAMI DIAM SAJA?!" Emosi Gerald meluap.
"Apa yang kalian ributkan?"
"Xena/Nona?!"
Roxena datang dengan menggunakan gaun hitam yang ia gunakan pada pernikahannya dengan Gerald. Mata hazelnya menyorot tajam tiga orang di depannya.
Roxena tampak baik-baik saja. "Xena, kau baik-baik saja?!" Gerald memastikan.
"Ya, tidak ada masalah berarti," jawab Roxena santai.
"Nona." Max menghadap.
Grepp!
Roxena tersentak saat Gerald memeluknya erat.
"Syukurlah … syukurlah." Gerald lega. Sirna sudah kekhawatirannya.
"Ah … maaf membuat kalian khawatir," ujar Roxena menyesal.
"Karena Nona sudah datang, bagaimana jika kita mulai sekarang?"saran Max. Yang segera disetujui oleh mereka.
Roxena dan Gerald masuk ke ruang lukis Max. Di dalamnya terdapat peralatan lukis komplit serta ada set ruang foto studio yang telah ditata sedemikian rupa.
Melukis dengan objek nyata itu memakan waktu yang cukup lama. Roxena tak punya waktu sebanyak itu untuk menjadi modelnya. Alhasil rencananya sedikit berubah. Tidak hanya membuat lukisan pernikahan namun juga mengambil foto pernikahan. Nantinya lukisan akan dibuat berdasarkan foto yang dipilih.
Memang sederhana tanpa ada pergantian busana. Tapi, hasil yang didapatkan sangat memuaskan. Perpaduan keduanya saling melengkapi.
Kini Gerald dan Roxena tengah memilih foto mana yang akan dijadikan lukisan. Mereka memiliki pilihan yang berbeda. Roxena memilih foto dengan dirinya dalam posisi duduk dan Gerald berdiri. Sementara Gerald sebaliknya.
"Bagaimana jika saya membuat keduanya?"tawar Max ketika melihat tatapan bersitegang Gerald dan Roxena.
"Okay." Gerald setuju.
Sementara Roxena berdecak. Max tersenyum, "saya akan segera mengirim hasilnya pada Anda," ujar Max seraya membungkuk pelan.
*
*
*
"Sampai jumpa nanti malam," ucap Gerald sebelum Roxena masuk ke dalam mobil. Gerald kemudian mencium kening Roxena. Hari masih siang, Gerald masih ada jadwal pekerjaan di rumah sakit begitu juga dengan Roxena.
"Gerald."
"Ya?"
"Kau … hati-hati," ucap Roxena serius. Ada kekhawatiran tersirat pada tatapannya.
Pasti ada hubungan dengan itu, batin Erin.
__ADS_1
Gerald tersenyum lembut, "kau juga hati-hati. Jangan terluka lagi, okay?" Gerald menangkup wajah Roxena.
"Hm."
Roxena kemudian masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan parkiran galeri. Dilepas dengan tatapan Gerald yang berubah. Kerisauan kembali hadir. "Apa kau tahu maksud kata-kata Xena, Asisten Erin?"tanya Gerald.
"Anda hanya perlu hati-hati, Tuan. Tidak perlu memikirkan hal yang aneh-aneh," jawab Erin seraya membukakan pintu untuk Gerald.
Erin juga sudah mengatur tambahan pengawal untuk Gerald. Kata-kata Roxena tadi adalah peringatan.
Nona benar, hari semakin panas
*
*
*
Saya sangat terhormat dengan undangan dan kehadiran Anda secara pribadi. Tapi, saya sangat sibuk dan tidak punya waktu menemani Anda.
Saya merasa juga tidak ada yang perlu dibicarakan di antara kita. Bicara mengenai pertemanan adalah bullsh*t! Saya menghormati Anda hanya karena seorang putri.
Lalu … lebih baik jangan mengusik saya. Jika Anda tidak berhenti juga, saya bisa menghilangkan status Anda sebagai seorang putri.
"Wanita sialan itu!!"
"Dia begitu angkuh! Aku sudah menurunkan derajatku tapi dia tidak menghormatiku sama sekali! Aku semakin ingin menyingkirkannya!!"
Stella kembali mengamuk begitu tiba di kamarnya. Menghancurkan barang untuk meluapkan kekesalannya.
Kalimat itu dilontarkan dengan senyum mengejek. Dan sialnya ia tidak bisa melawan.
"Kau lihat sendiri kan?! Dia berani pergi tanpa izinku!! Dia bahkan berani menatap mataku langsung! Dia menginjak harga diriku!"
Stella berkata pada Asistennya yang merasa takut. Emosi Stella selalu meledak jika sesuatu tidak berjalan seperti yang ia inginkan.
Jangan usik Lawrence Group sampai kita punya penunjang ekonomi yang lain. Kau adalah wanita terhormat, jaga emosinya. Mundur selangkah bukan berarti kekalahan. Kita mundur untuk menang!
Kata-kata Ratu yang notabenenya adalah sang ibu terngiang dalam benak Stella.
Jika bukan karena itu, Stella pasti sudah meluapkan emosinya di depan umum.
"ROXENA LAWRENCE!"desis Stella penuh penekanan.
"Kau akan mendapatkan akibat dari perilakumu hari ini!" Stella dengan cepat menemukan caranya.
"Kau, mendekatlah!" Asisten itu mendekat dengan ragu. Stella membisikkan sesuatu yang membuat sang asisten membelalakkan mata.
"Lady, ini …."
"Aku memang tidak boleh mengusiknya. Tapi, tidak ada larangan untuk yang lain, bukan?" Stella tersenyum smirk.
"Lakukan dengan benar! Awas jika gagal!"ancam Stella. Asistennya bergidik ngeri dan segera undur diri untuk melakukan perintah Stella.
"Suatu hari kau akan berlutut padaku, Roxena Lawrence!"
__ADS_1