
Hukuman yang menyenangkan sekaligus menyiksa. Itulah yang Gerald rasakan. Biasanya Roxena akan langsung pada tujuan. Namun, kini bermain-main dengan waktu yang sangat lama. Hal itu membuatnya frustasi. Ia juga tidak bisa bertindak karena kedua tangannya diikat erat.
"Xena …," racau Gerald.
Roxena mengangkat satu alisnya. "Aku mohon …."
"Hm? Kau ingin aku melakukan apa?"
"Masukkan," pinta Gerald. Roxena tersenyum. Ia tidak bisa bermain terlalu kasar karena kehamilannya.
Gerald merasakan itu. Gerakan Roxena sangat lembut dan hati-hati. Seolah-olah sedang menjaga sesuatu. Ada rasa penasaran di hatinya. Namun, semua itu buyar karena kenikmatan yang melanda dirinya.
*
*
*
Di belahan negara lain, Elisa bersama dengan asistennya, Violet berada di bandara dan sedang antri untuk check in penumpang.
"Nona … apakah kita tidak perlu berpamitan pada Tuan Regis?"tanya ragu Violet. Elisa menghela nafasnya. Memantapkan niat.
"Tidak perlu."
"Ayo." Setelah check in, mereka memasuki melakukan pemeriksaan memasuki gate. Menunggu sekitar 20 menit di ruang tunggu gate, akhirnya mereka memasuki pesawat. Elisa menatap keluar jendela.
Tak lama berselang terdengar pengumuman dari pramugari.
Pesawat mulai bergerak menuju tempat lepas landas. Pelan dan berubah mencari cepat untuk take off. Kini, pesawat sudah terbang.
"Tidurlah, Nona. Akan saya bangunkan jika sudah mau mendarat," ujar Violet. Elisa mengangguk.
Maaf, Regis. Hanya Gerald satu-satunya yang aku cintai.
*
*
*
"Elisa terbang ke Madrid?"tanya Regis mengulang laporan asistennya.
"Benar, Tuan Muda."
Regis meletakkan berkas di tangannya. Lalu memijat dahinya. Pusing dengan tindakan Elisa. Mengapa tidak mendengarkannya? Gerald sudah berpaling. Tak peduli lagi padanya! Apa yang Elisa harapkan?
"Apa dia tidak tahu tindakannya sangat berbahaya?! Dia sedang hamil!!"
Madrid, wilayah kekuasaan Roxena. "Sial!"
"Siapkan pesawat. Aku akan menjemputnya!"
"Baik, Tuan."
*
*
*
"Wanita tanpa celah ini. Apa kelemahannya?"gumam Jonathan seraya menggoyahkan gelas berisi cairan berwarna kuning keemasan. Segelas whisky kemudian ditenggaknya hingga tandas.
"Rencana Stella gagal total. Bukannya mengalami kemunduran mereka malah mendapat pujian."
Sikap Roxena yang tenang dan mengikutinya prosedur, serta keterangan yang telah disampaikan oleh Pengacara yang sejalan dengan Jaksa Chris, Roxena justru dipuji. Itu kembali meningkatkan klien yang bekerja sama. Centauri yang semula berencana untuk libur selama beberapa hari dibatalkan karena banyaknya jumlah calon nasabah dan juga klien dengan berbagai kepentingan.
Plot twins, rencana menjebak ini justru menjadi ajang promosi gratis untuk Lawrence Group.
"Apakah aku akan kalah?"gumam Jonathan. Melihat ke belakang, ia selalu kalah saat mencoba menjatuhkan Roxena. Malah, Jonathan didesak untuk mundur. Akibatnya tidak hanya secara pribadi namun juga menyeluruh pada perusahaan.
"Stella … kali ini gagal lagi. Apa yang harus aku lakukan?" Gerald mulai depresi. Bagaimana tidak? ESA Group mengalami pemunduran. Dewan direksi mendesaknya untuk mengambil keputusan. Para orang tua di dalam keluarga Esca juga ribut. Menekan dan mencoba untuk menggantinya karena dinilai tidak kompeten. Baru beberapa bulan naik menjadi Presdir sudah terjadi masalah seperti ini.
__ADS_1
Kepercayaan, keluarnya klien dari ESA Group mengindikasikan bahwa mereka tidak mampu mempertahankan kepercayaan klien. Jika terus seperti ini, ESA Group akan hancur di tangannya.
"Tidak!!" Jonathan tidak mau kehilangan posisinya. Dia orang yang kompetitif. Melamar Stella yang ternyata bersambut adalah salah satu langkah untuk mempertahankan dan menguatkan posisi.
"Tahta dan wanita …." Jonathan mempertimbangkan.
Kepalanya yang tertunduk diangkat menatap lurus ke depan. Ekspresinya seperti sudah memutuskan sesuatu.
*
*
*
"Tuan Besar?!" Lily setengah terkejut saat membuka pintu.
"Mana Xena?"tanya Tuan Lawrence. Ini keesokan harinya, saat hari sudah sore Tuan Lawrence datang berkunjung. Kemarin, pagi, dan siang tadi Tuan Lawrence masih memiliki urusan, terkait masalah Roxena kemarin dan urusan pribadi, barulah ia kemari untuk melihat Roxena.
"Nona ada di kamar, Tuan Besar. Akan saya panggilkan." Lily menuju kamar Roxena. Tuan Lawrence menunggu di ruang tamu. Ia mengedarkan pandang dan menemukan sesuatu yang baru di sana.
Bibirnya tertarik, senang melihat lukisan pernikahan Roxena dan Gerald. Tidak masalah konsepnya bagaimana yang terpenting hubungan suami istri itu baik.
"Ayah datang?"
"Putriku mengalami masalah. Kau pikir Ayah bisa tenang?"sahut Tuan Lawrence. Roxena yang baru saja bangun tidur segera duduk. Sedikit memberi pijatan pada dahi.
"Bagaimana keadaanmu? Masalah kemarin-"
"Ayah pikir itu bisa menggoyahkanku?"sela Roxena kesal. Kemarin bukan masalah besar.
"Tentu saja tidak. Syukurlah." Cepat-cepat menyangkal. Senyum lebar Tua. Lawrence torehkan.
"Apa Ayah belum menerima kabar?" Nada bicara itu seperti sebuah sindiran. Tuan Lawrence menggeleng. Ia hanya tahu masalah kemarin sudah ditangani dengan baik.
"Kita untung dari masalah kami." Roxena meraih ponsel yang semula di atas meja. Mengecek harga saham dari Lawrence Group. Lalu ditunjukkan pada Tuan Lawrence.
"Xena … ini …." Tuan Lawrence tercengang.
"Apa yang aku miliki tidak akan bisa diambil oleh orang lain. Ayah tenang saja. Mau masalah sebesar apapun di kemudian hari aku, Roxena Lawrence akan mengatasinya dengan baik!"tegas Roxena, memberikan sebuah janji pada Tuan Lawrence. Nada bicara mereka datar. Tapi, tersirat bahwa Roxena memperhatikan Tuan Lawrence, "jangan khawatir, Ayah. Putrimu ini mampu!"
"Apa Gerald bekerja?"
"Pasien yang berada dalam penanganannya mengalami masalah. Gerald harus pergi," jawab Roxena dengan raut wajah kesal. Setelah pergulatan malam panas itu, saat membuka mata Roxena tidak menemukan Gerald di sampingnya. Ternyata sudah berangkat bekerja. "Aku akan menghukumnya,” gumam Roxena.
"Masih ada keperluan lain, Ayah?" Setelah hening cukup lama.
"Kekhawatiran Ayah sudah sirna. Kalau begitu Ayah pamit pulang." Tuan Lawrence berdiri. Lalu ia mengalihkan tatapan pada lukisan pernikahan Roxena. "Ayah senang kalian akur. Xena … meskipun kau perempuan, Ayah ingin mengatakan sesuatu." Tatapan Tuan Lawrence sendu.
"Jangan pernah bermain-main dengan perasaan. Ayah kehilangan ibumu dan juga dibenci olehmu karena ayah tergoda dengan perasaan sesaat. Lihat hasilnya, ayah menyesal seumur hidup."
"Awalnya Ayah ragu pada Suamimu hingga harus mengancamnya. Sekarang Ayah percaya pada dia orang yang cocok untukmu."
"Tentu. Dia pilihanku," sahut Roxena tidak menyangkal.
"Kau juga mencintainya, kan? Jangan menyangkal perasaan cinta yang seharusnya. Putuskan ikatan pada cinta yang lain. Dengan begitu, kau tidak akan merasakan penderitaanku."
Roxena sedikit menenangkan kepala. Ucapan Tuan Lawrence itu sangat serius. Sepenuhnya yakin dan ia merasa sedang diberi perintah.
Menghapus perasaan untuk Regis? Apakah bisa?
"Jangan sia-siakan apa yang sudah kau miliki."
Tuan Lawrence menepuk bahu Roxena. Tatapannya lembut, penuh kasih sayang, juga ada kebanggaan di sana.
Lihatlah. Putri kita tumbuh tangguh seperti dirimu. Maafkan aku karena telah menyakitimu, Istriku.
"Ayah tenang saja. Cinta dan kedudukan aku bisa menjaga keduanya."
"Bagus!"
*
__ADS_1
*
*
"Nona!" Setelah Tuan Lawrence kembali, giliran Erin yang datang menyambangi apartemen Roxena.
"Ada apa, Erin?"
"Elisa … dia ada di Madrid!"
"Apa?" Roxena tersentak. Alisnya bergerak menandakan dari sedang berpikir.
"Saya yakin tujuan kedatangannya adalah Tuan. Nona, haruskah saya mengirimnya kembali?"
"Jangan!"tolak Roxena. Ia mengetukkan jarinya ke atas meja, "jika Elisa berani datang, maka dia sudah punya rencana. Aku ingin lihat caranya mendapatkan kembali Gerald. Lalu … jika Elisa datang maka kemungkinan besar Regis … akan datang juga."
"Anda akan membiarkannya, Nona? Bagaimana jika Tuan pergi bersama dengan Elisa?"
Erin sudah menyukai Gerald sebagai suami Roxena. Gerald bisa memberikan Roxena kehangatan yang tidak bisa ia berikan. Tindakan kecil yang sederhana namun sangat berarti. Lagipula, kualifikasi Gerald tidak buruk. Erin sudah menyetujui Gerald sebagai Tuannya, pasangan dari Roxena.
"Jika dia berhasil? Aku akan membuatnya gagal!"jawab Roxena seraya membunyikan sendi-sendi jarinya. Mata hazelnya begitu tajam menghunus. Apa yang ia miliki tidak akan bisa diganggu gugat oleh siapapun!
"Ah … pertunjukan menarik bertambah. Aku ingin melihat bagaimana cara Elisa membawa Gerald juga bagaimana cara Regis membawa Elisa kembali."
Hah ….
"Perasaan tidak mudah hilang. Benci akan kalah dengan cinta. Tapi, hal apa yang akan mengalahkan cinta?"gumam Roxena. Jauh di lubuk hati tetap mengharapkan Regis mengingatnya. Melanjutkan tali asmara masa lalu.
"Anda jangan macam-macam, Nona. Ini bukan zaman kerajaan masa lalu. Poliandri dilarang!" Seakan mengerti ke mana arah pemikiran Roxena.
"Poliandri memang tidak boleh, Erin. Tapi, apakah perselingkuhan tidak ada?" Erin mengaga mendengarnya.
"Nona! Saya mohon jangan macam-macam!! Apa Nona tidak puas dengan rumah tangga yang sekadang? Selain itu, Anda juga sedang hamil. Nona tidak boleh menghinakan diri Anda!"
Jika ada kabar bahwa Roxena berselingkuh, maka itu sangat merugikan. Reputasi Roxena akan rusak.
Tak!
"Nona mengapa-"
"Kau berpikir berlebihan, Erin. Aku ini orang yang setia. Kau tidak perlu cemas. Dan kita nikmati saja pertunjukan."
*
*
*
"Tunggu dulu, Nona!" Violet menahan lengan Elisa yang hendak berlari saat melihat Gerald keluar dari rumah sakit.
"Lepas, Vio!"
"Nona kita datang untuk melihat situasi. Lihatlah, Tuan dijaga oleh dua bodyguard. Jika Anda menghampiri Tuan sekarang, takutnya tidak akan ada kesempatan setelahnya." Sorot mata penuh kerinduan namun senyumnya getir.
"Kita juga belum ada rencana, Nona! Apa Anda yakin Tuan akan langsung setuju? Sementara saat gala dinner Tuan Regis kemarin, Tuan menolak Anda. Ingat, Nona! Ini adalah wilayah kekuasaan wanita itu! Kita tidak boleh bertindak sembarangan!"tegas Violet.
Elisa mengangguk lemas sebagai jawaban. "Ayo kembali."
*
*
*
"Anda kesal karena apa, Lady? Dari kemarin kekesalan Anda tidak memudar." Jade duduk di samping Stella, dengan lembut mengusap rambut putri kerajaan itu. Hanya Jade yang punya keberanian itu.
Stella beralih posisi, semula duduk menjadi berbaring dengan paha Jade sebagai bantal.
"Apa aku lebih lemah darinya? Rencanaku selalu gagal jika berkaitan dengannya."
Nya, Jade tahu itu menjurus pada Roxena.
__ADS_1
Jade tersenyum simpul. "Anda hanya terlalu ambisius, Lady. Sebenarnya saya penasaran apa yang membuat Anda tidak menyukainya. Dari segi keluarga, dia kan tidak mengancam kedudukan Anda. Dari segi percintaan, dia sudah menikah dan juga tidak berebut cinta dengan Anda. Apakah ini hanya ambisi Anda saja yang ingin mengalahkannya? Ataukah ada faktor lain?"
"Aku …."