Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 48 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

Sebuah kediaman tampak ramai dengan acara pesta. Musik begitu meriah dengan banyak orang yang berjoget ria. Minuman di setiap sudut. Pesta perayaan itu gemerlap dengan kesenangan dunia, minuman, wanita, dan juga musik.


"Selamat ketua! Wilayah kekuasaan Abe telah jatuh ke tangan kita. Ivory akan terus berjaya dan menjadi gangster nomor 1 di negara ini."


Seorang pria mengangkat botol minuman untuk bersulang dengan seorang pria yang tengah duduk di sofa ditemani beberapa wanita seksi yang sibuk melayaninya.


Pria yang dipanggil ketua itu tertawa. Menerima ajakan sulang itu lalu menenggak minumannya. Pria sekitar berumur 30 tahun itu memiliki perawakan tinggi dan berkulit putih. Sekalipun wajahnya rupawan, dia adalah pimpinan dari Ivory, gangster yang belakangan ini gencar menyerang wilayah kekuasaan gangster lainnya. Dan setiap memenangkan suatu wilayah maka akan mengadakan pesta.


"Ketua, sebagian besar wilayah sudah berada di genggaman kita. Tinggal meruntuhkan beberapa kekuatan lagi, kita akan menjadi nomor 1. Tidak akan ada yang bisa menghentikan kita!!"


Seorang pria maju lagi untuk berbincang. "Seminggu lagi kita akan melancarkan serangan. Malam ini … nikmati saja pestanya. Minum sebanyak yang kalian mau! Peluk wanita sebanyak yang kalian bisa, malam ini milik kita!!"


Ketua Ivory itu berdiri dan minum. Kemudian melemparkan dirinya kepada para wanita tadi. Berciuman dan saling menggerayangi tubuh.


"Terima kasih, Ketua!!"


"Tapi, Ketua." Pria berkumis tebal tampak khawatir.


"Hm?" Ketua Ivory menaikkan alisnya tidak senang.


"Meruntuhkan kekuatan lain memang tidak sulit. Tapi, ada satu kekuatan yang tampaknya tidak mudah untuk diruntuhkan," ucap Pria berkumis tebal itu cemas.


"Ivory selalu memenangkan serangan. Siapa yang biasa menghalangi langkahnya?!"teriaknya kesal.


"Light and Shadow," jawab Pria berkumis tebal itu.


"Light and Shadow? Organisasi baru dari luar negeri itu? Apa yang perlu dicemaskan? Mereka hanyalah anak ayam di mata elang Ivory!"sahut Ketua Ivory itu meremehkan.


"Ketua, mungkin mereka organisasi baru di sini. Tapi, di negara asalnya mereka nomor 1. Berdasarkan informasi yang saya terima, mereka disegani oleh banyak pihak termasuk Keluarga kerajaan. Kekuatan militer mereka kuat. Ekonomi mereka juga salah satu yang terbesar di dunia bawah. Jujur saja dibandingkan Ivory, mereka lebih kuat."


"Kau terlalu cemas, Albert! Jangan cemas, ketuamu ini akan menyelesaikannya! Seperti pepatah di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung. Di sana memang dia harimau yang ganas tapi di sini dia hanyalah kelinci yang lemah!!" Ketua Ivory itu tak mendengarkan Albert yang sejatinya merupakan salah satu orang penting di Ivory. Albert juga berada di dalam Ivory sebelum pria angkuh itu menjadi Ketua.


Albert menghela nafasnya. Meskipun Ketua Ivory sekarang kuat dan cerdas. Tapi, tidak kenal takut dan tidak memperhatikan musuh dengan seksama adalah sebuah kekeliruan.


"Jangan terlalu khawatir, Albert. Kita adalah pemenang. Kita adalah kuda hitam yang tak terkalahkan!!"ucap pria yang tengah memeluk seorang wanita dengan dress merah yang kekurangan bahan.


"Ayo bersenang-senang, Albert! Bebaskan hasratmu. Menjadi buas malam ini tidak akan merusak citramu!!"teriak pria itu lagi.


"Hei, Steve! Pinggangnya tidak akan tahan untuk menjadi buas!"sahut rekan pria yang dipanggil Steve itu.


"Haha … maafkan aku, Albert."


Albert mengepalkan tangannya kesal. Ia lantas menghentakkan kakinya pergi dari hingar-bingar pesta itu.


"Eh, ke mana Ketua?"tanya Steve yang tak mendapati Ketua Ivory di antara mereka.


"Ketua? Tentu saja bersenang-senang di kamar."


*


*


*


Desah pria dan wanita memenuhi sudut kamar. Pria itu adalah ketua Ivory dengan beberapa wanitanya yang tengah memadu kasih. Desah dan erang silih berganti. Gerakan yang semakin intens dan suasana yang semakin panas.


Ketua Ivory muda itu benar-benar kuda hitam di atas ranjang. Tak mengenal lelah meskipun sudah bertempur berkali-kali.


"Ahhhhh!"


"Tolonggggg!!"


"Hentikannn!!"


"Ahhhh…."


Tiba-tiba terdengar keributan dari luar kamar. Diikuti dengan suara alarm darurat yang bergema.


Ketua Ivory menoleh kesal. Sedangkan para wanitanya sibuk berhamburan melarikan diri.


Ketua Ivory dengan kesal langsung memakai celananya dan mengambil pistol. Akan menghabisi orang yang sudah membuat keributan dan mengganggu kesenangannya.


"Apa ini?" Dirinya tercengang melihat suasana di luar. Para anggotanya bergelimpangan. Darah berserakan di mana-mana.

__ADS_1


"Albert! Steve! Di mana kalian!!" Angin yang berhembus kencang menambah kehororan suasana.


Apa yang terjadi? Bukankah mereka sedang berpesta? Mengapa berubah menjadi lautan mayat?!


Ketua Ivory benar-benar sendirian. Ia waspada. Ada rasa takut di hatinya. Dan masih terdengar suara teriakan meminta pertolongan. Suara tembakan juga masih terdengar jelas. Dan dari dalam kediaman itu suara tembakan terus bergema. Suasana kacau balau.


Penyerangan tiba-tiba dan tidak tahu siapa yang melakukannya. Ketua Ivory mencerna situasi lebih cepat. Ia harus melarikan diri!!


Gegas berlari menuju garasi, melewati darah dan mayat.


"Ketua, ayoo!!" Ia belum tiba di garasi dan seseorang memanggilnya. Sebuah mobil sedan berada tak jauh darinya.


"Albert!!"


Ketua Ivory itu bergegas masuk. "Pergi dari sini, Albert!!"


"Pegangan yang erat, Ketua! Gerbang dikunci dan kita harus menerobosnya!!"ucap Albert. Ketua Ivory mengangguk. Ia memegang erat hand grip.


BRAKKK!!


Gerbang besi itu ditabrak. Namun, tak roboh. Dibutuhkan beberapa kali tabrakan baru bisa menghancurkannya.


Dan usaha itu dilihat oleh dua orang wanita yang berdiri di balkon kediaman.


"Kesenangan berubah menjadi kehancuran. Keangkuhan berubah menjadi ketakutan. Pesta yang mewah menjadi lautan mayat. Inilah harga yang harus dibayar untuk bisa menjadi nomor 1, Ivory!!" Wanita bertopeng hitam yang tak lain adalah Roxena tersenyum sinis.


"Nona, apakah kita akan membiarkan mereka lari?"tanya Erin, melihat gerbang besi yang sudah hancur dan mobil itu meninggalkan kediaman.


"Sudah seperti ini, apa mereka bisa lari?" Roxena menyeringai. Lalu mengambil ponselnya dan memberi perintah.


"Dua tikus melarikan diri. Bawa mereka hidup atau mati!!"


"Ambil semua hartanya lalu kirim pesan anonim ke kantor polisi terdekat," titah Roxena yang langsung diangguki oleh Erin. Mereka kemudian meninggalkan kediaman yang dipenuhi dengan kesuraman dan bau anyir darah itu.


*


*


*


Kabar bahwa Ivory telah menaklukkan banyak wilayah telah tersebar luas di kalangan gangster dan juga dunia bawah, tak terkecuali bagi informan Light and Shadow.


Menemukan informasi bahwa akan dilangsungkan pesta kemenangan, membuat Roxena berencana menaklukkan mereka pada waktu itu yakni malam ini.


Roxena telah mengutus orangnya masuk ke dalam pesta, menyelinap dan mencampur hidangan dengan obat bius. Efek obat yang memang sengaja dipilih yang bereaksi lambat. Karena semakin panas suasana semakin lemah kewaspadaan. Di saat demikian lah serangan tiba-tiba dilancarkan.


Menaklukkan kediaman Ivory hanya butuh waktu singkat.


Ketua Ivory tidak banyak mengkonsumsi hidangan. Pria itu hanya asik minum dan bermain dengan wanita. Alhasil masih punya tenaga untuk lari. Begitu juga dengan Albert yang sebenarnya tidak tertarik dengan pesta perayaan ini. Karena baginya, ini bukan saat untuk merayakan melainkan berpikir bagaimana caranya bertahan.


"SIALAN! LEPASKAN AKU!! APA KALIAN TAHU SIAPA AKU? AKU RIGON IVORY!! IVORY TIDAK AKAN MELEPASKAN KALIAN!!"


Teriak marah itu menggema di lorong panjang. Terus memberontak meskipun sia-sia. Sementara Albert yang juga tertangkap diam tidak berkata.


Pelarian mereka hanya sebentar sebelum diseret ke markas besar di tengah hutan. Suasana malam yang gelap membuat suasana semakin menakutkan.


"KALIAN AKAN MATI DI TANGANKU!!"


Bughh!


Keduanya didorong berlutut saat tiba di di sebuah ruangan. Terlihat seperti sebuah penjara. Penjara yang masih khas dengan bangunan lama.


"Beraninya-"


"Kasihan sekali." Terhenti dan mendongak. Seorang wanita menatap rendah dirinya.


Rigon Ivory menggertakkan giginya. Beraninya Wanita itu menghina dirinya?! Rigon ingin menghancurkan wajah dan mengambil mata di balik topeng itu.


Roxena menarik senyum. Semua keinginan Rigon terlihat jelas di matanya.


Roxena mengalihkan tatapannya pada Albert yang diam dan menatap lurus ke depan. Berbeda dengan Rigon, Albert begitu tenang. Tidak takut, gentar, atau marah.


Menarik.

__ADS_1


Kekuasaan organisasi dan rekan-rekannya telah dieksekusi. Namun, bisa setenang itu. Roxena penasaran dengan apa yang Albert pikirkan.


"KAU SIAPA?! KAU MAU APA?!"teriak Rigon.


"Untuk apa memberitahu kami untuk orang yang akan segera mati?"tanya Roxena memiringkan kepalanya.


Roxena tidak tertarik bermain dengan Rigon.


"Urus dia, Erin."


"Baik, Nona."


"HEI-HEI!! LEPASKAN AKU!! KITA BISA BICARA BAIK-BAIK!! AKU RIGON IVORY ADALAH ORANG YANG KUAT! AKU BISA MEMBANTUMU!! AMPUNI AKU, HEIIII!!"


Suara hilang ditelan jarak. Albert memberanikan diri menatap Roxena.


"Lalu saya?"


"Berapa usiamu?"tanya Roxena.


"55 tahun."


"Berapa lama kau di Ivory."


"Seumur hidupku."


"Mengapa menanyakannya? Apa yang kau inginkan dariku?"tanya Albert dengan dahi mengernyit.


"Mengapa kau tidak melindunginya?"tanya Roxena. Saat ia memerintahkan Erin untuk mengurus Rigon, dalam arti sesungguhnya untuk mengeksekusi Rigon, Albert sama sekali tidak bergerak, tetap diam dan pandangan lurus ke depan.


"Saya sudah mencobanya. Tapi, dia tidak menghargainya."


"Mengapa masih setia?"


"Hutang budi pada Ketua sebelumnya."


Kesetiaan Albert patut dikagumi. Namun, Roxena tampak tidak puas dengan hal tersebut.


"Menurutmu apa anjing bisa dijadikan Ketua?"


"Meskipun anjing, dia adalah anak ketua sebelumnya."


Menjawab tenang. "Dasar idiot!!"


"Ya?" Albert menaikkan alisnya.


"Kau itu idiot!! Kau tahu bahwa dia akan membawa kehancuran namun kau hanya sekadar mengingatkan dan menasehati. Jika kau kalah adu mulut, kau hanya akan menurut!!"sarkas Roxena.


"Ahh?!" Albert tercengang dengan kata-kata Roxena. Ia yang menyebabkannya?!


"Membalas budi memang suatu keharusan. Namun, bukan menjadi budak. Ada ukuran dan batas wajarnya. Ahhh … aku ingat. Dulu, ada seorang pria yang dijuluki anjing gila karena menggigit siapapun yang ditunjuk oleh tuannya. Anjing itu menggigit untuk membalas budi sampai menyakiti banyak orang. Tidak hanya itu, anjing itu juga mengkhianati hatinya sendiri. Menyedihkan!!"


"Hentikan!!" Albert menutup kedua telinganya.


Roxena tidak menyerang fisik melainkan mentalnya.


"Ketua! Ketua! Maafkan aku!! AHHHH!"


"Ku kira mentalnya kuat. Ternyata lemah seperti ini."


Roxena berdecak. Kemudian berdiri meninggalkan ruangan dengan meninggalkan sebuah silet. Albert masih menjerit histeris.


"Nona."


Erin kembali. "Kita sudah meruntuhkan Ivory. Semua wilayah Ivory sudah menjadi milik kita. Penaklukan wilayah lainnya, apakah langsung dilancarkan besok malam?"tanya Erin memastikan.


"Tidak. Lakukan malam ini juga!"


"Nona?!" Erin kaget.


"Anggota pusat sudah tiba. Menaklukkan wilayah lainnya tidaklah sulit! Terlebih aku ikut bersama kalian."


Erin menghela nafas pelan. "Baik, Nona!"

__ADS_1


Jika ditunda dan kabar telah tersebar, maka musuh pasti akan meningkatkan penjagaan. Lagipula penaklukan kali ini tidak memakan korban dari pihak LS.


Dalam 3 hari, penaklukan itu harus berhasil dan gangster Luxembourg akan di bawah kekuasaan Light and Shadow.


__ADS_2