
"Kau sudah pulang?" Gerald datang dari arah dapur. Roxena yang sudah duduk di sofa ruang tengah hanya bergumam sebagai jawaban.
"Minumlah," ujar Gerald meletakkan gelas berisi jus kiwi di atas meja. Roxena melirik sekilas lantas memejamkan matanya.
"Ada kendala?"tanya Gerald kemudian, melihat wajah lelah Roxena.
"Tidak ada. Mungkin efek hamil," jawab Roxena.
"Naikkan kakimu, biar aku pijat." Roxena melakukannya. Menaikkan kakinya lalu Gerald dengan hati-hati memijatnya.
"Besok jangan pakai high heels lagi. Aku sudah belikan yang baru. Haknya rendah, cocok untuk ibu hamil."
"Peluk aku." Gerald melakukanya. Memeluk Roxena seraya mengusap rambutnya yang tergerai.
"Belakangan ini sangat tenang," ucap Roxena pelan. Bukan merasa tenang, sebaliknya Roxena gelisah. Berdasarkan pengalamannya, badai akan datang di suasana yang dianggap sudah tenang.
"Jangan khawatir. Kau sendiri bisa mengatasi masalah, apalagi jika kau dan aku bersatu? Badai sebesar apapun, kita akan berdiri kokoh." Gerald mengangkat dagu Roxena. Memberikan kecupan singkat. Tersenyum lembut.
"Kau sudah melalui banyak kehidupan. Apakah masih takut pada badai?"tanya Gerald kemudian. Di masa lalu, Roxena adalah wanita kuat, bergelar sword master dan saat ini pun sama. Mungkin ini efek kehamilan yang menjadikannya lebih sensitif.
"Hati manusia mudah berubah, Gerald. Aku takut … suatu saat perasaan ini akan berubah. Aku sudah puas dengan yang ku dapatkan saat ini, cinta, anak, kekayaan, aku sudah cukup. Jika aku punya kekuatan, aku ingin membekukan waktu."
"Jujur saja. Aku tidak tahu mengapa aku segelisah ini. Entah ini firasat atau hanya perasaanku saja."
Gerald tetap tersenyum. Lalu mengecup dahi Roxena. "Jika perasaanmu berubah, aku akan membuat perasaanmu yang hilang kembali. Jika cintamu berkurang, aku akan membuatmu jatuh cinta lagi dan lagi padaku. Jika kau jenuh, aku akan menghilangkan kejenuhanmu. Aku tidak akan membiarkanmu berpaling dariku."
"Jika jika aku yang berubah, lakukan hal yang sama padaku."
Gerald kembali mendekap Roxena. "Aku mencintaimu, Xena. Selamanya."
Roxena tersenyum. Air matanya jatuh bersamaan dengan gelisah yang memudar, perasaannya jauh lebih baik.
*
*
*
Tiga bulan telah berlalu. Hari-hari tenang Roxena dan Gerald lewati. Tak banyak yang berubah dari keseharian mereka. Gerald dengan rumah sakit dan Roxena dengan perusahaannya.
Menginjak usia lima bulan, kehamilan Roxena lebih besar daripada kehamilan Roxena pada umumnya. Erin sebagai asisten pribadi tentu memiliki tugas tambahan untuk menjaga Roxena selama jam kerja. Mulai dari makan siang dan terkadang makan malam, vitamin, minuman, dan lain sebagainya.
Menyadari bahwa kehamilannya adalah hal yang berharga, Roxena mengurangi aktivitas di Light dan Shadow. Ia serahkan pada tangan kanannya dengan catatan Erin selalu memberikan laporan lisan tetangga Light dan Shadow.
Malam ini, Roxena lembur. Ditemani Erin, mereka berjibaku menyelesaikan dokumen tersisa.
Roxena ingin segera pulang. Tiga jam kemudian, akhirnya semua pekerjaan hari ini selesai. Segera mereka meninggalkan ruangan menuju basement.
Tidak ada percakapan karena Roxena memejamkan matanya, tidur selama perjalanan.
"Tuan." Erin menyapa hormat saat keluar dari mobil. Ia mendapati Gerald menunggu di basement apartemen mereka.
"Xena?"
"Nona tertidur, Tuan." Gerald mengangguk singkat. Dengan pelan membuka pintu mobil.
"Pasti sangat lelah," gumamnya pelan. Dengan hati-hati membawa Roxena dalam gendongannya. Karena sangat lelah, Roxena hanya membuka matanya sekilas dan menyandarkan kepalanya mencari posisi ternyaman.
"Hati-hati di jalan, Asisten Erin."
Erin mengangguk singkat. Lalu kembali masuk ke mobil dan meninggalkan basement.
*
*
__ADS_1
*
Setibanya di kamar, dibaringkannya Roxena di ranjang. Lalu melepaskan sepatu yang Roxena gunakan. Ia sudah menerima laporan dari Erin bahwa sebelumnya Roxena sudah makan malam.
"Gerald." Suara serak Roxena memanggil.
"Ya?"
"Aku lapar."
Gerald mengerjap pelan. "Mau makan apa?"tawar Gerald.
"Spaghetti. Tapi, kau yang membuatnya," pinta Roxena.
"Baiklah. Tunggu sebentar." Gerald bergegas ke dapur. Di sana, ia bertemu dengan Sophia.
"Anda ingin membuat apa, Tuan?"
"Xena ingin spaghetti. Pergilah istirahat, dia ingin aku yang membuatnya." Sophia mengangguk paham lantas meninggalkan dapur dengan membawa tumbler.
Saat Gerald tengah menyiapkan bahan-bahan yang ia butuhkan, Roxena datang dan duduk tak jauh dari Gerald. Ia menyangga dagunya dan memperhatikan Gerald yang bekerja. "Mengapa kemari?"tanya Gerald galak.
"Aku tidak bisa tidur lagi. Terlebih, aku ingin melihat wajahmu. Lagipula aku hanya duduk, tidak memasak," sahut Roxena, diakhiri dengan senyum tipisnya.
Senyum Gerald terbit. "Tunggulah sebentar." Gerald menuju kulkas. Mengambil satu buah alpukat berukuran besar lalu membelah dan memisahkan dari kulitnya. Diberikan pada Roxena dalam bentuk potongan kecil. "Makan ini dulu."
Roxena mengangguk. Menikmati penampilan Gerald yang sedang memasak sambil menikmati alpukat. Gerald sangat rajin memberikannya buah dan sayur yang baik untuk ibu hamil. Alpukat dan kiwi adalah salah satunya.
Tak butuh waktu lama, seporsi spaghetti telah terhidang. Aromanya yang sedari tadi menyeruak membuat Roxena lekas menyantapnya. Masakan suaminya tak perlu diragukan. Puluhan kali lipat dibandingkan kemampuan yang menghancurkan dapur.
"Besok jadi fitting baju?"
"Sudah."
"Sudah kenyang?"tanya Gerald lagi. Dibalas anggukan Roxena.
Setelah membereskan peralatan yang kotor, Gerald menuntun Roxena kembali ke kamar. Gerald sangat berhati-hati dengan Roxena, menjaga wanita itu dalam hal sekecil apapun. Awalnya risih. Namun, saat ini Roxena malah senang, merasa diratukan.
"Pekerjaan hari ini lancar?" Rutinitas malam. Menanyakan keseharian lalu membahas hal-hal yang akan mereka lakukan esok hari dan di masa depan.
Lepas dari pembicaraan itu, mereka membahas tentang anak mereka. Nama anak kembar mereka, itu adalah hal krusial yang belum mereka temukan ujungnya.
Sudah ada banyak nama yang mereka usulkan namun tak ada yang cocok. Sempat terusul nama anak pertama Roxena di masa lalu. Namun, Roxena menentangnya. Nama anak itu diberikan oleh ayahnya yakni Regis. Roxena tak ingin menggunakan nama itu. Sekarang yang bersama dengannya adalah Gerald!
"Kita sambung besok saja. Malam semakin larut. Harus istirahat yang cukup," ajak Gerald. Yang disambut dengan helaan nafas kasar Roxena.
"Padahal hanya nama, mengapa sangat sulit?"gumamnya mengeluh.
"Nama adalah doa. Pemberian nama tidak boleh sembarangan, Xena. Karena itu adalah anugerah untuk anak-anak kita," jelas Gerald. Sedikit gemas dengan Roxena. Padahal sudah melalui banyak kehidupan.
"Kalau begitu kau saja yang pikirkan nama. Aku sangat pusing, tidak sanggup lagi," ujar Roxena mencembik. Meskipun ia sudah melalui banyak kehidupan, ia hanya menikah di dua kehidupan. Pertama dan saat ini.
"Baiklah. Tidurlah," ajak Gerald.
*
*
*
Waktu yang dibutuhkan untuk fitting baju tidaklah lama. Segera setelah selesai, mereka berpisah menuju tempat kerja masing-masing. “Jade ingin bertemu, Nona,” ujar Erin saat keduanya sudah tiba di ruangan Roxena.
“Ada apa?” Sudah ada sekitar dua bulan Roxena tidak bertemu dengan Jade.
__ADS_1
Erin menggeleng tidak tahu. “Sore nanti ke markas sebentar.”
“Baik, Nona.”
Sore harinya, Roxena dan Erin bertolak ke markas. Sekitar satu jam perjalanan, mereka tiba dan Jade yang sudah menerima kabar kedatangan Roxena langsung menyongsong. Ada riak kebahagian di wajahnya. Sepertinya ada kabar bagus.
“Lady!”ucapnya menyapa.
“Ada apa, Jade?” Mereka bicara di gazebo. Roxena jenuh jika harus bicara di ruang tertutup.
“Aku akan jadi seorang ayah. Istriku hamil!!”ucap Jade sumringah.
Roxena tersentak pelan kemudian terbatuk. “Selamat untukmu.”
“Anda tidak senang?”tanya Jade memicingkan matanya.
“Lantas bagaimana seharusnya aku bereaksi, Jade?”tanya balik Roxena.
Jade terdiam. Reaksinya biasa saja. Ya, tentu apa yang diharapkan? Tujuannya hanya memberi kabar. “Kabarnya, bagaimana?”
Mendengar pertanyaan itu, senyum Jade melebar. “Dia sangat bahagia.”
Roxena terkekeh pelan mendengarnya. Jawaban sebenarnya adalah kebalikan dari jawabannya. “Ibu hamil tidak boleh stress. Kau bisa kehilangan salah satu atau keduanya, Jade.”
“Anda tenang saja, Lady. Saya tahu batasan.”
“Baguslah.”
Roxena melihat jam tangannya, “sudah selesai, Jade? Aku ada urusan lain.”
Jade mengangguk menandakan dirinya sudah selesai. Roxena berlalu diikuti Erin sedang Jade bergegas meninggalkan markas, kembali ke pulau pribadinya.
“Anda bisa mengetahuinya kan, Nona. Jade mencintai istrinya,” celetuk Erin.
“Dia mencintainya. Hanya saja, mungkin tidak akan terbalas karena dasar hubungan mereka. Stella juga tenggelam dalam penyesalan.” Roxena menghela nafas kasar, “semoga tidak ada penyesalan di kemudian hari.” Dan harapan itu diangguki oleh Erin.
*
*
*
Pertunangan Xavier dilakukan dua bulan yang lalu dan esok adalah prosesi pernikahannya. Rakyat sangat antusias dengan pernikahan akbar itu. Besok, beberapa ruas jalan akan ditutup karena akan diadakan parade pernikahan dari tempat pemberkatan menuju lokasi pesta untuk makan siang bersama dengan para tamu undangan.
Malam sebelum hari pernikahan, Xavier duduk seorang diri di balkon kamarnya. Di tangannya ada sebatang rokok yang tersulut. Dan di atas meja, ada minuman beralkohol.
Helaan nafasnya begitu berat diikuti dengan kepulan asap yang keluar dari mulutnya. Putra mahkota itu tampaknya sedang tertekan. Padahal, besok ia akan menikah.
"Sangat kacau," gumamnya pelan.
Pernikahannya bukanlah pernikahan yang didasari oleh cinta melainkan karena perjodohan sebagai dampak upaya mengatasi guncangan akibat kabar pemberontakan Stella. Dipilihnya putri perdana menteri karena banyak menteri yang setuju dengan wanita itu untuk menjadi pendamping Xavier. Calon istrinya, dapat dikatakan mumpuni dan pantas untuk mendampinginya.
Besok dan selama beberapa hari ke depan, ia akan menjalani serangkaian acara pernikahan mulai dari pemberkatan, parade pernikahan, jamuan makan siang dan malam, dan lainnya.
Sekali lagi, Xavier menghela nafas kasar. "Stella, di mana kau sekarang? Jika kau tidak berulah, aku tidak akan pusing begini," keluh Xavier. Sangat menyayangkan tindakan Stella. Pencarian yang dilakukan juga belum menemukan titik terang.
Sebenarnya, organisasi intelijen dunia sudah menawarkan bantuan untuk membantu menemukan Stella. Namun, Raja menolak dengan alasan masalah internal biarlah diselesaikan tanpa campur tangan pihak asing.
"Sialan!"
*
*
*
__ADS_1