
"Jade ini mencurigakan," gumam asisten Stella melihat kedekatan Stella dengan Jade yang hanya seorang pelayan baru di istana Putri. Dirinya sudah melayani Stella cukup lama, sudah paham dengan perangai dan kebiasaan Stella.
Di luar dari wibawa dan kehormatannya di luar, Stella mempunyai sisi gelap tersendiri. Layaknya bumi yang tak pernah gelap atau terang sepenuhnya. Ambisi Stella, ia sangat mengetahuinya.
Putra mahkota saat ini, Kakak dari Stella tengah menjalani pendidikan militer di akademi pelatihan militer nasional. Stella melihat kesempatannya, kesempatan untuk menjadi pewaris tahta meskipun harus merebutnya.
Asisten Stella terus mengawasi jalannya makan malam yang penuh dengan drama Stella dan Jade. Keduanya bermesraan di ruang makan. "Beberapa hari yang lalu saya pergi keluar istana." Jade mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk bunga Magnolia berwarna merah muda. Serasi dengan paras menawan Stella.
"Magnolia. Kau benar-benar memberikan hatimu untukku, Jade?" Stella menatap jepit rambut itu. Jade mengangguk.
"Saya jatuh cinta pada Anda sejak pandangan pertama. Saya juga memberikan kesucian pada Anda. Saya orang yang bersungguh-sungguh, maka saya memberikan hati dan ketulusan saya pada Anda. Apakah Anda bersedia menerimanya?"tanya Jade mendalam.
Stella terdiam sesaat. Lalu ia melirik Asistennya. Mengerti kode itu, sang asisten maju selangkah. "Lancang!"ucapnya lantang.
"Lady adalah wanita terhormat. Bagaimana bisa kau memberikan barang rendahan dan memaksa Lady menerimanya?"
Jade tersenyum. "Tentu aku sadar diri," jawab Jade tenang.
"Lady adalah wanita bangsawan terhormat. Sama sekali tidak sebanding dengan aku yang rendahan ini. Hanya saja, kepada siapa aku memberikan hatiku, pantas atau tidak pantas, apa berhak diputuskan olehmu?!"
"Aku tidak berharap banyak. Lady menerima cinta dan ketulusanku, membiarkanku tetap melayani, aku sudah cukup dengan itu," tutur Jade meyakinkan.
Stella mengambil jepit rambut itu. "Lady!"
"Sifat manusia itu selalu merasa kurang, Jade. Apa kau sanggup melihatku bersama dengan pria lain? Masa depanku tidak mungkin berputar padamu!" Sebuah peringatan. Jade adalah seorang pelayan sementara dirinya adalah bangsawan terhormat. Kisah seperti ini tidak akan berakhir dengan baik. Kecuali, keduanya sama-sama menahan dan menyembunyikan, hanya rahasia berdua saja.
Biasanya laki-laki adalah sosok yang posesif. Laki-laki adalah seorang pemimpin. Bagaimana bisa seorang pemimpin menerima harga dirinya dilukai? Kecuali … jika sudah gila karena cinta.
Stella tengah menganalisis, seberapa meyakinkan pria yang sudah menjadi partner ranjangnya itu. Latar belakang yang bersih, parasnya tampan, serta cerdas. Bagi Stella … orang semacam itu justru harus dicurigai. Oleh karenanya, ia berani menempatkan Jade di sisinya, bahkan bermain api.
Stella pikir Jade akan segera membuka kedoknya. Hanya saja, tidak pernah membayangkan hal ini. Dan juga tidak ada yang terjadi padanya.
"Anda adalah elang yang terbang bebas, Lady. Bagaimana bisa saya menahan sayap Anda? Saya menjadi sarang Anda, karena sejauh apapun Anda pergi, Anda akan tetap pulang ke sarang," lanjut Jade.
"Mulutmu semakin manis, Jade," celetuk Stella.
"Pakaikan ini di rambutku," titah Stella kemudian. Dengan segera Jade memakaikan jepit rambut itu pada Stella.
Asisten Stella terhenyak beberapa saat kemudian memejamkan matanya cukup lama.
Pria bodoh.
Saat Jade hendak kembali berada di hadapan Stella, ia menyunggingkan senyum sinis.
"Sungguh cocok! Magnolia kerajaan, julukan itu milik Anda, Lady!" Seraya mengecup punggung tangan Stella.
*
*
*
"Berangkatlah, Xena. Kau tidak boleh mengabaikan tugasmu lagi. Lihat Erin, dia begitu tertekan," ujar Gerald pada Roxena yang tak ingin pergi bekerja. Ini sudah hari keempat Roxena tidak masuk kantor. Beban pekerjaan dilimpahkan pada Erin.
Mereka sudah kembali ke apartemen. Luka Gerald masih belum kering, kemungkinan awal pekan masuk kembali bekerja. Selama itu, departemen bedah kardiovaskular cukup kewalahan menangani pasien.
Ekspresi suram Erin bertambah melihat Roxena yang malah memeluk Gerald, enggan pergi bekerja.
Otak Nona bermasalah karena jatuh cinta. Jika terus begini, akan banyak masalah yang muncul. Namun, harus tetap hati-hati.
Erin melangkah maju, menarik Roxena agar lepas dari Gerald. Roxena yang enggan, tak mau melepaskan pelukannya.
"Anda harus ke kantor, Nona! Saya akan membawa Anda bagaimanapun caranya!"
"Beraninya kau, Erin! Lepaskan aku, aku mau bersama suamiku!"
"Gerald, jauhkan dia dariku!" Alhasil, Gerald terjebak di antara kedua wanita itu.
"Jika Anda tidak membantu saya, semua orang akan menyalahkan Anda, Tuan!"gertak Erin, tetap mencoba melepas pelukan Roxena dari Gerald.
__ADS_1
"Nona, Anda membuat saya kesulitan! Pekerjaan hanya beberapa jam, sedangkan bersama Tuan seumur hidup. Ke mana Nonaku yang gila kerja itu?!"pekik Erin frustasi.
"Aku tidak mau! Besok saja," tolak Roxena.
"Darah!" Lily berteriak saat melihat ada warna merah di kaos putih Gerald.
Roxena refleks melepaskan pelukannya. "Astaga! Cepat ambil kotak obat!"
"Aku tidak apa-apa. Pergilah, Xena. Kau harus menyelesaikan tugasmu," ucap Gerald setelah melihat lukanya yang kembali robek. Pelukan Roxena sangat erat ditambahkan lagi tarik menarik itu.
Kesempatan!
"Ayo pergi, Nona!" Erin gegas menarik Roxena.
"Erin, kau!"
"Sampai jumpa nanti, Xena!" Gerald melambaikan tangannya diikuti dengan ringisan.
"Gerald!"
*
*
*
"Warna menekuk Anda tidak akan menyelesaikan pekerjaan, Nona," cetus Erin melihat Roxena yang menekuk wajahnya, mengerjakan berkas-berkas yang menggunung itu dengan suram.
"Kau mengganggu waktu berhargaku, Erin."
"Setiap detik adalah waktu berharga, Nona. Waktu berharga Anda tidak hanya bersama dengan Tuan! Atau Anda sudah melupakan kami?"
"Dengar, Nona! Saya tidak akan membiarkan Anda meninggalkan apalagi melupakan kami! Jika Tuan adalah harta berharga Anda sekarang, maka saya akan menyanderanya!"ucap lantang Erin.
"Erin, kau!" Roxena menggebrak meja. Erin tak takut, ia membusungkan dadanya.
"Anda aneh belakangan ini. Tuan saja kewalahan menghadapi tingkah Anda." Erin mendekat, berdiri di samping Roxena.
"Ah … saya paham sekarang. Bayi Anda ingin dekat dengan ayahnya!"seru Erin.
"Hah?!" Roxena terkesiap. Perasaan bukan karena bayi dalam kandungannya ini. Ia hanya ingin melekat pada Gerald. Mulai mencicil penyakit hatinya, meneteskan kebahagiaan sedikit demi sedikit.
"Ah, saya maklum. Tapi, Nona. Anda harus tetap mengurus tugas Anda!"tegas Erin.
Roxena menghela nafasnya. Ia memang kekanakan tadi. Merenggangkan tubuhnya, mengembalikan semangat dan fokus kerjanya. "Ada kabar apa saja?"tanya Roxena yang sudah kembali seperti biasanya.
"Jade sudah kembali ke sisi Stella."
"Dia kembali dengan suka rela, tampaknya Stella punya tempat di hatinya," pikir Roxena.
"Tidak masalah. Yang penting pekerjaannya selesai. Lokasi markas sudah diketahui, tiga hari lagi, aku akan membawa anggota baru untuk menuntaskannya."
"Dengan kehamilan Anda?" Erin mendengar dari Dokter Liu bahwa awal kehamilan sangat rentan.
"Setidaknya saat ini aku mudah bergerak. Jangan sampai Liu mendengarnya!"
Erin berdecak sebal. Tapi, tetap menurut.
"Lalu … Jonathan mengajak Anda untuk makan malam bersama hari ini," beritahu Erin dengan nada rendah.
"Bukankah lusa pertunangannya?"heran Roxena. Apa yang direncanakan pria licik itu? Mengirimkan undangan makan malam seperti ini akan memicu spekulasi publik. Dan juga dapat merusak citranya. Secara ia sudah menikah.
"Makan malam, ya?"
"Okay."
"Ada alasannya, Nona?"tanya Erin cemas.
"Berdua dapat menimbulkan spekulasi dan rumor buruk. Bagaimana jika aku bersama suamiku?"
__ADS_1
*
*
*
"Siapa pria itu, Lady? Anda cukup sering melihatnya belakangan ini," tanya Jade penasaran. Stella melirik ke sisi kanannya, wajah Jade begitu dekat.
"Gerald," jawab Stella. Masih men scroll layar ponselnya melihat foto Gerald di media sosial Gerald.
"Ah saya ingat! Dia kan suami Presdir Lawrence Group. Anda ingin melakukan apa, Lady?"
"Hanya melihat-lihat. Pria ini menarik," jawab Stella, meletakkan ponselnya.
"Anda ingin mendapatkannya?"terka Jade. Stella tidak menampiknya. Mengartikan bahwa itu benar. Jade melongo, "Serius?"
Stella tersenyum sebagai jawaban.
Wanita gila ini! Berani merebut suami Ladyku, apa kau pantas hah?!maki Jade dalam hati di balik wajah tersenyum.
*
*
*
"Bagaimana penampilanku?"tanya Jonathan pada asistennya. Ia tengah mematut dirinya di depan cermin, mengenakan setelan kasual yang semakin memancarkan ketampanannya.
"Apa yang ingin Anda lakukan, Tuan? Melihat Anda seperti ini seperti hendak menggoda Presdir Lawrence. Kemana harga diri Anda, Tuan?!"
Jonathan mendengus. Namun, tetap menanggapi pertanyaan asisten.
"Harga diriku tidak akan tercoreng. Publik tahu bahwa aku adalah calon tunangan Stella. Aku sangat mencintainya, bagaimana mungkin aku mengkhianatinya?"
"Sederhana sekali pemikiran Anda, Tuan. Apakah Anda tidak pernah mendengar kisah perselingkuhan anggota kerajaan? Keluarga Kerajaan bisa mempertahankan harga diri sedang Anda akan hancur."
"Tapi, sang selingkuhan yang bertahan, bukan?" Asisten Jonathan menghela nafas kasar. Angkuh dan sangat percaya diri, itu dua kata untuk Tuannya ini.
"Jangan cemas, aku akan berhasil. Wanita mana yang bisa menolak pesona dan ketampananku? Stella saja takluk di bawahku," ucap Jonathan percaya diri.
"Masalahnya Presdir Lawrence itu berbeda, Tuan!"seru geram sang asisten yang diabaikan oleh Jonathan. Ia melangkah pergi dari kamar mewahnya. Menggunakan mobil favoritnya menuju restoran tempat makan malam yang telah dipesan.
"Tuan Jonathan," sapa manager restoran. "Sebelah sini, Tuan." Memimpin jalan menuju ruangan yang telah dipesan.
"Dia sudah datang?"tanya Jonathan memastikan.
"Beliau datang beberapa menit yang lalu, Tuan."
Senyum Jonathan semakin lebar. Manager Hotel membukakan pintu untuk Jonathan, "silahkan, Tuan."
"Kau memenuhi undanganku, Roxena. Apa kau mempertimbangkan proposal yang aku ajukan? Jika belum, masih bernegosiasi lagi. Aku-"
Ucapan Jonathan terhenti saat ia mendongak melihat ke arah meja makan. Roxena tidak sendiri, ada Gerald di sisinya.
"Oh, Anda sudah datang?"sambut Roxena acuh.
Jonathan menatap Gerald yang juga menatap dirinya. "Selamat malam, Tuan Jonathan," sapa Gerald.
"Anda datang bersamanya?" Ini di luar dugaan Jonathan.
"Bukan seperti bayangan Anda?"sahut Roxena acuh.
"Jika bukan, kami permisi," tambah Roxena.
"Xena, lebih baik habiskan makanan lebih dulu sebelum pergi," ujar Gerald, lalu kembali menatap Jonathan. "Maaf kami memesan lebih dulu, Tuan Jonathan," ucap Gerald yang baru selesai memotong steak miliknya dan Roxena.
Wanita ini … semakin hari semakin sulit.
Jonathan mengatur ekspresinya. "Saya pikir Anda tidak ditemani oleh Tuan Gerald. Mohon maafkan atas keterkejutan saya," ucap Jonathan. Tentu saja tidak sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Kedepannya aku akan menghadiri undangan bersamanya," sahut Roxena, memberikan sorot mata tajamnya pada Jonathan.