Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 34 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

Roxena keluar dari kamarnya dengan mengenakan celana keeper panjang serta kemeja berwarna senada, hitam dengan rambut digerai bebas.


Gerald yang sudah lebih dulu berada di meja makan mengerutkan dahinya. Serba hitam seperti itu, Roxena mau bekerja atau menghadiri pemakaman? Tapi, lupakan saja. Itu sudah style nya, style yang tak bisa Gerald mengerti.


Lily menyajikan coklat hangat untuk Roxena. Belakangan ini, Roxena jarang mengonsumsi alkohol.


Kopi Gerald sudah tinggal setengah. Pria itu sarapan lebih dulu tanpa menunggu Roxena.


Tidak ada percakapan yang tercipta. Hanya suara alat makan yang saling bersinggungan.


"Akhir pekan jadwalmu kosong?"tanya Roxena setelah menghabiskan sarapan dan coklat panasnya.


"Hm."


"Kalau begitu kosongkan jadwalmu di akhir pekan."


"Untuk apa? Ku rasa itu sulit." Meskipun Gerald tidak ada jadwal, ia harus siap sedia jika ada keadaan darurat.


"Haruskah aku turun tangan?" Roxena mengangkat satu alisnya. Gerald yang sedari tadi menjawab tanpa menatap Roxena, seketika langsung menatap dengan raut wajah kesal. Wanita di depannya ini main jabatan.


"Hm."


Itu persetujuan.


Roxena tersenyum simpul. "Fisikmu harus diperkuat. Kau harus mulai belajar bela diri. Setidaknya kau harus mampu melindungi dirimu sendiri."


Gerald merasa sudah pernah diperingatkan tentang hal ini. Lily dan Sophia, mereka pernah menyinggung hal ini.


"Kau yang banyak musuh mengapa menyeretku?!"ketus Gerald.


"Kau sudah tahu jawabannya," sahut Roxena santai.


"CK!"


Seakan sudah menjadi sebuah keharusan jika seseorang memiliki musuh, maka keluarga, orang terdekat, dan juga orang yang dikasihi akan menjadi target. Tujuannya jelas untuk membuat musuh tunduk dan mengikuti perintah yang memegang kendali. Gerald tidak menyukai hal itu. Namun, malah terseret di dalamnya.


Sangat menyebalkan. Ia hanya ingin hidup tenang. Bekerja dan memiliki rumah tangga yang harmonis. Setidaknya sebelum ia bertemu dengan Roxena.


Mau dilihat dari manapun, penyebab hidupnya berantakan adalah Roxena. Wanita angkuh itu memang pandai mempermainkan emosinya.


"Andai jika aku berada di tangan musuh, apa yang akan kau lakukan?" Tiba-tiba pertanyaan itu melontar begitu saja.


Roxena tersentak mendengarnya. Ia tidak pernah berpikir sampai ke sana. Namun, jawaban sudah ada di tangannya. "Aku akan mengambil nyawa mereka!"


Gerald bergidik seketika. Ucapan itu serius. Disertai dengan aura dingin yang menyebar. Gerald merasa sedikit sesak. Istrinya ini … mengerikan.


"Terserahmu saja!" Pada akhirnya Gerald menyerah. Mengikuti bagaimana pengaturan Roxena nantinya.


"Aku sudah terlambat." Gerald beranjak. Dan langsung menuju pintu tanpa berpamitan.


"Hm … sudah lebih baik." Roxena puas dengan itu. Setidaknya kalimat itu sudah mengiaskan Gerald berpamitan. Meskipun, diharapkan ada salam dan ucapan sampai nanti.


*


*


*


"Nona berikut adalah beberapa kontrak kerja sama yang harus Anda tanda tangani. Dan berikut adalah beberapa proposal yang sudah lulus seleksi. Keputusan akhir ada di tangan Anda."


Erin memberikan dua tumpul berkas pada Roxena. "Yang akan ditandatangani, sudah kau pastikan tidak ada kesalahan?"


"Sudah, Nona. Jika Anda ragu, saya akan memeriksa ulang."


"Tidak perlu." Erin diam-diam menghela nafas lega.


"Biar aku saja." Kelegaan yang berubah menjadi ketakutan.


"Nona, biar saya saja!"


"Periksa ulang berkas meeting hari ini. Pastikan kelengkapan datanya!!"titah Roxena memberikan tugas lain.


"Baik, Nona." Dengan langkah yang sedikit gontai, Erin meninggalkan ruangan Roxena.


Roxena melirik sekilas. Kembali fokus memeriksa ulang berkas kontrak itu.


*


*


*

__ADS_1


"Apakah hari ini akan lembur, Erin?"tanya Roxena di saat jam makan siang.


"Jadwal Anda terakhir adalah makan malam dengan Presdir Elgar Group," jawab Erin.


"Makan malam ya? Padahal aku ingin makan malam di rumah," gumam Roxena.


"Eh!"


"Ada apa, Nona?"bingung Erin melihat Roxena yang tersentak.


"Erin, kau gantikan aku menghadirinya. Gunakan asalan apapun!"


"Tapi, Nona. Anda mau ke mana?"tanya Erin memastikan.


"Ke rumah."


Rumah? Apartemen?


"Ah! Saya paham, Nona!"


Erin langsung mengerti. Roxena tersenyum puas dengan itu.


Hmm … Anda sudah mengisi hati Nona, Tuan.


*


*


*


Suasana ruang makan tampak suram. Aura itu berasal dari Roxena yang duduk dengan menggenggam erat pisau dan garpu makan.


"Dia belum pulang juga?" Senyum itu dilayangkan pada Lily dan Sophia yang sudah menelan saliva takut.


"K-kemungkinan Tuan ada operasi panjang atau hal urgent, Nona. T-tolong tunggu sebentar lagi, Nona!" Lily menjawab.


Biasanya di jam segini Gerald sudah kembali kecuali ada hal urgent di rumah sakit. Namun, selalu pulang meskipun hari sudah berganti.


"Hubungi pengawalnya!"titah Roxena. Ia meletakkan kembali alat makannya.


Aku sudah meninggalkan jadwal terakhirku demi makan malam bersamanya. Tapi, pria itu entah di mana! Sialan!


"Tuan ada operasi dadakan, Nona! Beberapa saat yang lalu ada kecelakaan dan korbannya harus mendapatkan tindakan operasi," jelas Lily setelah menghubungi Thomas.


"Itu …."


"Sepertinya departemen bedah itu kekurangan dokter, ya? Atau karena Gerald itu hebat makanya selalu diandalkan? Atau karena Gerald sengaja mau pulang lama?!" Roxena kembali tersenyum. Senyum tanda Roxena akan melakukan sesuatu.


Huff!


"Minta jadwal Gerald besok dan seterusnya pada kedua pengawal itu! Jika mereka benar-benar hanya mengandalkan Gerald, aku tak perlu menghabiskan uang untuk orang yang berpangku tangan!"titah Roxena kemudian.


"Baik, Nona."


"Aku kenyang. Hangatkan makanan ini saat dia pulang." Roxena bangkit.


"Tapi, Anda belum makan-"


Ucapan Lily disela oleh Roxena dengan mengangkat tangannya. Tidak ingin dibantah.


"Tampaknya ada hal berat yang dipikirkan oleh Nona," ucap Sophia.


"Hm. Ada banyak tanggung jawab di pundak Nona. Ku harap pria itu tidak akan menyusahkan Nona."


"Maksudmu Tuan?"


"Siapa lagi?"


"Haha." Sophia tertawa pelan. "Biar begitu, dia bisa dikatakan sebagai gairah hidup Nona."


*


*


*


"Kalian belum beristirahat?"tanya Gerald yang terkejut mendapati Lily dan Sophia berada di ruang tengah, seakan tengah menanti dirinya.


"Nona menyuruh kami menunggu Anda, Tuan. Makan malam akan hangat sebentar lagi. Silahkan Anda berberes dahulu," ucap Lily.


"Dia pulang?" Gerald kembali tersentak.

__ADS_1


"Iya, Tuan."


Gerald mengangguk kecil. Tidak banyak tanya. Segera menuju kamarnya untuk membersihkan tubuh kemudian menuju meja makan. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00.


"Apa dia tidak makan?"tanya Gerald ketika melihat banyak makanan yang ada di atas meja.


"Tadinya Nona menunggu Anda. Namun, Anda tidak kunjung pulang," jawab Sophia.


"Menungguku?" Gerald lagi-lagi tersentak.


Membuatku merasa bersalah saja, gumam Gerald dalam hati.


"Tuan tidak perlu khawatir. Meskipun Nona tidak makan malam, perut Nona tidak akan kosong," ucap Sophia kemudian.


"Oh."


Lukanya belum sembuh total. Mengonsumsi makanan yang kurang bernutrisi akan memperlambat penyembuhannya. Aih, wanita itu benar-benar membuatku gila!!


Gerald makan dengan pikiran yang melalang buana memikirkan Roxena.


Tuan sudah mulai berubah. Ku harap ini awal yang baik. Lily tersenyum lebar.


Mereka ini sedang tarik menarik. Siapa yang akan tertarik lebih dulu? Sophia memiliki pandangan yang lain.


*


*


*


Di kediaman keluarga Lawrence. Tuan Lawrence tengah menatap lukisan keluarga kecilnya. Lukisan keluarga yang ada di ruang kerjanya. Seharusnya ruangan ini menjadi ruang kerja Roxena sebagai kepala keluarga. Namun, karena Roxena tidak tinggal di kediaman ini, ruang kerjanya tetap digunakan oleh Tuan Lawrence meskipun beliau tidak lagi ikut campur dalam urusan perusahaan.


Berkali-kali dihelanya nafas kasar, seakan ada beban yang begitu berat di dadanya.


Tok


Tok


Pintu ruang kerja diketuk.


"Masuk!" Suara tegas yang terdengar lemah itu menyahut.


"Tuan waktunya minum oba." Itu adalah kepala pelayan kediaman Lawrence, membawa nampan berisikan obat dan air minum.


"Tubuhku sudah benar-benar lemah, ya?" Tuan Lawrence tersenyum pahit. Segera menelan pil-pil besar itu. Jumlahnya ada 4 buah.


"Aku sudah menduganya. Namun, tidak terpikir akan separah ini."


Tuan Lawrence duduk di sofa. Kepala pelayan menunjukkan raut wajah sedih.


"Aku benar-benar pria tua yang malang dan menyedihkan. Meskipun aku punya Xena yang merupakan kebanggaan keluarga, nyatanya aku sebatang kara. Setelah menjadi kepala keluarga, dia tidak lagi datang ke kediaman ini. Lalu, putraku yang lahir karena kesalahan juga sudah tidak ada. Bukankah aku orang yang sangat menyedihkan?"


"Apakah ini karmaku? Kesalahan sekali berdampak seumur hidup? Aku hanya berharap sedikit, sedikit perhatian dari Xena, aku ingin sekali saja melihat binar saat ia menatapku dulu. Aku hanya ingin, memeluknya erat seperti dulu. Tapi, kenyataan dengan kejam menamparku. Meskipun aku sudah memberikan segalanya, kebenciannya padaku tak luntur."


Pria tua yang dulu tangguh itu kini menunduk tak berdaya. Tubuh yang sakit dan batin yang tertekan. Pria itu, benar-benar menyedihkan.


"Katakan padaku, apakah di atas karma ini, aku masih punya kesempatan?"tanya Tuan Lawrence kemudian. Ia mengangkat pandangannya. Secercah harapan. Ia berharap kepala pelayan menjawab "ya".


Kepala pelayan menghela nafas pelan. "Tidak ada yang tidak mungkin, Tuan. Jangan menyerah. Mungkin ini adalah kesempatan terbesar Anda setelah vakum dari urusan perusahaan," ucap kepala pelayan.


"Benarkah? Bagaimana caranya?" Tuan Lawrence sudah kehilangan cara untuk mendapatkan hati Roxena lagi.


"Batu yang keras yang berlubang karena tetesan air. Anda harus mendekati Nona dengan pendekatan yang lain, Tuan. Dengan hal-hal kecil yang mungkin akan berdampak besar," jawab kepala pelayan.


Ayah dan anak itu jarang sekali bertemu. Jika bertemu pun, hanya sekadar formalitas. Setidaknya bukan bagi Tuan Lawrence.


"Maksudmu?"


"Hal-hal kecil yang dilakukan seorang Ayah. Nona sudah kehilangan masa kecilnya, Tuan. Yang saya maksud diluar dari posisi Nona sekarang karena sejatinya posisi tersebut adalah milik Nona. Nona sangat menyayangi Nyonya. Dan Nyonya-"


"Cukup!!"


"Jangan bahas itu lagi!" Tuan Lawrence mengusap kasar wajahnya.


"Hal-hal kecil? Bukankah terlambat untuk itu? Xena sudah berumur 30 tahun, dia sudah sangat dewasa," ragu Tuan Lawrence. Ternyata ia mendengarkan saran kepala pelayan.


"Orang dewasa belum tentu kehilangan sisi anak-anaknya, Tuan," jawab kepala pelayan dengan tersenyum.


"Begitu, kah?"


"Baiklah. Aku akan berjuang lagi untuk mendapatkan hati Xena!"

__ADS_1


Begitulah, perjuangan seorang Ayah untuk mendapatkan maaf dan hati sang putri dimulai. Fighting, Tuan Lawrence!


__ADS_2