Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 90 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

Violet mondar-mandir di kamar ia ditahan. Ia ditangkap bersama dengan Regis. Sungguh, Violet sangat khawatir pada Elisa. Violet tidak bertemu dengan Elisa lagi setelah berpisah hari itu.


Violet merasa bersalah karena tidak bisa mencegah Elisa pergi ke Madrid. Padahal ia tahu ini penuh resiko dengan kemungkinan yang sangat kecil. Akhirnya, gagal total. Harusnya ia sadar bahwa Elisa bertindak tanpa memikirkan sebab akibatnya. Hanya memikirkan cara bagaimana mendapatkan Gerald kembali.


Sejak tercetus, ide itu sangat berbahaya. "Nona, maafkan saya."


"Semoga Anda baik-baik saja."


"Anda juga, Mr. Regis."


"Tuhan selamatkan kami dari tangan mereka." Mengatupkan kedua tangannya berdoa.


*


*


*


Kenangan di bawah cahaya malam Madrid adalah kenangan terindah Regis bersama dengan Elisa. Sebelum memulai rencana membawa Gerald pergi yang berujung pada kegagalan, mereka menikmati malam bersama yang dicap sebagai malam perpisahan.


Sungguh Regis tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan berada dalam posisi ini. Roda takdir berputar. Apa yang kita pikirkan belum tentu terjadi.


Sudah 3 hari Regis ditahan di LS. Selama tiga hari itu pula ia tidak bertemu dengan Elisa. Hanya mengetahui bahwa Elisa baik-baik saja. Namun, Regis yakin Elisa tidak baik-baik saja. Regis tahu mental Elisa terguncang. Hal itu tentu akan mempengaruhi janin dalam kandungan. Regis harus segera mengambil keputusan.


*


*


*


Selesai sudah urusan Roxena di Shanghai. Semuanya berjalan dengan lancar. Membawa hasil yang memuaskan. Mereka berangkat meninggalkan Shanghai pada pagi hari.


Udara selama 12 jam perjalanan dan akhirnya tiba di Madrid. Roxena tak langsung menuju apartemen melainkan LS.


"Di mana Regis?"tanya Roxena yang Luro.


Luro segera menunjukkan di mana Regis ditahan.


Mendapati Regis tengah berdiskusi bersama dengan Asistennya. Suasana langsung tegang begitu Roxena masuk. Dengan wajah angkuhnya, Roxena langsung mengintimidasi Regis.


Regis bergidik. Inggris merasakan tekanan yang sangat berat dari tetapan rasa. "Bagaimana keputusanmu, Regis?" Langsung bicara secara informal.


"Menurut Anda bagaimana?" Namun, ia tetap tidak kenal takut pada Roxena. Menjawab dengan tenang. Roxena tertawa pelan. Iris matanya kemudian menghunus tajam.


"Erin, siapkan upacara pernikahan!"titah Roxena.


"Si, Nona." Langsung menyetujui.


"Apa maksudmu, Roxena Lawrence?"


"Kau sudah setuju. Dan bisa pergi setelah menikah dengan Elisa. Hari ini juga. Tenang saja, biaya pernikahan akan aku tanggung!"


Regis mengerjap. "Tapi, Elisa … aku harus bicara dulu padanya."


"Memangnya dia akan setuju kalau kau bujuk?"balas Roxena seraya menaikkan bahunya. Regis terdiam. Tentu saja tidak, yang ada Elisa akan memberontak.


"Aku mengikuti pengaturanmu. Tapi, jangan sakiti Elisa!"tegas Regis memperingati.


"It's okay."


"Luro, awasi persiapannya," titah Roxena merujuk pada persiapan Gerald menjadi pengantin laki-laki.


"Bagaimana dengan hukumnya? Maksudku-"


"Tenang saja. Kau hanya perlu mengucap janji suci lalu menandatangani buku nikah."


Roxena keluar. Meninggalkan Regis yang masih tercengang. Bukan karena kecepatan Roxena mengurus berkas yang diperlukan. Namun, persiapan Roxena untuk ini. Artinya, ia sudah membuat rencana sekaligus memastikan keberhasilan rencana itu. Sosok yang akurat ini … Regis tersenyum tipis.


Waktu memang tidak ada yang tahu, kapan akan bertemu, kapan akan berpisah. Waktu yang salah? Waktu terus berputar tanpa peduli dengan isinya.


*


*


*


Elisa yang sedang termenung terkejut saat beberapa wanita masuk ke kamar. Mereka dimembawa banyak paper bag. Lyra yang memimpin para wanita itu. Segera memberi perintah untuk membantu Elisa bersiap.


"Apa yang ingin kalian lakukan?!"berontak Elisa saat dipegang oleh dua wanita.

__ADS_1


"Hei! Lepas!!"sentak Elisa.


“Jangan macam-macam!!”


“Kalian mau melakukan apa? Lepaskan aku!!”


“Roxena sialan, lepaskan aku!!”


Lyra menyentuh daun telinganya kesal. Lalu mendekat dan mencengkram dagu Elisa. Anda bukan karena perintah Roxena, ia ingin sekali meremas mulut Elisa. Lyra meredam emosinya. Lalu membisikkan sesuatu, “menurut jika tidak mau janinmu bahaya!!”


Elisa membelalakkan matanya. “Kau!!”


“Lakukan!”


Lyra beralih duduk di sofa. Sedang anggota yang ia bawa tadi membantu Elisa mandi. Elisa tidak melawan meskipun beberapa kali gesturnya menolak.


“Apa yang mau kalian lakukan?”tanya Elisa melihat gaun yang ia gunakan saat ini. Gaun putih layaknya gaun pernikahan lalu juga perhiasan.


“Anda akan tahu nanti.” Lyra terus melakukan tugasnya, merias wajah Elisa dan memakaikan perhiasan. Sentuhan terakhir memakaikan tudung pengantin.


“Kalian! Apa yang mau kalian lakukan? Mengapa aku memakai baju pengantin? Kalian … mau membunuhku?” Mata Elisa membulat sempurna. Ia histeris. Lain dengan Lyra yang tersenyum puas dengan hasilnya.


“Sudah selesai. Okay.” Percakapan singkat Lyra via telepon.


“Ayo.” Elisa tetap dipegang oleh dua orang. Ia kembali berontak sayang ia kalah lagi melihat sorot mata tajam Lyra pada perutnya. Elisa kebingungan. Mau dibawa ke mana dia. Lalu tempat apa ini? Luas sekali tapi sangat sepi.


Elisa dibawa sebuah bangunan. Dari tanda salib di depannya, Elisa tahu bahwa itu adalah gereja. Dugaannya benar, ia akan dinikahkan?! Wajah Elisa pias seketika. Tubuhnya kembali menggeliat mencoba melepaskan diri.


Semakin mendekat, semakin Elisa takut. “J-jangan … aku tidak mau!! AKU TIDAK MAU!! LEPASKANN!!”


Sudah di pintu masuk gereja. Semua pasang mata tertuju padanya kecuali Roxena yang tetap menatap lurus ke depan.


“R-Regis?” Tak percaya melihat Regis berada di altar dengan pakaian yang serasi dengannya. Kini ia mengerti, ia akan dinikahkan dengan Regis. Tapi, mengapa Regis setuju?! Padahal tahu bahwa Elisa tidak menerimanya. Apakah mereka bersekongkol? Menjauhkan Gerald dan mengikat dirinya dalam ikatan pernikahan?


“AKU TIDAK MAU!!”teriak lantang Elisa.


Sorot mata Regis semakin redup. Hatinya berdenyut nyeri, ia ditolak di depan umum, di depan musuhnya, menjadi tertawaan. Roxena juga ikut tersenyum, geli.


“Sayang, tidak ada yang mendengar penolakannya. Kedua wanita itu tetap menariknya menuju altar, menempatkannya berdiri berhadapan dengan Elisa. Pintu gereja ditutup rapat. Elisa menatap kecewa Regis.


“Aku tidak punya pilihan lain. Mereka mengancamku dengan keselamatanmu.” Regis bersuara dengan parau.


Elisa menggeleng pelan, “lebih baik aku mati!!”


“Aku tidak tahan lagi melihatmu seperti ini, mengejar yang tidak pasti. Ku mohon menikahlah denganku. Aku akan menjagamu, mencintai anak dalam kandunganmu. Elisa izinkan aku menjadi pengganti Gerald.”


Tetap dibalas dengan gelengan. Kepalanya sekeras batu. “Apa aku mengatakan aku butuh persetujuan kalian berdua?” Roxena angkat bicara. Tatapan Elisa dan Regis langsung tertuju padanya. Raut wajah Elisa geram seketika, ia ingin menggapai Roxena tapi ditahan oleh Regis.


“Setidaknya menikahlah denganku demi anakmu. Jika tidak kita tidak akan bisa keluar dari sini, selamanya berada di sini. Jangan sia-siakan pengorbanan Gerald. Aku yakin dia ingin kau selamat dan bahagia, memulai hidup baru. Tidak masalah kau mau mengakuiku sebagai suami atau tidak yang penting kita keluar dari sini. Elisa … ku mohon kerja samamu.” Regis merendah serendah-rendahnya.


Mata Elisa memerah, sangat merah dengan air mata yang bercucuran deras. Ia tidak menjawab lagi. Roxena menginstruksikan agar upacara dimulai. Pendeta segera melakukan proses pemberkatan. Regis menggenggam kedua tangan Elisa, sekali lagi tatapannya menyakinkan.


“Silakan ikrarkan janji suci pernikahan.” Roxena memasang telinganya dengan baik, begitu serius mengikuti upacara pernikahan itu.


“Saya Regis Francois mengambil engkau Elisa Moonlight menjadi istri saya. Untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus.” Regis mengatakan janji sucinya dengan khidmat. Begitu memaknai setiap kata yang ia ucapkan. Sungguh tidak ada perasaan dan tatapan lain selain ketulusan.


Pendeta beralih pada Elisa, untuk mengucapkan janji suci pernikahan. Lidah Elisa keluh. Ia sanggup mengatakannya. Regis mengeratkan genggamannya, mencoba memberikan sebuah kekuatan. Elisa menarik nafas dalam.


“Saya Elisa Moonlight mengambil engkau Regis Francois menjadi suami saya. Untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus.” Tergugu. Tubuh Elisa lemas seakan tulang-tulangnya menjadi lunak.


“Dengan janji suci yang telah diucapkan kedua mempelai, saya nyatakan keduanya telah sah menjadi suami istri,” ucap lantang Pendeta, memberkati keduanya.


“Sebagai bentuk cinta suami dan istri, silakan suami dan istri berciuman.”


Ternyata belum selesai. Wajah pasangan baru itu pias seketika. Roxena tersentak dalam duduknya. Ia melupakan prosesi ciuman itu. Ada rasa nyeri di hatinya, merasa tidak rela tapi ia tidak bisa mundur lagi.


“Apakah harus?”cicit Regis, merasa Elisa enggan melakukannya.


“Harus dilakukan,” jawab Pendeta, seraya melirik Roxena yang kini memejamkan matanya.


“Elisa … maafkan aku.” Gerald menarik Elisa agar duduk dalam pangkuannya. Tidak ada penolakan fisik tapi sorot matanya begitu jelas.


Perlahan Regis menaikkan tudung pengantin Elisa. Menatap wajah Elisa yang sembab, riasan berantakan. Regis mendekatkan wajahnya. Jantung Gerald berdegup kencang. Ini adalah first kiss nya.


Tidak lebih dari menempelkan bibir. Kedua mata pengantin baru itu memejam. Tak dipungkiri, ada kebahagian tersendiri di hari Regis.


Tepuk tangan meriah menyambut pasangan baru. Pendeta kemudian melanjutkan dengan penandatangan surat nikah. Kini, Elisa dan Regis telah menjadi suami dan istri.


Layaknya pernikahan biasa, ada sesi foto pernikahan. Elisa tidak tersenyum sementara Regis tersenyum simpul. Roxena membuka matanya setelah keriuhan berakhir. “Selamat menempuh hidup baru, Regis,” lirihnya sendu.

__ADS_1


“Nona/Tuan!!” Asisten kedua orang itu dikeluarkan dari kamar dan digiring menuju geraja. Violet segera menghampiri Elisa. Elisa yang sangat lelah langsung memeluk Violet.


“Nona-”


“Nona!” Elisa tak sadarkan diri.


“Elisa!” Regis menggoyahkan tangan Elisa.


“Tuan Regis, ini … apa yang terjadi?”


“Ceritanya panjang. Intinya Elisa sudah menjadi istriku.”


Roxena menyuruh Lyra membawa Elisa kembali ke kamarnya. Violet mengikuti. Meninggalkan Regis dengan tatapan khawatirnya.


“Selamat atas pernikahan Anda, Regis,” ucap Roxena datar.


Regis tidak menjawab. Tak sanggup dan tak pantas mengatakan terima kasih. Regis hanya tersenyum kecil.


“Karena Elisa sudah menjadi istrimu, kau jaga dia baik-baik. Jangan membuat masalah karena lain kali tidak akan ada toleransi seperti ini. Aku akan langsung membunuhnya!!”tegas Roxena sebelum meninggalkan Regis dan keluar dari gereja.


Aneh.


Regis membatin.


Perasaan apa ini? Aku merasa aneh melihat matanya.


Regis menyeka pangkal hidupnya. Lalu menghela nafas. Elisa sudah menjadi istrinya. Namun, masalah yang berhenti sampai di sini. Dia harus menghadapi Elisa dan membangun rumah tangga, mempertahankan pernikahan ini.


*


*


*


“Nona!!” Erin menangkap Roxena yang hendak jatuh di lorong. Roxena bersandar pada pilar lorong, memegangi dadanya yang terasa sesak, sedari tadi ia tahan.


“Erin, aku … sakit sekali.” Roxena memukul dadanya sendiri. Matanya mengeluarkan kristal bening.


“Nona.” Erin mendekap Roxena.


Ternyata Anda sungguh-sungguh berubah, Nona. Namun, saya tidak sanggup melihat Anda seperti ini.


Roxena membutuhkan tempat bersandar.


Pertemuan kita berakhir dengan perpisahan di masa lalu. Hari ini, tanpa pertemuan, kita sudah berpisah. Regis aku merelakanmu. Aku tidak akan berpatok pada kehidupan pertama kita. Berbahagialah dengan Elisa. Semoga kalian selalu bersama hingga maut memisahkan. Aku mencintaimu, dengan caraku melepaskanmu dari jerat masa lalu. Biarlah hanya aku yang mengingat masa-masa kita. Terima kasih telah memberikan kenangan yang indah padaku. Terima kasih untuk waktu-waktu berharga kita. Terima kasih telah memberikanku kebahagian menjadi seorang Ibu. Regis, selamat tinggal.


Roxena memejamkan matanya, mendekap dirinya sendiri. Ternyata sangat sulit mengikhlaskan. Ya, tahta hati yang paling tinggi adalah ikhlas.


“Bantu aku ke kamar, Erin.” Merasa Roxena tak punya tenaga untuk jalan lagi, Erin menggendong Roxena. Membawa sang nona kembali ke kamar untuk beristirahat.


*


*


*


“Ada satu cara agar Stella melepaskan diri dari istana, Xavier,” ucap Raja, saat mereka kembali berdiskusi mengenai cara menyelesaikan kesalahan Stella. Alasan sakit bukan solusi panjang. Terlebih semakin banyak pertanyaan mengenai penyakit Stella dan permintaan untuk mengunjunginya. Jika terus seperti ini akan menimbulkan kecurigaan.


“Apa itu, Ayah?”tanya Xavier. Ia tidak sanggup lagi memikirkannya karena menangani urusan kerajaan.


“Mempercepat pernikahan Stella dan Jonathan.”


“Mempercepat pernikahan mereka? Mereka akan menikah tanggal 12 Mei, sementara musim gugur akan segera berakhir. Pernikahan di musim dingin, Ayah aku tidak setuju!!”


“Apa kau punya cara lain. Xavier?”


“Ayah ini terlalu beresiko. Pernikahan Stella tidak bisa dipersiapkan dalam waktu sesingkat itu!!”


“Ayah tidak punya cara lain selain cara ini. Hanya dengan Elisa meninggalkan istana, menikah dengan Jonathan barulah bisa menyelesaikan masalah dan mengubur kesalahannya.”


“Aku akan memikirkannya lagi, Ayah,” jawab Xavier.


“Tidak perlu menggelar pernikahan besar, tertutup saja. Yang penting ia menjadi istri Jonathan.”


“Baik, Ayah.” Xavier undur diri. Raja mendaratkan tubuhnya kasar. Sungguh masalah sang putri sangat merepotkan dan membahayakan.


Setelah keputusan Xavier yang sudah Raja pastikan persetujuannya, tinggal memikirkan cara memberitahu Ratu dan membujuk keluarga ESA Group yang kemungkinan besar tidak akan menolak.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2